
Cynthia sampai dirumahnya. Dia langsung mencari mamanya. Ketika melihat mamanya lagi duduk santai diruang tamu. Cynthia segera menghampiri.
''Mama,hiks.hiks'' Cynthia langsung memeluk mamanya sambil puar-pura menangis.
''Kamu kenapa sayang?'' tanya Nita.
''Om Gunawan menampar pipiku'' Jawab Cynthia.
''Kenapa kamu bisa ditampar?'' tanya Nita melihat pipi Cynthia merah.
''Gara-gara sopir culun kak Radit'' jawab Cynthia.
Kemudian dia menceritakan kejadiannya. Dengan mambahkan sedikit cerita. Sehingga Nita percaya dan ikut marah.
''Apa Gunawan selingkuh ya?'' tanya Nita.
''Bisa jadi ma, lebih baik mama kasih tahu tante Nella'' ucap Cynthia.
''Iya, mama yakin Nella akan cemburu kalau tahu suaminya selingkuh. Apalagi dia sangat mencintainya. Walaupun dia tahu Gunawan tidak pernah mencintainya. Apa dia akan bertahan kalau tahu Gunawan punya selingkuhan lebih muda darinya'' ucap Nita sambil tersenyum licik.
''Biar tahu rasa om Gunawan. Beraninya dia menampar aku'' kata Cynthia senang.
Kemudian Nita segera nelepon Nella istri Gunawan.
Tut tut tut
''Hallo'' terdengar suara Nella menjawab panggilan telepon.
''Hallo mbak, apa kabar?''tanya Nita ramah.
''Baik, kamu gimana kabarnya Nit. Tumben menelpon aku'' tanya Nella.
''Aku baik mbak. Gini mbak tadi Cynthia kekantor melihat mas Gunawan berjalan dengan seorang perempuan. Apa mbak sudah tahu'' Nita pura-pura tanya.
''Belum tahu. Emang berapa umur perempuan itu. Mungkin karyawan atau kliennya mas Gunawan'' jawab Nella tenang.
''Kata Cynthia bukan mbak. Umurnya sekitar dua puluh empat tahun masih muda loh mbak. Dia sopir Radit dan suka mengoda Radit calon suaminya Cynthia. Hati-hati loh mbak zaman sekarang banyak yang muda jadi pelakor'' kata Nita memanas-manasi Nella.
''Ya udah ntar mbak tanya kalau mas Gunawan kalau sudah pulang'' jawab Nella.
''Ok mbak. Aku tutup telponnya ya'' kata Nita sambil memutuskan sambungan telepon.
''Gimana ma?'' tanya Cynthia tidak sabaran.
''Ya jelas Nella marah. Mama yakin dia pasti akan menemui Rania untuk memarahinya. Minimal bertengkar dengan Gunawan. Mama tidak sabar mendengar berita mereka'' jawab Nita senang.
''Biar tahu rasa si culun. Beraninya dia mengganguku'' kata Cynthia senang.
''Sekarang kamu cuci muka. Malu mama melihat wajahmu sekarang. Seperti orang pulang perang'' ucap Nita.
''Iya ma'' jawab Cynthia. Dia meninggalkan mamanya sendiri diruang tamu. Hatinya sangat senang karna sebentar lagi Rania pasti dapat masalah.
Sementara itu dirumah Gunawan. Nella sedang mengantarkan kopi untuk Wiratmaja yang lagi bersantai di taman belakan rumah.
''Kenapa lama?'' tanya Wiratmaja.
''Tadi angkat telepon dari Nita dulu'' jawab Nella.
''Ngapain dia nelpon kamu?'' tanya Wiratmaja tidak suka.
''Hmmm. Papa dari dulu memang tidak suka dengan istri Hendra itu. Apa maksudnya menelpon kamu seperti itu. Apalagi anaknya Cynthia sering kali buat ulah. Biarpun dia cucu papa. Ntar papa harus bicara dengan Hendra. Ngomong-ngomong, papa rasa mungkin perempuan itu Rania'' jawab Wiratmaja.
''Nella juga berpikir gitu pa. Ntar kita tanya mas Gunawan saja. Soalnya keluarga kita yang lain belum tahu kalau Rania anak mas Gunawan'' kata Nella.
''Nanti kalau Rania sudah mau pulang kesini atau sudah mengakui Gunawan ayahnya baru kita beritahu keluarga yang lain. Untuk sekarang dirahasiakan saja dulu'' ucap Wiratmaja.
