
Setelah kepergian kedua orang tuanya karena sebuah kecelakaan, kini Rania hanya hidup dengan dua orang sahabat yang saling menyayangi. dia juga bisa disebut wanita terbahagia Didunia ini karena bisa di cintai oleh seorang lelaki yang dipacarinya saat masih duduk di bangku sekolah menengah atas.
Keluarga Steven termasuk keluarga yang berada namun lelaki itu tak ingin hidup bergantung dengan keluarganya, ia bercita-cita menjadi seorang pengusaha yang sukses. sampai akhirnya dengan susah payah dan kecerdasan yang ia miliki ia berhasil merintis sebuah perusahaan kecil saat ia duduk dikelas tiga SMA saat ia duduk di bangku kuliah perusahaan itu semakin berkembang dan bahkan mempunyai banyak cabang termasuk dinegara tetangga.
Tentu saja itu berkat perjuangan dan kerja keras yang sangat sulit. kadang ia hampir ingin menyerah namun sang kekasih menyemangatinya, mendukungnya dalam segi apapun ia tak pernah meninggalkan Steven walau sedang susah sekalipun hingga sekarang.
Saat banyak lelaki yang menginginkannya menjadikan ia sebagai kekasih sampai menjanjikan sebuah materi untuk memenuhi kehidupannya dia bahkan menolak dengan terang-terangan karena ia hanya mencintai satu lelaki yaitu STEVEN WIDJAYA.
Steven Widjaya sosok lelaki idaman bagi semua wanita yang melihatnya. tidak hanya mempunyai wajah yang sangat tampan Steven juga lelaki yang cerdas dan bijaksana dalam segala hal tak heran jika banyak orang mengidolakannya. ia menjalin hubungan dengan kekasihnya kurang lebih delapan tahun lamanya sejak mereka sama-sama masih duduk di bangku sekolah tepatnya dikelas satu SMA hingga memilih Universitas yang sama agar mereka tetap berdekatan.
Namun dengan berganti nya waktu sosoknya yang penuh cinta dan bijaksana berubah angkuh dan kejam, kini tak terlihat lagi sosok Steven yang selalu ia hadirkan dalam dirinya selama ini. kasih sayang dan cinta nya terhadap Rania kini berubah dan bahkan terkadang memperlakukan layaknya bukan seorang manusia.
Tidak tau angin apa yang membuat sosok lelaki itu berubah bahkan para sahabat dekatnya pun merasa heran dengan sikap yang ditunjukkan Steven akhir-akhir ini namun tak ada satupun dari mereka yang berani untuk menegurnya kecuali Robert.
Dibalik semua itu tentu saja ada penyebabnya yang membuat Steven salah paham dan memilih berhianat. tanpa mau mendengarkan penjelasan dari pihak manapun lelaki itu memilih membenci kekasihnya termasuk para sahabatnya sendiri.
***
Jam didinding yang terus berputar yang telah menunjukkan pukul 02:10 dini hari belum juga membuat seorang wanita didalam sebuah kamar berwarna coklat itu mengantuk. ia terus mencatat sesuatu di diary miliknya dengan sesekali terpaksa untuk tersenyum dan menahan air mata yang akan menetes dari kedua sudut matanya.
Sikap kekasihnya yang kian hari semakin berubah bahkan sampai melontarkan kata-kata kasar membuat hatinya terluka namun sedikitpun ia tidak membenci lelaki itu.
Flashback
Tiga hari yang lalu..
Rania terlihat sedang menunggu Steven di dalam ruangan kerja milik lelaki itu ia memandangi sebuah foto yang tak lain adalah dirinya bersama seorang lelaki yang sedang ia tunggu saat ini. foto itu menampakkan sebuah kebahagiaan yang terpancar dari wajah keduanya.
Tak lama matanya beralih melihat kearah pintu yang terbuka dan nampaklah seorang lelaki baru saja masuk kedalam ruangan itu. ia menghentikan langkahnya saat melihat Rania disana saat itu juga Rania berdiri dan memeluk lelaki yang tengah mematung itu namun sedetik kemudian Steven melepaskan pelukannya dengan kasar.
