
Rania masih belum bisa tidur. Ingatannya dipenuhi kejadian tadi siang dikamar milik ayah bundanya. Padahal pas video call dengan Radit matanya sudah mulai mengantuk. Sekarang malah tidak bisa dibawa tidur. Dia merasa ingin bertemu dengan Gunawan.
Makan malam hari ini Gunawan tidak ikut juga. Jam sudah menunjukan pukul sepuluh malam. Tapi Gunawan belum pulang. Tidak lama terdengar suara bel berbunyi. Tidak ada yang membukakan pintu. Sepertinya semua orang sudah tertidur.
Rania segera keluar kamarnya untuk membuka pintu. Ternyata Gunawan yang pulang. Wajahnya terlihat pucat. Tapi melihat Rania membukakan pintu dia masih berusaha tersenyum.
''Kamu belum tidur nak'' ucap Gunawan pelan. Rania mengeleng. Kemudian Gunawan masuk kedalam rumah. Belum beberapa langkah kakinya terasa lemas. Sakit diperutnya tidak tertahan lagi. Gunawan tersungkur dilantai. Untung Rania yang melihat langsung menahan badan Gunawan agar tidak benar-benar jatuh.
Makin lama semua terasa gelap. Keringat dingin membasahi wajahnya.
''Oh tidak, bangun ayah. bangun...'' teriak Rania sambil menepuk pipi Gunawan. Untuk pertama kalinya Rania memanggil Gunawan dengan ayah. Tapi semua hanya antara terdengar atau tidak sama Gunawan. Kemudian dia kehilangan kesadarannya.
''Mama, kakek...'' teriak Rania sambil menangis. Dia masih memangku kepala Gunawan dilantai. Berulang kali dia memanggil Nella dan Wiratmaja. Untuk pertama kalinya Rania sangat takut. Dia sangat takut kehilangan Gunawan seperti kehilangan Bundanya.
Nella dan Wiratmaja segera menghampirinya. Nella terkejut melihat Rania memangku kepala Gunawan sambil terduduk dilantai.
''Apa yang terjadi?'' tanya Wiratmaja terkejut
''Rania tidak tahu kek. Tiba-tiba ayah pingsan'' jawab Rania panik.
Nella segera memanggil sopir dan penjaga rumah untuk menolong mengangkat Gunawan kekamarnya.
Wiratmaja segera menelpon dokter keluarga mereka.
''Apa semua akan baik-baik saja ma? Aku takut semua akan seperti bunda'' ucap Rania sambil menangis cemas. Nella segera menenangkannya.
''Mungkin maag ayahmu kambuh lagi. Jadi kamu tidak usah khawatir. Sebentar lagi dokter pasti akan datang'' jawab Nella.
''Dia terlalu memaksakan diri dalam bekerja. Pasti dia lupa makan lagi. Apalagi ditambah masalah Hendra. Membuatnya banyak pikiran'' ucap Wiratmaja.
Tidak lama kemudian dokter keluarga mereka datang. Dia langsung memeriksa keaadaan Gunawan. Kemudian dia memasang infus.
''Maag pak Gunawan kambuh lagi. Trus sepertinya dia terlalu kelelahan dalam bekerja. Usahakan untuk beberapa hari ini dia istirahat dirumah'' ucap Dokter sambil memberikan beberapa obat.
''Apa ada masalah yang lebih serius Dok?'' tanya Rania cemas. Dokter Andi menatap Rania.
''Apa kamu putrinya pak Gunawan?'' tanya Dokter Andi.
''Iya, Saya Rania'' jawab Rania.
''Tidak ada masalah yang serius. Hanya perlu banyak istirahat. Dan untuk sementara diusahakan makanannya jangan keras'' jelas Dokter.
''Iya dok'' jawab Nella.
''Kalau begitu saya permisi dulu pak Wiratmaja'' pamit dokter.
''Iya terima kasih Andi'' jawab Wiratmaja.
Nella mengatar dokter Andi kedepan rumah. Kemudian Nella kembali lagi kekamar.
''Papa istirahat saja dulu. Biar mas Gunawan saya yang jaga'' ucap Nella.
''Apa kakek mau aku antar kekamar?'' tanya Rania.
''Tidak usah, untuk jalan kekamar kakek masih sanggup'' tolak Wiratmaja.
Setelah Wiratmaja pergi, tinggal Rania dan Nella dikamar.
''Kamu juga istirahat, Biar mama yang jaga ayahmu'' kata Nella lembut.
''Tidak, Rania mau disini sampai ayah siuman'' ucap Rania. Kemudian dia mengambil kursi untuk duduk disamping tempat tidur Gunawan. Nella senang mendengar Rania memanggil Gunawan ayah.
