Rania

Rania
46. Kemarahan Rania



''Putri anda sudah meninggal bersama bundanya'' Rania masuk dengan amarah. Tatapannya yang dingin mengarah sama Gunawan. Radit dan yang lain ikut masuk. Dia melihat sisi lain dari Gunawan. Orang yang selama ini dia kenal tegas dan bijaksana tidak menyangka akan memelas seperti itu. Hari itu semuanya yang terjadi dimasa lalu mulai terbongkar.


''Tidak, kamu putri saya Rania'' ucap Gunawan dengan mata yang masih berkaca-kaca. Dia mencoba mendekat ke arah Rania berdiri.


''Stop, anda jangan mendekat. Saya sudah bilang kalau putri anda sudah meninggal bersama bundanya'' teriak Rania marah. Semua orang terdiam. Mereka tidak menyangka Rania akan semarah itu. Kemarin ketika bundanya meninggal dia terlihat seperti anak gadis yang rapuh. Tapi sekarang terlihat sisi lainnya kalau sudah marah. Bahkan Sisi yang bersahabatnya terkejut. Karna belum pernah melihat Rania semarah ini.


''Maafkan ayah nak. Mungkin kesalahan ayah tidak bisa dimaafkan. Tapi tolong beri kesempatan'' mohon Gunawan.


''Cih, ayah saya sudah meninggal sebelum saya lahir. Dan ketika bunda meninggal dia juga sudah membawa jiwa ini. Jadi jangan pernah anda mengaku sebagai ayah saya'' kata Rania.


''Kamu boleh marah. Tapi jangan anggap ayah tidak ada'' ucap Gunawan.


'' Hahaha, lucunya'' tertawa Rania membuat orang bergidik.


''Kalau anda ayah saya. Dimana anda ketika semua orang menghina saya? Dimana anda ketika bunda saya membutuhkan? Dimana anda ketika orang akan membunuh saya? Saat ayah teman-teman saya datang kesekolah sedangkan bagi saya itu cuma mimpi.Anda tahu bagaimana perasaan saya waktu itu? Guru menyuruh saya membuat karangan tentang ayah, saya bahkan tidak bisa menulis satu kalimatpun. Trus dimana anda ketika kami butuh perlindungan. Semua tidak ada. Hanya dia yang berkorban untuk kami. Ya dia paman saya yang selalu melindungi kami dengan sekuat tenaganya. Dia yang pantas saya sebut dengan ayah'' kata Rania dengan mata berkaca-kaca. Rendra berdiri diam. Sedangkan Angga yang berdiri disamping ayahnya melihat kearah Rania dan Gunawan. Begitu banyak rahasia tentang kakaknya itu.


Gunawan tertunduk mendengar ucapan Rania. Betapa banyak penderitaan yang diberikanya sama anak dan istrinya. Hanya karena kebodohannya.


''Maafin ayah nak'' ucap Gunawan penuh penuh penyesalan.


''Hah, maaf kata anda. Kalau bunda masih hidup mungkin kata itu masih bisa diterima. Meskipun tidak sepenuhnya. Tapi sekarang semuanya sudah terlambat. Semua penderitaan bunda saya tidak bisa hanya dengan kata maaf'' ucap Rania tegas. Mungkin karna darah Gunawan mengalir di dalam tubuhnya. Ketegasan Rania sangat mirip dengan Gunawan kalau sedang memimpin perusahaan. Gunawan bahkan melihat dirinya dalam diri Rania.


''Trus ayah harus bagaimana supaya kamu memaafkan?'' tanya Gunawan lagi.


''Kalau anda bisa menghidupkan bunda saya lagi. Baru bisa saya maafkan'' ucap Rania.


''Itu tidak mungkin nak. Ayah juga terpukul ketika tahu Retno meninggal. Karna ayah juga sangat mencintainya'' kata Gunawan lagi.


''Jangan pernah anda ucapkan kata cinta dihadapan saya. Karna saya tidak percaya dengan kata cinta. Kalau bukan karna cinta bunda saya tidak akan menderita. Kalau cinta kenapa tidak ada rasa kepercayaan diantaranya. Anda terlalu meangungkan cinta anda yang ternyata hanya kata belaka. Semua palsu hanya kemunafikan semata'' ejek Rania.


