Rania

Rania
123. Pernikahan Sisi dan Davin



Mereka sampai dihotel tempat acara pernikahan Davin dan Sisi diadakan. Hotelnya sama dengan tempat Rania dan Radit mengadakan acara pernikahan mereka. Awalnya Davin menolaknya tapi Radit memaksa Davin menerima bantuan yang dia berikan. Salah satunya biaya penyewaan hotel yang dibayarkan Radit. Bagi Radit Davin bukan lagi karyawan atau sahabatnya. Tapi dia sudah menganggap Davin sebagai saudaranya sendiri.


Ditempat acara pernikahan belum banyak orang yang datang. Mungkin karna acaranya masih dua jam lagi. Disana yang ada orang tua Sisi dan Davin. Setelah memberi salam dan berbincang sebentar Rania pergi keruang tempat Sisi berada. Sedangkan Radit dan Rendi pergi ketempat Davin.


Ketika Rania sampai ditempat Sisi. Disana sudah ada Dimas yang sedang menemaninya. Sisi yang sedang di make up oleh MUA senang melihat Rania datang begitupun dengan Dimas.


''Pagi kak'' sapa Rania


''Pagi Ran, kamu baru sampai?'' tanya Dimas.


''Iya kak'' jawab Rania kemudian melihat kearah Sisi. Dia menunggu Sisi selesai di makeup. Setelah selesai make up Sisi langsung ganti gaun pengantin. Dia terlihat sangat cantik.


''Calon pengantin, wajahnya berseri amat'' goda Rania.


''Hehe, seperti tidak tahu aja gimana rasa mau jadi pengantin'' jawab Sisi.


''Kamu juga makin cantik aja Ran'' goda Dimas.


''Hehe, kak Dimas bisa aja'' jawab Rania santai.


''Tapi benaran loh, sejak kamu jadi istri Radit kamu tambah cantik saja. Kenapa gak dari dulu aja kacamatamu dilepas. Kakak juga mau mendaftar jadi calon suamimu'' canda Dimas.


Sejak Rania menikah dengan Radit. Dia bertekad untuk belajar menjadi istri yang tidak memalukan bagi Radit. Termasuk dia mulai belajar berdandan dan serta berpenampilan lebih feminim. Karna penampilan seperti itu diperlukan ketika dia menemani Radit menghadiri acara kantor atau lainnya. Dia belajar dengan Sisi dan juga Diva. Radit bahkan sekarang senang membelikan Rania gaun. Karna sebelum menikah pakaian Rania kebanyakan baju kaos oblong, kemeja dan celana panjang. Dia hampir tidak memiliki gaun. Sekarang Rania memakai kaca mata ketika pergi kekantor saja. Tapi kalau pergi bersama Radit atau dirumah dia sudah tidak memakai kaca mata lagi.


''Kakak aja yang gak tahu kalau Rania cantik tanpa kacamata. Aku sudah dari sekolah tahu. Tapi karna Rania punya alasan sendiri jadi aku diam saja'' jawab Sisi.


''Kenapa kamu gak kasih tahu kakak. Kalau kakak tahu Rania cantik seperti ini dia bisa jadi kakak iparmu. Tidak menikah dengan Radit'' ucap Dimas.


''Kalaupun kakak benaran suka juga percuma. Mereka sudah dijodohkan dari sebelum lahir. Aku juga gak mau Rania nikah dengan kakak. Bisa-bisa dia menghabiskan waktu dirumah sendiri karna kakak sibuk kerja. Apalagi kakak dokter yang waktunya tidak bisa dipastikan kapan bisa dirumah'' ucap Sisi. Rania hanya tersenyum bingung mau bilang apa sama adik kakak yang lagi berdebat.


'' Hehe, gak usah diambil hati omongan kakak ya Ran. karna dari dulu kakak menganggap kamu sama seperti Sisi'' ucap Dimas tersenyum.


''Makanya kak, cari pacar sana. Biar gak gombalin istri orang lagi. Apalagi Rania istri teman kakak. Rumput tetangga kalau dilihat memang lebih hijau'' jawab Sisi.


''Benar kata Sisi kak. Masak duluan Sisi nikah dari pada kak'' sambung Rania


''Dia nikah juga atas izinku'' jawab Dimas.


''Hmm, tanpa izin kakak pun aku dan kak Davin akan tetap nikah. Secara kedua orang tua sudah setuju'' ucap Sisi.


