Rania

Rania
68. Rania Siuman



''Apa yang kamu mimpikan. Sampai saat ini kamu belum juga sadar Ran'' ucap Radit sambil menidurkan kepalanya diatas tempat tidur Rania melihat kearahnya. Dia berharap Rania cepat siuman.


Radit sampai tertidur. Mungkin karna malam dia kurang tidur jadi matanya mengantuk. Ketika tangan Rania mulai bergerak. Radit yang memegang tangan Rania terbangun merasakan jari Rania bergerak.


''Rania'' kata Radit pelan saat melihat Rania masih mengerakan jarinya. Radit masih menunggu ketika mata Rania perlahan mulai terbuka.


''Pak Radit'' kata Rania lemah hampir tidak terdengar ketika Rania melihat orang yang pertama saat dia membuka mata.


''Iya ini saya'' jawab Radit senang. Dia memcium tangan Rania karna begitu senangnya melihat Rania Siuman. Kemudian dia segera memencet bel. Untuk memanggil dokter dan perawat .


Dimas dan perawat datang keruangan Rania dengan cepat.


''Rania sudah siuman Dim'' kata Radit senang ketika Dimas dan perawat masuk.


''Iya, biar aku cek dulu'' kata Dimas


Radit berdiri dibelakang Dimas dan perawat yang sibuk mencek kondisi Rania.


''Kondisinya stabil. Tapi dia perlu istirahat karna masih lemah'' kata Dimas setelah selesai mengecek Rania.


''Kamu mengenal saya Ran?'' tanya Dimas untuk memastikan kondisi kepala Rania.


Rania mengedipkan matanya dan Tersenyum. Karna masih lemas Rania tidak bisa bicara banyak. Dimas menyuruh perawat memberi Rania obat biar dia bisa istirahat.


''Biarkan dia istirahat dulu Dit, nanti aku akan mengecek kondisinya lagi'' kata Dimas.


''Makasih Dim'' kata Radit. Betapa senang hatinya melihat Rania sudah siuman.


''Iya, aku pamit dulu'' kata Dimas.


Dimas dan perawat meninggalkan ruangan Rania. Radit kembali duduk disamping Rania.


''Kamu cepat sembuh Ran, saya sangat takut sekali kamu meninggalkan saya'' ucap Radit sambil memengang tangan Rania.


Rania hanya tersenyum melihat Radit. Banyak yang ingin dia tanyakan. Tapi karna tenaganya belum ada. Dia hanya mendengarkan saja.


Terdengar suara pintu terbuka, ternyata yang datang Rendra, Susi, Angga dan Sisi. Mereka langsung menghampiri Rania yang sudah siuman. Sisi sampai menangis karna bahagia. Kalau tidak mengingat kondisi Rania masih lemah mungkin dia sudah memeluk Rania. Begitu juga dengan Rendra matanya berkaca-kaca melihat keponakannya sudah siuman. Dia sangat bersyukur.


Rania bahagia semua orang yang dia sayangin ada disana. Dia merasa bersyukur disaat seperti ini dia tidak sendiri.


''Kakak harus cepat sembuh. Biar kita bisa latihan lagi'' ucap Angga.


''Iya, aku belum pernah mengajakmu shopping selama di Jakarta. Kalau kamu sudah sembuh kita akan jalan-jalan sepanjang hari'' kata Sisi juga.


Rania hanya tersenyum mendengar ucapan mereka.


''Sekarang Rania harus istirahat. Kata dokter dia tidak boleh banyak bergerak dulu. Karna kondisinya masih lemah'' kata Radit


'' Tapi aku ingin bicara dengan Rania, kak Radit'' protes Sisi


''Kalau kamu tidak percaya. Kamu boleh tanya sama Dimas kakakmu. Dia akan marah kalau kita terus mengajak Rania bicara'' kata Radit tak kalah galaknya.


''Saya akan menjaga Rania'' jawab Radit masih duduk disamping tempat tidur Rania.


''Tapi gantian, Biar aku yang menjaga Rania dan duduk disana'' kata Sisi.


''Tidak boleh, kamu pasti akan mengajaknya bicara terus'' kata Radit.


''Is kak Radit. Ntar aku bilangin sama kak Davin loh'' kata Sisi.


