Rania

Rania
58. Menyuruh Rania



Rania sampai diapartemen. Dia langsung membersihkan diri dikamar mandi. Ternyata Sisi belum pulang. Rania berencana istirahat sebentar sebelum memasak makanan untuk makan malamnya dengan Sisi. Dia pandangi ponsel sambil rebahan ditempat tidur. Biasanya jam segini dia menelpon bundanya untuk sekedar melepas rindu. Sekarang semua sudah tidak akan pernah terjadi lagi. Tiba-tiba Rania jadi sedih mengingat tentang bundanya. Pas saat itu Sisi pulang. Rania cepat menghapus air matanya. Dia kemudian keluar menemui Sisi.


''Kamu baru sampai Si?''tanya Rania melihat Sisi masuk.


''Iya, hari ini ramai pasien. Jadi aku telat pulang. Badan juga capek banget lagi'' ucap Sisi sambil duduk bersandar disofa.


''Kalau tidak pengen capek kamu tinggal nikah aja sama kak Davin. Jadi ibu rumah tangga yang baik tidak perlu kerja'' jawab Rania enteng sambil ikut duduk disamping Sisi.


''Ngomong mah enak. Kamu kira jadi ibu rumah tangga itu ngak capek. Ngurus ini ngurus itu banyak. Lebih capek dari kerja'' jawab Sisi.


''Hehe, jadi intinya tidak ada yang tidak capek dalam hidup ini. Yang penting kita jalani'' jawab Rania.


''Iya aku tahu, kamu mau ngapain siap ini?'' tanya Sisi lagi.


''Mau masak untuk makan malam kita'' jawab Rania.


''Ngak usah, kita pesan online aja. Atau kita suruh kak Davin dan kak Radit beli'' usul Sisi.


''Jangan ngerepotin pak Radit'' jawab Rania tidak semangat.


''Emang kenapa? kamu ada masalah dengan kak Radit?'' tanya Sisi penasaran.


''Bukan gitu. Tapi sepertinya pak Radit menjaga jarak denganku'' jawab Rania.


''Emang kalian lagi sakit pakai jaga jarak segala'' canda Sisi sambil tersenyum.


''Eeh. Kamu kira orang sakit aja yang jaga jarak'' jawab Rania manyun.


''Hehe. aku bercanda. Apa kamu ada masalah sama kak Radit?'' tanya Sisi serius.


''Tidak, akupun juga heran. Dia lebih banyak diam dari biasanya'' jawab Rania.


''Mungkin karna selama di bandung kamu tidak pernah menghubunginya'' ucap Sisi.


Rania membenarkan ucapan Sisi. Tapi tidak mungkin dirinya duluan menghubungi Radit. Secara dia perempuan.


''Hmm tidak mungkin aku yang menghubunginya duluan'' kata Rania pelan.


''Hehe, Zaman sekarang tidak harus yang laki-laki menghubungi perempuan duluan. Yang mana aja boleh'' jawab Sisi. Dia tahu Rania awam masalah seperti ini.


''Udah aa, kita ngobrolin yang lain aja. Apa jadi kita pesan makanannya sekarang aja?'' tanya Rania.


''Iya, biar aku aja yang pesan'' jawab Sisi.


Sambil menunggu makanan mereka sampai. Sisi pergi mandi dulu. Setelah itu mereka menghabiskan malam dengan bercerita sampai mata mengantuk.


Pagi ini seperti biasa Rania sudah bersiap di depan rumah Radit. Kebetulan pagi ini Rendi ada ketemu klien diluar jadi dia sudah berangkat duluan. Hanya Radit dan Rania saja di atas mobil.


Tidak ada pembicaraan yang terjadi selama perjalanan ke kantor. Sesampai di kantor Radit langsung turun dan masuk kedalam kantor. Seperti biasa Rania menunggu diruangannya. Karna Rania juga malas mempertanyakan sikap Radit samanya. Biar dia aja yang menjelaskannya nanti.


Menjelang siang Davin datang keruangan Rania. Dia seperti ragu-ragu mengatakan sesuatu.


''Ada apa kak?'' tanya Rania ketika melihat Davin masih berdiri diluar ruangan.


''Hmm gini Ran. Kata Radit kamu disuruh pergi ke perusahaan W untuk meminta tanda tangan sebuah kontrak'' jelas Davin. Rania terkejut mendengar nama perusahaan. Tapi dengan cepat dia kembali tenang.


