Rania

Rania
106. Kematian Yang Terlalu Mudah



Mereka memutuskan untuk turun kelantai dasar. Hendra dan Candra sudah duluan berlari kebawah. Rania dipapah oleh ayahnya berjalan. Karna dia berusaha membuka tali dikaki dan tangan. Membuatnya terasa sakit ditambah dengan tamparan Nita dipipinya. Sementara Rendi dibantu sama Radit. Rendra mengikuti dari belakang.


''Kenapa Kendra Sanjaya bisa terlibat ,Ren?'' tanya Gunawan ketika mereka berjalan kelantai bawah. Dia merasa tidak ada masalah selama ini dengan perusahaan Sanjaya.


Sebenarnya Rendra terkejut ketika Nita menyebut siapa orang yang membantu dia menyingkirkan dirinya dan Retno. Sayangnya sebelum dia sempat bertanya Nita sudah keburu bunuh diri.


''Ketika semua sudah selesai saya akan memberitahunya dirumah'' jawab Rendra.


Radit juga terkejut mendengar nama yang disebut Nita dan penasaran apa hubungannya dengan Rendra. Tapi mendengar perkataan Rendra dia juga akan menunggu.


''Kamu bisa jalan dengan cepat gak sih'' ucap Radit yang agak kesusahan memapah Rendi.


''Bagaimana mau cepat, kakak tidak lihat tanganku terluka'' jawab Rendi.


''Masak kamu sampai kalah dengan Rania ketika dia terluka. Dia bahkan tidak secengeng kamu sekarang'' ejek Radit.


''Puji terus calon istrinya. Setidaknya aku sudah menyelamatkan calon istri kakak. Kalau tadi terlambat mungkin kakak sudah jadi duda sebelum menikah'' ucap Rendi. Mendengar itu refleks tangan Radit menepuk tangan Rendi.


''Aww, sakit kak. Kenapa kakak tidak bisa lembut sama penyelamat calon istrinya?'' tanya Rendi.


''Kamu memang pantas mendapatkannya'' jawab Radit sewot.


''Setidaknya bilang terimakasih napa'' umpat Rendi. Tapi Radit pura-pura tidak dengar. Dia lebih mencemaskan Rania. Walaupun dia terlihat tenang dan baik-baik saja. Tapi hatinya pasti sangat trauma.


Mereka sampai dibawah ketika petugas ambulance mengangkat mayat Nita yang penuh dengan darah dengan kepala pecah.


Ketika melewati mereka. Rania tidak menunjukan sedikitpun rasa kasihannya melihat mayat Nita. Dia lebih menunjukan wajah dingin.


''Kematianmu terlalu mudah. Setidaknya kamu harus merasakan penderitaan yang bunda saya rasakan'' batin Rania.


Hendra dan Candra terlihat sangat sedih. Mereka mengikuti mobil ambulance yang membawa Nita kerumah sakit.


Sementara Davin dan jaka pamit untuk memberi keterangan dikantor polisi terkait kejadian hari ini. Mereka juga ditemanin oleh Rendra dan Gunawan.


Rania ikut Radit ke rumah sakit untuk mengantar Rendi berobat. Angga yang binggung mau ikut siapa memutuskan ikut Rania. Rendi disuruh Radit duduk dikursi belakang bersama Angga.


''Andai aku lebih keras melarangmu bertemu tante Nita. Mungkin semua ini tidak akan terjadi'' sesal Radit.


''Bukan salah kak Radit. Kita tidak menyangka dia akan berbuat seperti ini'' jawab Rania.


''Kamu tahu betapa cemasnya diriku ketika tahu kamu diculik. Untung pak Jaka memberitahu kami dimana lokasi kamu. Kalau sempat terlambat aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi'' ucap Radit.


''Bukan kak Radit saja yang cemas. Semua orang juga cemas'' jawab Rendi. Rania tersenyum.


''Dia berniat memberikanku kepada orang suruhanya sebelum membunuh. Tapi terlebih dulu dia ingin menyiksaku'' jawab Rania.


''Apaa? Aku tidak menyangka begitu kejamnya hati tante Nita. Kematiannya tadi terlalu mudah baginya'' ucap Radit tanpa ada rasa simpati atas kematian Nita.


''Kakak juga sekalian periksa dirumah sakit. Aku lihat pipi kakak memar dan bibir berdarah'' ucap Angga.


''Kakak tidak apa-apa dek. Yang terpenting kita obati Rendi dulu'' jawab Rania yang kasihan melihat Rendi menahan rasa sakit.


