Rania

Rania
56. Jadi Error



Tring tring tring.


Telepon Rania berbunyi. Ternyata Radit yang menelpon.


''Hallo pak'' jawab Rania.


''Iya, tolong kamu antarkan berkas yang tinggal di dalam mobil keruangan saya'' perintah Radit.


''Baik pak'' jawab Rania. Panggilan dimatikan.


Rania dengan cepat pergi ke mobil. Setelah mengambil berkas yang tinggal dia langsung kedalam kantor. Ketika sampai dilobi Rania melihat Cynthia lagi berdebat dengan resepsionis. Tapi Rania tidak menghiraukannya. Dia melewati mereka.


''Kenapa saya tidak boleh bertemu dengan tunangan saya sih. Kamu mau saya laporkan biar dipecat?'' Ancam Cynthia.


Resepsionis binggung mau jawab apa untuk meladenin Cynthia yang marah-marah pengen ketemu Radit.


Pas Rania lewat. Cynthia melihatnya.


''Hei, kau mau kemana?'' teriak Cynthia.


Rania hanya diam saja. Dia tidak menghiraukan Cynthia.


''Hei culun tunggu'' teriak Cynthia mengejar Rania.


''Anda memanggil saya mbak?'' tanya Rania pura-pura tidak dengar.


''Iya, siapa lagi kalau bukan kau'' ucap Cynthia meninggi.


''Trus ada apa anda memanggil saya?'' Tanya Rania.


''Kau mau kemana?'' tanya Cynthia. Dia melihat di tangan Rania ada berkas.


''Mau kelantai atas'' jawab Rania santai.


''Mau ketempat kak Radit ya?'' tanya Cynthia penasaran.


''Mau tau aja'' jawab Rania sambil tersenyum. Yang kebetulan pintu liftnya terbuka. Rania langsung saja masuk.


''Kau awas ya'' kata Cynthia melihat pintu lift tertutup. Dia sangat marah karna tidak bisa bertemu dengan Radit. Kemudian dia memutuskan untuk pulang. Kalaupun dia telepon Radit, pasti Radit tidak pernah mengangkat telepon darinya.


Sesampai di depan ruangan Radit, Rania bertanya dimana berkas yang dibawanya akan di letakan kepada sekretaris Radit. Kebetulan Radit lagi meeting. Jadi dititip saja sama sekretarisnya. Kemudian Rania kembali ke bawah.


Ketika sampai di lobi. Cynthia sudah tidak kelihatan. Kemudian Rania bertanya kepada resepsionis.


''Kemana perginya wanita tadi mbak?'' tanya Rania.


''Sudah pergi, kenapa kamu tanya-tanya?'' kata resepsionis yang biasanya jutek sama Rania.


''Cuma tanya aja kok sewot'' jawab Rania sambil berjalan meninggalkan lobi. Dia kembali keruangannya.


......................


Sementara dirumah Wiratmaja. Gunawan sudah seminggu tidak pergi kekantornya. Melihat Gunawan seperti itu istrinya Nella tambah Khawatir.


''Mana Gunawan?'' tanya Wiratmaja.


''Dikamar pa'' jawab Nella.


''Apa hari ini dia tidak kekantor lagi?'' tanya Wiratmaja.


''Tidak pa, aku jadi pusing memikirkannya'' jawab Nella.


''Dasar, sudah setua itu masih juga tidak bisa menyelesaikan masalah sendiri. Apa dengan mengurung diri dirumah masalah akan selesai dengan sendirinya. Cepat panggil dia suruh kesini'' kata Wiratmaja marah. Tidak biasanya Gunawan seperti ini.


''Baik pa'' jawab Nella. Kemudian dia pergi kekamar memanggil Gunawan yang masih tidur.


Tidak lama kemudian Gunawan dan Nella sampai di ruang tamu dimana Wiratmaja menunggunya.


''Pagi pa'' sapa Gunawan dengan suara serak bangun tidur.


''Ini bukan pagi lagi. Tapi sudah siang'' jawab Wiratmaja tegas.


''Maaf pa'' kata Gunawan lesuh.


''Kamu sampai kapan seperti ini? Sudah seminggu kamu tidak kekantor. Apa kamu ingin membuat perusahaan bangkrut?'' tanya Wiratmaja marah.


''Candra bisa mengelola perusahaan untuk sementara pa'' jawab Gunawan.


''Kamu bisa mempercayainya? Apa kamu tidak takut kalau perusahaan kenapa-napa? Apalagi sekarang kamu sudah punya anak. Masa depan anakmu ada diperusahaan'' jelas Wiratmaja.


