Rania

Rania
52.Paman Terbaik



Sudah seminggu Rania berada di Bandung. Selama dirumahnya dia hanya duduk termenung di makam Bundanya. Itu membuat pamannya Rendra tambah cemas melihat kondisi Rania. Sedangkan Angga sudah kembali kekampusnya.


Hari ini Rendra kembali melihat Rania duduk di dekat makam bundanya. Dia kemudian menghampiri Rania. Sudah cukup Rania seperti ini. Dia harus bicara dengan Rania.


''Rania'' panggil Rendra.


''Iya paman'' jawab Rania sambil berdiri dan berjalan menuju tempat pamannya.


''Ayo kita pulang, ada yang ingin paman bicarakan denganmu'' ajak Rendra.


''Iya paman'' jawab Rania.


Mereka berjalan pulang kerumah. Setelah sampai dirumah Rendra mengajak Rania duduk didepan rumah mereka. Rendra diam sejenak. Dia perhatikan keponakanya tampak kurus sejak bundanya meninggal.


''Apa kamu tidak ada niatan kembali ke Jakarta?'' tanya Rendra mulai bicara.


''Rania belum tahu paman'' jawab Rania.


''Dulu ketika bundamu masih hidup mungkin paman tidak akan menyuruhmu ke Jakarta. Tapi sekarang berbeda. Paman tidak ingin kamu terus larut dalam kesedihan. Mungkin dengan kamubke Jakarta akan mengurangi rasa sedihmu'' ucap Rendra.


''Tapi Rania tidak mau meninggalkan bunda paman. Ntar kalau Rania pergi lagi Makam bunda malah menghilang. Sama dengan Rania di Jakarta kemaren bunda pergi meninggalkan Rania tanpa diberitahu'' jawab Rania bersedih matanya mulai berkaca-kaca kalau mengingat tentang bundanya.


''Biar paman dan bibimu yang menjaga disini. Kami juga tidak akan pergi kemana-mana. Lagi pula Bundamu juga tidak mau kamu terus seperti ini. Andai dia masih hidup, pasti dia akan sangat bersedih melihat kondisi kamu sekarang. Kamu seperti tidak ada semangat untuk menjalani hidup lagi'' jelas Rendra sedih sambil menatap lembut keponakannya itu.


''Rani memang tidak ingin hidup lagi paman, semua jiwa Rania sudah dibawa bunda'' jawab Rania.


'' Setidaknya kamu hidup untuk kami yang masih menyayangimu. Untuk semua pengorbanan bundamu selama ini. Apa kamu ingin semuanya akan jadi sia-sia?'' tanya Rendra.


Rania terdiam mendengar ucapan pamannya. Dia hanya bisa mengelengkan kepala.


''Tidak'' jawab Rania pelan.


''Rania yang paman kenal anak yang kuat. Kamu pasti bisa melewati semua ini. Karna kamu anak bundamu dan keponakan paman'' ucap Rendra.


''Kalau Rania kembali ke Jakarta mungkin laki-laki itu akan terus mencari Rania. Rania tidak ingin bertemu denganya'' ucap Rania. Rendra mengerti kekhawatiran Rania. Tapi dia harus tetap membujuknya.


''Kamu tahu kenapa dibelakang namamu ada huruf W?'' tanya Rendra.


''Tidak paman'' jawab Rania.


''Huruf W kepajangan dari Wiratmaja. Nama dari keluarga ayahmu. Kenapa Retno masih menempelkan inisial itu di belakang namamu walaupun dia tersakiti. Karna Retno tahu kalau suatu saat dia meninggal. Dia berharap kamu bisa dirawat oleh ayahmu. Setidaknya kamu tahu keluarga dari ayahmu'' jelas Rendra.


''Biarpun begitu Rania tidak berharap dia jadi ayah Rania'' jawab Rania tegas masih memancarkan rasa benci.


