
''Apa kamu mencintai kak Radit...'' Teriak Rendi putus asa melihat Rania berjalan meninggalkannya. Rania memberhentikan Langkahnya. Dia melihat kearah Rendi.
''Maaf tuan'' hanya itu yang keluar dari mulut Rania sebelum dia pergi meninggalkan Rendi dicafe sendirian.
''Dari awal kita bertemu saya hanya menggangap anda sebagai adik dari bos saya. Saya juga tidak bisa memaksakan hati saya untuk anda. Dari pada saya memberi harapan yang tidak pasti membuat anda tambah terluka. Lebih baik anda mengetahuinya dari sekarang. Supaya tidak ada penyesalan dikemudian hari. Mengenai, apa saya mencintai pak Radit. Saya sendiri juga tidak tahu. Biar waktu yang menjawabnya. Saya harap anda menemukan wanita yang lebih baik daripada saya'' batin Rania disepanjang perjalanan pulang.
Rendi tertunduk lesuh di cafe. Setelah Rania pergi dia hanya berdiam diri. Ada rasa sakit dihatinya mendengar penolakan Rania. Tapi dia juga tidak bisa memaksa Rania untuk menerimanya. Karna dia juga tahu selama ini dia juga banyak menolak wanita yang suka kepadanya. Dengan alasan yang sama dengan Rania.
''Mungkin ini karma karna aku sering menolak perempuan-perempuan yang suka padaku. Tenyata sesakit ini rasanya patah hati. Huft kak Radit aku kalah'' gumam Rendi.
Lama Rendi duduk dicafe. Sampai seorang pelanyan mengatakan kalau cafe akan tutup. Baru Rendi pergi meninggalkan cafe. Dia berjalan gontai ke tempat mobilnya terpakir. Pikirannya malam ini sangat kacau. Tapi karna sudah larut malam dia memutuskan untuk pulang.
Radit masih belum tidur. Dia tidak bisa tidur memikirkan apa yang akan dikatakan Rendi kepada Rania saat makan malam ini. Tapi dia juga tidak bisa menghentikannya. Karna sudah berjanji dengan dirinya sendiri. Apalagi tadi sore Rania sangat marah kepadanya. Terdengar suara mobil menandakan Rendi sudah pulang. Radit melirik jam dinding. Ternyata sudah jam dua belas malam.
''Kenapa Rendi pulang jam segini'' ucap Radit. Dia bisa mendengar suara pintu kamar Rendi dibuka. Menandakan dia sudah masuk kedalam kamarnya.
Pagi hari Radit, mama dan papanya sudah berada di meja makan untuk sarapan. Tapi Rendi belum juga muncul. Setelah mama Radit menyuruh bik Inah memanggil Rendi kekamarnya. Baru dia turun kebawah untuk sarapan bersama.
Setelah menyapa semuanya Rendi langsung sarapan tanpa bicara. Semua orang heran melihatnya. Biasanya Rendi paling heboh kalau lagi ngumpul begini.
''Kamu sakit sayang?'' tanya Diva cemas.
''Tidak ma'' jawab Rendi.
''Trus kenapa lesuh gitu'' tanya Diva lagi.
''Karna kurang tidur ma'' jawab Rendi
''Kamu pulang jam berapa malam?'' tanya Diva.
''Jam dua belas ma'' jawab Rendi. Radit memperhatikan Rendi. Dia bertanya-tanya apa terjadi sesuatu sama Rendi dan Rania. Tapi dia tidak mau menanyakan langsung kepada Rendi.
''Kenapa kamu pulangnya larut malam?'' tanya Diva
''Biasa anak muda kalau sudah keluyuran suka pulang malam ma'' jawab Surya.
''Iya pa, tapi wajahnya Rendi tidak seperti biasanya'' kata Diva.
''Lagi patah hati mungkin'' jawab Surya santai. Rendi terkejut mendengar jawaban papanya yang spontan.
''Rendi duluan ya ma,pa, kak'' kata Rendi sambil berdiri meninggalkan mereka yang saling menatap.
''Oh ya kak, aku pergi kekantornya pakai mobil sendiri saja'' ucap Rendi lagi. Radit hanya mengangguk. Menatap punggung Rendi pergi menuju kamarnya.
Setelah sarapan Radit langsung pamit untuk pergi kekantor. Didepan rumah dia melihat Rania sudah menunggu di dekat mobil.
