
Radit, Rendi dan Davin sampai di parkiran mobil. Mereka berencana pergi mengunakan mobil Davin. Ketika mereka sampai di parkiran.
''Radit...'' teriak seseorang cewek cantik sambil menghampiri mereka.
Radit yang lagi mengobrol dengan Davin menoleh ke arah suara yang memanggilnya. Diikuti Rendi dan Davin. Seketika wajah Radit berubah.
''***Kenapa dia ada disini sih. Pasti kak Radit akan marah'' batin Rendi.
''Padahal Radit sudah susah melupakannya. Kenapa disaat Radit mulai bahagia dia malah muncul'' batin Davin***
Rendi dan Davin sama-sama tidak suka melihat cewek yang memanggil Radit. Ternyata dia Astrid mantan pacar Radit.
Radit menatap Astrid dengan pandangan dingin. Rasa sakit yang diberikannya dua tahun lalu kini kembali terasa. Radit sangat tidak ingin bertemu dengannya. Dia masih berdiri mematung ditempatnya.
''Apa kabarmu Dit?'' sapa Astrid dengan senyum mengembang dibibirnya. Tidak ada rasa bersalah ketika dia bertemu dengan Radit lagi.
''Seperti yang kamu lihat saya sehat'' jawab Radit dingin memahan amarah.
''Kamu sudah banyak berubah ya'' kata Astrid. Radit tidak menanggapinya
''Kita berangkat sekarang'' kata Radit sama Davin dan Rendi.
''Tunggu dulu Dit'' kata Astrid memegang tangan Radit. Dengan jijik Radit menghempaskan tangan Astrid.
''Sudah tidak ada yang harus dibicarakan sejak dua tahun lalu'' jawab Radit sambil masuk kedalam mobil diikuti Rendi dan Davin.
''Aku akan berusaha mendapatkanmu kembali Dit. Aku tahu kamu masih mencintaiku. Kamu sudah tidak seperti dulu lagi. Sekarang kamu tambah ganteng dan berkharisma. Andai aku tahu kamu lebih kaya dari kevin. Tidak mungkin aku selingkuh dengannya'' batin Astrid. Dia pergi setelah mobil Radit meninggalkan parkiran rumah sakit.
Sementara di dalam mobil Radit terlihat tidak baik. Suasana hatinya menjadi buruk ketika bertemu dengan Astrid. Ingin Rasanya dia membunuh Astrid saat itu juga.
''Sepertinya meeting hari ini tidak akan berjalan lancar'' bisik Davin.
''Semua gara-gara perempuan sialan itu. Kenapa dia harus muncul dihadapan kak Radit'' bisik Rendi.
Radit sebenarnya mendengar apa yang dibicarakan Davin dan Rendi. Tapi dia memilih diam.
''Maaf kak. Sebenarnya semalam pas aku dan Angga kembali dari membeli kopi. Aku bertemu dia. Aku mau bilang sama kakak. Tapi melihat kak Radit sedang kerja aku jadi Ragu memberitahunya'' jelas Rendi.
''Dia bilang apa sama kamu?'' tanya Radit menunjukan tanda tidak suka ketika membicarakan Astrid
''Tidak ada. Aku langsung pergi saja ketika dia mau bicara'' jawab Rendi.
''Apa yang dilakukannya dirumah Sakit. Jangan sampai dia tahu kalau kita sedang menunggu Rania dirumah sakit. Bisa-bisa dia menganggu Rania'' kata Radit.
''Aku rasa kalaupun dia tahu. Dia tidak akan berani menggangu Rania'' kata Davin.
''Tapi aku takut dia bicara yang macam-macam sama Rania'' kata Radit. Ada kekhawatiran diwajahnya.
''Rania bukan orang yang mudah percaya dan mudah dibully'' kata Davin meyakinkan Radit.
''Apa Angga juga ketemu dengannya'' tanya Radit.
''Iya, tapi dia tidak tahu kalau Astrid mantan pacar kakak. Angga kira dia mantan aku'' jawab Rendi.
''Kita harus segera menyelesaikan meeting hari ini. Aku harus segera kembali ke rumah sakit untuk menjaga Rania'' kata Radit.
''Rania banyak yang jaga. Anda tidak perlu cemas'' kata Davin.
''Iya kak. Pekerjaan dikantor masih banyak'' jawab Rendi.
''Kamu dan Davin ada. Kalian berdua yang menghandle semuanya'' kata Radit lagi.
