Rania

Rania
66. Berebut Menjaga



Angga baru sadar kalau kondisi Radit sangat kacau. Bajunya yang penuh dengan darah Rania yang mulai mengering. Tadi karna emosi dia tidak memperhatikanya. Kemudian Angga terduduk lemas. Dia sangat takut kalau kakaknya kenapa-napa.


''Dia sama denganmu waktu muda Rendra. Darahnya sangat kuat'' kata Wiratmaja melihat kearah Angga.


''Dia masih terlalu muda tuan, tidak bisa berpikir jernih dalam bertindak'' jawab Rendra. kemudian Rendra menyuruh Angga menyalami Wiratmaja. Dia memperkenalkan Wiratmaja sebagai kakek Rania.


''Aku suka anak muda sepertimu. Panggil saja aku kakek sama dengan Rania memanggilku'' kata Wiratmaja menepuk pundak Angga.


Angga hanya mengganguk tanda mengerti.


''Apa kabar Rendra?'' sapa Surya.


''Baik pak, sudah lama tidak bertemu. Anda masih sama seperti dulu'' kata Rendra menyalami Surya.


''Kamu bisa saja. Saya sudah setua begini. Sudah tidak setampan dulu. Beda dengan Gunawan. Walau umurnya bertambah tapi masih tetap tampan seperti dulu'' kelakar Surya mencairkan suasana.


''Anda bisa saja'' jawab Rendra.


''Ini istrimu?'' tanya Surya. Dia lupa kalau Susi pernah berkerja dengan Gunawan dulunya.


''Iya, namanya Susi'' jawab Rendra. Kemudian Susi memberi salam kepada semuanya. Mereka berbincang-bincang sambil menunggu operasi Rania. Untuk mengurangi ketegangan mereka.


Kemudian Surya dan Diva pamit pulang. Sekalian mengambilkan baju ganti untuk Radit. Mereka berencana menyuruh sopir Surya mengantarkan baju ganti untuk Radit kerumah sakit.


Beberapa waktu kemudian Dimas keluar dari Ruang operasi dengan wajah lelah. Radit segera menghampirinya di ikuti dengan yang lain.


''Bagaimana operasinya Dim?'' tanya Radit tidak sabaran


''Iya kak, Gimana hasil operasi Rania?'' tanya Sisi tidak sabaran. Dimas melihat kearah Radit dan Adiknya.


''Operasinya lancar. Sekarang Rania masih dalam belum sadarkan diri. Tapi masa kritisnya sudah berlalu. Sebentar lagi kami akan memindahkanya keruang rawat. Kami harus melihat kondisinya lebih lanjut untuk memastikan tidak terjadi hal yang membahayakan'' jelas Dimas.


''Makasih kak'' kata Sisi sambil memeluk kakaknya. Dimas membalas pelukan Sisi. Dia tahu betapa berharganya Rania bagi Sisi.


''Iya sekarang kamu tidak usah cemas. Rania pasti akan baik-baik saja'' hibur Dimas. Sisi hanya mengangguk.


''Makasih Dim'' kata Radit.


''Sudah tugas saya. Kalau terjadi sesuatu sama Rania, adik saya ini tidak akan memaafkan saya'' ucap Dimas tersenyum melihat Sisi.


''Kakak bisa saja'' ucap Sisi mencubit tangan Dimas.


Hanya Radit dan Davin yang tahu kalau Dimas kakaknya Sisi. Yang lain hanya bersyukur Rania dikelilingi orang-orang baik.


''Apa anda lupa dengan saya paman?'' tanya Dimas menghampiri Rendra.


''Kamu yang dulu mengobati Rania ketika luka kena pisau diperutnya?'' tanya Rendra.


''Iya, saya kakaknya Sisi'' jawab Dimas.


''Terima kasih sudah menolong Rania lagi'' kata Rendra bersyukur.


''Iya paman, sudah kewajiban saya'' jawab Dimas.


Ketika mereka mengobrol. Perawar mendorong Rania keluar dari ruang operasi untuk dipindahkan keruang rawat.


Semua orang mengikutinya dari. Radit terus berjalan sambil memegang tangan Rania yang masih belum sadarkan diri.


Setelah sampai Rania langsung dipindahkan ketempat tidur disana.


''Saya harap tidak terlalu banyak didalam ruangan pasien'' kata perawat.


''Iya, supaya tidak menganggu istirahat Rania. Cukup beberapa orang saja disini'' kata Dimas.


''Biar aku aja yang menunggui Rania'' kata Radit.


