
Rania sedang duduk dikamarnya. Sekarang dia sudah tidak memerlukan kursi roda lagi untuk berjalan. Kesehatanya sudah semakin pulih. Nella merawatnya dengan cukup baik seperti anaknya sendiri. Rania cukup senang dengan itu. Sudah dua hari Rania tidak bertemu Gunawan. Dia selalu pergi pagi dan pulang tengah malam. Bahkan sarapanpun dia lewatkan.Tapi Rania tahu kalau tiap malam Gunawan selalu kekamarnya untuk melihatnya. Sampai sekarang Rania masih belum bisa juga memanggil Gunawan dengan ayah.
Rania belum bisa kemana-mana. Tapi Radit selalu menelponnya ketika dia ada waktu. Mereka juga sering video call. Sisi juga begitu dia akan menelpon Rania setiap malam. Dan dia waktu libur dia akan datang kesana.
Nella masuk kekamar Rania memberi tahu kalau Radit datang. Rania senang dan segera keluar menemuinya.
''Kak Radit kapan pulang?'' tanya Rania ketika sudah sampai di ruang tamu.
''Kamu duduk dulu, baru bertanya'' ucap Radit sambil menepuk tempat duduk disampingnya.
''Hehe, iya kak'' jawab Rania. Dia kemudian duduk di dekat Radit.
''Bagaimana kondisimu?'' Tanya Radit sambil memegang tangan Rania. Rasa rindunya selama ini terobati setelah seminggu tidak bertemu Rania. Walaupum mereka sering teleponan tapi tidak bisa menghilangkan rasa rindunya.
''Seperti yang kakak lihat. Aku sudah lebih baik. Tante Nella merawatku dengan sangat baik'' jawab Rania semangat.
''Syukurlah, aku sampai tadi malam'' kata Radit lembut. Dia menatap Rania.
''Kak Radit ngak kekantor?''tanya Rania malu ditatap Radit seperti itu.
''Iya ini mau kekantor, Karna mau ketemu kamu jadi aku singgah sebentar kesini'' ucap Radit.
''Hehe, kakak yang nyetir sendiri?'' tanya Rania.
''Tidak, pakai sopir'' jawab Radit santai.
''Kak Radit sudah punya sopir baru?'' tanya Rania terkejut
''Belum'' jawab Radit singkat
''trus siapa sopirnya?'' tanya Rania penasaran.
''Aku yang jadi sopirnya'' jawab Rendi muncul dengan wajah kesal. Rania tersenyum melihat raut wajah Rendi ketika masuk. Dia langsung duduk disofa.
''Kak ipar tolong bicara sama kak Radit untuk cari sopir baru. Kenapa aku terus yang jadi sopirnya. Belum kerja dikantor aku juga yang ngerjakan. Selalu saja disuruh ini disuruh itu. Namanya saja wakil Ceo tapi kerjanya rangkap'' omel Rendi
''Kamu bisa diam tidak? kalau tidak tunggu diluar aja'' ucap Radit kesal.
''Hmmm, tuh lihat kakak ipar. Kak Radit selalu saja kejam sama aku. Marah-marah tidak jelas. Padahal aku adik yang penurut, rajin menabung dan ganteng juga'' jawab Rendi tanpa memedulikan teguran Radit.
''Adik penurut tapi bawelnya mengalahkan cewek'' jawab Radit tidak mau kalah.
''Hehe,'' Rania tertawa melihat mereka berdua. Walaupun begitu dihati mereka saling menyayangi.
''Mau minum dulu, Biar aku buatkan'' ucap Rania lagi.
''Iya, aku sudah lama tidak minum buatan kakak ipar'' jawab Rendi senang.
''Gak usah, kami tidak lama. Lagian kamu masih belum sehat. Tidak baik banyak-banyak bergerak'' jawab Radit. Rendi langsung cemberut.
''Gak apa-apa kak. Aku sudah sehat kok. Kalau tiduran terus ntar malah tambah lama sehatnya'' jawab Rania sambil berdiri. Tapi tangannya di tahan Radit. Rania melihat kearah Radit.
''Udah duduk disini saja. Aku tidak bisa lama-lama disini. Aku kesini hanya ingin melihatmu aja'' ucap Radit masih menahan tangan Rania.
''Ya udah. Maaf Ren tidak bisa buatkan kamu minuman'' jawab Rania kembali duduk.
