Rania

Rania
69. Berdamai Dengan Masa Lalu



Rania sudah bangun. Dia lihat hanya Sisi saja yang ada diruanganya. Kebetulan Radit sedang keluar sebentar. Rendra dan Susi juga ada keperluan. Sedangkan Angga entah kemana.


''Bagaimana keadaanmu sekarang Ran?'' tanya Sisi ketika Rania sudah bangun.


''Sakit-sakit badanku semuanya'' jawab Rania lemah.


''Mungkin karna hantaman mobil yang begitu keras. Kamu beruntung tidak terjadi patah tulang yang serius. Apa kamu tidak melihat mobil datang kearahmu?'' tanya Sisi.


''Tidak, semua terjadi begitu cepat. Hanya teriakan pak Radit yang terdengar sebelum aku ditabrak mobil'' jawab Rania mengingat kejadian malam itu.


''Mengenai kak Radit. Kamu tahu ketika aku sampai dirumah sakit. Ku lihat dia seperti orang gila. Matanya merah karna menangis, Rambut berantakan dan baju penuh dengan darahmu. Dia terus menyalahkan dirinya atas kecelakaanmu.Awalnya aku marah sama kak Radit. Aku pikir kamu kecelakaan gara-gara dia. Tapi setelah Rendi menceritakannya. Aku jadi sadar kalau dia lebih terpukul dengan kecelakaanmu. Dia bahkan tidak mau beranjak dari depan ruangan operasi sampai kamu selesai di operasi. Sekadar untuk ganti baju dia tidak mau. Dia bahkan membentak mamanya ketika disuruh pulang hanya untuk ganti baju'' jelas Sisi sambil tersenyum.


''Serius kamu pak Radit seperti itu?'' tanya Rania.


''Iya, diantara kami semua yang menungguimu operasi. Dia yang terlihat sangat kacau. Dia sangat takut kehilanganmu. Dia sangat peduli dengamu Ran. Dia belum pulang selama kamu dirumah sakit'' kata Sisi lagi.


Rania hanya tersenyum mendengar cerita Sisi. Pipinya merona merah membayangkan Radit.


''Semua orang mencari siapa dalang dibalik kecelakaanmu'' kata Sisi.


Sisi kemudian menceritakan siapa-siapa saja yang terlibat dalam pencarian itu. Kemudian bagaimana orang-orang yang menyebabkan kecelakaan Rania ditangkap.


''Semua ulah Cynthia, kata kak Radit semua akan diungkap ketika kamu sudah keluar dari rumah sakit'' jelas Sisi.


''Aku tidak menyangka dia senekat itu'' kata Rania.


''Ayahmu juga terpukul mengetahui keponakannya dalang dari semua ini'' kata Sisi. Rania hanya diam saja mendengar Sisi menyebut Gunawan sebagai ayahnya. Sisi lupa memberitahu Rania kalau Gunawan juga yang mendonorkan darah untuk Rania.


Ketika mereka asyik mengobrol. Gunawan dan Nella datang. Dia mendapat kabar kalau Rania siuman dari Radit. Rania dan Sisi menghentikan bicara mereka. Gunawan dan istrinya langsung menghampiri Rania. Wajah Rania yang tadi ceria berubah jadi dingin.


''Bagaimana keadaanmu nak?'' tanya Gunawan cemas. Sisi menghindar dari tempat duduknya. Dia membiarkan Gunawan mengobrol dengan Rania. Sedangkan Nella berdiri dibelakang Gunawan.


''Sudah agak baikan'' jawab Rania dingin.


''Apa masih terasa sakit?'' tanya Gunawan.


''Sedikit'' jawab Rania.


''Ayah sangat mencemaskan mu, Syukurlah kamu baik-baik saja'' kata Gunawan lagi.


''makasih anda sudah mengkhawatirkan saya'' kata Rania. Dia melihat kearah Nella yang tersenyum kepadanya. Rania bertanya dalam hatinya siapa wanita paruh baya yang bersama ayahnya. Walau sudah berumur tapi kecantikan diwajahnya masih terpancar. Tatapannya yang begitu lembut membuat Rania tenang.


Gunawan memperhatikan kemana arah mata Rania. Dia kemudian memperkenalkan Nella kepada Rania.


''Dia istri ayah, Namanya Nella'' jelas Gunawan.


''Apa ada yang kamu inginkan biar ayah belikan?'' tanya Gunawan.


''Tidak, tapi bisa anda pergi sekarang. Saya mau istirahat'' kata Rania dingin. Raut wajah Gunawan berubah sedih ketika mendengar Rania secara tidak langsung mengusirnya. Sisi pun terkejut melihat sikap Rania. Dia mau mengatakan sesuatu tapi sudah keduluan Rendra yang baru datang bersama Susi.


