Rania

Rania
102. Belajar Menghargai Orang Lain



Sudah seminggu sejak pertemuan keluarga mereka. Rania masih sibuk dengan pekerjaannya. Apalagi sekarang Angga sudah di Jakarta. Rania berniat mengajarinya dulu baru setelah itu menyerahkan tugasnya. Karna setelah menikah Rania tidak mungkin terus berada dikantor.


Semua persiapan pernikahannya diurus sama Nella dan Diva. Mereka berdua yang paling antusias dengan pernikahan Radit dan Rania.


Hari ini Radit mengajak Rania makan siang sekaligus memilih gaun pernikahan di butik langganan mama Radit. Mama Radit sudah membuat janji dengan pemilik butik hari ini.


Menjelang siang Rania berangkat dari kantor ayahnya menggunakan taksi online. Dia sampai dikantor Radit. Sebelumnya Rania sudah memberitahu Radit kalau dia sudah berangkat kekantornya. Dan Radit menyuruhnya menunggu dilobi.


''Hei sopir, kenapa kamu disini'' sapa resepsionis jutek ketika Rania sampai dilobi. Sejak Rania bekerja disana sampai sudah tidak bekerja lagi. Resepsionis ini tidak tahu dengan nama Rania.


''Mbak bertanya sama saya?'' tanya Rania pura-pura tidak tahu.


''Iya kamu, emang siapa lagi yang sopir disini'' katanya jutek.


''Tapi saya bukan sopir lagi'' jawab Rania.


''Trus kalau kamu bukan sopir lagi. Ngapain kamu disini?'' tanyanya mulai kesal.


''Menunggu pak Radit'' jawab Rania santai.


''Haha, kamu lucu. Untuk apa kamu menunggu pak Radit. Apa kamu tidak tahu kalau pak Radit sebentar lagi mau menikah. Ngaca dong kalau mau dekatin pak Radit lagi pula kamu bukan levelnya pak Radit'' ucapnya mengejek.


''Siapa bilang?''


''Saya... eh ada pak Radit'' jawab Resepsionis jutek tergagap.


''Saya tanya siapa yang bilang kalau dia bukan level saya?'' hardik Radit dingin.


Resepsionis ketakutan ketika dia melihat wajah marah Radit. Dia bahkan tidak sanggup mengeluarkan satu katapun. Rania yang melihat Radit marah langsung menghampirinya.


''Kita berangkat sekarang kak?'' tanya Rania.


''Iya sayang, tapi apa kamu selalu diperlakukan tidak sopan seperti ini sama dia?'' tanya Radit


''Sering iya, tapi tidak selalu. Lagian aku tidak apa-apa kok'' jawab Rania santai. Radit kemudian menatap tajam kearah Resepsionis jutek.


''Asal kamu tahu. Orang yang kamu hina ini adalah calon istri saya. Mulai hari ini kamu saya pecat'' ucap Radit dingin. Resepsionis terkejut mendengar pengakuan Radit. Dia tidak menyangkan Rania yang selama ini jadi sopir Radit ternyata calon istrinya.


''Tapi pak...''


''Tidak ada tapi-tapian. Sekarang kamu kemasi barang-barangmu. Saya tidak mau melihat Karyawan saya terutama Resepsionis bersikap kasar sama orang yang datang kekantor saya. Resepsionis tugasnya melayani orang dengan ramah karna dia salah satu cermin dari sebuah perusahaan'' ucap Radit.


Resepsionis hanya tertunduk lemah. Dia menyesali sikapnya sama Rania selama ini.


''Ayo kita berangkat sayang'' ajak Radit lembut. Tapi sebelum Rania beranjak dari sana.


''Sebelumnya sudah saya peringati. Jangan sembarangan menilai orang nanti mbak menyesal. Semoga mbak bisa mengambil hikmah dari semua ini. Dan ditempat kerja mbak yang baru bisa bersikap lebih baik lagi. Hargai orang maka kita akan dihargai juga'' ucap Rania. Kemudian dia dan Radit meninggalkan lobi dengan tatapan penyesalan dari resepsionis.


