
Rania masih memikirkan sikap Radit yang terkesan menjaga jarak dengannya. Ketika Rania melewati jalan sepi tempat dimana dia diserang dulu. Rania melihat seorang anak gadis sedang di ganggu beberapa preman. Kemudian Rania memberhentikan motornya di dekat mereka.
''Hey kalian berhenti'' teriak Rania ketika sudah turun dari motornya. Ketiga preman melihat kearah Rania.
''Lihat ada satu lagi mangsa yang datang. Tapi sayangnya jelek'' kata salah satu preman.
''Biar jelek yang penting bisa memuaskan kita, haha'' jawab yang satunya lagi.
''Kamu kesini dek'' panggil Rania sama anak gadis yang diganggu. Dia berlari kearah Rania.
''Hei kau cewek culun. Kalau tidak mau terjadi apa-apa denganmu jangan ikut campur urusan kami'' teriak salah satu preman dengan marah.
''Kalau aku tidak mau, kalian mau apa?'' tanya Rania santai.
''Haha, lihat dia sok jadi pahlawan. Ntar malah nangis minta ampun'' ledek preman. Mereka bertiga tertawa.
''Kamu tidak kenapa-napa dek?'' tanya Rania tanpa menghiraukan para preman.
''Tidak kak, lebih baik kakak pergi saja. Kalau kakak kenapa-napa nanti malah saya yang merasa bersalah'' ucap gadis itu. Tidak ada rasa takut diwajahnya.
''Hehe, kamu berdiri tenang disini. Biar mereka kakak yang urus'' ucap Rania berjalan kearah ketiga preman.
''Kalian mau pergi sekarang atau tidak?'' ancam Rania.
''Cih, dia pake ancam kita segala. Loe bereskan dia'' perintah salah satu preman. Mungkin dia bos dari mereka.
''Jangan salahkan aku berbuat kasar sama kalian'' kata Rania sambil siap-siap menghajar preman tersebut.
Setelah itu terjadilah perkelahian antara Rania dengan salah satu preman. Jelas Rania yang menang. Namanya preman kampung hanya mengandalkan kekuatan fisik saja. sekali tendang preman itu tersungkur. Melihat temannya kalah dua preman lagi menyerang Rania bersamaan. Tapi nasibnya sama, mereka kalah. Mereka di buat babak belur oleh Rania sebelum mereka melarikan diri.
Setelah preman kabur Rania kembali ketempat anak gadis yang memandang takjub kepada Rania.
''Kamu kenapa berada disini? Apalagi hari udah mau magrib. Apa orang tua kamu tidak cemas anak kecil sepertimu tidak berada dirumah? Apalagi kamu seorang perempuan'' tanya Rania sambil membersihkan bajunya yang kotor.
''Wow kakak hebat, boleh tidak aku diajarkan jurus seperti tadi. Keren amat seperti dalam film-film'' puji Gadis itu tanpa menghiraukan pertanyaan Rania.
''Ini anak kecil ditanya lain dijawab lain'' kata Rania sambil geleng-geleng kepala.
''Aku bukan anak kecil kak. Biar wajahku begini aku ini sudah kuliah loh, walaupun baru semester satu'' jawabnya.
''Kamu jangan bohong, aku kira kamu baru tamat SMP'' jawab Rania terkejut.
''Kakak wonderwoman, aku tidak bohong. Wajahku memang imut sehingga orang sering menyangka aku anak kecil. Kalau kakak tidak percaya kakak boleh lihat KTPku'' jawabnya serius.
''Ya udah aku percaya. Trus kamu lagi apa disini?'' tanya Rania.
''Lagi menunggu mobil derek. Ban mobilku kempes'' jawabnya sambil menunjuk kearah mobil yang mogok tidak jauh dari mereka berdiri.
''Siap namamu?'' tanya Rania.
''Butik kak'' jawabnya sambil tersenyum.
''Apa, nama kok seperti toko baju?'' ucap Rania tersenyum.