''Kenapa harus aku yang pergi kak?'' tanya Rania.


''Karna aku dan Radit ada meeting dengan klien siang ini. Jadi tidak bisa pergi. Hanya kamu yang bisa pergi kata Radit'' jawab Davin.


''Harus ya kak'' tanya Rania ragu.


''Ya udah, aku harus minta tanda tangan kepada siapa? ke bagian mana?'' tanya Rania.


''Itu... tanda tangan pak Gunawan selaku pimpinan perusahaan'' ucap Davin agak Ragu-ragu. Takut Rania menolak.


''Apaaa... Kak Davin serius menyuruh aku kesana?'' tanya Rania terkejut.


''Ya mau gimana lagi. Ini perintah Radit. Kamu tahu sendiri kalau sudah Radit yang suruh harus dikerjakan'' kata Davin.


''Hmmm, ya udah aku pergi. Daripada ntar gajiku dipotong lebih baik aku tahan. Pak Radit memang kejam. Tadi pas pergi kerja ngak bilang diam aja. Awas ntar'' omel Rania. Tapi dia tetap menerima map kontrak yang akan di tanda tangani.


''Ok, aku kedalam dulu ya. Yang semangat, namanya juga kerja harus patuh sama bos'' kata Davin tersenyum lega.


''Ya kak'' jawab Rania tidak semangat. Terbayang bertemu dengan orang yang selama ini ingin dia hindari.


Davin kembali keruangan Radit. Sampai diruangan Radit, dilihatnya dia sedang sibuk menanda tangani beberapa berkas.


''Gimana?'' tanya Radit ketika Davin sudah berada disana.


''Rania mau pergi. Saya sampai bohong kalau kita ada meeting dengan klien siang ini'' ucap Davin.


''Hmmmm'' Radit tidak menjawab.


''Apa tidak masalah kita menyuruhnya bertemu pak Gunawan?'' tanya Davin lagi.


''Ya, mau gimana lagi om Gunawan sudah minta tolong seperti itu. Tidak mungkin saya tolak. Kalau bukan sekarang kapan lagi dia bertemu dengan ayahnya'' jawab Radit.


''Tapi saya agak ragu semua berjalan dengan lancar'' kata Davin .


''Emang apa yang kamu bilang sehingga dia mau pergi?'' tanya Radit penasaran.


''Saya bilang kalau dia tidak pergi anda akan marah karna kontrak itu penting untuk ditanda tangani hari ini. Trus dia jawab kalau dia tidak mengerjakan yang anda suruh gajinya akan dipotong. Katanya anda kejam, hehe'' jelas Davin sambil tertawa.


''Hmm, lagi-lagi saya di bilang kejam. Ini sudah kesekian kalinya bilang saya kejam'' ucap Radit agak kesal.


''Emang'' jawab Davin santai.


''Kalau gitu kamu siapkan laporan yang ini, hari ini juga'' perintah Radit sambil memberikan setumpuk map sama Davin.


''Kerjaan saya sudah selesai. Kenapa ditambah lagi. Saya mau makan siang sama Sisi hari ini'' kata Davin menolak.


''Tidak ada makan siang, kerjakan ini dulu. Kalau sudah siap baru kamu bisa pergi'' perintah Radit serius.


''Anda serius?'' ucap Davin terkejut.


''Iya, karna saya bos yang kejam. Jadi kamu harus nurut'' ucap Radit santai.


''Bukan saya yang bilang anda kejam. Kenapa saya yang kena imbasnya'' kata Davin mulai kesal.


''Tapi kamu ikut tertawa'' jawab Radit.


''Ternyata anda memang kejam'' ucap Davin sambil keluar ruangan dengan membawa map yang diberikan Radit.


Radit yang melihat Davin keluar dengan wajah kesal tersenyum penuh kemenangan.


''Siapa suruh bilang aku kejam sambil tertawa'' ucap Radit tersenyum jahat.


Sebenarnya dia merasa bersalah berbohong menyuruh Rania pergi ke perusahaan W. Tapi karna Gunawan menelpon Radit memohon ingin sekali bertemu Rania. Radit jadi tidak tega menolak permintaan Gunawan. Dia akan terima apa yang akan di katakan Rania nanti.