''Kamu lupa kemaren pas mau lamaran kamu nangis-nangis minta kakak setuju kalian menikah'' balas Dimas.


''Hanya formalitas aja. Daripada kakak gak dianggap ada'' jawab Sisi santai.


Rania tertawa melihat perdebatan Sisi dan Dimas. Mungkin ini cara mereka mengungkapkan perasaan sayang mereka.


''Oh ya Ran, tolong bilangin sama kak Radit makasih atas semuanya. Selain hadiah honeymoon untuk kami. Dia juga membiayai acara pernikahan kami. Padahal kak Davin sudah menolak tapi kak Radit tetap membayarkannya. Dan kamu tahu aku bilang sama kak Davin kalau kami honeymoonnya di indonesia saja. Tapi kak Radit yang rencana awalnya memberi kami hadiah honeymoon ke LN. Tetap mentransfer uang honeymoon sebesar biaya ke LN. Beda dengan kakakku satu ini.Gak memberi apa-apa'' jelas Sisi.


''Kakak sudah memberimu do'a restu'' jawab Dimas santai. Sebenarnya Dimas sudah menyiapkan hadiah untuk Sisi dan Davin. Dia berencana akan memberikannya setelah mereka pulang honeymoon.


''Iya, kamu gak usah sungkan. Karna bagi mas Radit. Kak Davin sudah seperti saudaranya sendiri. Kenapa kalian gak ke LN aja honeymoonnya?'' tanya Rania.


''Kamu saja gak kemana-mana. Aku juga malas pergi tapi kata kak Davin hanya pas acara ini dia dapat cuti seminggu. Jadi dia ingin kami menghabiskan waktu berdua dengan tenang tanpa ada yang menganggu'' jawab Sisi sambik melihat kearah Dimas.


''Siapa juga yang mau menganggu kalian?'' tanya Dimas.


''Iih, ada yang merasa'' ucap Sisi. Rania tertawa melihat mereka.


''Kakak gak keluar?'' tanya Sisi lagi.


''Kakak yang akan mengantarmu keluar'' jawab Dimas.


''Papa mana?'' tanya Sisi.


''Kata papa, kakak saja yang mengantarmu dari sini sampai keruang pernikahan'' jawab Dimas.


''Sampai akhirnya papa tidak peduli denganku'' ucap Sisi sedih.


''Antara kakak dan papa gak ada bedanya. Yang penting ada yang mengandengmu kesana'' hibur Dimas.


''Bagaimana kalau berdua mengantar Sisi'' usul Rania.


''Maksudmu seperti kamu waktu itu?'' tanya Sisi.


''Iya'' jawab Rania. Kemudian Dimas pergi keluar memanggil papanya. Dia akhirnya berhasil membawa papanya.


Sisi merasa bahagia. Dia berterima kasih kepada Rania. Sisi yang selama ini merasa orang tuanya terlalu cuek dan sibuk dengan pekerjaan mereka. Hari ini merasa bahagia dengan perhatian yang diberikan papanya. Walaupun hanya sekedar mengantarnya keruang pernikahan.


Acara pernikahan Sisi dan Davin dimulai. Rania duduk disamping Radit. Acara berjalan hikmat. Semua orang menjadi terharu. Terutama Dimas. Dia merasa bahagia sekaligus sedih. Sedih karna adik satu-satunya sudah menjadi milik orang. Waktu mereka tidak akan seperti sebelum Sisi menikah. Bahagia karna Sisi menikah dengan Davin. Biarpun Dimas terlihat galak terkesan tidak terlalu suka dengan Davin. Tapi dalam hatinya dia bersyukur Sisi menikah dengan Davin. Karna Davin pria yang baik dan bertanggungjawab. Tanpa terasa ketika penikahan Sisi dan Davin sudah sah air mata Dimas menetes tanda bahagia.


Radit terus mengenggam erat tangan Rania sepanjang acara pernikahan berlangsung.


''Walau disini Sisi yang jadi ratunya. Tapi dihatiku tetap kamu yang menjadi ratu'' bisik Radit. Rania hanya tersenyum saja. Dia sekarang sudah biasa dengan gombalan suaminya.


Acara diakhiri dengan sesi foto. Setelah selesai Rania dan Radit pamit pulang untuk istirahat dulu. Karna nanti malam mereka akan datang menghadiri acara resepsi pernikahan. Sedangkan pengantin dan keluarga mereka menginap di hotel.