Rania

Rania
65. Menunggu Dengan Cemas.



Mereka semua terdiam duduk menunggu kedatangan Gunawan. Ada rasa cemas dari raut wajah mereka. Malam terasa panjang bagi mereka.


Beberapa saat kemudian Gunawan datang bersama istrinya dan Wiratmaja. Terlihat jelas raut cemas diwajahnya. Dia menghampiri Radit dan yang lain sedang duduk didepan ruang operasi.


''Gimana keadaan Rania, Dit?'' tanya Gunawan cemas.


''Masih diruang operasi om. Kata dokter mereka membutuhkan darah untuk Rania segera'' jelas Radit.


''Ya udah biar om cek darah dulu'' kata Gunawan pergi kebagian pengecekan darah ditemanin Nella istrinya.


''Bagaimana ini bisa terjadi Dit?'' tanya Wiratmaja duduk disebelah Radit yang masih terlihat kacau.


''Semuanya terjadi secara cepat Opa'' jawab Radit. Kemudian dia menceritakan kembali kronologinya. Dia terus manyalahkan dirinya yang tidak bisa mencegah kecelakaan Rania.


''Hmm, semua bukan salah kamu. Kalau menurut opa pasti ada yang berniat mencelakai Rania. Kalian pasti dikuti'' kata Wiratmaja geram. Dia sangat marah cucunya dibuat celaka.


''Kalau menurut gue juga begitu Dit, kita selidiki setelah Rania selesai operasi'' kata Davin.


''Iya'' jawab Radit. Sekarang yang dipikiranya hanya keadaan Rania.


''Opa tidak akan biarkan mereka lolos. Setelah apa yang mereka perbuat terhadap cucuku'' kata Wiratmaja lagi. Semua orang disitu tahu kalau Wiratmaja sangat marah. Walau umurnya tidak muda lagi. Tapi auranya ketika marah masih sangat menakutkan.


''Iya opa, Radit juga tidak akan diam. Radit akan cari sampai ketemu siapa dalang dibalik kecelakaan ini'' jawab Radit tak kalah marahnya.


''Gue rasa ini sama dengan penyerangan yang terjadi waktu itu'' kata Davin.


''Penyerangan? maksud kak Davin apa ya?'' tanya Rendi terkejut.


Radit lupa kalau dia tidak pernah menceritakan masalah penyerangan terhadap dirinya dan Rania. Apalagi Rania sudah dua kali diserang. Davin tampak binggung melihat Rendi terkejut. Dia tidak tahu kalau Radit belum menceritakan masalah itu sama Rendi. Davin melihat kearah Radit.


''Ntar aku ceritakan, sekarang kita harus menunggu kabar apa om Gunawan bisa mendonorkan darahnya untuk Rania'' jawab Radit.


''Tapi kak...'' Rendi protes.


''Kamu bisa tenang tidak, semua kita disini lagi panik'' suara Radit setengah meninggi.


Rendi terpaksa diam, walau hatinya setengah mendongkol. Tidak lama kemudian Nella datang memberi kabar kalau Gunawan bisa mendonorkan darahnya untuk Rania. Semua orang merasa bersyukur.


Beberapa saat kemudian mama dan papa Radit sampai di sana. Diva sangat cemas ketika melihat kondisi Radit. Dia segera berlari menghampirinya.


''Kamu kenapa berdarah gini Dit? Apa kamu terluka'' kata Diva sambil memegang wajah Radit dengan penuh kecemasan.


''Tidak,ini darahnya Rania'' jawab Radit


''Trus gimana keadaan Rania?'' tanya Diva sedikit lega Radit baik-baik saja.


''Masih diruang operasi'' jawab Radit sedih. Diva bisa melihat betapa cemasnya Radit memikirkan Rania. Tidak pernah dia melihat anak sulungnya secemas itu selama ini. Apalagi dia selalu bersikap tenang dalam menhadapi setiap masalah. Tapi kali ini Radit terlihat sangat panik.


''Semoga dia baik-baik saja''kata Diva menguatkan Radit.


''Anda sudah lama disini pak?''tanya Surya sama Wiratmaja sambil menyalaminya.


''Belum, sudah lama kita tidak bertemu Surya. Bagaimana keadaanmu?'' tanya Wiratmaja.


''Baik pak, iya sudah lama. Saya sekarang sibuk mengurus kantor cabang diluar kota'' jawab Surya.


''Tapi anda masih kelihatan sehat'' kata Surya.


''Sehat dari luar, diumur segini saya sudah tidak bisa berdiri terlalu lama'' jawab Wiratmaja.