''Kamu kenapa tidak pernah kasih tahu aku kalau kamu diperlakukan seperti itu?'' tanya Radit ketika mereka sudah diatas mobil menuju butik langganan keluarga Radit.


''Dulu aku cuma sopir kak Radit dan kak Radit orangnya dingin serta cuek amat sama aku. Lagian aku tidak pernah peduli dengan apa yang orang pikirkan tentangku. Bagiku selagi mereka tidak mengusik hidupku. Hanya sebuah cercahan bukan apa-apa. Dan satu lagi mereka tidak akan pernah menang ketika menindasku'' jawab Rania santai. Karna kehidupan berat yang dijalaninya selama ini membuatnya sudah terbiasa dengan semua itu. Radit membenarkan soal tidak ada yang akan menang ketika menindas Rania termasuk dirinya.


''Kalau kepalaku diangkat tinggi. Nanti leherku bisa panjang seperti jerapah. Apa kakak mau menikah dengan jerapah?'' tanya Rania santai. Radit rem mendadak mendengar pertanyaan Rania.


''Aku serius Rania'' tatap Radit. Rania yang ditatap dengan serius hanya tersenyum.


''Hidup terlalu serius bisa cepat tua kak'' jawabnya lagi.


'' Huft Kamu, kalau dibilangin ada aja jawabannya'' Radit mulai sewot.


''Cup,cup,cup. Anak kecil udah mulai sewot. Ntar anaknya juga suka sewot kayak bapaknya'' ucap Rania sambil memegang pipi Radit.


Radit tersenyum licik.


''Kamu tahu kalau anak kecil ini sudah bisa buat satu anak kecil. Dan kamu mau anaknya sekarang. Bisa kita coba'' goda Radit. Rania langsung melepaskan tangannya dari pipi Radit. Pipinya juga merona merah mendengar ucapan Radit. Membuat Radit gemes melihatnya.


''Awas kalau kakak macam-macam. Aku buat kakak terbang ke seberang jalan'' ancam Rania serius.


''Haha, jangan serius buk. Ntar cepat tua'' balas Radit. Rania melihat malas sama Radit.


''Makanya jangan suka bantah kata calon suami'' ucap Radit lagi.


''Iya'' jawab Rania singkat


''Benar kata mama. Apa jadinya kalau kita bertengkar nanti. Ini aja aku sudah diancam terbang keseberang jalan'' kata Radit.


''Kenapa mama bilang begitu?'' tanya Rania heran.


''Karna mama melihat kamu berkelahi waktu menolong anak kecil waktu itu'' jawab Radit.


''Apaaaa'' Rania terkejut.


''Biasa aja kali'' ejek Radit.


''Kenapa kak Radit tidak beritahu aku. Kalau waktu itu kak Radit disana bersama mama papa. Aku jadi malu bertemu mama Diva'' ujar Rania.


'' Kenapa harus malu. Mama malah bangga punya menantu sepertimu'' Hibur Radit sambil menjalakan mobilnya kembali.


''Tapi aku tetap malu'' jawab Rania.


''Gak usah dipikirkan. Bahkan kamu akan lebih malu setelah kita menikah nanti'' ucap Radit. Rania mencoba mencerna kata-kata Radit.


''Is, yang dibahas lain. Kenapa otak kakak tua traveling kemana-mana'' Gumam Rania.


''Aku dengar loh'' ucap Radit.


''Hehe'' Rania hanya tertawa pelan.


Mereka sampai dibutik yang dituju. Karna hanya memilih gaun yang akan dipakai mereka tidak lama disana. Dan untuk fitting gaunnya dilakukan seminggu sebelum acara. Kemudian mereka pergi mencari restoran untuk makan siang.


Selesai makan siang Rania tidak langsung kekantor. Dia mengatakan sama Radit kalau Nita mau bertemu dengannya direstoran yang alamatnya sudah diberitahu. Awalnya Radit enggan menyetujui Rania pergi.Tapi karna Rania bilang tidak apa-apa akhirnya Radit mengizinkan. Karna arah Restoran bertolak belakang dengan kantor Radit. Rania memilih untuk pergi mengunakan taksi online.