
Dirumah Wiratmaja semua orang menunggu sambil mengobrol diruang tamu. Surya, Gunawan, Wiratmaja dan Rendra sibuk membicarakan masalah pekerjaan. Nella dan Susi sibuk membereskan semua piring kotor didapur. Disana hanya ada satu pembantu. Itupun tugasnya hanya bersih-bersih. Kalau untuk masak tetap Nella yang melakukannya.
''Bagaimana kondisi kamu sekarang Ran?'' tanya Diva.
''Sudah lebih baik buk'' jawab Rania.
''Jangan panggil buk lagi. Sekarang kamu bukan sopir Radit tapi calonnya'' kata Diva lembut.
''Hehe, iya buk, eh tan'' jawab Rania
''Maaf ya tante tidak sempat menjenguk kamu kerumah sakit. Tante harus menemani om Surya diluar kota. Baru tadi pagi kami kembali'' kata Diva.
''Tidak apa-apa tan, Semua orang menjaga aku selama dirumah sakit'' jawab Rania.
''Apalagi kak Radit, setia setiap saat'' ucap Sisi. Rania tersenyum malu.
''Sejak kamu nginap dirumah, tante bisa melihat kalau Radit dan Rendi menyukaimu. Apalagi malam kamu sama Radit di kolam berenang. Tante melihat betapa bahagianya Radit bersamamu. Sudah lama tante tidak melihat Radit sebahagia itu'' ucap Diva.
''Hehe, tante bisa aja'' jawab Rania malu ketahuan sama Diva kejadian dikolam berenang waktu itu.
''Emang ada kejadian seperti itu Ran? kenapa kamu tidak cerita sih?'' tanya Sisi.
''Tidak ada kejadian apa-apa'' jawab Rania.
''Ih, kamu sudah main rahasiaan ya sama aku'' kata Sisi lagi.
''Benaran Si, aku gak bohong'' jawab Rania.
''Trus kenapa pipimu merah?'' goda Sisi.
''Mana ada'' jawab Rania cepat sambil memegang pipinya.
Diva dan Sisi tertawa melihat Rania malu. Diva merasa senang dengan keakraban Sisi. Dia juga sudah dengar dari Radit kalau Rania dan Sisi sahabat dari sekolah.
''Bagaimana kabar orang tuamu Si? trus kapan rencana kamu dan Davin menikah? kalian sudah lama loh pacarannya'' tanya Diva.
''Mama dan papa sehat tan, Kalau masalah nikah belum tahu tan. Mungkin menunggu Rania dan kak Radit nikah duluan baru kami nyusul'' jawab Sisi santai.
''Eh, apaan sih kamu'' kata Rania sambil mencubit Sisi.
''Auww, sakit Ran'' kata Sisi mencebi. Rania dan Diva tertawa. Nella dan Susi bergabung dengan mereka.
Sementara itu Gunawan melihat ke arah mereka tertawa. Ada rasa senang dihatinya ketika melihat Rania bisa tertawa lepas seperti itu. Biarpun Rania belum sepenuhnya memaafkan dia. Tapi dengan Rania tinggal bersamanya saja sudah membuat dia bahagia.
''Makasih yan Ren, kamu sudah membujuk Rania tinggal disini'' kata Gunawan.
''Saya tidak membujuknya. Dia sendiri memilih untuk tinggal disini daripada kembali ke Bandung'' jawab Rendra.
''Jadi kamu berencana akan membawa cucuku ke Bandung kalau dia tidak mau tinggal disini? Kalau sempat kamu bawa dia ke Bandung aku juga akan ikut pindah kesana'' ucap Wiratmaja serius.
''Bukan begitu tuan, Sebenarnya saya sudah tahu kalau Rania tidak akan mau kembali ke Bandung. Maka saya buat pilihan supaya dia memilih untuk tinggal disini atau kembali ke Bandung'' jelas Rendra.
''Kenapa kamu yakin dia lebih memilih tinggal disini?'' tanya Gunawan.
''Karna Radit tidak akan membiarkanya pergi jauh'' jawab Rendra sambil melihat ke Surya.
''Hehe, anak sulung saya memang seperti itu. Kalau dia sudah menyukai sesuatu dia tidak akan mudah untuk melepaskannya. Apalagi dia juga tahu kalau Rania orang yang dijodohkan dengannya dan mereka juga saling mencintai. Pasti mereka tidak mau berpisah. haha'' jawab Surya sambil tertawa.
