
Keluarga Wiratmaja sedang makan malam. Tiba-tiba terdengar bunyi bel. Nella segera menyuruh bik Asih membukakan pintu. Ternyata yang datang Hendra. Wajahnya terlihat kusut. Tapi karna Gunawan sudah tahu permasalahannya dia memilih diam.
''Malam semua'' sapa Hendra.
''Kamu sudah makan?'' tanya Wiratmaja.
''Sudah pa, aku mau numpang tidur disini'' jawab Hendra sambil berjalan gontai kekamarnya. Tanpa menunggu jawaban dari Wiratmaja. Karna ini rumah utama. Sebelum anak Wiratmaja menikah mereka memiliki kamar sendiri. Termasuk Hendra.
''Om Hendra lagi ada masalah apa yah, kelihatannya berat banget sampai tidur disini?'' tanya Rania penasaran melihat raut wajah Hendra.
''Hmm'' Gunawan ragu menceritakannya.
''Masalah keluarganya, dia baru tahu kalau Cynthia bukan putri kandungnya'' jawab Wiratmaja sedih. Karna selama ini dia sangat menyayangi Cynthia. Biarpun sikap Cynthia tidak begitu menghormatinya.
''Apa benar Yah?'' tanya Rania terkejut.
Gunawan mengangguk. Kemudian dia menceritakan semuanya. Gunawan sudah mengetahui apa yang terjadi dari cerita Hendra tadi siang. Setelah pergi dari rumahnya Hendra mengujungi Gunawan dikantor dan menceritakan apa yang terjadi. Gunawan juga bingung harus bagaimana. Dia juga tidak mungkin masuk dalam masalah keluarga Hendra. Gunawan hanya bisa menghiburnya.
''Kasihan sekali om Hendra. Pasti semua terasa berat baginya'' ucap Rania ikut merasakan kesedihan Hendra.
''Iya, untuk sementara biarkan saja dia disini untuk menenangkan pikirannya. Kalau kamu ada waktu hibur dia'' jawab Wiratmaja.
Semuanya menganguk. Setelah makan semua orang berkumpul di ruang keluarga untuk bersantai. Rania duduk disamping Gunawan.
''Kamu sudah pikirkan tawaran ayah untuk bekerja di kantor?'' tanya Gunawan.
''Iya, besok aku ikut ayah kekantor. Lagian suntuk juga dirumah terus. Tapi setelah Angga kembali kesini biar dia jadi asistenku nantinya. Soalnya kalau aku sudah nikah otomatis waktuku terbagi. Dan aku ingin Angga yang menghandle semua pekerjaanku. Dan satu lagi yah. Lebih baik posisi ayah diserahkan saja sama kak Candra nantinya. Dia lebih menguasai dibandingan aku'' jawab Rania.
''Untuk yang itu kita pikirkan nanti. Yang terpenting sekarang kamu mau kekantor dulu. Besok ayah akan memperkenalkan kamu sebagai anak ayah dikantor dan sementara kamu jadi asisten ayah'' ucap Gunawan.
''Apa tidak masalah aku langsung jadi asisten ayah? trus asisten ayah yang lama mau dikemanakan?'' tanya Rania.
''Tidak masalah, ayah sudah lihat nilaimu selama kuliah dan ayah yakin kamu bisa dengan cepat menguasainya. Terus masalah asisten ayah yang lama bisa dipindahkan untuk Candra. Tapi selama seminggu mungkin dia akan menjelaskan semua pekerjaan yang akan kamu kerjakan'' jelas Gunawan.
''Iya sayang, lebih baik kamu jadi asisten ayahmu. Sekalian menjaga pola makannya dikantor. Mama tidak mau ayahmu pulang seperti kemaren lagi'' ucap Nella.
''Hehe, iya ma'' jawab Rania. Dia kemudian bersandar didada ayahnya. Gunawan senang dengan semua itu. Putrinya sudah mulai manja dengannya. Dia mengusap kepala Rania dengan penuh kasih sayang. Rania yang selama ini tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ayah. Dia merasa senang diperlakukan seperti itu.
Tidak lama kemudian terdengar bel berbunyi. Rania dengan cepat membukakan pintu.
''Kak Candra'' sapa Rania ketika melihat siapa yang datang.
''Malam Ran'' sapa Candra.
''Iya, masuk kak'' jawab Rania.
