Rania

Rania
24.Radit Marah



Rania sudah keluar dari lift dengan wajah yang masih memerah. Dia melewati resepsionis untuk kembali ke ruanganya.


''Hei sopir kenapa kamu lama diruangan pak Radit?'' tanya resepsionis tadi.


''Emang ada larangannya?'' tanya Rania balik.


'' Ya iyalah secara kamu kan cuma sopir'' jawabnya.


''Trus masalah buat anda?'' tanya Rania lagi.


''Iyaa, karna pak Radit idola kami diperusahaan ini. Cewek sepertimu mana cocok mendekatinya'' ucap resepsionis.


''Mmm gimana ya, kalau saya bilang kami makan berdua dulu anda percaya?'' tanya Rania sambil berlalu.


'' Tidak mungkin kamu makan dengan pak Radit... Apaaaa makan berdua? Hei sopir tunggu dulu'' teriak resepsionis karna kaget mendengar ucapan Rania. Sedangkan Rania sudah keluar dari lobi.


Sampai di parkir Rania masih mengingat senyum Radit. Dia menepuk-nepuk pipinya. ''Sadar Rania senyumnya bukan untukmu''batin Rania.


''Hei antik selamat siang'' kata Rendi mengejutkan Rania yang sudah ada dibelakangnya.


''Aaa kenapa tuan disini?'' tanya Rania kaget.


''Mau ngajak kamu makan siang'' jawab Rendi sambil senyum.


''Saya sudah makan dengan pak Ra....'' oopss Rania menutup mulutnya yang hampir keceplosan.


''Mmm makan dengan siapa?'' tanya Rendi penasaran.


''Makan dengan sendirian disini tadi. Hehe'' jawab Rania.


''Hmmm kamu benaran sudah makan? Kalau gitu gimana kalau kita minum es cendol aja?''ajak Rendi.


''Maaf ya tuan saya tidak bisa pergi kemana-mana. Karna saya masih dalam jam kerja'' tolak Rania.


''Biar saya telepon kak Radit untuk minta izin keluar sebentar'' ucap Rendi lagi.


''Aduh gimana cara nolak tuan cendol ya'' batin Rania.


''Ayo cepat'' kata Rendi sambil menarik tangan Rania menuju motor antiknya.


''Tapi tuaann...'' Rania mau menolak.


''Udah naik saja, kita cuma sebentar. Ntar kalau kak Radit marah biar saya yang bertanggung jawab'' ucap Rendi ketika sudah sampai di motornya.


Rania terpaksa pergi. Mereka sampai di tempat orang jual cendol. Setelah turun dan memesan cendol, Rendi dan Rania duduk di kursi yang sudah disediakan.


''Tangan kamu kenapa bisa luka?'' tanya Rendi serius.


'' Ya bisa lah ini buktinya'' jawab Rania asal-asalan.


''Saya serius '' kata Rendi.


''Harus jawab apa ya?''batin Rania sambil mikir.


''Kenapa diam?'' tanya Rendi lagi.


''Anda membawa saya kesini untuk bertanya atau minum cendol?'' Rania balik tanya.


''Ya dua-duanya'' jawab Rendi.


''Kalau gitu saya kembali saja ke kantor'' ancam Rania sambil berdiri.


''Eeehhh, tunggu kamu disini saja. Saya janji ngak nanya lagi'' jawab Rendi sambil menahan tangan Rania.


''Beneran'' Rania meyakinkan.


''Iya janji'' jawab Rendi sambil mengangkat dua jari.


''Ok'' kata Rania kembali duduk.


Beberapa saat kemudian cendol mereka datang. Mereka meminum cendol tanpa bicara. Rendi lebih memilih diam. Walau hatinya masih penasaran dengan luka tangan Rania. Sedangkan Rania dengan cepat ingin kembali takutnya Radit mencari. Karna ponselnya tinggal dalam tas diruangan. Setelah menghabiskan cendolnya Rania pamit kembali dulu. Dengan alasan kalau ponselnya tinggal di ruangannya.


