
Disebuah ruangan Gunawan masih sibuk dengan pekerjaannya. Dia masih belum pulang walaupun sudah jam pulang kerja. Tanpa sengaja dia melihat sebuah map asing diatas meja kerjanya. Kemudian dia memanggil asistennya untuk datang keruangan. Tidak lama kemudian terdengar ketukan pintu dari luar.
''masuk'' perintah Gunawan.
Pintu ruangan terbuka. Seorang laki-laki paruh baya yang merupakan Asisten Gunawan masuk.
''Ada yang bisa saya bantu pak?'' tanyanya.
''Kamu tahu maap apa ini jaka?'' tanya Gunawan sambil melihatkan sebuah map.
''Kemarin pak Dedi memberikan map itu sama saya. Katanya itu untuk anda'' ucap Jaka.
''Oh, ya udah kamu boleh kembali keruanganmu'' kata Gunawan lagi.
''Baik pak'' jawab Jaka sambil keluar dari ruangan itu.
Setelah Jaka pergi Gunawan membuka map. Terdapat beberapa foto dan informasi yang dia cari. Ketika melihat sebuah foto mata Gunawan berkaca-kaca.
''Akhirnya aku menemukanmu Retno. Selama ini aku mengangap kamu sudah meninggal tapi ternyata kamu malah bersembunyi. Dan kenapa harus dengan Rendra. Kalian berdua orang yang sangat aku percaya kenapa harus berkhianat. Apa kamu bahagia hidup dengannya. Sekarang kalian malah memiliki seorang putri dan memberi nama yang sudah kita rencanakan. Kamu sangat tega Retno'' teriak Gunawan sambil melempar semua yang ada diatas mejanya. Dia sangat marah luka yang selama ini kembali terasa sakit.
Setelah puas melampiaskan kemarahanya Gunawan kembali duduk diatas kursinya.
''Aku harus menemui kedua penghianat itu. Iya besok pagi aku akan pergi ketempat mereka'' ucap Gunawan sambil mengepalkan tangannya tanda menahan amarah.
......................
Beberapa saat kemudian Rania selesai mandi. Badannya terasa agak segar biarpun dia masih merasa lemas. Dia melihat bibi Susi sibuk memasak untuk makan malam mereka. Rania kemudian duduk dikursi dekat meja makan.
''Apa ada yang bisa Rania bantu bik?'' tanya Rania.
''Tidak ada, kamu istirahat aja dulu. Badan kamu masih lemas. Bibi bisa menyelesaikanya sendiri'' jawab Bi Susi.
''Tapi Rania tidak ngantuk lagi bi'' kata Rania.
''Kalau gitu kamu duduk saja disana sambil menemani bibi masak'' ucap Susi dia tahu kalau Rania masih bersedih. Dia hanya berpura-pura kuat saja.
Sementara itu Radit terbangun dari tidurnya. Dia tidak merasakan tangan Rania yang dipegangnya saat tidur tadi. Radit melihat ke tempat tidur. Tidak ada Rania disana. Dengan cepat Radit bangun dari tempat duduknya dilihatnya sekeliling kamar tidak ada Rania. Dia sangat cemas kalau terjadi apa-apa dengan Rania. Radit kemudian keluar kamar untuk mencari Rania.
Terdengar suara orang sedang bicara di arah dapur. Radit berjalan menghampiri kesana. Dilihatnya Rania sedang duduk dikursi meja makan sedang mengobrol dengan bibi Susi. Radit merasa lega setelah melihat Rania.
''Anda sudah bangun pak'' sapa Rania ketika melihat Radit datang. Wajahnya sangat kacau karna baru bangun tidur. Tapi tidak mengurangi ketampananya.
''Iya, baru saja bangun. Kirain kamu kemana jadi saya cari'' jelas Radit sambil duduk disamping Rania.
''Saya baru siap mandi'' jawab Rania.
''Gimana kondisi badanmu?'' tanya Radit. Dia melihat Rania lebih segar setelah mandi biarpun wajahnya masih terlihat sedih.
''Udah mendingan pak'' jawab Rania.
''Ooo, syukurlah'' jawab Radit.
''Anda mau mandi dulu pak?'' tanya Rania.
''Iya, tapi tas baju saya ada diatas mobil Davin'' kata Radit.
''Emang kak Davin dan Sisi kamana?'' tanya Rania.
''Ooo. Yaudah gimana kalau pak Radit saya pinjamkan baju Angga?'' tanya Rania.
