
''Radiit'' panggil seseorang yang berdiri didepan tidak jauh dari Radit dan Rania.
Wajah Radit seketika berubah. Dia tidak senang melihat perempuan itu. Ternyata yang memanggilnya adalah Astrid. Sedangkan Rania tertegun melihat seorang wanita cantik memanggil Radit. Badannya seperti model. Rania sendiri sebagai wanita juga kagum dengan kecantikannya. Dia bertanya didalam hati siapa wanita yang memanggil Radit.
''Aku mau bicara denganmu sebentar Dit'' katanya sambil berjalan kearah Radit. Dia bahkan tidak melihat kalau Radit lagi memegang kursi roda Rania.
''Tidak ada yang perlu kita bicarakan'' kata Radit dingin sambil mendorong kursi roda Rania.
''Tunggu Dit, kenapa kamu berubah? Beri aku kesempatan untuk bicara denganmu'' kata Astrid. Radit memberhentikan langkahnya. Emosinya sudah mulai memuncak.
''Siapa dia kak?'' tanya Rania sambil memegang tangan Radit. Rania tahu Radit sedang menahan emosinya.
''Bukan siapa-siapa'' jawab Radit tersenyum melihat kearah Rania.
''Apa kamu bilang Dit, aku ini mantan pacar yang sangat kamu cintai'' kata Astrid sedikit meninggi. Dia baru sadar kalau Radit lagi bersama seorang wanita. Dia memperhatikan Rania yang masih dengan wajah pucat karna sakit. Dia mulai cemburu ketika Radit bicara dengan lembut kepada Rania.
''Cukup, saya bilang untuk jangan muncul di hadapan saya lagi. Apa kamu tidak mengerti dengan bahasa manusia?'' kata Radit tegas.
''Aku dulu memang salah kepadamu. Tapi sekarang aku ingin kita balikan lagi. Aku akan memperbaiki semuanya. Aku yakin kamu masih mencintaiku'' kata Astrid memelas.
''Sesuatu yang sudah dibuang tidak mungkin dipungut kembali'' kata Rania sambil tersenyum.
''Siapa kamu ikut campur urusan saya?'' tanya Astrid kesal.
''Dia tunangan saya'' jawab Radit. Rania sebenarnya terkejut mendengar jawab Radit. Tapi dia merasa senang.
Berbeda dengan Astrid yang juga terkejut. Dia tidak terima kalau Radit bersama wanita lain.
''Kamu bercandakan Dit. Tidak mungkin wanita ini tunanganmu. Dia jauh beda dari aku'' jawab Astrid.
''Saya memang berbeda dari anda. Karna saya tidak dibuang seperti anda. Dan anda harus tahu diri. Ibarat kata sebuah tisu kotor kalau sudah dibuang pantang untuk diambil lagi. Karna yang membuang pasti akan merasa jijik'' jawab Rania sambil tersenyum.
Astrid merasa tersinggung dengan ucapan Rania. Dia ingin sekali menampar mulut Rania. Tapi dia tidak boleh marah. Karna Radit pasti akan tambah membencinya.
Radit tersenyum senang mendengar jawaban Rania. Dia mengira Rania akan marah dengan ucapan Astrid.
''Tapi aku yakin Radit pasti hanya menjadikanmu tempat pelarianya saja. Karna dulu dia sangat mencintai saya'' jawab Astrid.
''Walaupun pelarian. Tapi kalau tuhan sudah mentakdirkan dia untuk saya. Siapapun tidak bisa mengambilnya termasuk anda. Masa lalu untuk dikenang tapi kalau menyakitkan harus dilupakan'' ucap Rania menyindir.
Astrid makin tambah geram. Dia sudah mengepalkan tangannya.
''Ayo kita pergi sekarang sayang. Bukankah kamu ingin jalan-jalan ditaman'' ajak Radit.
''Iya, kadang terlalu lama disini lalat bisa membuatku tambah sakit'' jawab Rania.
Wajah Astrid mulai merah menahan marah. Radit langsung mendorong kursi roda Rania. Dia tidak menghiraukan Astrid yang masih berdiri mematung menahan emosi.
''Aku tidak akan menyerah untuk mendapatkan Radit. Apalagi sekarang mama sedang membutuhkan banyak biaya untuk pengobatannya'' batin Astrid.