''Saya berencana menyuruh Rendi mengantikan. Tapi dia belum mau keluar kota'' kata Surya sambil melihat Rendi. Tapi yang dilihat acuh saja, pura-pura tidak dengar.


''Hehe, anak muda sekarang harusnya dilatih lebih keras biar bisa menjalani hidup seperti kita'' jawab Wiratmaja.


''Oh ya Gunawan dimana pak?''tanya Surya.


''Dia sedang transfusi darah untuk Rania'' jelas Wiratmaja.


''Semoga semua baik-baik saja. Padahal Gunawan baru melihat anaknya sekarang sudah seperti ini'' kata Surya.


''Aamiin'' jawab Wiratmaja. Kemudian mereka diam menunggu didepan ruangan operasi. Radit masih berjalan bolak-balik cemas, tidak sabaran menunggu hasil opersi Rania.


''Sebaiknya kamu pulang dulu ganti baju'' kata Diva.


''Tidak ma, Radit mau disini menunggu sampai Rania keluar dari ruang operasi'' jawab Radit.


''Tapi lihat keadaan kamu sekarang sangat tidak karuan. Disini banyak orang yang menungguinya'' bujuk Diva.


''Radit mau disini ma'' jawab Radit agak meninggi. Membuat Diva dan semua orang terkejut.


''Maaf bukan maksud Radit membentak mama. Tapi Radit hanya ingin melihat Rania baik-baik saja'' kata Radit memelas.


''Iya sayang, mama mengerti'' jawab Diva mengusap kepala Radit seperti anak kecil.


Beberapa jam berlalu. Tapi operasinya masih berjalan. Semua orang harap-harap cemas menunggunya. Gunawan dan Nella sudah kembali ketempat mereka menunggu. Walaupun badannya sedikit lemah tapi Gunawan tidak mau pulang. Dia ingin menunggui Rania sampai siap operasi.


Tidak lama kemudian Rendra dan Istrinya serta Angga sampai disana. Mereka berjalan dengan tergesa-gesa. Tidak dapat terbayangkan wajah cemas diwajah ketiganya.


''Rendra'' kata Gunawan berdiri memeluknya ketika dia sampai disana. Semua orang memandang kearahnya. Surya dan Diva terkejut melihat kedatangan Rendra. Sudah dua puluh lima tahun mereka tidak bertemu.


''Maaf aku Ren, tidak bisa menjaga putriku sendiri. Padahal kamu sudah membiarkannya berada disini'' kata Gunawan dengan meneteskan air mata. Rendra hanya terdiam. Dia juga menyalahkan dirinya atas apa yang terjadi dengan Rania. Kalau bukan karna bujukannya Rania tidak mungkin kembali ke Jakarta. Dia kira itu yang terbaik untuk Rania. Tapi dia salah.


''Saya tidak bisa menjelaskan sama Retno kalau terjadi apa-apa dengan Rania'' jawab Rendra pilu. Tiba-tiba Angga berjalan marah kearah Radit.


''Kenapa ini bisa terjadi? Dari awal saya sudah bilang jangan dekati kak Rania kalau anda tidak sanggup menjaganya. Ini semua gara-gara anda'' teriak Angga marah sambil memegang krah baju Radit. Semua orang terkejut melihat reaksi Angga.


''Maaf'' jawab Radit. Dia membiarkan Angga marah kepadanya. Dia sudah tidak ada tenaga lagi untuk melawan balik.


''Kamu kenapa marah sama kak Radit'' bentak Rendi melepaskan cengkraman Angga.


''Karna dia bosnya kak Rania. Seharusnya dia bertanggung jawab terhadap keselamatannya'' kata Angga masih marah.


''Angga stop. Disini rumah sakit. Kamu harus tenang'' ucap Rendra.


''Tapi yah, aku tidak akan memaafkanya kalau terjadi apa-apa dengan kak Rania'' jawab Angga geram.


''Semua orang cemas memikirkan Rania. Dan kamu tidak lihat kalau Radit juga sangat terpukul dengan kejadian ini. Bahkan diantara kita mungkin dia yang paling menderita memikirkan Rania. Kamu perhatikan keadaannya sekarang'' ucap Davin.


Angga baru sadar kalau kondisi Radit sangat kacau. Bajunya yang penuh dengan darah Rania yang mulai mengering. Tadi karna emosi dia tidak memperhatikanya. Kemudian Angga terduduk lemas. Dia sangat takut kalau kakaknya kenapa-napa.