''Apa paman pernah mengajarkanmu bersikap tidak menghargai orang tua?'' tanya Rendra tegas sambil berjalan kearah Rania.


Rania terkejut mendengar Rendra. Dia tidak menjawab. Sebenarnya dia juga tidak ingin berkata seperti itu. Tapi logikanya berkata lain.


''Tidak apa-apa Ren, Saya tahu Rania belum bisa menerima saya'' ucap Gunawan sedih.


''Tidak bisa seperti itu. Setidaknya dia harus berterima kasih kepada anda. Kalau bukan karna anda mendonorkan darah untuknya. Mungkin dia tidak akan selamat'' kata Rendra tegas sambil melihat kearah Rania. Rendra akan tegas dalam bersikap kalau apa yang dia lihat tidak sesuai dengan kebenarannya. Rania terkejut mendengar ucapan Rendra. Dia tidak menyangka Gunawan akan rela mendonorkan darah untuk dirinya.


''Itu sudah kewajiban saya sebagai ayah. Selama ini saya tidak bisa melakukan apapun untuk putri saya. Sekarang hanya itu yang bisa saya berikan. Kalaupun dia meminta semua hidup sayapun akan memberikannya. Kamu jangan memarahinya. Dia masih sakit. Saya dan Nella akan pulang dulu. Biar tidak menganggu istirahatnya'' kata Gunawan. Dia tidak ingin melihatkan kesedihannya atas pengusiran Rania. Dia segera mengajak Nella pulang.


Rania diam melihat kepergian Gunawan. Ada rasa sedih dihatinya. Tapi logikanya berkata lain. Dia masih menggangap penderitaan bundanya selama ini tidak sebanding dengan apa yang gunawan lakukan.


Rendra kemudian duduk disamping tempat tidur Rania.


''Paman bukan membelanya. Kalau rasa benci yang kamu tanya. Paman mungkin lebih membencinya. Karna paman yang mengalami sendiri. Tapi setelah melihat perlakuan dan usahanya menebus kesalahan selama ini. Paman hanya berharap kamu bisa membuka hatimu untuknya. Kita hidup untuk masa depan. Bukan larut dengan masa lalu. Yang membuat kita terus terperangkap didalamnya. Paman bisa saja balas dendam tapi setelahnya apa hati kita akan bahagia. Sekarang kita harus berdamai dengan rasa sakit dihati. Paman Rasa bundamu juga menginginkan kamu bahagia. Bukan terus memendam rasa benci''nasehat Rendra.


''Tapi Rania belum siap paman'' jawab Rania pelan.


''Sampai kapan kamu akan menunggu siap. Belum tentu ayahmu akan hidup terus. Ketika dia sudah tidak ada. Mungkin kamu akan menyadarinya. Dan penyesalan tidak akan mengembalikan keaadaan. Sekarang kamu sudah dewasa. Paman yakin kamu bisa berpikir mana yang terbaik untukmu. Paman harap kamu tidak terlalu keras kepala. Tidak ada salahnya kamu mencoba memaafkannya'' jelas Rendra lembut.


''Rania mau tidur dulu paman'' kata Rania sambil menutup matanya.


''Hmm, kamu istirahatlah dulu. Paman dan bibimu mau pulang mandi sebentar'' kata Rendra.


Rania tidak menjawab. Air matanya keluar ketika Rendra dan Susi sudah meninggalkan ruangannya. Sebenarnya selama dia tidak sadarkan diri. Dia bertemu dengan bundanya dalam mimpi.


Bundanya mengatakan dia untuk hidup dengan bahagia tanpa ada rasa benci didalam hati. Bundanya juga tidak ingin Rania terjebak dengan masa lalu dan rasa sakit hati yang dirasakan bundanya.


Rania berpikir mungkin pertanda dia harus membuka hati untuk Gunawan. Tapi dia belum siap. Apa dia bisa berdamai dengan masa lalu.


''Kamu tidak apa-apa Ran?'' tanya Sisi.


''Iya, aku hanya ingin istirahat'' jawab Rania.


''Kalau menurutku, apa yang dikatakan paman Rendra ada benarnya. Apalagi melihat bagaimana Ayahmu berusaha mendekati dan memperbaiki semua kesalahannya. Dari yang aku lihat dia begitu ingin bersamamu. Aku sebagai sahabat hanya ingin yang terbaik untukmu'' ucap Sisi.


''Iya, makasih'' jawab Rania sambil tersenyum. Karna kepalanya mulai pusing dia memilih untuk tidur.