Rania

Rania
119. Merasa Bersalah



''Seharusnya kamu berdiam diri ditempat persembunyianmu. Apa yang dilakukan paman Rendra sekarang tidak sebanding dengan apa yang dilakukan kakek dan ayahmu. Setidaknya paman masih memberi tempat tinggal mengingat kita masih keluarga. Kalau kalian tidak mengusik kami, kalian pasti masih hidup dengan nyaman sampai sekarang. Walaupun harta yang kalian nikmati selama ini. Merupakan milik kami yang kalian rampas dengan paksa'' ucap Rania. Wajah Kevin jadi suram mendengar ucapan Rania.


''Oh ya saya yakin Astrid tidak menceritakan semuanya tentang saya sama kamu. Tapi dengan bodohnya kamu bisa terhasut olehnya. Andai tadi saya kalian tangkap. Selain suami tercinta saya , paman Rendra dan keluarga Wiratmaja juga akan mencarimu. Saya jarang menyombongkan diri seperti ini tapi kamu tahu siapa ayah saya? Dia Gunawan Wiratmaja'' ucap Rania sedikit meninggikan suaranya. Sekali lagi Kevin terkejut dengan status Rania. Dia tidak menyangka akan terlibat dengan orang yang berpengaruh dalam dunia bisnis.


''Sayang apa polisinya sudah dijalan?'' tanya Rania tersenyum manis.


''Sudah sayang'' jawab Radit.


''Apa mas bisa membereskan Astrid secepatnya? Kalau tidak biar aku yang melakukannya'' ucap Rania melihat kearah Radit.


''Kamu tenang saja dalam waktu singkat dia tidak akan menjadi pengangu lagi'' jawab Radit lembut.


''Ok, karna aku hanya ingin hidup tenang. Aku capek diusik terus oleh orang terutama yang berhubungan dengan mas'' ucap Rania. Radit merasa ucapan Rania benar. Dari sekian banyak masalah yang menimpa Rania berhubungan dengannya.


Beberapa saat kemudian polisi datang untuk menangkap Kevin dan gerombolannya. Kevin merasa sedikit menyesal karna mengikuti rencana Astrid. Tapi nasi sudah menjadi bubur. Semua tidak akan bisa diperbaiki lagi. Dia dengan pasrah dibawa kekantor polisi untuk menerima hukuman atas perbuatannya.


Setelah memberi keterangan kepada polisi Radit dan Rania melanjutkan perjalanan pulang kerumah mereka. Tidak ada pembicaraan selama perjalanan. Mereka larut dalam pikiran masing-masing.


Menjelang magrib mereka sampai dirumah. Diva sedang duduk diruang keluarga ketika Radit dan Rania masuk. Dia senang melihat mereka pulang. Rania menghampiri Diva.


''Malam ma'' sapa Rania.


''Kamu kelihatan pucat. Apa kamu sakit sayang?'' tanya Diva cemas.


''Rania hanya merasa capek ma. Rania kekamar dulu untuk istirahat ya ma'' jawab Rania dengan senyum walau agak dipaksakan.


''Ya udah, kamu istirahat aja dulu. Biar makan malam diantar bik Inah kekamar'' ucap Diva. Rania berjalan gontai meninggalkan Diva dan Radit.


''Sayang, apa kalian ada masalah?'' tanya Diva setelah Rania pergi.


''Iya ma'' jawab Radit menghempaskan tubuhnya diatas sofa. Dia juga merasa capek badan dan pikiran.


''Masalah apa?'' tanya Diva penasaran. Radit kemudian menceritakan apa yang terjadi tadi. Dia juga mengatakan tentang Astrid.


''Kasihan Rania. Walaupun dia kelihatan kuat. Tapi masalah yang selama ini menimpanya pasti membuatnya sangat tertekan. Kamu juga kenapa tidak menyelesaikan si Astrid itu dari dulu sih. Kamu harus bersikap tegas kepadanya. Kalau mama jadi Rania sudah pasti mama marah '' ucap Diva marah.


''Radit juga tidak tahu akan seperti ini ma. Radit juga merasa bersalah kepada Rania. Radit kira peringatan waktu itu sudah membuat Astrid menyerah. Tapi ternyata dia nekat menghasut Kevin. Dengan bodoh Kevin mau melakukannya'' sesal Radit.


''Kalau sampai Rendra dan keluarga Wiratmaja tahu. Mereka akan kecewa denganmu'' ucap Diva.