''Hmmm. Terserah kamu aja'' kata Radit.
Kemudian Bibi Susi memanggil Angga. Dia melarang Rania pergi karna melihat kondisi Rania masih lemas. Tidak lama kemudian bibi Susi dan Angga datang.
''Dek bisa pinjamkan bajumu untuk pak Radit?'' tanya Rania.
''Kenapa harus pakai baju aku?'' tanya Angga tidak suka.
''Kok kamu bicara seperti itu. Kebetulan tas pak Radit ada diatas mobil kak Davin'' kata Rania.
''Ooo. Tapi tasnya sudah aku bawa kedalam kamarku tadi malam'' jawab Angga.
''Ya udah kamu ambilkan tas pak Radit'' suruh Rania
''Ngak usah, biar saya mengambilnya sendiri. Bisa antarkan saya ke kamarmu?'' tanya Radit sama Angga.
Angga menganguk tanda setuju. Kemudian Radit mengikutinya dari belakang. Sesampai dikamar, Angga menunjukan letak tas Radit. Radit segera mengambil tasnya dan mengeluarkan baju serta handuk.
''Apa anda tidak terlalu memberi harapan sama kakak saya'' kata Angga tiba-tiba.
''Maksud kamu?'' Radit memberhentikan mengeluarkan baju.
''Maksud saya anda sudah punya calon tunangan. Tapi anda memberikan perhatian kepada kak Rania melebihi perhatian antara bos dengan karyawan. Saya tidak mau kak Rania terluka'' tegas Angga.
''Kamu tidak usah Khawatir, saya tahu apa yang saya lakukan'' jawab Radit sambil keluar dari kamar Angga. Dia tahu Angga tidak suka dengannya. Tapi Radit enggan menanggapinya.
Sampai ditempat Rania. Radit bertanya di mana kamar mandinya. Setelah Rania memberi tahu, Radit masuk kedalam kamar mandi. Dia binggung bagaimana cara mandi disana secara kamar mandi miliknya sangat jauh berbeda. Tapi Radit malu untuk bertanya. Dia mencoba sebisa mungkin untuk mandi disana.
Beberapa saat kemudian Radit selesai mandi.
''Baju kotornya berikan sama saya. Biar ntar saya yang cucikan'' kata Rania ketika Radit sudah berada didekatnya.
''Ngak usah, biar pas sampai di Jakarta saja dicuci'' tolak Radit. Tidak mungkinkan baju dan pakaian dalamnya dicucian sama Rania. Dia pasti merasa malu.
''Tapi kelamaan pak'' kata Rania lagi.
''Ngak apa-apa'' jawab Radit.
''Kalau ngak ntar dibuang aja. Tinggal beli yang baru saja'' batin Radit.
''Ya udah kalau gitu'' ucap Rania.
Kemudian mereka duduk diruang tengah menunggu datangnya waktu makan malam. Beberapa saat kemudian bibi Susi selesai masak. Dia mulai menghidangkan makanan. Karna meja makan mereka hanya muat berempat. Diputuskan untuk makan dilantai ruang tengah saja. Ketika mereka mau makan Davin dan Sisi datang.
''Ayo nak Davin dan nak Sisi kita sekalian makan'' ajak paman Rendra.
''Iya paman'' jawab Sisi.
Dia bersama Davin segera bergabung. Radit duduk sebelah Rania. Lauk makan malam hari ini terlihat sederhana. Rania terbayang dengan bundanya. Rasa sedih kembali menghampirinya namun dia berusaha tegar. Mereka mulai makan, tapi Radit binggung bagaimana cara makan pakai tangan. Secara selama ini dia selalu menggunakan sendok. Rania yang mengetahuinya segera mengambilkan Radit sendok. Tapi Radit menolak untuk pakai sendok. Dia bertekad untuk mencoba makan dengan tangan Langsung. Walaupun awalnya susah namun dia bisa menikamati makan malam yang sederhana itu. Semua makanan habis mungkin karna sudah seharian mereka tidak makan.
Setelah makan mereka duduk santai diruang tengah. Sisi dan Rania membantu bibi Susi membersihkan piring kotor. Setelah itu mereka bergabung duduk.
''Rania paman ingin membicarakan sesuatu. Kita bicara dikamar bundamu ada yang ingin paman berikan'' kata paman Rendra berjalan menuju kamar bunda Rania. Dia mengikuti pamanya dari belakang. Apa yang akan dibicarakan paman Rania?