Dia melihat kearah Radit dan Rania pergi.
''Aku tidak akan kalah dari wanita kampung itu. Apalagi aku lebih cantik darinya'' gumam Astrid sambil berjalan menuju ruang rawat mamanya.
Sementara itu Radit dan Rania sampai di taman rumah sakit. Rania hanya diam selama perjalanan ke taman. Radit jadi merasa binggung dengan diamnya Rania.
''Kenapa kamu diam saja?'' tanya Radit ketika mereka berhenti ditaman.
''Kamu lagi mikirin apa?'' tanya Radit lembut.
''Kok mantan kakak bisa secantik itu'' tanya Rania polos.
''Hah, jadi dari tadi kamu cuma mikirin itu? Sampai wajahmu terlihat sangat serius'' tanya Radit. Dia bahkan tidak bisa menahan tertawanya.
''Iya, emang kak Radit pikir aku lagi mikirin apa?'' tanya Rania.
''Aku kira kamu marah karna bertemu perempuan tadi'' jawab Radit.
''Kenapa saya harus marah?'' tanya Rania.
''Apa kamu tidak cemburu aku bertemu dengan dia. Secara dia mantanku loh'' kata Radit.
''Sebenarnya aku sendiri juga tidak tahu pasti bagaimana rasa cemburu itu. Karna selama ini aku tidak pernah jatuh cinta sama seseorang. Kecuali cinta sama keluargaku. Tapi satu yang aku tahu cemburu dengan sesuatu yang tidak jelas bukan hal yang baik'' jawab Rania.
Radit bersyukur karna Rania sangat polos soal cinta. Bukan dia tidak ingin Rania cemburu kepadanya. Karna dalam mencintai seseorang kita pasti ada rasa cemburu. Kalau Rania sampai cemburu dengan Astrid. Hubungan mereka yang baru akan dimulai pasti tidak berjalan dengan baik.
''Dia selalu berpikir dewasa dan tenang seperti biasanya. Davin benar aku terlalu khawatir dengannya'' batin Radit.
''Apa gunanya wajah cantik. Kalau hati tidak secantik wajahnya. Dia bahkan sudah berselingkuh selama tiga tahun dibelakangku. Tidak ada kata maaf untuk orang seperti itu'' kata Radit.
''Apa anda dulu sangat mencintainya?'' tanya Rania.
''Dulu iya, sedalam aku mencintainya sedalam itu luka yang digoreskannya. Tapi sekarang aku bersyukur kamu bisa mengobati luka itu'' kata Radit.
''Kapan saya mengobatinya?'' tanya Rania.
''Saat pertama kita bertemu'' jawan Radit.
''Tapi waktu kita bertemu kakak masih dingin dan suka marah sama aku'' kata Rania lagi.
''Karna aku tidak sadar, kalau kamu sedang mengobati lukaku'' jawab Radit tertawa.
''Kak Radit suka mengombal'' kata Rania.
''Hanya sama kamu'' jawab Radit.
''Oh ya kak. Kata paman pulang dari rumah sakit aku akan tinggal dirumah pak Gunawan'' kata Rania.
''Trus kamu setuju?'' tanya Radit.
''Iya, soalnya kalau aku tidak setuju paman akan membawa aku pulang ke Bandung'' jawab Rania.
''Hhm, lebih baik kamu tinggal di tempat om Gunawan saja dari pada pulang ke Bandung. Lagi pula tante Nella orangnya baik. Dia pasti bisa merawat kamu. Dan yang terpenting kamu tidak jauh dariku. Kalau kamu ke Bandung kita akan susah untuk bertemu'' jelas Radit cemas berjauhan dengan Rania.
''Hehe'' Rania hanya tersenyum mendengar penjelasan Radit. Ternyata perasaan mereka sama. Sama tidak bisa jauh.Kemudian Radit berdiri dari jongkoknya.
''Kita kembali sekarang? kamu sudah lama berada diluar. Ini juga tidak baik untuk kesehatanmu. Ntar Dimas marah sama aku pasiennya belum kembali juga'' kata Radit.
''Iya'' jawab Rania.
Mereka kembali keruang rawat Rania. Diperjalanan kembali mereka menceritakan hal yang ringan-ringan saja. Tanpa menyinggung masalah Astrid lagi. Karna masa lalu tidak mungkin bisa jadi masa depan.