''Iya pa. Moga secepatnya mas Gunawan bisa membawa Rania ngumpul diantara kita'' kata Nella. Setelah itu dia kembali kedalam rumah meninggalkan Wiratmaja duduk ditaman belakang.
......................
Radit sudah berjalan keluar kantornya menuju tempat parkir. Dilihatnya Rania tidak ada di dekat mobil.
''Kemana dia'' pikir Radit. Secara tadi Davin bilang kalau wajah Rania agak kesal pulang dari perusahaan Gunawan.
Kemudian Radit berencana menelpon Rania. Tapi sebelum dia mengeluarkan ponselnya Terdengar suara Rania.
''Pak saya disini'' Teriak Rania tidak jauh dari sana. Rania sedang berdiri dengan seorang laki-laki. Setelah bicara sebentar kemudian Rania menghampiri Radit yang sudah menunggu di dekat mobil dengan wajah ditekuk.
''Siapa dia?'' tanya Radit agak kesal.
''Teman kuliah saya pak'' jawab Rania sambil membukakan pintu untuk Radit.
''Kenapa kalian ngobrolnya dipojok sana?''tanya Radit curiga
''Bukan dipojok pak, tapi karna hanya disana ada tempat duduk jadi saya ajak ngobrolnya disana'' jelas Rania.
Radit masuk kedalam mobil dengan wajah masih kesal. Setelah menutup pintu mobil Rania mulai menyetir melajukan mobil keluar parkiran.
''Kenapa harus disana segala ngobrolnya disini kan bisa. Apa kalian pacaran?'' tanya Radit
''Bukan pak. Dia itu teman kuliah saya yang kebetulan ada urusan dikantor tadi. Pas dia mau pulang nampak saya disini. Karna sudah lama tidak ketemu kami mengobrol sebentar'' jelas Rania sambil menyetir.
''Trus kalian kangen-kangenin gitu?'' kata Radit sewot.
''Kenapa anda jadi sewot. Seharusnya saya yang kesal sama anda'' jawab Rania.
''Kenapa kamu kesal. Emang salah saya apa?'' tanya Radit pura-pura tidak tahu.
''Anda jangan pura-pura tidak tahu maksud saya. Kenapa anda menyuruh saya meminta tanda tangan keperusahaan W?'' tanya Rania.
''Karna cuma kamu yang bisa disuruh'' jawab Radit santai.
''Anda kira saya bodoh. Tidak ada bos menyuruh sopirnya meminta tanda tangan kontrak. Banyak sekali kejanggalan yang saya lihat. Apa anda sengaja menyuruh saya kesana supaya saya bertemu dengannya. Padahal anda tahu saya sangat membencinya dan tidak ingin ketemu. Kenapa anda tega sama saya sih pak?'' tanya Rania kesal.
''Malah dia yang marah. Pantasan Davin bilang kalau pulang hati-hati.'' batin Radit.
''Bukan begitu Ran. Saya hanya pengen membantu kamu dekat dengan ayahmu. Supaya kalian bisa memperbaiki hubungan. Sampai kapan kamu akan terus menghindar. Dari yang saya lihat, kalau masalah ini hanya salah paham dan kurang komunikasi saja'' jelas Radit.
''Tahu apa anda tentang kebencian saya dengannya. Kalau anda diposisi saya apa anda akan bisa memaafkannya'' jawab Rania dingin.
''Maksud saya begini. Masalah antara ayah dan bundamu hanya kurangnya komunikasi. Maklum waktu itu alat komunikasi tidak secanggih sekarang. Andai waktu itu ponsel seperti sekarang kemungkinan semua tidak terjadi. Saya bukan membela om Gunawan. Tapi kita sudah mendengar cerita dari kedua belah pihak. Sekarang yang harus kita pikirkan bagaimana mencari tahu siapa dalang dibalik semua ini. Saya yakin dia pasti sangat menginginkan ayah dan bundamu berpisah. Sehingga sampai menfitnah bundamu'' jelas Radit.
''Biarpun begitu anda tidak berhak ikut campur dengan masalah saya. Apalagi hubungan kita hanya sebatas bos dan sopir'' jawab Rania.
''Kenapa kamu bicara seperti itu?'' tanya Radit mulai kesal.
''Emang kenyataannya seperti itukan. Setelah saya kembali anda bahkan terkesan menjaga jarak dengan saya. Sekarang seolah peduli dengan saya. Mau anda apa?'' tanya Rania juga ikut kesal.