''Pagi pak'' sapa Rania.
''Pagi'' jawab Radit. Kemudian Rania membukakan pintu untuk Radit. Dia melihat-lihat sekeliling seperti mencari seseorang.
''Rendi pergi sendiri, dia tidak ikut dengan kita'' jelas Radit seolah tahu siapa yang dicari Rania.
''Ya pak'' jawab Rania lansung masuk kedalam mobil. Mereka meninggalkan rumah menuju kantor.
''Apa tuan Rendi menghindariku gara-gara kejadian semalam'' batin Rania.
Radit memperhatikan sikap Rania. Tapi dia seperti hari-hari biasa tidak ada yang berubah. Hanya sikap Rendi yang berubah. Padahal semalam ketika dia mau menemui Rania wajah Rendi sangat bahagia.
Dia tidak ingin menanyakannya sama Rania. Mengingat kata-kata Rania kemaren kepadanya. Mulai sekarang dia akan berusaha bersikap sewajarnya sama Rania. Mungkin lebih baik untuk sekarang.
Sementara itu Rendi masih dikamarnya. Ketika dia melihat mobil Radit sudah meninggalkan rumah baru dia turun untuk pergi kekantor.
''Maaf antik, untuk sementara waktu aku akan menghindarimu. Bukan aku sakit hati dengan penolakanmu. Tapi aku harus bisa menata hati biar siap menerima keadaan ini. Mungkin setelah ini, semua akan berubah. Tapi aku akan berusaha bersikap seperti biasanya kepadamu'' batin Rendi.
Dalam perjalanan kekantor tidak ada pembicaraan antara Rania dan Radit. Mereka larut dalam pikiran masing-masing. Sampi dikantorpun mereka tetap diam. Davin yang kebetulan juga baru melihat heran kepada mereka.
''Pagi pak, pagi Ran'' sapa Davin.
''pagi'' jawab Radit singkat.
''pagi pak'' jawab Rania sambil tersenyum.
''Vin, ayo masuk'' ajak Radit sambil berjalan tanpa melihat Rania.
''Aku kedalam dulu Ran, sampai jumpa'' kata Davin mengikuti Radit.
Rania mengangguk, dia melihat mereka pergi. Ada yang mengajal dihati Rania dengan diamnya Radit. Namun dia memilih tidak memikirkannya. Terlalu banyak masalah yang membuatnya pusing. Belum lagi telepon dan WA dari Gunawan tiap saat menggangunya. Biarpun dia sudah tidak sebenci pertama kali bertemu tapi dia belum bisa memaafkan ayahnya itu.
Sementara itu diperjalanan menuju ruangan mereka. Davin penasaran dengan sikap Radit dan Rania. Ketika didalam lift Davin tidak bisa manahan untuk tidak bertanya.
''Anda bertengkar dengan Rania pak?'' tanya Davin.
''Tidak'' jawab Radit singkat.
''Trus kenapa kalian diam-diaman?'' tanya Davin
''Karna tidak ada yang dibicarakan'' jawab Radit.
''Apa kemaren Rania marah sama anda karna disuruh ketempat pak Gunawan?'' tanya Davin lagi.
''Ya'' jawab Radit
''Apa katanya?'' tanya Davin
''Janga campuri urusan saya'' jawab Radit.
''Saya bukan mencampuri pak. Saya hanya ingin tahu saja'' jawab Davin.
''Maksud saya itu yang dikatakannya'' jelas Radit sambil melanjutkan jalannya karna pintu lift sudah terbuka.
''Hehe, kirain saya anda yang bilang.Trus anda terima begitu saja?'' tanya Davin.
''Kalau dia sudah bilang begitu. Saya harus gimana lagi?'' tanya Radit.
''Masak anda tidak tahu harus bagaimana'' kata Davin.
''Huft, susah ngomong sama kamu'' jawab Radit.
''Bukan susah pak, anda saja yang membuatnya jadi rumit. Kalau menurut saya perempuan bicara seperti itu berarti dia minta diperhatikan. Bukan di cuekin'' jelas Davin.
''Sana kerja'' perintah Radit ketika mereka sudah didepan ruangan Radit.
''Iya, dibilangin ngak mau'' jawab Davin sambil pergi ke ruangannya. Radit pun masuk kedalam ruangannya. Sambil memikirkan apa yang terjadi antara Rendi dan Rania.