Rania

Rania
71. Ungkapan Hati



Rania hanya terdiam mendengar kata-kata Radit. Dia ingin juga mengakhiri semuanya.


''Bagaimana dengan orang yang kalian tangkap. Apa mereka sudah mengaku Cynthia yang menyuruh?'' tanya Rania serius


''Awalnya mereka tidak mau mengaku. Tapi tadi kata Davin pacar Cynthia akhirnya mengaku. Itu sebabnya saya pergi keluar sebentar. Mungkin mereka sekarang sudah diserahkan kekantor polisi. Tadi saya mengurus semuanya dengan om Gunawan'' jawab Radit.


''Dan gimana dengan Cynthia?'' tanya Rania.


''Masalah Cynthia kita bereskan setelah kamu keluar dari rumah sakit. Saya dan om Gunawan sudah sepakat dengan semuanya. Kita akan memberi tahu om Hendra bagaimana kelakuan Cynthia selama ini. Setelah itu baru kita serahkan kepihak berwajib'' jelas Radit.


''Apa pak Gunawan tidak terkejut pas tahu semua ini ulah Cynthia?'' tanya Rania.


''Jelas dia sangat terkejut. Yang jadi korban putrinya sedangkan dalangnya adalah keponakan yang sangat dia sayangi. Bahkan malam ketika kami menemukan pelakunya dia ingin langsung menemui om Hendra. Tapi saya mencegahnya. Selain ingin menunggu kamu keluar dari rumah sakit. Keluarga Wiratmaja juga belum tahu kalau kamu putri om Gunawan'' Jawab Radit.


''Apa jadinya kalau mereka tahu saya anak pak Gunawan'' kata Rania menerawang.


''Yang jelas mereka pasti terkejut. Tapi saya yakin ayah dan kakekmu pasti akan mengatasinya. Yang saya lihat mereka sangat menyayangimu'' jawab Radit sambil terasenyum.


''Apa anda tidak sedih mengetahui Cynthia dalang dari semua ini'' kata Rania serius.


''Tidak, kenapa saya harus sedih?'' tanya Radit melihat kearah Rania.


''Karna dia orang yang dijodohkan dengan anda. Otomatis dia akan jadi istri anda dimasa depan'' jawab Rania pelan.


''Kamu cemburu'' goda Radit.


''Tidak, siapa yang cemburu?'' jawab Rania cepat. Pipinya jadi merah karna malu.


''Serius? kok pipi kamu jadi merah gitu?'' kata Radit.


''Karna panas pipi saya menjadi merah'' jawab Rania sewot.


''Hehe, kenapa aku tidak sedih. Karna yang dijodohkan denganku sebenarnya adalah kamu. Apa paman Rendra tidak cerita masalah perjodohan ini?'' kata Radit menatap Rania.


''Hmm,Tapi apa bisa dibatalkan begitu saja?'' tanya Rania.


''Ya bisa lah'' jawab Radit cepat.


Rania hanya tersenyum mendengar jawaban Radit. Entah mengapa hatinya terasa hangat.


''Jadi mulai sekarang kamu tidak boleh lagi lirik-lirik dan pergi dengan laki-laki lain. Karna kita sudah diikat bahkan sebelum kita lahir'' jelas Radit.


''Anda yakin saya menerimanya?'' tanya Rania.


''Terima tidak terima, harus terima'' jawab Radit tersenyum.


''Kenapa anda memaksa gitu. Kemaren anda sangat menolak dijodohkan dengan Cynthia'' tanya Rania.


''Karna saya mencintamu'' bisik Radit.


Rania terdiam kaku. Dia tidak tahu harus menjawab apa dengan pengakuan Radit yang tiba-tiba. Mata mereka saling menatap. Ada kehangatan dihati mereka berdua. Wajah mereka semakin dekat.


''Ehm, tidak boleh dekat-dekat'' kata Angga yang tiba-tiba datang.


Dengan cepat Rania menarik wajahnya. Pipinya merona merah. Sedangkan Radit ada rasa kesal dihati karna digangu Angga.


''Kalian sudah lama sampai?'' tanya Radit sewot sama Angga dan Rendi.


''Sudah dari tadi, Sejak kakak membisikan sesuatu ketelinga Antik'' jawab Rendi. Blush, Rania jadi tambah malu.


'' Karna kesempatan ada ketika kalian tidak ada'' jawab Radit cuek. Angga makin jengkel dengan jawaban Radit.