''Terlepas semua yang terjadi. Sebenarnya ayahmu adalah orang yang baik. Ketika paman diselamatkan oleh tuan besar Wiratmaja yang merupakan kakekmu. Paman dirawat dengan sangat baik. Bahkan paman disekolahkan di sekolah yang sama dengan ayahmu. Tapi tidak sekalipun ayahmu merasa iri dan menganggap paman lebih rendah darinya.Dia memperlakukan paman seperti saudara sendiri. Mereka tidak pernah menuntut balas budi dari semua yang mereka berikan sama paman. Hanya keinginan paman sendiri untuk berada disamping ayahmu dan melindunginya. Tuan besar memiliki dua putra. Mereka sama-sama baik. Tapi yang bisa mengelolah perusahaan hanya ayahmu. Selain pintar dia sosok yang tegas dan bijaksana. Ayahmu juga sudah dihukum dengan dia tidak punya anak dari istrinya yang sekarang. Itu adalah sebuah hukum yang sangat berat bagi seorang pengusaha. Mereka berharap bisa memiliki anak supaya ada yang meneruskan usahanya. Anak bagi mereka ada sebuah harapan. Kalau sempat tidak punya anak. Keluarga lain yang serakah akan berusaha mengincar posisinya. Mau tidak mau ayahmu akan mencari siapa penerus selanjutnya. Jadi paman harap kamu jangan sampai menderita hanya karena ini. Cukup paman dan bundamu yang selama ini menderita. Setidaknya pengorbanan kami tidak sia-sia'' jelas Rendra.


Rendra adalah orang yang sportif. Dia akan mengatakan yang sebenarnya walaupun dia marah dengan orang itu. Dan dia juga bukan orang yang mudah memaafkan kalau keluarganya tersakiti.


''Apa kamu tidak merindukan Radit?'' Goda Rendra ketika masih melihat Rania ragu.


'' Apa maksud paman?'' tanya Rania malu. Pipinya merona merah mendengar pertanyaan pamannya.


'' Kamu tidak usah pura-pura bodoh. Paman tahu kamu menyukai Radit'' jawab Rendra tersenyum.


''Rania mustahil bisa bersama pak Radit paman'' jawab Rania tertunduk.


''Kenapa tidak bisa?'' tanya Rendra


''Karna pak Radit sudah punya orang yang dijodohkan dengannya'' jawab Rania.


''Ooo. Hanya karna itu keponakan tersayang paman bimbang. Setelah kamu mengetahui siapa ayahmu. Paman rasa tidak ada yang tidak mungkin. Apalagi Radit juga tahu masalah ini'' jelas paman.


'' Tapi Rania tidak ingin memakai nama keluarga darinya'' jawab Rania.


''Biarpun kamu tidak memakai status dari keluarga ayahmu. Paman yakin Radit tidak akan menjadikan anak Hendra sebagai istrinya'' ucap Rendra.


''Kenapa paman bisa seyakin itu?''tanya Rania heran.


''Waktu kakekmu dan kakek Radit membuat perjanjian dari perjodohan ini. Paman yang menemani kakekmu sekaligus sebagai saksi. Isi dari perjanjian cucu yang akan dijodohkan itu adalah anak pertama dari Gunawan dan Surya. Biarpun kamu tidak mengakui keluarga ayahmu. Paman rasa Radit akan menjadikan ini sebagai alasan untuk penolakannya terhadap anak Hendra. Apalagi dari yang paman lihat Radit juga menyukaimu'' jelas Rendra yakin.


''Hmm. Kalau dia memang menyukai Rania. Kenapa sejak dia kembali ke Jakarta tidak pernah menghubungi Rania?'' ucap Rania pelan sedikit sewot.


''Hehe. Tadi malu-malu tapi diam-diam kamu menunggu kabar darinya'' goda Rendra lagi sambil tertawa.


''Ih paman jangan gitu. Raniakan jadi malu'' jawab Rania tersenyum sipu.


''Mungkin dia sedang sibuk. Selama disini pasti banyak pekerjaan yang menumpuk karna ditinggalkannya'' jelas Rendra.


''Iya paman'' jawab Rania.


''Trus gimana keputusan kamu?'' tanya Rendra serius.


''Biar Rania pikirkan malam ini'' jawab Rania.


''Paman harap kamu mengambil keputusan yang tepat'' ucap Rendra.


''Iya paman. Terima kasih untuk semuanya.Paman memang yang terbaik. Paman seharusnya yang layak menjadi ayah Rania'' kata Rania.


Ketika mereka sedang berbicara. Sebuah mobil mewah berhenti didepan pagar rumah. Rendra dan Rania bertanya-tanya siap yang datang. Ketika melihat orang yang keluar dari mobil Rendra diam terpaku. Air matanya seketika menetes. Tidak ada kata yang keluar dari mulutnya.


''Ternyata selama ini kamu bersembunyi disini Rendra''...