''Mungkin takdir yang mempertemukan mereka. Sebelum tahu kalau Rania anak saya. Mereka sudah saling menyukai. Perjodohan ini hanya untuk memperkuat hubungan mereka saja'' jawab Gunawan.
''Kamu mendidiknya dengan baik Ren. Kamu manjadi paman sekaligus sosok ayah yang bisa membuatnya jadi wanita mandiri dan tangguh. Terima kasih hanya itu yang bisa saya ucapkan'' kata Gunawan.
''Sebenarnya Rania memang pintar dari lahir, mempunyai sifat mandiri dan bawaannya selalu tenang. Tapi ketika mengambil keputusan dia akan tegas dan teguh pada pendirian sama seperti anda. Dihatinya hanya bagaimana supaya bundanya tidak sedih . Jadi dia akan menyembunyikan semua perasaan sedihnya didepan kami. Keras kepalanya juga turunan dari kalian berdua. Saya hanya mengajarkan beberapa bela diri untuknya menjaga diri. Mulai dari masuk SMP dia sudah bisa mencari uang sendiri. Bahkan selama kuliah kami tidak pernah mengeluarkan uang untuk keperluanya. Dia bekerja selama kuliah dan selalu mendapatkan beasiswa. Kami selalu bangga dengan dirinya. Bahkan Angga ingin selalu sepertinya'' kenang Rendra. Ada rasa bangga kalau Rania mirip denganya.
''Dia juga mempunyai kesukaan minuman dan tidak suka worte seperti aku pa'' kata Gunawan melihat Wiratmaja.
''Dia juga cucuku'' jawab Wiratmaja
''Tapi s emua juga kesalahan saya. Sampai membuat Rania dan Retno menderita'' kata Gunawan sedih.
''Sekarang tidak ada gunanya menyesal. Yang terpenting kamu bisa menebusnya mulai dari sekarang'' hibur Surya.
''Tapi apa bisa?'' tanya Gunawan.
''Saya kenal Rania. Dia mungkin keras kepala tapi dia mempunyai hati yang lembut seperti bundanya. Dia pasti akan menerima anda sebagai ayahnya'' kata Rendra.
'' Makasih Ren, mungkin semua jasamu tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata'' ucap Gunawan sambil memeluk Rendra. Ada harapan untuknya mendapatkan kembali hati Rania.
''Anda terlalu sungkan tuan'' jawab Rendra.
''Dia juga mirip dengan Retno'' kata Surya.
''Iya, semua kerinduanku selama ini kepada Retno bisa terobati dengan melihatnya'' gumam Gunawan.
Ketika mereka sedang asyik mengobrol. ponsel Gunawan bunyi.
Tring,tring tring
''Hallo Dit'' jawab Gunawan.
''Hallo om, aku mau ngabari kalau Cynthia mengalami kecelakaan. Sekarang sedang dirumah sakit'' kata Radit
''Apaa? Cynthia kecelakaan, trus sekarang gimana keadaannya?'' tanya Gunawan terkejut. Semua orang yang mendengar juga terkejut.
''Sekarang masih diruang operasi'' kata Radit.
''Kalau gitu om akan segera kesana'' kata Gunawan. Panggilan telepon dimatikan
''Bagaimana keadaan Cynthia?'' tanya Wiratmaja cemas. Gimana dia tidak cemas satu cucunya baru keluar rumah sakit. Yang satu lagi masuk rumah sakit. Kepalanya terasa pusing.
''Aku juga belum tahu pa. Kata Radit masih diruang operasi. Ini rencananya aku pergi kesana sekarang'' kata Gunawan.
''Saya ikut kamu'' kata Surya.
''Mama juga ikut pa'' kata Diva.
Gunawan, Surya dan Diva segera pergi kerumah sakit. Sedangkan yang lain menunggu dirumah.
''Sebaiknya kamu istirahat dikamar saja Ran'' kata Nella setelah Gunawan pergi.
''Aku menunggu disini saja tan. Lebih baik tante bawa kakek istirahat dikamarnya. Kelihatan dia tidak baik-baik saja'' jawab Rania.
''Tuan Wiratmaja biar paman yang bawanya kekamar. Sebaiknya kamu juga istirahat dulu. Kamu belum sepenuhnya sembuh'' kata Rendra.
''Iya paman'' jawab Rania.
Kemudian Nella menunjukan kamar Rania. Sedangkan Sisi mendorong kursi roda Rania diikuti Susi. Mereka masih mencemaskan menunggu kabar tentang Cynthia.