''Kamu juga sekalian periksa'' ucap Radit tegas. Sebenarnya Rania ingin menolak tapi dia malas berdebat dengan Radit.


Mereka sampai dirumah sakit. Dan langsung ke UGD. Ternyata Dimas yang sedang jaga. Melihat Radit dan yang lainnya datang dia segera menghampiri.


''Tolong bantu Rendi dulu. Lengannya kena peluru'' jawab Radit. Dimas segera membawa Rendi keruangannya untuk mengeluarkan peluru dilengannya. Dikuti Radit dan yang lain.


Setelah selesai mengobati Rendi. Dimas kemudian mengobati Rania.


''Kamu kenapa selalu saja terluka setiap bertemu saya?'' tanya Dimas.


''Karna kita bertemu di rumah sakit. Coba kalau kita bertemu di Apartemen Sisi pasti ceritanya akan lain'' jawab Rania tersenyum.


''Hmm, kamu tuh. Kalau dibilangin selalu saja menjawab'' ucap Dimas sambil mengeleng kepala.


''Apa ada luka yang serius Dim?'' tanya Radit.


''Gak, pipinya tinggal dikompres aja. Emang kenapa Rendi sampai tertembak?'' tanya Dimas penasaran. Radit melihat kearah Rania. Karna Dimas kakaknya Sisi kemudian Rania menceritakan apa yang terjadi secara singkat.


''Pantasan tadi ketika aku nelpon Sisi dia terdengar cemas dan tergesa-gesa. Aku bahkan tidak sempat bicara telepon sudah dimatikannya'' ucap Dimas.


''Ya udah Dim, kami pulang dulu. Kasihan Rania dia harus istirahat'' kata Radit.


''Aku tidak kasihan kak?'' tanya Rendi.


''Kamu sudah besar. Tidur sehari dua hari juga akan sehat'' jawab Radit. Redit mengerucutkan mulutnya.


''Oh ya Ran, Sebaiknya kamu periksa ke psikolog untuk memastikan trauma pasca penculikan'' saran Dimas.


''Makasih kak, tapi aku gak apa-apa'' jawab Rania.


Kemudian mereka pamit pulang. Radit terlebih dahulu mengantar Rania dan Angga pulang. Mereka sampai dirumah Wiratmaja. Ternyata Davin dan yang lain sudah kembali dari kantor polisi.


''Rania...Hiks,hiks,hiks'' Sisi berlari kearah Rania dan memeluknya sambil menangis. Diikuti Nella dan Diva.


''Sudah jangan nangis, Aku baik-baik saja'' hibur Rania.


''Aku takut kamu kenapa-napa'' ucap Sisi terisak. Semua orang terharu melihat kedekatan Sisi dan Rania. Rania hanya bisa menenangkan Sisi. Setelah tenang mereka bergabung duduk di ruang tamu.


''Kami baik-baik saja sayang. Kenapa pipi dan bibirmu lebam?'' tanya Nella.


''Rania baik-baik saja ma'' jawab Rania sambil tersenyum.


Semua orang merasa lega Rania selamat dari penculikan. Kemudian Rendra mememulai pembicaraan dengan wajah serius.


''Apa papa ingat dengan Kendra Sanjaya?'' Tanya Rendra sama Wiratmaja.


''Ingat, bukannya dia anak dari pamanmu. Orang yang mengusirmu ketika orang tuamu meninggal dan mengambil alih semua kekayaan termasuk perusahaan ayahmu dan diganti menjadi Sanjaya group'' jawab Wiratmaja. Karna hanya Wiratmaja yang mengetahui semua masa lalu Rendra. Sedangkan Gunawan hanya mengetahui sebagian besarnya saja.


''Iya, padahal selama ini saya tidak ada niat untuk merebut apa yang sudah mereka ambil. Yang terpenting bagi saya adalah menemukan adik saya. Tapi mereka malah orang yang membantu Nita menyingkirkan saya dan Retno. Mulai hari ini saya tidak akan tinggal diam'' ucap Rendra geram.


''Aku akan membantu paman untuk mengambil alih perusahaan Sanjaya. Sekarang perusahaan itu sedang mengalami penurunan sejak anaknya Kevin Sanjaya memimpin. Kita akan menekannya dan membeli sahamnya ketika anjlok'' ucap Radit.


''Setidaknya aku bisa membalas semua perbuatan Kevin dimasa lalu'' batin Radit.


''Kita bicarakan rencananya setelah pemakaman Nita selesai. Sekarang lebih baik kita istirahat karna semuanya pasti capek menghadapi masalah hari ini'' kata Gunawan.


Semua orang setuju dan mereka kembali pulang kerumah masing-masing.