''Tapi dia tidak menggangap aku ayahnya'' jawab Gunawan.


''Trus kalau dia tidak menggangapmu ayah. Kamu tidak berusaha untuk membujuknya. Umurmu tidak mudah lagi untuk papa ajarkan dalam menyelesaikan masalah seperti ini. Otak pintar tapi tidak di gunakan'' omel Wiratmaja.


''Hmm, kalau dia bukan cucuku, akan ku biarkan saja kamu seperti ini. Mungkin sekarang di sudah di Jakarta. Atau mungkin dia sudah kembali bekerja dengan Radit'' jawab Wiratmaja.


''Papa tahu dari mana?'' tanya Gunawan anatusias ketika mendengar Rania sudah diJakarta.


''Makanya jangan dirumah aja. Apa gunanya anak buah digaji kalau kamu tidak bisa menyuruhnya bekerja'' jawab Wiratmaja.


''Hehe'' Gunawan tertawa. Raut wajahnya mulai senang, semangatnya yang sempat hilang sudah kembali.


''Hanya itu yang bisa papa lakukan untukmu. Kalau kamu tidak bisa juga membawa cucuku pulang. kamu dipecat jadi anak'' ucap Wiratmaja sambil berjalan menuju kamarnya.


''Terima kasih pa'' ucap Gunawan senang.


Setelah itu dia kembali kekamarnya untuk mandi. Dia berencana hari ini kekantor. Semangatnya untuk mendapatkan hati anaknya membara kembali. Dia akan menyelidiki dimana Rania tinggal selama di Jakarta.Dan semua tentang Rania yang tidak dia tahu.


......................


Jam lima sore Radit dan Rendi keluar dari kantor. Rania sudah menunggu di mobil. Ketika Radit sampai Rania langsung membukakan pintu mobil untuknya. Setelah itu mereka meninggalkan kantor.


''Kamu benaran tidak mau makan malam dengan saya ntik?'' tanya Rendi. Ternyata dia belum menyerah.


''Maaf tuan'' jawab Rania.


''Kalau tidak mau makan malam, bagaimana kalau kamu jadi istri saya saja'' ucap Rendi tiba-tiba.


''Huk,huk,huk'' Rania dan Radit sama-sama terbatuk mendengar kata Rendi yang tiba-tiba.


''Kenapa pada terbatuk? Apa ada yang aneh dari ucapan saya?'' tanya Rendi heran.


''Kenapa baru seminggu tidak ketemu tuan Rendi jadi tambah error''batin Rania.


Rania tidak menjawab sedangkan Radit hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Rendi.


''Kok pada diam? Apa saya bertanya sama patung, hello'' ucap Rendi.


''Iya anda aneh tuan. Apa anda seperti ini karna sering mendorong motor?'' tanya Rania. Radit tersenyum mendengar pertanyaan Rania.


''Bukan, tapi karna sering kejedot'' jawab Rendi sewot.


''Pantasan'' jawab Rania


''Pantasan apa?'' tanya Rendi


''Pantasan jadi error'' jawab Rania.


''Aku seperti ini karna kamu'' kata Rendi.


''So sweet'' jawab Rania santai.


''Kamu tidak percaya?'' tanya Rendi lagi.


''Tidak'' jawab Rania.


''Saya harus bagaimana kalau kamu percaya?'' tanya Rendi


''Hmmm'' Rania tidak menjawab.


''Tuh kan ditanya malah diam'' omel Rendi.


Radit hanya diam saja. Ingin rasanya dia ikut bicara dengan Rania. Tapi dia tahan.


''Kenapa kamu tidak pernah angkat telpon dan balas WA saya selama di Bandung?'' tanya Rendi.


''Karna nomor tidak dikenal'' jawab Rania.


''Kamu kan bisa angkat dulu. Biar tahu siapa yang menelepon'' kata Rendi.


''Sekarang banyak penipuan'' jawab Rania.


''Buset dah. Ganteng gini dibilang penipu'' kata Rendi.


''Bisa aja kan tuan'' jawab Rania.


''Kalau kamu ragu mengangkat telepon. Balas WA saya juga tidak bisa?'' tanya Rendi.


'' Tidak'' jawab Rania


''Kenapa?'' tanya Rendi


''Karna kita sudah sampai tuan'' jawab Rania sambil keluar untuk membukakan Radit pintu.


Radit dan Rendi keluar dari dalam mobil. Sebelum Rendi bicara Rania sudah kembali masuk kedalam mobil. Untuk memasukan mobil ke dalam garasi. Setelah itu Rania langsung pulang ke apartemen.