
Flashback Off
Kini Rania menghentikan aktifitasnya lalu cepat mematikan lampu untuk segera tertidur.
mungkin karena lelah ia pun terlelap dengan cepat.
Keesokan paginya matahari telah memancarkan sinarnya namun Rania belum juga terbangun dari tidur nya. seorang wanita masuk kedalam kamar Rania yang kebetulan tidak pernah ia kunci.
"Ran bangun sudah Siang kamu tidak kerja ran?"
ucap Sarah salah satu sahabat Rania yang menemaninya baik dalam suka maupun duka. ia mencoba membangunkan kembali sahabatnya itu namun Rania tak juga membuka matanya.
"Sarah aku ingin berhenti bekerja." ucap wanita itu masih dengan mata yang terpejam.
"Kenapa bukannya kamu tidak ada masalah dengan Dirga atau kamu akan bekerja ditempat Stev Ran bukannya kamu tidak mau bekerja disana karena takut orang kantor akan tau jika kalian punya hubungan." ucap Sarah tanpa henti yang membuat Rania segera duduk dan menangis.
Sarah yang terkejut melihat sahabatnya menangis pun ikut duduk dan memeluk Rania,
ia mencoba untuk menenangkannya terlebih dahulu sesudah itu baru ia akan menanyakan apa yang membuat Rania seperti ini.
Sudah dirasa tenang Sarah kembali bertanya dengan pelan agar Rania mengungkapkan kepadanya apa yang terjadi. saat wanita itu menceritakan kebenarannya tentang hubungannya yang sudah tak baik lagi membuat Sarah mendekap erat sahabatnya itu.
"Dasar Stev sialan apa maksud dia bicara seperti itu Ran?" Rania yang melihat sahabatnya ikut memanaspun meneteskan air matanya kembali dan suara tangisannya pun terdengar kekamar sebelah yang membuat seorang wanita juga datang menghampirinya.
"Rania kenapa?" ucap Sasa yang tak lain sahabat nya juga.
bukannya menjawab Sarah hanya diam ia tak ingin memberi tahu Sasa apa yang sebenarnya terjadi karena akhir-akhir ini memang persahabatan mereka agak merenggang. Sasa yang selalu sibuk dengan urusannya hingga jarang sekali pulang kerumahnya membuat mereka agak menjauh dan hampir tidak mengenali lagi sahabatnya itu.
"Apa karena Stev?" Sasa bicara dengan nada pelan.
"Jangan sebut nama ******** itu Sa dia lelaki berengsek." dengan begitu marah Sarah berucap seperti itu.
Sasa yang mendengar itu langsung ikut bergabung dengan mereka dan ikut memeluk Rania. ia mencoba untuk menenangkan kembali Rania agar tidak lagi menangis.
"Setiap hubungan pasti ada masalah Ran mungkin dia bosan jadi kamu harus mengerti dia dan cobalah untuk minta maaf." ucapnya yang membuat Rania berhenti menangis.
Dia bingung apa arti ucapan Sasa bahkan dia sama sekali belum tau permasalahan hubungan mereka. Sarah yang seolah tau apa yang dipikirkan sahabatnya itu lalu membuka suaranya.
"Sudah Sa kamu sama sekali tidak tau masalah mereka dan kau menyuruh Rania untuk minta maaf karena mungkin Stev bosan? mereka berhubungan tidak sebentar Sa tapi sudah delapan tahun jika memang ia bosan kenapa tidak dari dulu dan bicara baik-baik lalu untuk apa minta maaf dengan kesalahan yang Rania bahkan tidak tau. enak saja sampai kapanpun yang salah adalah lelaki itu bukan Rania." ucapnya dengan nada sedikit meninggi.
"Iya aku sama sekali tidak tau karena kalian tidak memberitahu ku apa yang terjadi dan kalian menyalahkan aku." ucap Sasa dengan nada yang tak kalah tingginya.
" Sa kamu sadar tidak selama ini kamu dimana ha! kamu jarang sekali berkumpul bersama kita bahkan pulang kerumah saja bisa dihitung berapa kali." Sarah yang tak kuasa menahan emosinya kembali membentak Sasa.
"Sudah kalian apaan sih kita ini bersahabat kumohon berhentilah." ucap Rania memohon kepada kedua sahabatnya itu untuk menghentikan pertengkaran mereka.
