
Seperti biasa pagi ini Rendi masih protes karna Radit masih menyuruhnya menggantikan Rania sebagai sopir.
''Kak Radit aja yang nyetir hari ini ya'' bujuk Rendi mengikuti Radit berjalan menuju pintu.
''Hmmm'' tidak ada jawaban dari Radit. Dia terus saja berjalan tanpa menghiraukan Rendi.
''Kenapa kak Radit diam aja? Aku sudah seminggu loh menjadi sopir dadakan kakak. Tidak bisa sehari ini aja kak Radit yang gantikan? kalau terus seperti ini lebih baik aku berhenti aja... Aduh'' Rendi berhenti mengomel karna menabrak punggung Radit yang tiba-tiba berhenti mendadak.
''Kenapa kakak berhenti mendadak sih? keningku kan jadi sakit'' ucap Rendi.
Tapi Radit tidak menjawab. Dia diam melihat kearah mobilnya yang sudah ada di depan rumah. Rendi yang penasaran mengintip dari belakang punggung Radit.
''Antiiikkkk'' teriak Rendi senang.
''Pagi pak, pagi tuan'' sapa Rania tersenyum yang berdiri disamping mobil.
Rania sampai di Jakarta malam kemaren. Dia sengaja tidak memberitahu siapa-siapa kalau dia balik ke Jakarta. Sisi saja sampai Terkejut melihat Rania datang. Dia sangat bahagia sahabatnya kembali lagi ke Jakarta. Begitu juga dengan dia datang kerja hari ini. Dia ingin memberi kejutan sama Radit.
Radit terpaku melihat Rania. Hatinya sangat senang bertemu dengannya lagi. Ingin rasanya dia memeluk Rania saat itu juga. Tapi dia harus tetap tenang demi menjaga perasaan Rendi. Sedangkan Rendi langsung menghampiri Rania dan memeluknya. Rania mendapat perlakuan seperti itu dari Rendi jadi risih. Apalagi Radit juga melihat kearahnya. Dia berusaha melepaskan pelukan Rendi.
''Kapan kamu sampai?'' tanya Rendi antusias setelah melepaskan pelukannya dari Rania.
''Tadi malam tuan'' jawab Rania masih tidak enak hati.
''Kenapa sudah langsung masuk kerja? Apa kamu tidak capek?'' tanya Radit sambil melihat ke arah Rania.
''Dia kelihatan lebih kurus'' batin Radit.
''Tidak pak. Lagian saya sudah terlalu lama libur'' jawab Rania.
''Kalau gitu kita langsung ke kantor'' perintah Radit.
''Baik pak'' jawab Rania. Ada sedikit kecewa dihati Rania melihat sikap cuek Radit ketika bertemu dengannya. Radit seolah tidak peduli dengannya.
''Apa paman salah, katanya pak Radit menyukaiku tapi melihat sikapnya seperti ini. Padahal aku berharap lebih ketika bertemu dengannya'' batin Rania sedih.
Kemudian Rania membukakan pintu untuk Radit. Ketika Radit masuk mata sempat bertemu dengan Rania. Tapi dengan cepat dia alihkan. Radit berusaha menahan rasa dihatinya.
''Saya duduk didepan samping antik'' kata Rendi mencoba mencairkan suasana. Dia tahu kalau antara Rania dan Radit ada rasa canggung. Radit seperti menghindari Rania. Tapi dia tidak peduli. Yang penting Rania sudah datang itu membuatnya senang dan juga ini kesempatanya untuk mendekati Rania lagi.
Setelah itu Rania menyetir mobil menuju kantor. Radit melihat ke arah Rania dari belakang. Entah apa yang dipikirkannya.
''Gimana kabarmu tik?'' tanya Rendi.
''Baik tuan'' jawab Rania
''Apa pak Radit marah karna tuan Rendi memelukku tadi ya. Kenapa dia diam saja. Padahal selama ini aku sangat merindukannya''batin Rania.
Rania masih larut dengan pikirannya. Sehingga apa yang dibicarakan Rendi tidak terdengar olehnya.
''Maaf Rania aku terpaksa bersikap seperti ini kepadamu. Sebenarnya aku sangat merindukanmu. Tapi demi Rendi aku harus menjaga jarak denganmu'' batin Radit.
''Antiik'' panggil Rendi.
''Iya tuan, maaf anda ngomong apa tadi?'' tanya Rania kaget mendengar panggilan Rendi.
''Kamu kenapa? apa kamu sakit?'' tanya Rendi cemas.
