
Rania POV
Setelah sampai di rumah aku segera masuk kedalam untuk membereskan semua pakaianku. mungkin ini yang terbaik, aku harus mengubur dalam-dalam rasa cinta dan rinduku untuk Steven dan kuberikan untuk sahabatku Sasa, tak lupa aku menulis sebuah surat untuk sahabatku Sarah.
Setelah semuanya beres aku segera memesan taksi untuk membawa ku ke bandara, aku sudah memesan tiket dari kemaren agar segera cepat meninggalkan negara ini dan membawa semua kenangan indah yang telah Stev berikan untukku.
Ke esokan harinya aku sudah sampai di sebuah hotel di negara x yang akan aku tempati untuk hidupku beberapa tahun yang akan datang entahlah, aku tidak tau sampai kapan yang jelas dalam jangka waktu yang cukup panjang. aku pun meletakkan pakaian dan barang-barang milikku lalu istirahat karena aku sangat lelah.
Author POV
Ditempat lain Sarah begitu terpukul melihat kamar milik sahabatnya itu sudah kosong tidak meninggalkan satupun barang kecuali surat dipucuk meja yang biasanya Rania gunakan untuk menaruh barang-barangnya.
Sarah perlahan membuka isi surat itu dan membacanya.
Untuk sahabatku yang selalu ada baik dalam susah maupun senang, kamu tau aku sangat bahagia sekali saat bisa satu atap denganmu. saat kamu membaca surat ini hanya satu permintaanku, yaitu jangan menangis. Sarah aku pamit pergi ya, tolong jaga dirimu baik-baik jika sedikit saja kamu menangis atau sakit aku pasti sangat sedih karena aku bisa merasakan itu, suatu saat aku pasti kembali aku hanya ingin melupakan suatu kenangan yang tak bisa aku lupakan jika disana. eits kamu jangan nangis aku tau aku memperihatinkan tapi jangan membuat ku rendah seperti itu jika kau tangisi hahahaha aku bercanda Sarah. semoga harimu menyenangkan ya dan aku minta tolong untuk memberikan surat yang aku letakkan dibawah bantal kepada Steven. terimakasih sahabatku love you muachhhh.
Saat membaca surat itu air mata Sarah tak kunjung berhenti ia begitu sedih dan kehuwatir dimana keberadaan sahabatnya itu.
"Ini semua karena mu Stev, aku kehilangan sahabat yang bersamaku selama beberapa tahun ini dan aku sangat membencimu." gumam Sarah meneteskan air mata dengan sorot mata yang tajam sambil mengepalkan kedua tangannya.
Tak lama sebuah mobil mewah berhenti dihalaman rumah tersebut langsung bergegas turun dan mengetuk pintu terlihat dua pria tak sabar menunggu sang pemilik untuk membukakannya. pria itu yang tak lain adalah Steven yang ditemani Robert.
"Kenapa lama sekali." gerutu Steven kesal.
"Apa mungkin mereka tidak ada." Robert menimpali perkataan sahabatnya itu.
namun tak lama pintu pun terbuka nampaklah seorang gadis yang tampilannya begitu kacau dengan rambut acak-acakan dan mata sembab.
"Apa yang terjadi sarah." Robert bicara dengan nada kehuwatir.
"Hei jaga mulutmu jika tak ingin aku robek." Steven sangat kesal mendengar ucapan yang begitu kasar ditujukan padanya.
"Itu karena kamu sudah membuat sahabatku pergi dari sini, ini semua gara-gara kamu Stev." tangis wanita itupun kembali setelah beberapa menit yang lalu berhenti.
Seperti disambar petir keduanya pun membisu tanpa berkomentar dan tak tinggal diam Steven pun menerobos masuk kedalam sambil meneriaki nama wanita yang telah mengisi hatinya selama delapan tahun bahkan sampai saat ini posisi wanita itupun tak tergeser sedikit pun.
Ia masuk kedalam kamar Rania dan melihat semuanya rapi dan lemari pakaian pun kosong, saat itulah Steven meneteskan air matanya dan menjatuhkan tubuhnya dilantai.
"Rania maaf sayang, kembalilah kita menikah." ucapnya dengan air mata yang berhamburan
"Ternyata lelaki sepertimu bisa menangis Stev." ucap Sarah yang sudah berdiri disana dengan Robert. diluar tadi Robert menjelaskan tentang kesalah pahaman yang terjadi antara sahabatnya itu dengan Rania dan Robert mengatakan jika mereka tidak berhak menyalahkan Steven dalam hal ini karena Stev pun begitu terluka selama ini hingga Sarah pun akhirnya mengerti dan memilih untuk memaafkan Steven.
"Rania menitipkan ini untukmu." memberikan sepucuk surat kepada lelaki itu.
Steven pun segera membuka dan membacanya dengan tangan gemetar dan air mata berhamburan. ia tak peduli lagi tentang harga dirinya yang begitu mahal untuk menangis dihadapan orang toh mereka adalah sahabatnya sendiri pikir Stev.
Untuk lelaki yang membaca surat ini semoga selalu tersenyum..
seperti air dipantai yang tak selalu tenang, terkadang juga ombak besar mengusik ketenangan air itu hingga bisa saja terjadi bencana, begitu juga dalam sebuah hubungan. Stev kamu adalah lelaki yang satu-satunya ada dalam hatiku selain ayah, aku mencintaimu walau kau membenciku tapi tak apa, aku pun mengerti karena ada penyebab dari semua ini dan aku sudah tau itu, tapi aku juga tak mau mengusik kebahagiaanmu saat ini kuharap kau perlakukan sahabatku seperti kau memperlakukan ku dulu sebelum terjadi kesalah pahaman ini dan kumohon jangan membencinya tolong maafkan dia karena aku pun sudah memafkannya.
Jujur aku tak mau kehilanganmu aku ingin selalu ada disampingmu bagaimanapun keadaannya, sudah kubuka lebar hatiku agar dapat menerima kenyataan namun semuanya percuma dan jalan satu-satunya adalah meninggalkanmu. Stev maaf jika ternyata hubungan yang kita jalin bertahun-tahun harus seperti ini, kita hanya bisa menyusun rencana untuk hidup dan menua bersama namun takdir memilih untuk kita saling melupakan dan melepaskan, kuharap kamu bisa bahagia dan lupakanlah aku serta hidup lah dengan baik. love you Steven..
"Tidak Rania tidak." seperti orang gila seteven pun memukul lantai dengan tangannya dan terlihatlah tetesan darah mengalir disana.
Robert berusaha menghentikan kegilaan yang dilakukan sahabatnya itu dan memeluknya. sedangkan Sarah sangat ketakutan melihat apa yang terjadi dia tak menyangka sebegitu membabi-buta nya lelaki itu saat kehilangan wanita yang sangat ia cintai, akhirnya ia pun sadar ternyata yang dikatakan Robert memang benar jika Stev sangat mencintai Rania hanya saja gara-gara seseorang hidup kedua pasangan kekasih itu menjadi hancur.