
Radit dan yang lain sampai ditempat Rania. Ternyata Rania berada tidak jauh dari saung dilerengan bukit. Di sana ada lapangan kecil. Seperti tempat latihan. Rania sedang meninju samsak yang tergantung. Dia bahkan tidak sadar kalau mereka datang. Angga berjalan cepat ke arah Rania. Dia ingin menghentikan Rania. Karna dilihatnya tangan Rania sudah mulai berdarah.
''Berhenti kak'' teriak Angga sambil mendekati Rania. Sisi yang melihat Rania masih meninju samsak dengan emosi langsung memeluknya dari belakang.
''Sudah Ran, aku mohon'' kata Sisi sambil menangis. Dia tidak tega melihat Rania seperti itu.
''Jangan gangu aku Si'' jawab Rania berusaha melepaskan pelukan dari Sisi. Tapi Sisi tetap bertahan sekuat tenaga. Angga yang melihatnya terus membujuk Rania.
''Biarkan saja'' kata Radit ketika dia dan Davin sampai.
''Saya tahu kamu sedang dalam emosi. Itu cara kamu untuk melampiaskannya. Kalau ditahan juga tidak baik. Tapi ketika melampiaskan kemarahan dan kekesalan juga harus tahu kapan berhenti. Apa dengan menyakiti diri seperti ini akan membuat semuanya selesai?'' ucap Radit tegas. Rania berhenti mendengar kata Radit.
''Tahu apa anda dengan kemarahan yang saya rasakan?'' tanya Rania masih menghadap kearah samsak.
''Kami memang tidak tahu seberapa marahnya kamu sekarang. Karna kami tidak bisa masuk kedalam dirimu. Tapi apa karna satu orang yang membuatmu marah. Kamu mengabaikan permintaan orang-orang yang sangat menyayangimu? Lihat mereka, betapa khawatirnya mereka denganmu. Karna kamu sakit hati sampai kamu tega menyakiti mereka?'' tanya Radit tajam.
''Benar kata Radit, Kamu harus bisa bertahan dalam cobaan ini. Jangan sampai kamu menyakiti dirimu sendiri dan orang-orang yang menyayangimu, Ran'' ucap Davin. Rania hanya diam. Dia membiarkan Sisi tetap memeluknya.
'' Marah boleh, Tapi harus tahu batasannya. Jangan sampai berefek kediri sendiri'' kata Radit lagi.
''Saya harus bagaimana? Ketika saya ingin mengetahui segalanya saya tidak bisa mendapatkanya, hiks hiks. Tapi saat saya sudah tidak membutuhkannya dia datang'' Rania menangis sambil terduduk ditanah. Kalau mengingat semua kejadian yang terjadi dia merasa hancur.
Berat rasanya mengetahui sesuatu yang tiba-tiba. Di satu sisi dia kehilangan orang yang sangat dihargainya. Disatu sisi dia harus mengetahui kenyataan tentang ayahnya. Lama Rania terduduk menangis. Radit menyuruh yang lain membiarkanya sampai tenang.
''Apa didalam mobil loe ada kotak P3K Vin?'' tanya Radit.
''Ada biar gue ambil sebentar'' ucap Davin sambil berjalan meninggalkan yang lain.
Angga melihat bagaimana Radit menenangkan Rania. Dia yang awalnya tidak suka dengan Radit mulai bersimpati dengannya. Mungkin dia sudah salah menilai Radit selama ini.
Setelah Rania selesai menangis. Sisi mengajaknya duduk dipondok dekat sana. Tidak lama kemudian Davin datang membawa kotak P3K. Sisi langsung mengobati tangan Rania yang berdarah. Radit dan yang lain ikut duduk disana.
Sedangkan Rendra dan Gunawan sampai di makam Retno. Setelah menunjukan makam Retno, Rendra kembali pulang.
''Saya harap anda setelah ini langsung pulang. Jangan coba menemui Rania dulu'' ucap Renda sambil pergi meninggalkan Gunawan.
Gunawan terpaku melihat tanah makam yang masih merah. Air matanya mulai menetes. Dulu dia sangat ingin melihat makam Retno. Bukan karna simpati tapi karna benci. Sekarang ketika melihat makam sesungguhnya dia malah tidak sanggup.
