Rania

Rania
116. Tidak Ada Duanya



Matahari sudah mulai masuk dari celah jendela. Rania terbangun dengan posisi Radit masih memelukanya. Wajah tampan Radit tidur dengan tersenyum. Mengingat kejadian malam membuat Rania merasa malu. Dia ingin pergi kekamar mandi tapi dia tidak memakai satupun pakaian. Badannya hanya tertutup dengan selimut.


''Bagaimana caranya aku kekamar mandi. Mana badan terasa sakit-sakit semua. Ternyata bergulat dengan mas Radit membuat lelah dibandingkan berkelahi dengan orang'' batin Rania.


Radit terbangun ketika Rania bergerak-gerak. Dia melihat wajah Rania seperti memikirkan sesuatu. Rania melihat kearahnya. Dia tersenyum lembut.


''Kenapa mas tersenyum?'' tanya Rania heran. Dia curiga apa yang dipikirkan Radit.


''Mas merasa sangat bahagia'' jawab Radit masih memeluk Rania. Posisi mereka saling berhadapan.


''Apa yang membuat mas bahagia?''tanya Rania.


''Bahagia karna kamu sudah menjadi milik mas seutuhnya. Makasih sudah menjaga dirimu sehingga mas menjadi yang pertama bagimu'' jawab Radit sambil mengecup kening Rania.


Rania juga merasa bahagia. Dia hanya ingin menyerahkan dirinya seutuhnya hanya untuk orang yang sudah manjadi suaminya.


''Iya, tapi aku mau kekamar mandi'' jawab Rania.


''Ntar saja kekamar mandinya'' ucap Radit mengeratkan pelukannya sama Rania.


''Hari sudah pagi mas'' jawab Rania.


''Trus kenapa?'' tanya Radit.


''Ya kita bangun terus mandi. Bukannya kita kembali hari ini ke Jakarta'' jawab Rania.


''Kita batalkan saja ke Jakartanya hari ini. Mas mau kita menginap beberapa hari disini'' jawab Radit. Dia ingin menikmati waktu berdua dengan Rania tanpa ganguan dari orang lain.


''Tapi bagaimana dengan pekerjaan mas?'' tanya Rania.


''Biar Davin dan Rendi yang menghandle'' jawab Radit.


''Kasihan kak Davin, pasti capek baru selesai lamaran'' ucap Rania.


''Kita disini juga capek. Lagian kamu diajak honeymoon tidak mau. Anggap saja sekarang ini kita lagi honeymoon. Apalagi kondisi disini juga cocok buat kita honeymoon'' jawab Radit.


''Ya udah, sekarang kita bangun dulu. Apa mas tidak lapar?'' tanya Rania


''Hmm, aku mau makan tapi makan yang lain'' goda Radit.


''Masud mas?'' tanya Rania heran.


''Mas maunya makan kamu lagi'' jawab Radit mulai mencium pundak Rania.


''Udah ah mas, apa yang semalam tidak cukup. Badanku terasa sakit semua'' tolak Rania.


''Hehe iya, sini mas antar kamu kekamar mandi'' jawab Radit.


''Aku bisa pergi sendiri, tapi selimutnya aku bawa'' ucap Rania.


''Kenapa dibawa?''


''Aku malu tidak memakai apapun'' jawab Rania


''Mas sudah lihat semuanya,untuk apa kamu malu. Lagian dirumah cuma kita berdua'' goda Radit.


''Tapi tetap saja aku malu'' jawab Rania sambil membungkus selimut kebadannya.Untung Radit tidur sudah memakai celana pendek. Rania kemudian bangun dari tidurnya. Ketika mau berjalan. Bagian bawahnya terasa sakit. Tapi Rania malu mengatakan kepada Radit. Dengan susah payah Rania melangkah keluar kamar. Radit yang melihat Rania berjalan dengan susah kemudian mengendongnya kekamar mandi.


Awalnya Rania menolak. Tapi tenaganya kalah dari Radit. Dia pasrah saja dibawa Radit kekamar mandi seperti kepompong. Setelah mengantar Rania kekamar mandi Radit kembali kekamar. Walaupun sebelum meninggalkan Rania, Radit masih sempat mengodanya untuk mandi bersama. Baru setelah Rania mengusirnya dia keluar kamar mandi.


Radit duduk sambil tersenyum memandang kasur. Diseprai terdapat bercak merah bukti cinta mereka semalam. Dia merasa sangat bersyukur mendapatkan Rania sebagai istrinya.


Karna Rania belum juga selesai mandi. Radit kembali kekamar mandi.


''Sayang, kamu baik-baik saja?'' tanya Radit


''Iya'' jawab Rania.