''Tidak nak, Beri ayah kesempatan menebus kesalahan ayah sama bunda selama ini melalu kamu'' kata Gunawan.


''Hahaha''Rania tertawa lagi.


''Paman suruh dia pergi dari sini. Aku tidak ingin melihatnya lagi'' ucap Rania sama Rendra.


''Tapi Rania, kamu harus tenangkan diri dulu'' bujuk Rendra.


''Paman tidak usah kasihan sama dia. Sudah cukup pengorbanan yang paman lakukan untuk kami. Kalau bukan karna dia paman tidak akan hidup seperti ini'' ucap Rania. Rendra kembali diam. Dia tahu betapa keras kepalanya Rania yang sangat mirip dengan bundanya.


''Kenapa anda memaksa saya. Apa karna menginginkan ini'' ucap Rania sambil membuka kaca matanya. Gunawan sampai tidak percaya melihat Rania setelah membuka kacamatanya. Wajahnya sangat mirip dengan Retno waktu muda, terutama matanya. Hanya hidung Rania yang mirip dengannya walaupun hidung Rania lebih mungil. Tidak hanya Gunawan, Davin yang selama ini hanya mengetahui Rania pakai kacamata tidak menyangka kalau Rania punya mata seindah itu. Sedangkan Radit karna sudah pernah melihat jadi dia tidak terlalu terkejut.


''Anda sudah puas. Hanya karna mata ini mirip dengan bunda. Sampai dia memaksa saya memakai kacamata. Hanya karna mata ini bunda sampai stress memikirkan saya. Dia selalu dihantui rasa takut. Ingin rasanya saya buang jauh-jauh mata ini. Biar bunda bahagia. Sekarang anda pergi, pergi dari sini'' teriak Rania dengan emosi. Tapi Gunawan hanya diam tak bergerak.


''Ok, kalau anda tidak mau pergi biar saya yang pergi'' ucap Rania lagi sambil berlari keluar rumah.


''Rania tunggu'' Gunawan ingin mengejar tapi ditahan Rendra.


''Saya mohon tuan, jangan anda kejar dia. Sudah cukup saya melihat Retno hancur hatinya. Saya tidak ingin melihat Rania juga hancur. Kalau anda sampai nekat mengejarnya jangan salahkan saya berbuat lebih kasar terhadap anda'' ancam paman Rendra.


''Tapi Ren...'' Gunawan masih keras kepala.


''Lebih baik om Gunawan jangan paksa Rania dulu. Karna hanya akan memperburuk suasana'' ucap Radit.


''Radit'' Gunawan terkejut. Dia baru sadar kalau Radit dan Davin disana.


''Kenapa kalian disini?'' tanya Gunawan


''Kami yang mengantar Rania ketika bundanya meninggal. Andai anda melihatnya terpukul ketika bundanya meninggal. Mungkin anda akan berpikir dua kali untuk memaksa Rania'' ucap Radit tegas.


''Tapi om hanya ingin menebus semua kesalahan om selama ini'' ucap Gunawan.


'' Kalau om ingin menebus segalanya. Harus pelan-pelan bukan dipaksa seperti sekarang ini. Dia dalam keadaan sedih dan marah. Itu akan menambah rasa bencinya kepada om. Seharusnya om mengerti. Kalau tidak ingin kehilangannya. Sebaiknya om pulang dulu. Masih banyak waktu untuk om mencoba mendekatinya'' ucap Radit


Gunawan mulai mengerti dengan ucapan Radit. Dia akhirnya mau mengalah.


''Baiklah, tapi apa kamu bisa mengantar saya ke makam Retno ren? Saya ingin meminta maaf di sana'' ucap Gunawan memohon.


''Iya'' jawab Rendra. Dia tidak mau mempersulit Gunawan. Biarpun dia masis marah dengan Gunawan.


''Oh ya, Susi terima kasih kamu sudah menyelamatkan Retno waktu kebakaran itu. Andai saja tidak ada kamu. Mungkin saya juga tidak akan pernah bertemu dengan anak saya'' ucap Gunawan tulus.


''Iya tuan, itu semua sudah tugas saya'' jawab Susi gugup.


Kemudian Rendra pergi mengantar Gunawan ke makam Retno. Sedangkan Radit, Davin, Sisi dan Angga pergi mencari Rania. Angga tahu kemana Rania akan pergi. Karna setiap Rania bersedih dia akan kesana.