Rania menatap ayahnya yang masih belum sadar. Wajahnya sudah mulai terlihat tua. Berbeda jauh yang dia lihat dari foto pernikahan ayah dan bunda. Disana ayahnya terlihat sangat gagah.
''Berapa lama kita akan bersama. Apa ayah juga akan meninggalkanku seperti Bunda. Aku kini merasa takut kehilangannya. Padahal kemarin-kemarin rasa benci dihati ini sangat dalam. Tapi melihatnya hari ini semua kebencian itu hilang tak berbekas. Hanya menyisakan rasa takut dan kegelisahan'' batin Rania.
Dia meletakan kepalanya ditepi tempat tidur Gunawan sembari menatapnya. Nella keluar kamar untuk mengambil air minum dan membuatkan Gunawan bubur. Kalau Gunawan sudah siuman bisa langsung di beri obat dan makan bubur.
Ketika Nella kembali dilihatnya Rania tertidur dengan posisi duduk. Hanya kepalanya saja yang direbahkan diatas kasur.
Gunawan mulai siuman. Pertama dilihatnya wajah Rania yang tertidur pulas. Hatinya terasa hangat. Apalagi tadi dia seolah bermimpi Rania memanggilnya ayah.
''Bagaimana mas bisa seperti ini. Apa pekerjaan lebih penting dari kesehatan. Sampai makanpun mas lupakan. Apa mas tahu betapa takutnya Rania melihat kondisi mas tadi. Dia sampai menangis'' omel Nella.
''Iya, maaf aku tidak tahu akan seperti ini. Pekerjaan di kantor begitu banyak. Apalagi Candra tidak bisa masuk. Dan Hendra sibuk mengurus urusannya'' jelas Gunawan sambil membelai rambut Rania dengan lembut.
''Sekarang mas makan bubur dulu. Setelah itu baru minum obat. Kerjaan tidak akan ada habisnya bahkan sampai kita mati. Jadi harus tahu juga untuk memperhatikan kesehatan. Mas sudah tahu kalau maag mas sudah parah. Telat makan saja pasti akan kambuh. Apa mas tidak mau lebih lama lagi dengan Rania'' omel Nella sambil menyuapkan Gunawan bubur.
''Iya aku tahu, besok aku akan perhatikan lagi jam makan'' jawab Gunawan pasrah. Dia masih membelai rambut Rania. Membuat Rania terbangun.
Rania melihat kearah Gunawan yang tersenyum kepadanya. Seketika dia menangis memeluknya.
''Kamu membuatku takut ayah'' ucap Rania terisak. Gunawan terkejut mendengar ucapan Rania. Seketika dia tertawa.
''Haha, lihat Nella. Anakku memanggilku dengan ayah. Ternyata aku tidak bermimpi'' teriak Gunawan sambil memeluk Rania. Rania terus menangis melepaskan rasa dihatinya.
''Terima kasih sayang kamu sudah menerima ayah'' ucap Gunawan sambil meneteskan airmata. Nella bahagia melihat mereka berdua. Kemudian Rania melepaskan pelukannya.
''Kenapa ayah bisa lupa makan. Padahal ayah berjanji akan hidup lama denganku dan menebus waktu ayah selama ini. Tapi sekarang ayah tidak menjaga kesehatan ayah sendiri. Apa ayah tidak tahu betapa takutnya aku tadi. Aku bahkan berpikir ayah akan menyusul bunda. Untung saja mama bilang kalau ini karna maag ayah kambuh. Dan dokter bilang ayah harus istirahat dirumah dulu. Jadi besok ayah tidak boleh pergi kekantor'' Omel Rania. Gunawan dan Nella hanya tertegun melihat Rania mengomel. Selama ini Rania tidak pernah bicara banyak. Bahkan dia terkesan pendiam.
''Haha, Dia lebih cerewet darimu'' Gunawan tertawa bahagia. Bahkan rasa sakitnya sudah tidak terasa lagi.
''Kenapa ayah tertawa mama? Apa dia senang sakit?'' tanya Rania cemberut.
''Ayah rela sakit lebih dari ini asal kamu bisa memaafkan ayah'' jawab Gunawan senang.
''Hehe, iya. Dia sudah memaafkanmu mas. Dan juga sudah memanggilku mama'' jawan Nella senang.
''Makasih sayang, kamu membuat kami bahagia'' ucap Gunawan.
Rania tersenyum. Sekarang dia merasa semua beban dipundaknya terasa ringan. Dia merasa bahagia. Dan dia juga berdoa semoga bundanya juga ikut bahagia dialam sana.