
Rania POV
Hari-hari berlalu semenjak kejadian itu, kini aku ataupun Steven tidak lagi bertemu kami sibuk dengan kerjaan masing-masing.
pada suatu hari aku merasa aneh kenapa aku tidak merasakan mual lagi dan ngidam seperti wanita hamil pada umumnya, dan yang lebih mengejutkan adalah aku kedatangan tamu bulananku. karena penasaran akupun memberanikan diri untuk datang kerumah sakit dan memeriksakan diri ke dokter kandungan dan ternyata hasilnya adalah aku dinyatakan tidak mengandung dokter itu menjelaskan bahwa tidak semua test pack itu akurat.
Mendengar penjelasan dokter membuatku lega namun disisi lain entah kenapa aku merasa kecewa karena dirahimku tidak juga tumbuh benih cinta aku dan Steven. setelah itu aku langsung menghubungi Robert jika ada kesalah pahaman tentang kehamilanku dan Robert pun merasa senang karena hal yang akan membuat ku hancur ternyata tidak akan terjadi.
Hari berikutnya pun datang lagi dan seperti biasa aku mulai bekerja kembali berharap melupakan sosok pria yang menemaniku selama delapan tahun lamanya, tapi nyata nya percuma saat itu Stev datang ke kantor Dirga dan membuat kekacauan disana.
Stev menyuruhku jujur tentang ayah dari anak dalam kandunganku dihadapannya dan juga Dirga, aku sangat terkejut bagaimana bisa ia tau tentang hal ini namun aku berusaha untuk terlihat tenang.
"Stev ada apa kau kesini dan membuat keributan." ucap Dirga dengan tatapan membunuh.
"Aku datang hanya ingin memastikan tentang anak yang dikandung Rania." tatapan yang ditujukan Steven pun tak kalah menyeramkan.
Aku melihat Dirga sangat syok sekigus bingung mendengar apa yang diucapkan oleh Steven, aku pun dengan cepat menjawab pertanyaan itu sebelum terjadi kesalahan pahaman lagi yang sangat serius.
"Siapa yang hamil Stev? aku sama sekali tidak hamil." ucapku tenang yang malah membuat Steven mencengkram bahuku dengan kuat.
"Aku mendengarnya sendiri kau mengatakan itu dengan Robert." Steven pun mengatakan jika ia mendengar pembicaraan ku waktu itu.
"Ada hal yang harus kamu tau dan kita selesaikan sekarang juga Stev dan aku tidak mau kau memotong pembicaraanku sebelum semuan yang kukatakan selesai." aku merasa sekarang waktu yang tepat untuk meluruskan semua kesalah pahaman yang terjadi antara aku dan Steven.
"Aku dan Dirga sama sekali tidak menjalin hubungan, sama sekali tidak menghianati mu. dan apa yang kamu dengar waktu itu memang benar tapi sebelum aku memeriksakan diri kerumah sakit, namun setelah aku periksa ternyata dokter mengatakan jika test pack yang aku gunakan itu tidak akurat dan aku sama sekali tidak hamil. percaya atau tidak itulah yang sebenarnya Stev, dan mungkin kamu mendengar dari orang lain jika aku menghianatimu tapi sebenarnya tidak seperti itu dan." aku sengaja menjeda ucapanku agar bisa lebih leluasa untuk mengutarakan isi hatiku yang sebenarnya kepada Stev di hadapannya dan juga Dirga.
"Dan hari ini aku sudah pasrah dan menerima putus dari kamu, aku harap kedepannya kita tidak akan pernah bertemu lagi. dan untukmu Dirga maaf untuk kejadian ini, hari ini aku sudah memutuskan dan memasukan surat pengunduran diri aku harap kamu sebagai atasan sekaligus temanku tidak akan membenciku." dengan berat aku mengucapkan kata-kata yang tidak pernah ingin aku ucapkan.
Aku melihat wajah Steven yang sedikit pucat dan terlihat jelas ada penyesalan disana, matanya yang terlihat sudah membendung begitu banyak air namun berusaha ia tahan agar tidak keluar mungkin ia tak ingin memperlihatkan sisi lemahnya terhadapku dan juga Dirga.
"Rania kamu mau kemana?" Dirga bertanya kepadaku dengan wajah yang sedikit kehuwatir.
Aku hanya tersenyum melihat mereka berdua secara bergantian dan aku pun berpamitan.
"Hiduplah kalian dengan baik, aku pamit." ucapku dengan meneteskan air mata lalu pergi dari sana, aku melihat Steven yang mencoba untuk mengejar ku namun aku berusaha menghindar dan dengan cepat mengemudikan mobilku.