"Ada apa Stev?" Rania merasa terkejut saat kekasihnya itu melepas paksa pelukan yang ia berikan.
"Harusnya aku yang bertanya padamu ada perlu apa kesini?" dengan nada datar dan tak ada sedikitpun rasa bahagia yang ditunjukkan lelaki itu saat kekasihnya datang.
"Pertanyaan apa ini Stev? tentu saja merindukan kekasihku." Rania tersenyum dan kembali ingin memeluk kekasihnya itu namun dengan gerak cepat Steven memundurkan langkahnya.
"Kamu kenapa Stev." ia mencoba untuk bertanya kenapa lelaki itu menghindari pelukannya.
"Pergilah aku sedang tak ingin melihatmu disini." lagi-lagi bukan jawaban seperti itu yang Rania inginkan.
"Sayang ayo bicaralah kamu kenapa." bujuk Rania kembali agar Steven bicara mungkin ia sedang ada masalah.
"Apa kamu tuli Rania!" bentak Steven yang membuat wanita itu membisu karena selama ini Steven tidak pernah bertingkah seperti itu apa lagi membentaknya dengan kata-kata kasar namun hari ini Steven melakukan itu.
"Aku kekasihmu Stev dan aku tidak akan keluar sebelum kau bicara apa yang terjadi." Rania kembali memajukankan langkahnya dan meraih tangan Steven namun dengan kasar Steven menarik tangannya hingga Rania terjatuh dilantai.
"Sudah kukatakan keluar namun kau tak mendengarnya dan ini akibatnya." dengan santai ia bicara seperti itu ke pada Rania.
"Berdirilah lalu keluar dan jangan pernah temui aku lagi. mulai sekarang hubungan kita berakhir." sesudah mengatakan itu Steven pun membalikan tubuhnya memunggungi wanita itu.
Tak tega itulah yang dirasakannya saat ini namun ada alasan yang lebih kuat kenapa ia harus seperti itu. dengan susah payah Rania berdiri dan menahan air matanya yang sebentar lagi akan keluar lalu berkata.
"Jangan katakan hal itu ku mohon Stev jika aku ada salah tolong beritahu dimana letak kesalahanku. bukankah selama ini kita juga seperti itu?" bibirnya seolah tak bisa bicara lebih banyak lagi karena air mata yang kini sudah lebih dahulu mengalir dengan sangat deras.
"Kita sudah selesai dan silahkan keluar sebelum aku menyeretmu dengan paksa." kata-kata yang dilontarkan lelaki itu membuat Rania semakin terkejut namun ia tak membantah ia memilih untuk mengalah dan keluar ruangan.
"Aku keluar sekarang." ucapnya dengan suara bergetar karena menangis.
Setelah Rania keluar dari ruangannya, lelaki itu menarik rambutnya dan melempar seluruh berkas yang ada dimeja kerjanya. tak sengaja ia melihat bingkai foto dirinya dengan Rania diatas sana tak lama ia pun membanting bingkai itu hingga pecah diatas lantai lalu ia ambil foto itu dan menyobeknya sampai tak berbentuk lagi.
Ia berteriak sekencang mungkin sudah seperti orang gila untungnya ruangan itu kedap suara sehingga mereka yang berada diluar ruangan tak dapat mendengar suaranya. sebenarnya ia menyesal telah memperlakukan wanita yang ia cintai dengan kasar namun Rania sendirilah yang membuatnya menjadi seperti itu.
"Andai saja kau tidak melukai hatiku mungkin sebentar lagi kita akan menikah." ucapnya sembari meremas robekan foto itu dengan kuat lalu menghamburkannya kelantai.
"Rania kenapa kamu menghianatiku kenapa kamu bersembunyi dibelakang ku kenapa." teriaknya dengan wajah penuh dendam dan amarah yang terlihat jelas disana.