Rania

Rania
108.Tissue Bekas



Cynthia tidak membawa semua barangnya. Dia hanya menyuruh pelayan untuk mengeluarkan satu koper yang berisi pakaianya saja.


''Kalau begitu kami akan pergi sekarang. Saya berencana membawa Cynthia berobat keluar negeri dan kalau bisa dia akan melanjutkan kuliah disana'' ucap Jaka.


''Kamu harus sering-sering menghubungi kakak'' Cynthia mengangguk kemudian Candra memeluk adiknya untuk terakhir kalinya.


''Kalau anda memerlukan biaya untuk Cynthia jangan lupa menghubungi saya'' kata Candra kepada Jaka.


''Kalau kamu pulang ke Indonesia jangan lupa mencari papa. Setidaknya kamu masih ingat punya papa disini'' kata Hendra sambil memeluk anak yang dia besarkan selama ini. Cynthia menangis terharu.


Kemudian dia pamit sama Wiratmaja dan Gunawan. Walaupun sikapnya selama ini buruk. Tapi mereka tetap menyayangi dan memanjakan Cynthia. Sebelum Cynthia pergi dia menghampiri Rania. Mulutnya terasa keluh ketika menatap Rania. Tapi dengan membulatkan tekad diapun bicara.


''Maaf'' air mata Cynthia keluar. Rania langsung memeluknya. Membuatnya Cynthia tambah terisak.


''Saya sudah terlalu banyak berbuat jahat kepadamu. Apalagi perbuatan saya dan mama tidak pantas untuk dimaafkan. Tapi dengan egoisnya saya malah memohon maafmu'' ucap Cynthia.


''Aku sudah memaafkanmu. Setiap orang pasti pernah punya salah. Tapi ketika dia tahu untuk Berubah. Dia pantas untuk mendapatkan kesempatan kedua'' jawab Rania melepaskan pelukanya. Cynthia tersenyum.


''Titip maafku sama kak Radit mungkin aku tidak akan sempat bertemu denganya. Awalnya aku pernah menyukainya. Tapi karna dia terus mengabaikanku. Aku sampai gelap mata dan berniat jahat kepadanya. Aku tahu cinta tidak bisa dipaksa'' Ucap Cynthia sambil menghapus air mata. Rania mengangguk.


Kemudian Jaka mendorong kursi roda Cynthia meninggalkan rumah Hendra untuk selamanya.


'' Sebelumnya aku ucapkan selamat atas penikahan kalian. Mungkin aku tidak bisa menghadirinya'' ucap Cynthia sebelum dia benar-benar meninggalkan rumahnya.


......................


Sudah lebih seminggu sejak kejadian. Semua kembali sedia kala. Dan mereka juga sudah bisa mengambil alih perusahaan Sanjaya yang sebenarnya sedang dalam masalah. Rendra juga sudah menemui Kendra untuk menuntaskan masalah mereka dan masalah masa lalu. Untuk sementara Candra membantu Angga mengurus perusahaan Sanjaya yang baru mereka ambil Alih. Rencananya perusahaan itu akan disuruh Angga mengelolahnya.


Radit merasa senang dengan kejatuhan Kevin Sanjaya. Dendamnya selama ini terbalas juga. Sementara Hendra menjual rumahnya. Karna begitu banyak kenangan mereka disana. Terutama kenangan menyakitkan sebelum Nita meninggal. Dia dan Candra disuruh Wiratmaja untuk tinggal dirumah utama. Biar awalnya mereka menolak. Tapi akhinya mereka menuruti permintaan Wiratmaja.


Hari ini Rania dan Radit mau pergi Fitting gaun pernikahan mereka. Radit berniat untuk menjemput kekantornya. Tapi Rania menolak. Dia yang akan datang kekantor Radit.


Radit baru berada dilobi untuk menunggu Rania. Karna dia sudah memberi tahu sedang diperjalanan menuju kantor Radit.


''Radit'' sapa Astrid tiba-tiba. Radit melihat Astrid yang datang dengan tatapan penuh kebencian.


''Untuk apa kamu kesini?'' tanya Radit dingin.


''Aku mau bertemu dan bicara denganmu Dit'' ucap Astrid lembut. Membuat Radit tambah jijik.


''Bukan gitu, Aku hanya ingin kita balikan lagi. Beri aku kesempatan untuk memperbaiki semua yang aku perbuat kepadamu. Aku yakin kamu masih belum melupakanku'' Astrid memelas.