''Tidak tuan'' jawab Rania.
''Tadi saya bertanya apa kamu mau makan dengan saya malam ini?'' tanya Rendi.
Radit terkejut mendengar Rendi mengajak Rania makan malam. Tapi dia hanya diam saja.
''Apa Rendi berniat mengungkapkan perasaannya kepada Rania?'' batin Radit. Ada rasa sakit dihatinya.
''Maaf tuan saya malam ini ada janji dengan Sisi'' tolak Rania. Dia tidak berniat untuk menerima tawaran Rendi. Rania juga heran melihat sikap Rendi. Biasanya Rendi memang suka mengajaknya tapi sambil bercanda. Entah kenapa rasanya ajakan Rendi kali ini terkesan berbeda.
''Kalau malam besoknya kamu bisa?'' tanya Rendi lagi.
''Saya belum tahu tuan. Tapi saya tidak janji bisa pergi dengan anda'' tolak Rania.
Rania diam saja tidak menjawab. Dia binggung mencari alasan untuk nolak Rendi.
''Kalau cuma makan malam dirumahkan bisa'' ucap Radit.
''Tapi kak. Aku cuma pengen makan berdua sama antik'' jawab Rendi.
Tidak ada jawaban. Mereka sampai di kantor. Dengan cepat Rania keluar dari mobil untuk membukakan Radit pintu mobil. Rendi ikut turun. Dia masih tidak patah semangat mengajak Rania.
''Gimana antik?'' tanyanya lagi.
''Maaf tuan saya tidak bisa'' jawab Rania.
''Tapi...'' kata Rendi dipotong Radit.
''Ren kita masuk. Pagi ini kita ada meeting'' perintah Radit. Mau tidak mau Rendi mengikuti Radit. Rania merasa lega karna Radit cepat mengajak Rendi pergi.
''Nanti kita bicara lagi ya'' teriak Rendi sambil berjalan di belakang Radit.
''Huft'' Rania menghembus nafas lega.
''Pagi Rania'' sapa Davin dari belakang.
''Ee copot,copot, co...'' kata Rania kaget.
''Hehe. Apanya yang copot?'' tanya Davin.
''Kak Davin... Bikin kaget aja'' kata Rania.
''Iya habisnya kamu benggong, anak gadis tidak boleh sembarangan benggong apalagi dipagi hari'' jelas Davin.
''Emang kenapa?'' tanya Rania.
''Lambat dapat jodoh, haha'' jawab Davin.
''Mana ada'' kata Rania sewot.
''Hehe, aku becanda. Kamu kapan sampai?'' tanya Davin.
''Tadi malam, apa Sisi tidak memberitahu kak Davin?'' tanya Rania.
''Tidak, mungkin pagi ini pelanggannya sedang ramai. Jadi dia belum sempat ngasih kabar'' jawab Davin.
''Iya'' kata Rania.
''Kamu apa kabar selama ini? Apa kamu sakit?'' tanya Davin.
''Baik seperti yang kakak lihat'' jawab Rania.
''Tapi kamu kelihatan lebih kurus loh'' ucap Davin.
''Mungkin karna selama di Bandung kurang tidur'' alasan Rania.
''Kurang tidur atau lagi mikirkan seseorang?'' goda Davin.
''Ihh, kak Davin apaan sih'' Rania jadi malu.
''Hehe, ya udah aku kekantor dulu, soalnya pagi ini kami ada meeting'' pamit Davin.
''Iya kak'' jawab Rania.
''Tapi kamu lebih baik tanpa pakai kacamata itu'' ucap Davin lagi sambil berjalan meninggalkan Rania.
Setelah Davin pergi, Rania juga pergi keruangannya. Sesampai disana Rania duduk termenung.
''Semua orang menanyakan kabarku. Tapi kenapa dia sendiri tidak bertanya. Apa dia tidak senang aku datang kesini lagi. Padahal paman bilang kalau dia juga menyukaiku. Tapi nyata-nyata tidak setelah melihat sikapnya hari ini. Sepertinya hanya aku yang terlalu berharap. Apa begini rasanya diabaikan. Sakit sekali'' gumam Rania. Dia melihat ponselnya, kemudian dia mencari foto bundanya.
''Sekarang Rania bisa merasakan sakit yang bunda rasakan ketika tidak di percaya ayah. Diabaikan saja sudah seperti ini rasa sakitnya. Apalagi tidak dipercaya sama suami sendiri'' kata Rania sambil melihat foto bundanya.