''Mas tahu kalau rasa penyesalan ini tidak bisa membayar semua rasa sakit dan penderitaan terhadap apa yang kamu hadapi selama ini. Bahkan sampai mas matipun. Tapi satu-satu hal yang ingin mas lakukan iyalah membayar semuanya lewat Rania anak kita. Biarpun hanya sebesar butiran debu mas akan berusaha'' kata Gunawan terhenti.
''Kamu tahu Retno, ketika mas bertemu Rania pertama kali ada terbesit sedikit harapan kalau dia anak mas. Mengingat namanya sama dengan yang kita inginkan. Andai saja mas tidak bodoh meninggalkanmu dan percaya dengan semuanya. Mungkin kita bertiga akan hidup bahagia. Sekarang mas harus bagaimana supaya Rania bisa menerima mas, Retno? Hiks'' Gunawan mulai menangis lagi. Rasanya sesak mengingat semua kesalahanya.
''Apa mas harus menyusul kamu dulu baru dia memaafkan. Tuhan sudah menghukum mas dengan tidak mempunyai anak dari istri mas sekarang. Sekarang dia juga menghukum mas dengan kebencian Rania'' ucap Gunawan lagi. Sebenarnya Rendra masih berada di dekat situ. Jadi dia bisa mendengar semua kata Gunawan. Dia tahu kalau Gunawan adalah orang yang baik. Selama dua puluh tahun mereka bersama Rendra memahami sifatnya. Hanya saja Rendra masih tidak bisa terima dengan penderitaan adik dan keponakannya selama ini. Setelah itu Rendra kembali kerumahnya.
Lama Gunawan mencurahkan rasa hatinya. Dia bahkan sudah tidak punya kata-kata untuk diucapkan lagi.
''Mas akan sering mengunjungimu. Disisa hidup mas, walau mas tahu semua terlihat percuma. Tapi hanya itu yang bisa membuat mas tenang untuk saat ini'' ucap Gunawan. Setelah menatap makam Retno sekali lagi dia melangkahkan kaki menuju mobilnya. Untuk sekarang dia harus bersabar menunggu Rania memaafkannya. Dia akan berusaha keras mendapatkan hati anak semata wayang itu.
Rania sudah mulai tenang. Tangannya sudah diobati Sisi. Sekarang dia hanya duduk diam.
''Kami berencana berangkat ke Jakarta sore ini. Apa kamu balik ke Jakarta bersama kami atau nyusul?'' tanya Radit.
''Saya belum bisa memutuskan sekarang pak. Apa saya akan kembali ke Jakarta atau menetap disini'' jawab Rania.
Radit dan yang lain terkejut mendengar jawaban Rania. Mereka tidak menyangka Rania akan memutuskan seperti itu.
''Semua keputusan ada ditanganmu. Saya hanya berharap kamu mau balik ke Jakarta'' ucap Radit tidak semangat.
''Iya Ran, Apa kamu tega membiarkan aku sendiri lagi diapartemen?'' tanya Sisi sedih.
''Entahlah. Saya harus memikirkan lagi semuanya. Apalagi kalau saya ke Jakarta resiko apa yang akan terjadi. Dan saya yakin laki-laki itu akan terus menganggu'' jawab Rania.
''Semua masalah harus dihadapi. Sampai kapan kamu akan sanggup berlari. Kalau tidak dibereskan akan terus menjadi beban'' jelas Radit.
'' Iya saya tahu. Tapi untuk sekarang saya belum bisa memikirkannya'' jawab Rania.
'' Kamu sahabat aku yang paling tangguh. Aku yakin kamu bisa menghadapi semuanya'' hibur Sisi sambil memeluk Rania.
''Hmm. Apapun keputusan kamu kami akan selalu mendukung'' kata Radit lembut. Rania melihat kearah Radit. Dia tidak menyangka bos yang selama ini cuek akan begitu perhatian terhadapnya. Ada rasa hangat terasa dalam hatinya.
Mereka kembali kerumah. Disana paman Rendra dan bibi Susi sedang duduk di depan pintu menunggu Rania dan yang lain pulang. Sore harinya Radit, Davin dan Sisi pamit kembali ke Jakarta. Ada rasa enggan di hati Radit berpisah dengan Rania. Dia berharap Rania segera menyusul ke Jakarta.