''Hah, Kamu terlalu percaya diri. Semenjak kita putus hari itu. Tidak ada lagi cinta yang tersisa dihatiku. Bahkan aku malah jijik melihatmu. Apa kamu tidak tahu apa yang terjadi dengan selingkuhanmu?'' ucap Radit dingin. Astrid terkejut ketika Radit mengatakan tentang Kevin. Dulu Radit dan Kevin adalah teman. Tapi ketika dia tahu Astrid selingkuh dengan Kevin. Sejak saat itu Radit membencinya.


''Aku sudah lama tidak berhubungan dengannya'' jawab Astrid.


''Ooo, karna kamu sudah putus dengannya dan ladang uangmu sudah tidak ada. Kamu berniat untuk kembali kepadaku. Supaya kamu bisa memanfaatkanku lagi?'' ejek Radit.


''Bukan begitu Dit'' Astrid mulai menangis.


''Aku tidak akan luluh dengan air matamu. Aku peringatkan kalau kamu masih berani muncul dihadapkan ku. Aku pastikan kamu akan kehilangan semuanya termasuk karirmu'' Ancam Radit. Astrid bergidik tapi dia masih bertekad mendapatkan Radit kembali.


''Aku mohon Dit'' ucap Astrid masih dengan air matanya. Dia berusaha memegang tangan Radit. Tapi ditepis kasar oleh Radit.


''Ckckck, kenapa tisu bekas ada disini?'' tanya Rania tiba-tiba sudah berada di belakang Astrid. Astrid terkejut mendengar ucapan Rania. Dia mengangkat kepala.


''Sayang kamu sudah datang?''tanya Radit sambil tersenyum lembut menghampiri Rania. Dia kemudian memeluk pinggang Rania. Astrid benci melihat sikap Radit sama Rania.


''Kamu... bukannya kamu sopirnya Radit? Apa perempuan culun ini yang kamu pilih mengantikanku Dit'' ejek Astrid. Radit mau menjawab tapi dihentikan Rania. Rania memang memakai kacamatanya ketika kekantor.


''Kalau saya pakai kacamata ini saya memang sopirnya kak Radit. Tapi kalau kacamata dibuka saya menjadi calon istrinya. Apakah saya masih terlihat culun? Bukannya ketika kita bertemu sebelum ini saya bilang kalau saya calon istri masa depan kak Radit'' Rania bicara penuh penekanan sambil membuka kacamatanya. Terlihatlah wajah cantik alami dari Rania. Apalagi matanya yang membuat orang lain terpana ketika melihat. Astri pun terkejut melihat sampai tidak bisa berkata apa-apa.


''Kenapa diam? Bukannya anda tadi menghina saya. Dan ingin sekali balikan dengan kak Radit. Apa anda merasa tidak pantas untuk kak Radit setelah melihat saya. Hah, Tapi asal anda tahu saya tidak akan tinggal diam kalau anda masih berusaha mendekati kak Radit. Seharusnya anda tahu diri seperti tisu bekas'' ucap Rania menatap tajam Astrid.


Astrid melihat tatapan Rania merasa terintimidasi. Dia bahkan tidak sanggup membalas tatapan Rania lebih lama. Padahal selama ini sikapnya selalu arogan kepada orang lain.


''Sudah sayang, tidak usah kita ladenin dia. Lebih baik kita berangkat sekarang'' ajak Radit. Rania tersenyum kemudian melihat ke Astrid.


''Anda tidak penasaran kami mau kemana?'' tanya Rania.


''Kami mau mencoba gaun yang akan kami pakai untuk pernikahan nanti. Calon suami saya sudah menyiapkan gaun yang sangaaat indah. Apa kamu masih punya muka untuk menganggunya?'' tanya Rania lagi. Astrid hanya menunduk. Dia merasa dipermalukan oleh Rania. Apalagi orang disekitar lobi melihat kearah mereka.


''Ayo yank. Kita pergi sekarang'' ajak Rania. Radit mengangguk. Ketika mereka membalikan badan akan pergi. Radit berhenti sebentar.


''Aku tidak mengundangmu karna tidak ada tempat untuk penghianat sepertimu di acara pernikahan kami'' ucap Radit tanpa membalikan badan. Kemudian mereka meninggalkan Astrid yang berdiri mematung melihat kepergian Radit dan Rania yang berjalan dengan mesra. Tangannya mengepal menandakan sakit hati melihat dan mendengar semua perkataan mereka. Kemudian dia segera meninggalkan lobi dengan pandangan yang tidak bisa dijelaskan oleh orang-orang sekitarnya.