''Trus kenapa belum juga selesai mandi?'' tanya Radit.


''Anu, aku tidak bawa handuk dan baju ganti'' jawab Rania malu.


'' Ya ampun, jadi kamu lama dikamar mandi karna itu?'' tanya Radit sambil tertawa. Dia pergi mengambilkan handuk Rania dikamar.


''Untuk apa ditutupin, aku sudah lihat semuanya. Bahkan tanda cintaku terukir indah di setiap inci tubuhmu'' ucap Radit lucu melihat tingkah istrinya.


''Hmm, gara-gara mas aku jadi malu untuk keluar rumah'' jawab Rania sambil keluar kamar mandi.


''Malu kenapa?'' tanya Radit.


''Malu karna badanku merah-merah semua'' jawab Rania sewot.


''Hahaha'' Radit tertawa.


Rania pergi kekamar untuk berpakaian sedangkan Radit masuk kekamar mandi.


Setelah selasai berpakaian. Rania membereskan kamarnya yang berantakan dan menganti seprai. Ketika melihat bercak noda diseprai pipinya menjadi merah mengingat kejadian semalam.


Selesai membereskan kamar. Rania terus kedapur membuat sarapan. Radit sudah selesai mandi dan berpakaian. Dia duduk didekat meja makan melihat Rania masak.


Rania meletakan kopi diatas meja untuk Radit. Dia sudah tahu kalau dipagi hari Radit selalu minum kopi. Sedangkan Rania sendiri kurang suka dengan kopi.


Radit mulai menyeruput kopinya. Sejak Rania jadi istrinya. Dia tidak mau orang lain yang membuatkannya kopi. Karna dia sangat suka kopi buatan Rania.


Tut,tut,tut Radit menelpon mamanya.


''Hallo sayang'' jawab Diva


''Hallo ma, kami tidak jadi pulang hari ini'' ucap Radit.


''Kok gak jadi?''


''Bukannya mama pengen cepat punya cucu''


''Ooo, ya udah kalian tidak usah buru-buru pulang. Kalau bisa sudah ada cucu baru pulang'' jawab Diva semangat.


''Iya, do'ain aja cepat dapat. Udah dulu ya ma. Kami mau sarapan'' Radit mematikan telepon.


Rania meletakan dua piring nasi goreng lengkap dengaan telur ceploknya diatas meja makan.


''Apa kata mama?'' tanya Rania.


''Katanya kita tidak usah pulang kalau belum membawakannya cucu'' jawab Radit sambil menyuap nasi gorengnya.


''Huk'' Rania terbatuk.


''Emang mendapatkan cucu gampang apa?'' tanya Rania.


''Gampang lah setelah sarapan kita coba lagi'' goda Radit.


''Hmm jangan macam-macam ya mas. Aku masih capek'' jawab Rania serius.


''Kalau nanti malam gak apa-apa kan?'' tanya Radit. Rania tidak menjawab dia kembali melanjutkan makannya.


Selesai makan Radit membawa kopinya dan duduk didepan rumah menikamati suasana pagi hari dikampung. Rania yang sudah selesai membersihkan piring juga ikut duduk dekat Radit.


Karna rumah mereka diujung kampung. Jadi pagi ini banyak orang-orang yang lewat pergi keladang dan kesawah.


''Kamu sudah pulang Ran, siapa laki-laki tampan yang bersamamu?'' tanya seorang ibuk yang sedang lewat.


''Iya buk, saya hanya pulang sebentar untuk melihat makam bunda. Perkenalkan ini suami saya'' jawab Rania.


''Waduh suamimu ganteng pisan. Kok nikahnya tidak ngundang-ngundang. Dimana pak Rendra dan buk Susi?'' tanya ibuk tersebut. Disana Rendra sangat dihormati warga kampung. Terutama Rendra yang mengajarkan bagaimana cara bertani yang baik dan kemana harus dijual. Sehingga masyarakat disana sangat berterimakasih atas ilmu yang diberikan Rendra.


''Kami mengelar acaranya di Jakarta buk. Paman dan Bibi juga masih di Jakarta'' jawab Rania.


''Apa masih ada stok seperti suamimu satu lagi untuk anak ibuk? Ibu juga mau punya mantu ganteng seperti dia'' goda ibuk tersebut.


''Maaf buk, dia satu-satunya didunia ini. Tidak ada duanya'' jawab Rania tersenyum.


''Ya sayang sekali, kalau gitu ibuk pamit ya. Sampai bertemu lagi ganteng'' ucapnya.


Radit hanya tersenyum kikuk melihat tingkah ibuk tersebut. Mereka kembali menikmati pagi yang cerah sambil bercerita.