
Dengan langkah lemah dan pikiran tak menentu ia keluar dari apartemen, ia berjalan menuju mobil. sesampainya di dalam mobil ia menangis begitu sangat kencang membayangkan bagaimana hidup dirinya dan satu nyawa dalam perutnya tanpa Stev disamping mereka.
Ia pun tak mungkin menceritakan masalahnya kepada Sarah ia tak ingin membebani sahabatnya itu, sudah cukup ia membuat persahabatan mereka dengan Sasa hancur apalagi ditambah masalahnya sekarang yang semakin rumit. ia bertanya-tanya dalam hati kenapa Sasa bisa berada di apartemen Stev dan sejak kapan mereka memiliki hubungan lalu kenapa malah Stev menuduh dirinya berselingkuh dengan Dirga? apakah ini ada hubungan dengan Sasa? memikirkannya pun Rania sudah tak kuat lagi, rasanya ia ingin hidup hari ini saja.
Di rasa sudah sedikit tenang Rania pun mengendarai mobilnya menuju rumah. sesampainya di rumah ia segera masuk dan mencuci wajahnya agar tak terlihat oleh Sarah bahwa dirinya baru sudah menangis. ia berusaha kuat untuk menjalani hari-harinya kedepan entah bagaimana pun nasib nya nanti harus ia hadapi dengan tenang.
"Sabar Ran, kamu tidak boleh lemah kamu wanita kuat ran." ucapnya menyemangati diri sendiri sambil membaringkan tubuhnya ditempat tidur.
***
Robert sedang menuju sebuah tempat untuk menemui seseorang, ia merasa sangat kesal dengan tingkah Stev akhir-akhir ini, ia ingin mendapatkan kejelasan dari pria itu.
Setelah beberapa menit ia mengendarai mobilnya akhirnya ia pun sampai ditempat tujuan. sesampainya disana ia merasa heran kenapa pintu apartemen Stev tidak dikunci dan sedikit terbuka kemudian tanpa banyak tanya ia pun masuk kedalam.
Dilihatnya apartemen yang berantakan dan barang-barang yang tidak lagi sesuai tempatnya padahal lelaki itu terkenal dengan kerapian dan kebersihan, tapi hari ini Robert tak menyangka jika apartemen milik sahabatnya itu bisa seberantakan ini.
Ia masuk kedalam kamar Stev yang kebetulan tak terkunci dilihatnya sahabatnya itu sedang duduk dilantai dengan membenamkan kepalanya di atas kedua lututnya.
Mendengar langkah kaki seseorang Stev pun mendongakkan kepalanya dan dilihatnya Robert yang telah berdiri didepannya.
"Kau kenapa Stev." ucap Robert yang merasa heran.
Mungkin pikiran sahabatnya itu sedang kacau dan banyak masalah, jadi sekarang ini bukan waktunya ia harus banyak bertanya karena kan sia-sia. dia tau betul jika Stev marah maka urusan nya akan panjang karena lelaki itu sangat keras kepala dan hanya luluh kepada satu wanita namun tak mungkin dia menyuruh Rania untuk menemui Stev karena hubungan mereka lagi tidak membaik.
Robert memang belum tau jika Stev seperti itu karena dari kedatangan Rania dan ia juga tidak tau jika ada Sasa diapartemen milik sahabatnya itu.
Flashback
Setelah Rania keluar dari apartemennya, Stev seperti orang yang sudah kehilangan akal sehatnya, ia membanting seluruh barang-barang yang terlihat didepan matanya termasuk menyuruh Sasa pergi dulu untuk sementara sampai emosinya stabil. ia sebenarnya menyesal telah menampar Rania namun dia tidak tau kenapa kebenciannya lebih dalam dibandingkan rasa kasian ya terhadap wanita itu.
"Stev apa kamu tidak apa-apa?" ucap Sasa.
"Keluar! dan jangan temui aku dulu sebelum emosiku stabil." ucap Stev menyuruh Sasa untuk meninggalkannya.
"Baiklah Stev." ia pun keluar dari kamar itu dengan tersenyum penuh kemenangan.
Sasa menuju kamarnya untuk mengambil sesuatu lalu ingin mencari penginapan terdekat.
"Rania sebentar lagi kamu akan semakin dibenci oleh lelaki yang kamu cintai dan aku akan menjadi satu-satunya wanita yang dicintai olehnya." ucapnya dengan tawa penuh kemenangan.
ia pun bergegas keluar meninggalkan apartemen itu sebelum Stev memarahi dan mengusirnya.