''Iya, gak apa-apa'' jawab Rendi pasrah.
''Udah, sudah dua hari ini dia pergi pagi-pagi dan pulangnya tengah malam. Sepertinya banyak pekerjaan. Kemaren malam om Hendra kesini menemui kakek. Mereka mengobrol dikamar kakek. Setelah om Hendra pergi kakek tidak keluar dari kamarnya sampai sekarang. Kata tante Nella kakek kurang sehat badan. Tapi ada hal yang mencurigakan'' ucap Rania.
''Apa ini menyangkut Cynthia?'' tanya Radit.
''Aku juga tidak tahu, Yang aku dengar Cynthia lumpuh. Kemungkinan sembuhnya kecil dan sekarang masih dirawat dirumah sakit. Trus karna kak Candra lebih banyak dirumah sakit jadi pekerjaan dikantor pak Gunawan yang Handle'' jawab Rania.
''Cynthia pantas mendapatkannya. Setelah semua yang dilakukannya'' ucap Rendi. Rania tidak mau menanggapinya. Bagaimanapun sekarang Cynthia adalah sepupunya. Setidaknya mereka punya hubungan darah.
''Kamu belum memanggilnya ayah?'' tanya Radit.
''Belum'' jawab Rania pelan sambil menunduk.
''Cobalah untuk memanggilnya ayah. Sudah cukup kamu menghukumnya selama ini'' ucap Radit lembut.
''Iya, akan aku usahakan'' jawab Rania.
''Kalau gitu aku pamit dulu. Sebenarnya pagi ini kami ada meeting dengan klien. Pasti Davin marah menunggu dikantor'' ucap Radit sambil berdiri.
''Iya, hati-hati dijalan'' ucap Rania tersenyum.
'' Tidak usah diantar dan jangan lupa minum obatnya sama makan yang banyak'' ucap Radit lagi.
''Iya,'' jawab Rania. Radit masih berdiri enggan untuk pergi. Kalau tidak mengingat banyaknya pekerjaan hari ini dia mungkin ingin berlama-lama bersama Rania.
''Mau pergi sekarang atau kita libur aja?'' tanya Rendi mulai kesal melihat tingkah Radit.
''Hmm iya, kita berangkat sekang'' jawab Radit sambil berjalan menuju pintu keluar di ikuti Rendi.
''Cepat sehat kakak ipar, biar kita bisa minum cendol lagi'' teriak Rendi sambil terus berjalan. Kepala Rendi ditepuk Radit.
''Aduh, sakit kak'' ucap Rendi sambil mengusap kepalanya. Radit tidak mendengarkan keluhan Rendi. Dia terus aja berjalan.
Rania tersenyum melihat tingkah Rendi. Setelah Radit dan Rendi pergi dia kembali kekamarnya. Rania duduk ditepi tempat tidur. Dia masih teringat kata Radit tentang memanggil Gunawan dengan ayah. Rania menghela nafas.
''Sayang, kamu lagi ngapain?'' tanya Nella yang sudah berdiri dipintu kamar membuat Rania terkejut.
''Tidak lagi apa-apa tan'' jawab Rania.
''Kamu mau ikut tante? ada yang mau tante tunjukan sama kamu'' ucap Nella.
''Iya'' jawab Rania. Dia kemudian mengikuti Nella. Mereka menuju lantai dua. Di sana terdapat tiga kamar. Dan Nella membuka salah satu kamar.
''Ini kamar Ayahmu, yang disebelahnya kamar Hendra dan yang satu lagi kamar Rendra'' jelas Nella sambil memutar kunci pintu.
Pintu kamar terbuka. Terlihat isi dalam kamar. Rania tercengang melihat apa yang didalamnya. Walaupun perabotan kamar sudah tua tapi semuanya terawat. Yang tidak Rania mengerti disana terdapat banyak foto bundanya ketika muda di dinding kamar. Dan foto pernikahan ayah dan bundanya masih terpampang juga di dinding.
Rania melangkah masuk diikuti Nella. Dia tidak percaya dengan apa yang dilihat. Semua seperti mimpi. Banyak pertanyaan dibenak Rania tentang isi kamar.
''Kamu duduk disini'' ucap Nella menepuk kasur samping tempat duduknya.
''Iya tan'' jawab Rania
''Ini akan jadi cerita yang panjang'' ujar Nella.
Rania menatap Nella. Apa yang akan diceritakan Nella sama dirinya.