
Waktu berlalu dengan cepat. Hari ini rencana Radit dan Rania pergi ke Bandung. Sebelum berangkat mereka singgah terlebih dahulu di rumah Wiratmaja. Karna akhir minggu semua orang berkumpul di rumah. Termasuk Angga yang sejak mengurus perusahaan Sanjaya, Rania jarang bertemu dengannya.
''Kamu berapa lama di Bandung sayang?'' Tanya Gunawan ketika mereka sudah duduk diruang tamu.
''Kalau tidak sempat pulang hari ini kami akan menginap. Besok baru pulang yah'' jawab Rania.
''Paman kapan kembali ke Bandung?'' tanya Rania sama Rendra.
''Belum bisa paman pastikan.Paman harus mengambil apa yang harus menjadi milik kita. Terlalu lama mereka menikmati harta kakek nenekmu. Andai mereka tidak ikut kerjasama dengan Nita menyingkirkan paman dan bundamu. Mungkin paman sudah lupa kalau mereka pernah mengambil apa yang menjadi milik kita'' jawab Rendra.
''Trus bagaimana dengan sawah dan kebun paman?'' tanya Rania.
''Untuk sementara paman menyuruh mang Diman untuk mengurusinya sampai paman kembali'' jawab Rendra.
''Apa paman tidak ada niat untuk tinggal di sini. Kasihan Angga harus menghadapi semuanya sendiri kalau paman kembali ke Bandung'' ucap Rania.
''Dia sudah besar. Sudah saatnya mandiri. Apalagi disini banyak orang bisa dijadikan tempat bertanya. Dia juga memiliki kakak ipar yang seorang pengusaha sukses di umur yang masih muda. Tidak ada yang perlu paman cemaskan'' jawab Rendra.
''Iya, serahkan semua sama Radit. Radit pasti akan membantu semampunya sampai Angga bisa berdiri sendiri'' jawab Radit.
''Makasih kak'' ucap Angga senang. Sebenarnya dia tidak tahu sedikitpun cara menjadi pemimpin perusahaan. Tapi karna bantuan Candra dan Radit dia makin percaya diri untuk membuktikan kalau dia bisa. Dan dia ingin membuat semua keluarganya bangga terhadap dirinya. Terutama Rania orang yang selama ini dia kagumi.
''Kamu pasti bisa dek'' Rania memberi semangat.
''Apa kalian tidak makan dulu sebelum pergi?'' tanya Nella.
''Gak usah ma, kami tadi sudah sarapan. Kapan-kapan kami akan makan disini'' jawab Rania.
''Oh ya om, bagaimana kabar Cynthia?'' tanya Rania.
''Beberapa hari yang lalu Candra menelponnya. Katanya dia sedang menjalani pengobatan kakinya. Sebenarnya dia anak yang baik tapi karna pengaruh dari mamanya dia jadi seperti ini. Om berharap Jaka bisa mendidiknya menjadi lebih baik'' jawab Hendra.
''Katanya kakek dan om mau tinggal bersama paman di Bandung'' ucap Rania.
''Iya, sudah lama kakek pengen hidup seperti Rendra. Dan sekarang sudah tidak ada lagi yang menghalangi kakek pergi. Kakek bahkan sudah menyuruh Rendra menambah ruangan untuk kami berdua tinggal disana. Kamu pasti akan melihatnya nanti'' jawab Wiratmaja.
''Iya Ran, lagian om juga bingung mau ngapain disini. Apalagi kakakmu sampai sekarang belum juga ada tanda-tanda mau menikah'' sindir Hendra sambil melihat ke arah Candra.
''Sabar pa, kalau sudah ketemu jodoh pasti aku akan menikah'' jawab Candra santai.
''Alasan kamu saja. Sampai sekarang kamu tidak pernah punya pacar. Padahal begitu banyak perempuan mengejar kamu'' ucap Hendra. Candra hanya diam saja. Dia malas berdebat masalah itu dengan papanya. Baginya tidak perlu pacaran. Asal cocok dia akan langsung menikah saja. Tapi papanya terus saja menyuruh menikah.
Semua orang hanya tersenyum mendengar ucapan Hendra.
''Yaudah kalian hati-hati dijalan'' ucap Gunawan.
''iya Yah'' jawab Rania.
Kemudian Radit dan Rania pamit untuk berangkat ke Bandung. Perjalanan mereka berjalan lancar sampai di Bandung. Sebelum memasuki desa. Rania belanja dulu untuk keperluannya selama dirumah.