''Haah'' jawab Davin dan Rendi serentak. Mereka mengomel didalam hati dengan keputusan Radit. Tapi yang lebih mereka takutkan meeting hari ini pasti Radit akan melampiaskan kemarahannya.
''Apa kepala kamu masih terasa sakit?'' tanya Rendra. Dia duduk disamping tempat tidur Rania.
''Sudah agak baikan paman. Rania bosan tiduran terus'' jawab Rania.
''Biar paman suruh Sisi menanyakan sama Dimas. Apa boleh kamu keluar berkeliling sebentar. Biar kamu tidak bosan'' kata Rendra lagi.
''Iya, makasih paman'' jawab Rania senang.
''Ada yang mau paman beritahu kepadamu'' kata Rendra serius.
''Beritahu apa paman?'' tanya Rania.
''Sebenarnya paman ingin kamu tinggal dirumah ayahmu setelah keluar dari rumah sakit. Apa kamu setuju?'' tanya Rendra.
Rania hanya diam saja mendengar ucapan pamannya. Dia masih belum bisa menjawabnya.
''Paman bukan menyuruh kamu untuk sepenuhnya memaafkan ayahmu. Tapi kalau kamu tidak mau. Kita pulang saja ke Bandung. Biar paman dan bibi yang merawatmu'' kata Rendra lagi.
''Tapi paman. Apa tidak bisa Rania tinggal bersama Sisi saja?'' jawab Rania. Dia tidak mau meninggalkan Jakarta. Terutama jauh dari Radit. Biarpun dia tidak bilang kalau dia juga menyukai Radit.
''Apa kamu tidak kasihan sama Sisi. Sejak kamu sakit dia tidak pergi kerja. Trus kalau kamu tetap tinggal dengannya. Pasti dia juga tidak akan tega meninggalkanmu dalam keadaan belum sehat diapartemen sendiri. Biarpun dia bilang tidak apa-apa. Tapi kita tidak bisa merepotkannya terus. Sudah banyak utang budi kita kepadanya'' jelas Rendra.
Dalam hati Rania membenarkan ucapan Rendra. Biarpun Sisi sahabatnya. Dia juga tidak enak hati terus merepotkan Sisi.
''Kalau kamu tidak ingin pulang ke Bandung. Satu-satunya cara kamu harus tinggal di rumah ayahmu. Paman tahu kamu masih enggan tapi Nella bisa merawatmu dengan baik. Dia perempuan yang baik. Selama ini dia juga menjaga dan Merawat kakekmu dengan penuh kasih sayang tanpa bantuan pembantu. Dia bilang ingin merasakan punya anak dengan merawatmu'' jelas Rendra.
Rania berpikir lebih baik dia tinggal di tempat Gunawan dari pada pulang ke Bandung. Dengan begitu dia juga bisa mencari dalang yang menfitnah bunda dan pamannya.
''Iya, Rania tinggal di Jakarta saja. Dirumah orang itu'' jawab Rania.
''Ok kalau begitu. Paman bisa tenang balik ke Bandung nantinya'' ucap Rendra sambil mengusap kepala Rania.
Siangnya Rania dibawa Sisi keluar dengan kursi roda setelah mendapatkan izin dari Dimas. Rania sangat senang bisa keluar karna dia juga bosan beberapa hari ini tiduran saja.
''Apa kita ketaman rumah sakit aja?'' tanya Sisi.
''Terserah kamu saja. Yang penting kita bisa berkeliling'' kata Rania.
''Ok'' jawab Sisi.
Sisi kemudian mendorong kursi roda Rania. Ketika mereka mau menuju ke taman mereka bertemu Radit.
''Kalian mau kemana?'' tanya Radit
''Mau ketaman bawa Rania jalan-jalan. Katanya bosan diruang Rawat terus'' jawab Sisi.
''Biar saya yang dorong'' kata Radit.
''Kenapa kak Radit sudah dirumah sakit? Apa kerjanya sudah selesai?''tanya Rania.
''Ada Rendi yang gantikan. Oh ya Davin katanya mau ngajak kamu makan siang diluar'' kata Radit.
''Dimana kak Davin?'' tanya Sisi.
''Itu dia'' jawab Radit ketika Davin mau menghampiri mereka.
''Kalau gitu aku pergi dulu ya Ran'' kata Sisi senang.
Rania mengangguk. Sisi sangat senang melihat Davin datang. Mereka berdua langsung pamit untuk pergi makan. Radit kemudian mendorong kursi roda Rania menuju taman.
''Radiit...''