''Kamu dari mana dek?'' tanya Rania sebelum Radit dan Angga semakin memanas.


''Dari luar ketemu teman'' jawab Angga.


''Kenapa datangnya bisa barengan dengan tuan Rendi?'' tanya Rania.


''Ketemu dijalan, Dia tidak ada uang untuk ongkos kesini. Jadi saya kasih tumpangan'' jawab Rendi enteng.


''Enak aja, Saya bukan tidak punya uang. Karna anda memaksa makanya saya ikut'' jawab Angga kesal.


''Lebih baik saya memaksa cewek cantik dari pada kamu, untung tidak ada rugi iya'' jawab Rendi.


''Apa anda bilang?'' kata Angga.


Terjadilah perdebatan antara Angga dan Rendi. Ruangan menjadi heboh. Membuat Rania geleng kepala.


''Kalian bisa diam tidak. Kalau mau ribut diluar sana'' kata Radit tegas.


Rendi dan Angga seketika berhenti. Mereka merasa takut dengan aura Radit ketika marah.


''Aku mau ngomong sama Antik dulu'' kata Rendi cepat. Dia berjalan mendekat kearah Rania. Radit pindah duduk kedekat sofa disebelah Angga.


''Anda benaran menyukai kak Rania? trus gimana dengan orang yang dijodohkan dengan anda?'' tanya Angga setengah berbisik.


''Ya, masalah itu kamu tidak usah pikirkan. Biar saya yang bereskan'' jawab Radit.


''Awas kalau anda cuma mainin perasaan kak Rania. Saya tidak tinggal diam'' ancam Angga. Radit tidak menanggapi. Dia sibuk dengan ponselnya.


''Bagaimana kondisi kamu?'' tanya Rendi duduk didekat tempat tidur Rania.


''Baik tuan, makasih sudah ikut membantu saya'' kata Rania tersenyum.


''Hmm, kalau bukan karna kak Radit menyuruh saya kekantor. Mungkin saya akan selalu disini. Kamu bayangkan semua pekerjaan dikantor hanya saya saja yang menghandle. Ditambah kak Davin juga punya pekerjaan diluar. Tapi lihat kak Radit, dia malah santai disini. Apa dia tidak kasihan sama saya. Berat badan saya bahkan turun satu ons karna stres memikirkan pekerjaan'' jawab Rendi panjang lebar tanpa henti.


''Hehe'' Rania hanya bisa tersenyum mendengar ocehan Rendi.


''Kamu senang saya menderita?'' tanya Rendi lagi.


''Bukan gitu. Saya kira anda marah sama saya. Seminggu lebih anda menghindari saya'' jawab Rania.


''Hmm, saya bukan marah. Saya malah merasa bersalah karna menghindarimu. Kamu jadi kecelakaan disaat saya tidak menyapamu'' Jelas Rendi.


''Bukan salah anda. Makasih anda tidak berubah setelah semua yang terjadi'' kata Rania.


''Kenapa saya harus berubah. Saya hanya membutuhkan waktu untuk menata hati saya yang anda hancurkan berkeping-keping. Saya pungut lagi hati saya trus saya lengketkan lagi menggunakan lem yang paling bagus. Sehingga sekarang hati saya sudah kuat bertemu denganmu'' jelas Rendi dengan cara kocak.


''Hehe, maaf untuk semuanya'' jawab Rania. Ada rasa bersalah dihatinya ketika melihat Rendi.


''Tidak ada yang perlu dimaafkan. Kamu berhak untuk menolak kalau tidak suka. Lagian saya juga tidak mungkin terus jadi penghalang antara kalian berdua'' jawab Rendi.


''Maksud anda?'' tanya Rania.


''Kak Radit selama ini bersikap cuek kepadamu karna dia tahu saya menyukai kamu. Dia tidak mau menyakiti hati saya. Biarlah dia yang terluka. Tapi saya sadar betapa besarnya cinta kak Radit terhadapmu. Saya melihat semua saat kecelakaan kamu hari itu. Kak Radit seperti orang gila karna takut kehilanganmu. Saya merasa kecil dihadapanya. Selama ini kak Radit selalu menyembunyikan apa yang dia rasakan. Lebih dari dua tahun dia terluka karna penghianatan cinta. Sekarang luka itu bisa sembuh berkat kamu. Terima kasih'' kata Rendi sambil tersenyum.