Akhirnya mereka sampai. Radit membantu Rania mengangkat belanjaan dan koper mereka kedalam rumah. Tidak ada yang berubah dari rumahnya. Sama seperti dulu. Semua kenangan selam tinggal disana terlintas di pikiran Rania. Kondisi kamar bundanya juga masih sama. Ternyata paman dan bibinya masih menjaga dengan baik. Seperti yang Wiratmaja katakan kalau ada penambahan ruangan dan kamar disana. Semua juga sudah selesai.
''Kita ke makam bunda dulu mas?'' tanya Rania.
''Baiklah'' jawab Radit mengikuti Rania kemakam Retno.
Karna Rendra dan Susi sudah sebulan lebih di Jakarta. Makam Retno sudah mulai ditumbuhi rumput. Rania mulai membersihkan rumput yang tubuh disana. Radit ikut membantu walaupun awalnya dia agak canggung tapi lama kelamaan dia jadi terbiasa.
''Maaf bunda, baru sekarang Rania datang mengunjungi bunda. Rania sangat merindukan bunda. Rania harap bunda bahagia dialam sana. Karna sekarang Rania juga sudah menemukan kebahagian Rania'' ucapan Rania terhenti sebentar. Dia berusaha menahan kesedihannya. Radit berjongkok disebelahnya mencoba menguatkannya.
''Oya bun, sekarang Rania tidak sendiri lagi kesini. Perkenalkan ini mas Radit suami Rania. Bunda tidak perlu risau lagi. Mas Radit sudah berjanji akan menjadi suami yang baik, menyayangi aku dan akan manjaga Rania seperti yang bunda lakukan dulu. Sebentar lagi kakek dan om Hendra juga akan tinggal disini. Pasti rumah akan jadi rame lagi'' ucap Rania lagi setelah menguatkan hatinya. Rania selalu sedih kalau mengingat bundanya.
''Iya bunda, dulu aku datang sebagai atasan Rania tapi sekarang aku datang sebagai suaminya. Rania wanita yang tangguh. Aku mengucapkan terimakasih karna bunda sudah membesarkan wanita seperti Rania. Aku sangat beruntung mendapatkannya. Maaf kami baru bisa mengunjungi bunda setelah menikah. Tapi aku janji akan sering datang kesini bersama Rania'' ujar Radit sambit memeluk pundak Rania.
Rania merasa terharu dengan ucapan Radit yang begitu tulus. Setelah selasai membersihkan makam Retno. Mereka kembali ke dalam rumah. Radit tidak melepaskan tangannya dari pundak Rania ketika mereka berjalan.
Radit dan Rania duduk ditempat tidur dikamar Rania. Tempat tidurnya terbilang kecil daripada dikamar Radit. Kamar Rania juga terbilang sederhana. Tapi Radit tidak masalah dengan semua itu. Rania mengeluarkan handuk dari dalam kopernya.
''Kamu mau mandi sayang?'' tanya Radit ketika melihat Rania mengambil handuk.
''Iya mas, badanku terasa gerah. Mas tidak mandi?'' tanya Rania.
''Hmm, mau mandi bersama?'' tanya Radit spontan.
''Janga ngaco loh mas. Kamar mandi kecil mana muat untuk berdua'' jawab Rania.
''Tapi kalau cuma kita berdua pasti muat'' goda Radit lagi.
''Tidak bisa, pasti sangat sempit sekali kalau kita mandi berdua'' jawab Rania. Dia tidak pernah membayangkan bagaimana mandi berdua Radi dikamar mandi yang kecil.
''Ya sayang sekali'' ucap Radit sambil merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur. Dia mulai menguap.
Rania kemudian pergi kekamar mandi yang berada didekat dapur. Setelah selesai mandi dia masuk kekamar. Dilihatnya Radit sudah tertidur pulas. Mungkin karna capek menyetir dari Jakarta ke Bandung. Radit tidak membolehkan Rania menyetir. Padahal dulu ketika jadi sopir Radit. Rania sendirian menyetir ke Bandung ketika mereka mengunjungi proyek.
Rania tidak mau mengangu tidur Radit. Dia pergi kedapur untuk menyiapkan makan malam. Mereka memutuskan untuk menginap disana malam ini. Rencana besok baru kembali ke Jakarta.