''Bilangin saja, saya tidak takut'' jawab Radit. Ya jelas Radit tidak takut. Karna Davin dikantor adalah bawahannya. Sisi cemberut mendengar jawaban Radit.


''ehm, kalian bisa diam tidak? kalau mau bertengkar diluar saja'' kata Rendra. Radit dan Sisi terpaksa diam.


''Emang enak'' bisik Angga senang. Sementara Rania sudah mulai tertidur lagi.


''Ayo kesini duduk. Biar Rania tidur dulu'' perinta Rendra.


Radit,Sisi dan Angga beranjak duduk sofa dekat Rendra dan Susi duduk.


''Kita makan siang dulu'' Kata Rendra. Dia menyuruh Susi menyiapkan makanan yang mereka beli.


Semua makan dengan lahap. Mungkin karna sudah lewat jam makan siang. Perut mereka sangat lapar. Setelah selasai makan mereka kembali mengobrol. Sedangkan Rania masih tidur. Mungkin pengaruh obat yang disuntikan perawat membuatnya tidur dengan pulas.


'' Makasih ya nak Radit'' kata Rendra memulai pembicaraan.


''Untuk apa paman?'' tanya Radit heran.


''Untuk semuanya, kamu begitu sangat peduli dengan Rania. Sekarang paman jadi tenang membiarkan Rania di Jakarta. Padahal tadinya paman berniat membawa Rania kembali ke Bandung. Tapi setelah melihat kamu begitu menjaga Rania paman jadi mengurungkan niat paman. Rania sangat beruntung memiliki kalian semua disekitarnya'' ucap Rendra.


''Sudah tanggung jawabnya sebagai bos kak Rania, ayah'' jawab Angga masih tidak suka dengan Radit.


''Tapi kalau ayah lihat, ini bukan seperti tanggung jawab bos kepada karyawannya. Tapi lebih dari itu Angga. Kamu harus bisa membedakannya. Kamu harus banyak belajar kepada nak Radit. Kamu tidak bisa begini terus. Suatu saat kakakmu itu akan punya keluarga. Dia tidak mungkin dengan kita terus'' ucap Rendra.


''Aku mau belajarnya sama kak Rania aja'' jawab Angga. Rendra mau bicara tapi Radit sudah duluan bicara.


''Hehe, biar saja paman. Dia masih muda'' kata Radit melihat kearah Angga.


''Siapa bilang? Saya sudah dewasa. Sudah bisa menjaga kak Rania. Pokoknya mulai sekarang saya akan ikut kemana kak Rania pergi. Seperti kata ayah dulu. Kalau aku sudah besar. Aku harus menjaga kak Rania'' jawab Angga.


Rendra tersenyum. Dia bangga Angga masih ingat permintaannya. Dulu Rendra sangat cemas kalau suatu saat Rania akan pergi ke Jakarta. Sehingga dia membuat permintaan supaya Angga selalu bersama Rania. Biar bisa melindunginya. Sekarang mereka sudah sama-sama besar. Dan Rania juga sudah waktunya berkeluarga. Dia tidak masalah Angga terus berada didekat Rania. Karna kehidupan di Jakarta itu sangat keras. Dia tidak mau apa yang menimpa Retno akan terjadi juga sama Rania.


'' Kamu tenang saja sekarang biar saya yang melindunginnya'' kata Radit serius.


''Tidak bisa, Anda bukan siapa-siapa kak Rania'' jawab Angga tidak mau kalah. Begitu sayangnya dia sama kakaknya itu. Sampai dia belum bisa menerima kalau ada laki-laki lain mendekati Rania.


''Sekarang memang saya bukan siapa-siapanya. Tapi setelah ini saya akan menjadi orang yang pertama melindungi dan menjaga Rania'' kata Radit percaya diri sambil tersenyum.


Sisi senang mendengar Radit bicara seperti itu. Berarti Radit begitu menyayangi Rania. Akhirnya cinta Rania tidak bertepuk sebelah tangan. Walaupun Rania tidak mengatakan dia menyukai Radit. Tapi Sisi tahu selama ini Rania juga mencintai Radit. Sisi berharap Rania mendengar semua yang dikatakan Radit sekarang. Supaya hatinya juga ikut bahagia.


Rendra dan Susi juga senang mendengar kata Radit. Hanya Angga yang masih tidak rela. Semoga Radit bisa merubah pendirian Angga.