Sarah yang mendengar hanya diam ia tidak bermaksud seperti itu ia sama sekali tidak ada niat untuk memutuskan persahabatan mereka dia hanya ingin Sasa menyadari kesalahannya selama ini itu saja.
"Jangan Sa kumohon jangan." Rania memegangi tangan Sasa untuk menghentikannya pergi namun Sasa mendorongnya hingga Rania terjatuh.
Sarah yang melihat itu langsung membantu sahabatnya untuk berdiri dan mereka menangis dalam pelukan masing-masing. sungguh bukan itu yang mereka harapkan, bukan untuk memutuskan persahabatan yang telah mereka jalin selama bertahun-tahun bukan itu maksudnya tapi mau bagaimana lagi Sasa sudah tidak bisa dihentikan dan tidak bisa untuk bicara baik-baik.
"Maafkan aku Sarah ini semua salahku jika tidak karena aku menangisi Stev semua ini tidak akan terjadi." ucap Rania yang semakin terisak dan terus menyalahkan dirinya.
"Tidak Ra ini bukan salahmu tapi ini keinginan dia kita sama sekali tidak pernah mengusirnya atau memutuskan persahabatan kita jadi jangan pernah merasa bersalah oke." ucap Sarah menenangkan sahabatnya itu.
***
Ditempat tempat lain Stev sedang berada di apartemen miliknya ia sedang duduk bersandar sembari memikirkan sesuatu tiba-bel apartemennya berbunyi.
Ia pun berjalan dan menghampiri pintu untuk membukanya dan terlihatlah seorang wanita berdiri didepan pintu apartemennya sedang memegangi koper dan menangis lalu ia dengan cepat memeluk Stev yang tengah termenung, Stev hanya diam tanpa mau membalas pelukan wanita itu.
" Ayo masuk dulu." pinta Stev dan melepaskan pelukannya.
"Aku diusir dari rumah oleh Rania dan sahabatnya Stev." bohong Sasa sambil menangis agar Stev percaya dengan ucapannya.
Stev marah mendengar apa yang diucapkan oleh Sasa mungkin ini terdengar sangat gila bahkan ia hampir tidak mempercayainya mana mungkin seorang Rania mengusir sahabatnya sendiri dan itu pun bukan rumah mereka tapi rumah milik Stev yang ia bangun sengaja untuk Rania.
setelah kecelakaan yang menimpa keluarganya Rania tidak memiliki apapun termasuk rumah dan saat itu Stev membangun sebuah rumah untuknya dengan uangnya sendiri sebagai bentuk cintanya kepada kekasihnya itu.
namun Rania menolaknya jika rumah itu hanya diberikan untuknya ia ingin rumah itu tidak hanya miliknya tapi juga kedua sahabatnya dan saat itu juga Stev menuruti keinginan Rania dan mengurus surat rumah itu atas nama Rania, Sarah, dan juga Sasa.
"Mana mungkin kau terusir dari rumahmu sendiri Sa ucap Stev"
"Tapi Rania mengusirku dan Sarah pun mendukungnya." ucap Rania kembali menangis.
"Baiklah untuk sementara kamu tinggal disini Saja." mendengar itu hati Sasa menari-nari kegirangan karena memang itu yang ia inginkan.
Dia memang mencintai Stev sudah lama namun saat itu Stev hanya mencintai Rania seorang sudah berbagai cara ia lakukan demi dekat dengan Stev namun tak satupun berhasil. dan sekarang kemenangan sedang berpihak padanya tidak hanya menghancurkan hubungan mereka namun Sasa berhasil tinggal serumah dengan Stev dan satu rencana lagi uang harus ia lakukan yaitu membuat Stev jatuh cinta padanya.
"Apa tidak membuat Rania marah Stev."
"Kau sendiri yang mengatakan tentang perselingkuhannya tentu saja sekarang hubungan kami telah berakhir." seketika Sasa memasang wajah prihatin tentu saja itu hanya sekedar akting.
"Aku antar kekamar beristirahatlah." lalu Stev melangkah menuju sebuah kamar yang akan ditepati oleh Sasa.
Setelah Stev keluar dari kamarnya ia pun tersenyum senang tenttu saja karena kemenangan yang telah ia capai.
"Sebentar lagi Stev kamu sepenuhnya milikku dan Rania lihat kamu akan menangis dibawah kakiku hahahahhaha." ucap Rania pelan sambil tertawa membayangkan Rania akan memohon kepadanya untuk bersama Stev namun saat itu ia akan mempermalukannya.