Rania

Rania
91. Istri Masa Depan



Sudah tiga hari Gunawan tidak kekantor. Selama dirumah Rania dengan telaten merawatnya. Radit dan Rendi juga datang tiap pagi. Walaupun terkadang mereka sering berdebat memperebutkan Rania.


Pagi ini Rania sudah sibuk didapur membuat sarapan. Karna kesehatannya sudah membaik. Untuk pertama kalinya Rania ingin membuat sarapan buat keluarganya.


Rania masih sibuk didapur dibantu bik Asih. Sebenarnya bik Asih tugasnya hanya untuk bersih-bersih saja. Urusan dapur biasanya Nella yang kerjakan. Tapi melihat Rania memasak didapur dia ingin membantu. Rania juga tidak keberatan.


''Kok gak bangunin mama, kenapa kamu yang buat sarapan?'' tanya Nella yang muncul didapur.


''Gak apa-apa ma, Rania sudah biasa menyiapkan sarapan. Karna sakit saja Rania jadi manja. Lagian kelihatan mama lemas. Apa mama sakit?'' tanya Rania sambil memasak.


''Entah mengapa pagi ini badan mama rasanya lemas sekali. Sehingga telat bangun'' jawab Nella. Dia berjalan mendekati Rania.


''Ada yang bisa mama bantu?'' tanya Nella lagi.


''Gak ada, ini sudah hampir siap. Sebaiknya mama duduk saja dulu. Mungkin mama kelelahan karna selama ini sibuk mengurus rumah dan merawat kami'' ucap Rania.


''Iya, tapi ntar sehat sendiri. Sakit kalau dibawa manja malah bertambah parah'' jawab Nella.


''Hehe, Tapi kalau sakit juga butuh istirahat. Ayah udah bangun ma?'' tanya Rania.


''Udah, tadi pas mama mau kesini dia sedang mandi'' jawab Nella.


''Apa hari ini dia mau kekantor?'' tanya Rania.


''Katanya iya, Hatinya tidak tenang terlalu lama meninggalkan kantor'' jawab Nella.


''Kenapa keras kepala sekali sih, Padahal badannnya belum sehat total'' omel Rania.


''Hehe, kalian sama-sama keras kepala'' jawab Nella tersenyum.


Rania jadi malu mendengar ucapan Nella. Semua menu sarapan hari ini sudah selesai dia masak. Kemudian bik Asih meletakan di meja makan. Nella kembali kekamar memanggil Gunawan dan Wiratmaja untuk sarapan.


''Kayaknya sarapan pagi ini berbeda'' ucap Wiratmaja sambil duduk.


''Semua Rania yang masak pa'' jawab Nella yang datang sama Gunawan.


''Ternyata cucuku pintar masak. Semuanya terlihat enak'' puji Wiratmaja.


''Dia juga putriku'' jawab Gunawan bangga.


''Hehe, kakek mau aku ambilkan nasi sama lauknya?'' tanya Rania.


''Iya, tapi sedikit saja, biasanya pagi ini kakek tidak terlalu banyak makan'' jawab Wiratmaja.


Kemudian Rania mengambilkan sarapan untuk Wiratmaja. Sedangkan Nella mengambilkan sarapan untuk Gunawan. Mereka mulai sarapan.


''Masakkanmu enak sayang'' puji Gunawan. Rania hanya tersenyum melihat mereka menyukai masakannya.


''Iya, mama tidak menyangka kamu pintar sekali masak. Sampai masakan mama bukan apa-apa dibandingan masakan kamu'' puji Nella lagi.


''Ah, mama bisa aja'' jawab Rania malu.


''Dia memang cucuku, kakek nambah dikit lagi.'' ucap Wiratmaja. Semua orang tertawa. Wiratmaja yang biasanya makan sedikit hari ini malah minta tambah.


''Ayah mau kekantor?'' tanya Rania melihat Gunawan sudah berpakaian rapi.


''Iya, kerjaan dikantor banyak. Kasihan Candra dia juga harus bolak balik rumah sakit menjaga Cynthia'' jawab Gunawan.


''Ayah tidak apa-apa. Kamu gak usah cemas. Ayah akan perhatikan jam makan dikantor biar gak telat lagi. Ayah juga gak mau sakit ntar Radit malah cepat-cepat menikahi kamu'' jawab Gunawan.


''Hmm, untuk makan siang biar Rania yang antar kekantor. Ayah kan belum boleh makan yang terlalu keras dan pedas-pedas'' ucap Rania.