''Hehe, kamu lucu'' kata Rania tidak bisa menahan tertawa.
''Dia mirip dengan tuan Rendi. Anak yang antik'' batin Rania.
''Iya kak. Selain lucu, imut aku juga cantik. Kalau ada orang bilang aku tidak cantik berarti matanya bermalasah. Harus dibawa ketukang service biar dia tahu bagaimana keantikan ciptaan Tuhan'' ucap Bunga dengan gaya seperti orang baca puisi.
''Haha... Ya udah sekarang kita baiki dulu mobilmu. Hari udah mau magrib. kalau udah malam bahaya sendiri disini soalnya sepi'' ajak Rania.
''Emang kakak bisa ganti ban kempes?'' tanya Bunga terpesona.
''Biar dilihat dulu. Apa kamu punya ban serap dan pekakas untuk ganti ban?'' tanya Rania.
''Wuiih kakak keren. Ada kak'' jawab Bunga semangat.
Setelah mereka sampai di mobil Bunga. Rania langsung meminta perkakas dan ban serap untuk ganti.
''Mobilmu antik juga'' ucap Rania.
''Hmm. iya kakak gara-gara papa tidak mau membelikan mobil baru. Katanya mobil baru tidak bagus. Tidak ada nilai estetiknya dan bla-bla. Mobil ini kalau tidak mogok ya pasti ada aja ulahnya. Kalau sudah seperti itu aku telepon papa tidak diangkatnya. Dia malah memasang NSP lagu di reject aja. Anak mana yang tidak sakit hati kak. Apa dia sebagai papa tidak khawatir dengan anak gadisnya yang imut seperti marmut. Bukan seperti kuda nil loh kak. Sendirian diluar seperti ini kalau terjadi apa-apa dia juga yang repot'' ucap bunga panjang lebar. Rania hanya senyum aja melihat gaya bicara bunga yang cepat dengan mulut mungilnya itu.
''Udah selesai'' jawab Rania.
''Belum kak. masih banyak yang mau aku ceritakan sama kakak. Apalagi kakakkan baik. Jadi pasti bisalah menyimpan rahasiaku yang sudah jadi rahasia umum'' jawab Bunga dengan yakin.
''Maksudku bannya sudah siap diganti. Ayo bantu menyimpan pekakasnya. Hari sudah mau malam'' ucap Rania.
''Hehe, kirain apa tadi. Tapi benaran sudah selesai kak?'' tanya bunga lagi.
''Iya Butik. Sekarang buruan bantuin'' kata Rania.
''Siap bos'' jawab Bunga.
Mereka segera menyimpan semuanya. Tapi bunga masih saja berciloteh.
''Ngomong-ngomong kak hebat ya. Bisa segalanya paket komplit'' ucap Bungan.
''Biasa aja'' jawab Rania.
''Mana ada cewek zaman sekarang seperti kakak. Sudah jago kelahi pintar pula ganti ban mobil. Kakak mau tidak jadi kakakku?'' ucap Bunga.
''Hehe, kamu ada-ada aja. Ini udah malam ayo kita pulang'' ucap Rania.
''Aku serius loh kak. Mau ya'' bujuk Bunga.
''Maaf ya Butik, lain kali kalau kita ketemu baru kita bahas. Sekarang udah malam. Ntar orang tuamu mencari. Sana pulang gi'' ucap Rania sambil berjalan kearah motornya.
''Makasih ya kak. Kau pahlawanku''' teriak Bunga dengan dua jari seperti love .
Rania hanya mengangguk. Kemudian dia meninggalkan Bunga disana.
''Waduh aku tidak tanya nama kakak itu. Trus nomor hpnya juga lupa aku minta. Gimana cara menghubunginya'' kata Bunga sambil menepuk jidat. Karna kebanyakan bicara sampai lupa hal yang penting. Setelah itu Bunga menyetir mobilnya meninggalkan tempat yang tidak akan pernah dia lupakan. Semoga aja suatu saat mereka bertemu lagi itulah harapannya.