''Tidak, kamu aja yang pulang'' kata Radit


''Aku juga mau disini menunggui Rania'' kata Sisi.


Semuanya tidak ada yang mau pulang. Dimas jadi pusing.


''Davin kamu antar Sisi pulang. Dia kelihatan capek'' kata Dimas.


''Iya Vin, loe besok juga harus gantiin gue dikantor. Selama Rania di rawat gue tidak bisa kekantor. Trus lebih baik om Gunawan pulang saja, kasihan opa terlalu lelah'' kata Radit.


''Iya Dit, ayo kita pulang dulu sayang. Kamu tadi tidak istirahat. Dari klinik langsung kesini'' ajak Davin


''Hem, tidak boleh mesra-mesraan. Antar pulang saja'' kata Dimas sewot sama Davin. Semua orang tersenyum melihat Dimas.


''Iya kakak ipar'' jawab Davin.


''Aku belum menjadi kakak iparmu'' jawab Dimas.


''Ih kak Dimas, ayo yank kita pulang'' kata Sisi menarik tangan Davin tanpa menghiraukan pandangan Dimas. Setelah berpamitan mereka berdua langsung pulang.


''Kamu tidur dirumah saja Ren'' ajak Gunawan.


''Saya disini saja menunggui Rania'' jawab Rendra.


''Biar Rania dijaga Radit. Kita yang tua ini harus pulang untuk istirahat. Kamu jauh-jauh dari bandung pasti capek'' kata Wiratmaja.


''Iya tuan'' jawab Rendra tidak bisa membantah kata Wiratmaja lagi.


''Ayah, aku disini saja menunggui kak Rania. Aku tidak bisa meninggalkan kakak denganya'' kata Angga melihat kearah Radit. Tapi orang yang dilihat malah pura-pura tidak dengar. Dia hanya duduk disamping tempat tidur Rania.


''Baiklah kalau begitu'' kata Rendra.


''Besok pagi om kesini lagi ya Dit'' kata Gunawan.


''Iya om'' jawab Radit


Kemudian Gunawan dan yang lainnya pulang. Sekarang tinggal Radit, Rendi dan Angga. Mereka hanya diam saja. Beberapa saat kemudian sopir yang disuruh mengantar baju Radit datang. Radit kemudian menganti bajunya dikamar mandi.


''Aku keluar dulu cari makan sama minum, kakak mau nitip sesuatu?'' tanya Rendi.


''Tidak'' jawab Radit.


''Tapi kakak belum makan apa-apa dari tadi. Ini sudah dini hari'' kata Rendi.


'' Beli untukmu dan Angga saja'' jawab Radit.


''Hhmm, ya udah kalau gitu. Ayo kita keluar. Siapa namamu?'' tanya Rendi.


''Angga, aku disini saja jaga kak Rania'' jawab Angga tidak rela Rania ditinggalkan dengan Radit.


''Udah, biar kak Radit saja yang jaga. Kamu ikut aku'' paksa Rendi. Mau tidak mau Angga ikut.


Setelah Rendi dan Angga pergi Radit duduk disamping tempat tidur Rania sambil memegang tangannya.


''Kamu cepat sadar Ran. Aku tidak sanggup melihat kamu seperti ini. Duniaku langsung gelap ketika melihat kamu tergeletak seperti tadi. Aku benar-benar takut kamu tinggalkan. Sekarang aku baru sadar betapa pentingnya kamu dalam hidupku. Aku tidak tahu sejak kapan rasa cinta ini tumbuh. Betapa bodohnya aku ketika merelakan kamu untuk orang lain. Tapi mulai saat ini aku janji tidak akan melepaskanmu lagi. Tanpa janji perjodohan pun aku tetap akan bersamamu. Tapi kalau kamu sendiri yang menyuruhku pergi. Aku akan pergi. Kalau kamu memilih Rendi aku akan tetap terima. Karna kalian berdua adalah orang yang sangat berharga bagiku'' ucap Radit


''Tidak kak, Rania sudah menolakku'' kata Rendi membuat Radit terkejut. Dia kembali karna ponselnya tertinggal.


''Dia tidak mencintai aku. Sekarang kakak tidak boleh lagi mengalah terhadapku'' kata Rendi lagi. Dia kemudian meninggalkan Radit yang masih terbengong.


Radit baru ingat kalau Rendi menghindari Rania selama ini karna ditolak. Tapi Radit merasa lega tidak ada lagi beban untuknya mendekati Rania.