Rania

Rania
112. Rencana Ke Bandung



Rania dan Radit sampai dirumah orang tua Radit. Rencana Radit mau tinggal dirumahnya sendiri. Tapi rumah yang dia beli masih dalam tahap renovasi. Ketika mereka masuk ternyata Diva dan Surya sedang duduk santai di ruang keluarga. Sedangkan koper mereka diangkat pelayan kekamar Radit.


''Sore ma pa'' sapa Rania.


''Hei sayang, kalian kok sudah pulang. Bukannya kamar hotel dipesan untuk dua hari?'' tanya Diva heran melihat Radit dan Rania.


''Rania bosan disana. Katanya dia pengen dirumah saja'' jawab Radit.


''Iya ma, lebih baik dirumah. Ada mama teman untuk ngobrol'' jawab Rania sambil duduk manja disamping Diva.


''Tapi pengantin baru biasanya lebih suka menghabiskan waktu dikamar. Mama saja ketika seperti kalian sampai tiga hari tidak keluar kamar. Iya kan pa?'' ucap Diva santai. Rania yang mendengar jadi malu.


''Iya, papa kan topcer. Kamu pasti loyo makanya Rania bosan'' ucap Surya santai.


''Hmm, enak aja papa bilang aku loyo. Masalahnya bukan sama aku tapi ada sama Rania'' jawab Radit tidak mau kalah.


''Yang benar?'' goda Diva.


''Iya ma. Rania datang tamu bulanannya'' jawab Radit. Pipi Rania jadi bersemu merah. Dia tidak menyangka suami dan mertuanya dengan santai bicara seperti itu.


''Hahaa'' Diva dan Surya tertawa.


''Ternyata keberuntunganmu sangat buruk boy'' ucap Surya.


''Biarpun begitu, aku hanya perlu nunggu paling lama seminggu. Iyakan sayang'' goda Radit. Rania tidak menjawab.


''Udah, kasihan Rania jadi malu. Papa kenapa bicara seperti itu didepan Rania'' bela Diva melihat Rania diam saja.


''Kenapa papa yang salah. Bukannya mama yang mulai duluan'' jawab Surya tidak terima.


''Mama hanya memastikan saja karna mama sudah tidak sabar mengendong cucu'' jawab Diva tanpa rasa bersalah.


''Papa juga. Emang mama saja yang pengen cucu'' ucap Surya tidak mau kalah.


''Ayo sayang kita kekamar'' ajak Radit yang malas melihat kedua orang tua adu mulut.


''Biar saja Rania disini. Mama masih pengen ngobrol dengannya'' ucap Diva.


''Ntar saja ngobrolanya ma. Rania belum pernah lihat kamar aku'' jawab Radit sambil menarik tangan Rania. Mau tidak mau Rania ikut.


''Aku kekamar dulu ya ma pa'' ucap Rania. Belum sempat Diva dan Surya menjawab. Radit sudah menarik tangannya untuk ikut naik kelantai dua. Diva dan Surya hanya geleng kepala melihat kelakuan Radit.


''Lihat kelakuan anakmu. Baru punya istri sudah memonopoli sendiri'' ucap Surya.


''Emang Radit anakku sendiri? Mana bisa aku hamil kalau bukan ada papa'' jawab Diva santai. Surya setuju mendengar jawab Diva.


''Kalau gitu kita kekamar juga yuk ma'' ajak Surya sambil tersenyum.


''Ingat umur, jangan pikir yang aneh-aneh'' jawab Diva melanjutkan membaca majalahnya. Surya hanya bisa menghela nafas mendengar jawaban istrinya.


Radit dan Rania masuk ke dalam kamarnya. Kesan pertama yang Rania lihat dari kamar Radit adalah rapi dan polos. Karna tidak ada satupun foto di dinding kamarnya. Walaupun begitu kamarnya terlihat elegan dan mewah.


''Kenapa tidak ada satupun foto mas didalam kamar?'' tanya Rania.


''Aku lebih suka polos seperti ini. Tapi nanti akan aku pajang di dinding foto pernikahan kita yang sangat besar'' jawab Radit.


Kemudian Rania mulai membereskan pakaian mereka yang didalam koper. Sedangkan Radit duduk diatas tempat tidur dan mengeluarkan laptopnya untuk mengecek email yang dikirim oleh Davin.