''Iya ma, Radit juga sudah menyuruh Davin membereskannya. Radit kekamar dulu ya ma'' jawab Radit meninggalkan Diva diruang keluarga seorang diri. Diva membuang nafas memikirkan masalah anaknya. Dia berharap semua akan baik-baik saja.


Sampai dikamar Radit melihat Rania sudah tidur menghadap kesamping. Setelah mandi dan berganti baju Radit ikut tidur sambil memeluk Rania dari belakang.


Rania yang belum tidur mendengar perkataan Radit. Sebenarnya Rania sedikitpun tidak pernah menyalahkan Radit atas semua yang terjadi. Dia merasa terharu dengan ucapan Radit. Karna sudah mengantuk Rania menyusul Radit kealam mimpi.


Pagi hari seperti biasa Rania sibuk menyiapkan sarapan. Diva yang melihat Rania didapur menghampirinya.


''Pagi sayang'' sapa Diva tersenyum.


''Pagi ma'' jawab Rania tersenyum.


''Lebih baik kamu istirahat aja. Biar bik Inah yang membuat sarapan'' ucap Diva.


''Gak apa-apa ma biar aku saja yang buat'' jawab Rania.


''Kamu hari ini dirumah aja istirahat'' kata Diva lagi.


''Maaf ma, aku sudah ada janji dengan ayah dan paman dikantor'' jawab Rania.


''Karna masalah kemaren ya? mama minta maaf secara tidak langsung Radit membuatmu dalam bahaya'' ucap Diva cemas. Rania mengerti apa yang dicemaskan Diva.


''Aku tidak pernah menyalahkan mas Radit dengan semua masalah yang ada kok ma. Mungkin ini cobaan bagi kami. Aku percaya mas Radit juga tidak menyangka akan jadi seperti ini. Mama gak usah cemas tentang Astrid. Aku hanya ingin memberitahu ayah dan paman tentang Kevin. Takutnya paman dituduh penyebab Kevin masuk penjara oleh keluarganya. Sedangkan dia tidak tahu apa-apa'' jelas Rania. Diva merasa terharu.


''Makasih sayang, Radit beruntung memiliki istri sepertimu'' ucap Diva. Rania tersenyum. Di juga merasa beruntung mendapatkan suami dan mertua yang sangat menyayanginya.


Selasai membuat sarapan Rania pergi kekamarnya untuk berganti pakaian dan membangunkan Radit. Mereka turun bersama untuk sarapan. Rendi dan Diva sudah menunggu di meja makan. Sedangkan Surya sedang berada diluar kota.


''Pagi kakak ipar'' sapa Rendi sambil tersenyum ketika Rania dan Radit sudah duduk.


''Hmm, gak usah senyum-senyum melihat istriku'' jawab Radit.


''Kenapa kak Radit yang sewot. Kakak ipar saja tidak protes. Seharusnya aku yang kesal sama kakak. Dengan pekerjaan yang kakak tinggalkan membuat kepalaku pusing. Ditambah kak Davin sibuk mempersiapkan acara pernikahannya. Kakak enak bisa pergi selama tiga hari'' omel Rendi.


'' Gak usah lebay, baru tiga hari ditinggal sudah kayak orang kebakaran jenggot. Tiap saat menelpon. Andai perusahaan aku serahkan sama kamu. Apa kamu akan tetap seperti ini?'' tanya Radit.


''Aku tidak berminat dengan perusahaan. Aku mau mengerjakan yang lain'' jawab Rendi.


''Maksudnya kamu mau mengurus barang antik? Kalau iya lebih baik kamu belajar dengan om Alan sekalian jadi menantunya secara anaknya juga antik'' ejek Radit membuat Rania dan Diva menahan tertawa. Suasana seperti ini yang selalu dirindukan Rania. Melihat mereka berdebat tapi dalam hati saling menyayangi. Rendi memonyongkan mulutnya. Ketika dia mau menjawab Diva duluan bicara.


''Kalian mau makan atau mau ribut? Tiap bertemu selalu saja bertengkar'' ucap Diva.


Radit dan Rendi diam. Mereka mulai sarapan tanpa membantah ucapan Diva. Setelah sarapan mereka pamit untuk pergi kekantor. Radit menyuruh Rendi mengemudikan mobil mereka. Walaupun mengomel Rendi tetap menerimanya. Mereka mengantar Rania ke kantornya terlebih dahulu. Baru Radit dan Rendi pergi kekantor mereka.