''Iya, kalau putriku bilang seperti itu. Ayah malah senang kamu mau kekantor.'' jawab Gunawan senang.


''Tapi untuk makan siang kakek jangan lupa kamu buatkan juga'' ucap Wiratmaja tidak mau kalah.


''Siap bos'' jawab Rania. Semua orang tertawa. Hari ini untuk pertama kalinya keluarga ini bisa tertawa bahagia dimeja makan. Rania membawa kebahagian tersendiri bagi mereka.


Selesai sarapan Gunawan langsung pamit pergi kekantor. Dan Radit juga tidak mampir pagi ini. Katanya sama Rania dia ada meeting penting pagi ini.


Setelah membereskan meja makan. Rania pergi menemani Wiratmaja berkebun ditaman belakang rumahnya. Sekarang Rania punya kesibukan baru menemani kakeknya berkebun sesudah sarapan. Sampai kakeknya capek.


Menjelang siang Rania sibuk membuat makan siang untuk dibawah kekantor ayahnya dan ketempat Radit. Rania sengaja tidak memberitahu Radit kalau hari ini dia akan datang.


Setelah semuanya selesai Rania pamit kepada Nella untuk pergi kekantor Gunawan dan izin main keklinik Sisi. Awalnya Rania mau pergi mengunakan motor. Tapi Nella melarangnya. Dia menyuruh Rania pergi dengan mobil diantar sopir. Biar bagaimanapun Nella cemas karna Rania baru sembuh.


Rania lebih dulu kekantor Radit. Karna kantor Radit yang duluan dia lewati. Sampai dikantor Radit, Rania langsung berjalan menuju lobi. Sedangkan sopir menunggu diparkiran. Sekilas Rania teringat masa-masa dia menjadi sopir Radit. Semua kenangan membuatnya tersenyum.


Sampai dilobi Rania melihat seorang wanita yang tidak asing sedang berdebat dengan resepsionis.


''Kenapa Astrid ada disini?'' batin Rania.


''Saya hanya pengen bertemu dengan Radit sebentar saja. Kenapa kamu tidak bisa tunjukan sih dimana ruanganya'' Kata Astrid ketus.


''Maaf buk, kalau tidak ada janji tidak bisa bertemu pak Radit. Apalagi sekarang pak Radit sedang sibuk'' jawab Resepsionis.


''Aku tidak boleh menyerah, sudah capek-capek cari tahu alamat kantor Radit. Enak aja tidak bisa bertemu'' batin Astrid.


''Apa kamu tidak tahu siapa saya? Saya ini calon istri masa depan Radit'' ucap Astrid sombong.


''Maaf ya buk, pak Radit memang tampan. Dan yang mengaku mau jadi pacar dan istrinya sudah banyak. Jadi anda bukan orang pertama yang mengaku jadi istri masa depannya. Kalau anda tidak bisa pergi sekarang kami akan memanggil satpam untuk mengusir anda'' kata Resepsionis judes yang biasa berdebat dengan Rania.


''Permisi mbak'' ucap Rania sambil berjalan melewati mereka.


''Iya silakan, kamu mau kemana?'' tanya Resepsionis judes.


''Saya mau antar makan siang pak Radit'' jawab Rania santai sambil melihatkan tas yang berisi kotak makanan.


''Siapa dia? kenapa orang culun sepertinya bisa bertemu Radit tapi saya tidak?'' tanya Astrid kesal. Sebelum Resepsionis menjawab Rania sudah duluan menjawab.


''Saya istri masa depan pak Radit juga'' jawab Rania sambil tertawa meninggalkan mereka yang masih tertegun.


''What, saya tidak salah dengar dengan apa yang dia katakan?'' tanya Astrid sama dirinya sendiri.


''Anda tidak salah dengar buk. Saya juga Syok mendengar jawabannya. Tapi tidak dipungkiri juga dia sangat dekat dengan pak Radit. Karna dia sopirnya pak Radit'' jawab Resepsionis judes.


''Masak Radit menyukai orang culun seperti dia. Kalah jauh dari aku. Apaaa dia sopirnya Radit?'' kata Astrid terkejut.


''Tunggu, sepertinya aku pernah mendengar suaranya tapi dimana ya'' batin Astrid.


''Iya buk, dan sebaiknya anda silakan pergi Sekarang'' ucap Resepsionis.


''Huft'' Astrid pergi dengan wajah kesal. Tapi dia tidak menyerah. Dia berencana akan menemui Radit lagi.