''Malam om, tante dan opa'' sapa Candra ketika mereka sampai diruang keluarga.
''Iya, sini duduk gabung dengan kami'' ajak Gunawan.
''Aku kesini cuma mau tanya apa papa disini om? Dari tadi siang dia tidak pulang'' ucap Candra cemas.
''Kamu duduk dulu'' perintah Gunawan. Kemudian Candra duduk.
''Papamu ada dikamarnya. Dia juga belum lama datang. Menurut opa lebih baik biar dia menengangkan diri disini dulu'' ucap Wiratmaja.
''Syukurlah kalau papa disini. Candra cemas kalau terjadi apa-apa dengannya. Apalagi masalah kali ini begitu membuat papa terpukul. Candra juga bingung harus bagaimana'' kata Candra sedih. Begitu banyak masalah yang terjadi dalam waktu singkat.
''Sekarang kamu harus tegar. Hanya kamu yang bisa buat papamu kuat sekarang. Setelah amarahnya mereda baru kita bisa membicarakan bagaimana solusinya'' ucap Gunawan.
''Yang sabar kak, semua pasti ada hikmahnya'' hibur Rania. Candra melihat kearah adik sepupunya dengan tatapan senduh,
''Iya Ran, kakak titip papa. Dia pasti butuh orang untuk menghiburnya sekarang'' jawab Candra.
''Iya, kita semua keluarga. Harus saling mendukung ketika ada masalah. Kakak tidak perlu cemas. Pasti om Hendra akan kembali seperti sedia kala'' jawab Rania. Dia bisa merasakan apa yang Candra rasakan. Disatu sisi dia ingin bersama papanya disisi lain ada mamanya.
''Kalau gitu aku pamit dulu'' ucap Candra.
''Apa kamu tidak menemui papamu dulu?'' tanya Gunawan.
''Besok aja om. Biar papa tenangkan diri dulu'' jawab Candra.
Kemudian dia pamit untuk pulang. Rania mengantar Candra sampai pintu luar. Setelah Candra pergi dia kembali kedalam. Karna sudah malam. Semua orang masuk kamar masing-masing.
Ketika sampai dikamar ponsel Rania berbunyi. Ternyata video call dari Radit. Rania segera mengangkatnya.
''Malam sayang'' sapa Radit tersenyum.
''Malam Kak'' jawab Rania.
''Kok tidak semangat? ada masalah?'' tanya Radit.
Rania kemudian menceritakan masalah keluarga Hendra. Radit yang mendengarkan terkejut. Tapi kemudian dia kembali seperti semula. Rania juga mencerita mulai besok dia akan kekantor ayahnya.
''Yah, kita jadi tambah sulit bertemu'' protes Radit.
''Tapi akhir minggu kita bisa bertemu kak'' jawab Rania.
''Tapi aku kangen terus, sehari aja tidak bertemu sudah segini rindunya. Apalagi kita hanya bertemu sekali seminggu''
''Hmm, kakak kok jadi manja gitu. Dulu kita bahkan lama tidak bertemu dan bahkan tidak ada teleponan. Kakak biasa aja''
''Kamu tidak tahu saja bagaimana aku menahannya waktu itu''
''Hehe'' Rania tertawa
''Bagaimana kalau kita nikah aja. Jadi bisa bertemu tiap hari. Apa kamu tidak mau bertemu aku tiap hari?''tanya Radit.
''Hmm bagaimana ya'' Rania seperti berpikir.
''Kamu tidak suka ya?'' tanya Radit sewot.
''Hehe aku suka sayang, Tapi sekarang masalah om Hendra belum kelar. Setelah semua masalah ini selasai baru kita bicarakan dengan ayah'' jawab Rania.
''Iya, aku ikut kamu aja. Semoga ayahmu tidak menghambatnya''
''Ya udah, tidur gi. Besok kakak kerja. Kelihatan kakak juga sudah ngantuk'' ucap Rania ketika melihat Radit beberapa kali menguap.
''Hmm coba kamu ada disini pasti aku langsung tidur sambil peluk kamu'' goda Radit.
''Hehe, sekarang kakak bayangin aja guling itu aku'' jawab Rania santai.
'' Sama aja boong. Ya udah, kamu tidur juga gi. Selama malam sayang'' ucap Radit.
''Malam'' jawab Rania. Radit langsung mematikan teleponnya.