''Katanya mau bermalas-malasan. Kenapa sekarang sudah membuka laptop?'' tanya Rania duduk disebelah Radit setelah selesai menyusun pakaian mereka dilemari.


''Iya, aku hanya mengecek email yang dikirim Davin. Takutnya ada yang penting'' jawab Radit masih fokus.


''Ada apa?'' tanya Radit menatap Rania.


''Akhir minggu ini kita ke Bandung yuk'' ucap Rania.


''Kamu kangen bunda?'' tanya Radit.


''Iya, sekalian aku mau memperkenalkan mas sebagai suamiku. Seharusnya sebelum kita nikah mengunjungi makam bunda. Tapi karna banyak masalah dan waktu kita juga mepet. Jadi aku memutuskan kita ke Bandungnya setelah menikah saja'' jawab Rania.


''Iya, weekend kita ke Bandung'' ucap Radit.


''Makasih mas'' jawab Rania senang sambil memeluk Radit senang.


Radit membalas pelukan Rania. Dia tersenyum melihat Rania senang. Dikecupnya kening Rania. Dia suka melihat Rania mulai biasa bermanja dengannya. Selama ini Rania terkesan cuek dan tenang. Dia akan bersikap kuat setiap menghadapi masalahnya sendiri. Sekarang Rania sudah mau membuka dirinya untuk bergantung kepada Radit walaupun belum sepenuhnya.


''Apa kamu sudah katakan sama ayah dan paman kalau kita mau ke Bandung. Apalagi paman Rendra masih disini menyelesaikan masalahnya'' ucap Radit.


''Besok pas dikantor saja aku kasih tahu ayah'' jawab Rania sambil beranjak dari tempat duduknya.


''Kamu mau kemana?'' tanya Radit.


''Mau bantu bik Inah menyiapkan makan malam'' jawab Rania.


''Apa kamu tidak capek?'' tanya Radit


''Capek apanya? kita dihotel hanya tidur-tiduran saja'' jawab Rania santai.


''Tapi setelah palang merah selesai kamu pasti akan capek'' goda Radit.


''Kenapa bisa begitu?'' tanya Rania heran.


''Sini aku bisikan sesuatu'' jawab Radit. Rania kemudian mendekatkan telinganya. Ketika Radit membisikan sesuatu ketelinganya. Rania tanpa sadar memekik terkejut.


''Is, mas mesum'' ucap Rania sambil turun dari tempat tidur.


''Hahaha. Sini duduk dulu temanin aku'' Radit tertawa melihat tingkah lucu Rania. Pipinya sampai merona merah karna malu.


''Gak mau'' jawab Rania.


Kemudian Rania meninggalkan Radit dikamar dan pergi kedapur untuk membantu menyiapkan makan malam.


Waktu makan malam sudah tiba. Rania memanggil Radit kekamarnya. Rendi juga sudah pulang dari kantor. Semuanya sudah berkumpul di meja makan.


''Kirain kalian masih di menginap dihotel. Kenapa sudah pulang?'' tanya Rendi mau mengambil nasinya.


''Anak kecil harap diam'' jawab Radit sambil menunggu Rania mengambilkan nasinya. Karna sekarang Rania istri Radit.


''Aku bukan anak kecil lagi kak. Umur kita hanya beda dua tahun'' ucap Rendi


''Tetap saja kamu kecil dari aku'' jawab Radit.


''Tapi kalau kakak tidak menikah. Mungkin aku yang duluan menikah dari kakak'' jawab Rendi.


''Menikah dengan siapa? Kamu jomblo seumur hidup'' ejek Radit. Rendi mau menjawab tapi dipotong Diva.


''Kalian mau makan atau mau berantem?'' tanya Diva mulai kesal melihat anaknya adu mulut di meja makan. Biasanya hanya Rendi saja yang berisik. Sekarang Radit sudah mulai juga berisik.


''Ya makanlah ma, rugi aku berantem sama kak Radit. Kenyang gak capek iya''jawab Rendi. Rania tersenyum mendengar jawaban Rendi. Radit hanya pura-pura tidak dengar.


Semuanya mulai makan. Mereka menikmati makan malam dengan lahap. Mungkin karna masakan Rania memang enak atau mereka yang juga lapar. Selesai makan mereka mengobrol sebentar setelah itu baru kembali kekamar masing-masing.