Sore hari ketika pulang wajah Radit agak dingin dari biasanya. Rania lebih memilih untuk diam dari pada bicara. Tidak lama terdengar suara Radit.


''Kamu pergi kemana dengan Rendi tadi?'' tanya Radit dingin.


'' Pergi minum cendol pak''jawab Rania.


''Kenapa kamu tidak menolak?'' tanya Radit.


''Trus kenapa kamu masih juga pergi. Atau jangan-jangan kamu yang malah suka pergi dengan Rendi'' kata Radit sinis.


Rania hanya diam. Dia tidak tahu harus bagaimana menghadapi bosnya. Mau dijawab salah tidak dijawab juga salah.


''Kenapa diam, apa kamu tidak bisa jawab. Karna yang saya katakan itu benar. Kamu senang kalau ada cowok-cowok ngajak kamu pergi. Apa kamu segampang itu?'' tanya Radit dingin.


''Maaf pak, tapi saya bukan seperti yang anda pikirkan'' jawab Rania kesal. Ada rasa sakit dihatinya ketika dibilang gampangan sama Radi


''Huft kenapa aku semarah ini ketika melihat Rania pergi dengan cowok lain, apalagi Rendi juga adikku. Padahal Rania hanya sopirku'' batin Radit sambil mengurut alisnya.


Tidak ada lagi pembicaraan yang terjadi. Mereka lebih memilih diam, sampai dirumah Radit langsung saja turun dari mobil tanpa bicara. Rania juga langsung pulang dengan motornya setelah memasukan mobil ke garasi. Diperjalanan pulang Rania hanya memikirkan sikap dingin Radit tadi. Sehingga dia tidak tahu kalau ada dua motor yang mengikutinya. Dijalan sepi motor satunya berusaha mendahului motor Rania. Dan yang satunya lagi berusaha memepet motor Rania.


Rania berusaha menghindar dengan menghentikan motornya ketepi jalan.


''Siapa kalian'' tanya Rania sambil turun dari motornya.


''Kamu tidak usah banyak tanya'' jawab salah seorang dari mereka berempat sambil langsung menyerang Rania.


Buughh


Satu tendangan kaki Rania mengenai pinggangnya. Kemudian terjadi perkelahian satu lawan empat orang. Rania jadi kewalahan, untungnya mobil Davin lewat. Dia berhenti disitu ketika melihat Rania dikeroyok. Ketika Davin datang mau membantu keempat orang tadi langsung melarikan diri.


''Kamu tidak apa- apa ran?'' tanya Davin kwatir.


''Ngak apa-apak kak'' jawab Rania.


''Kamu tahu siapa orang tadi?'' tanya Davin.


''Tidak kak, mereka tiba-tiba menyerang saya'' jawab Rania.


''Hhmm apa mungkin mereka yang menyerang kamu dan Radit malam waktu itu'' pikir Davin.


''Entahlah kak, soalnya muka mereka tertutup'' jawab Rania.


''Ya sudah kita ke klinik Sisi dulu. Tangan kamu berdarah lagi, kebetulan saya juga mau kesana. Apa kamu masih sanggup bawa motor?'' tanya Davin.


''Masih kak'' jawab Rania sambil memasang helmnya.


Beberapa saat kemudian Rania dan Davin sampai di klinik Sisi.


''Hey sayang kok bisa bareng'' tanya Sisi ketika melihat Rania dan Davin masuk bersamaan.


'' Kebetulan tadi jumpa dijalan pas mau kesini'' jawab Davin.


''Ooo. Ayo masuk kita ngobrol di ruanganku aja'' ajak Sisi.


''Ooh ya sayang, kamu obatin tangan Rania dulu'' kata Davin ketika mereka sampai diruangan Sisi.


''Tangan kamu kenapa bisa berdarah lagi Ran?'' tanya Sisi.


''Dia diserang orang yang tidak dikenal lagi'' jawab Davin.


''Serius Ran?'' tanya Sisi kaget.


''Iya'' jawab Rania.


''Trus apa ada luka yang lain?'' tanya Sisi lagi.


''Tidak cuma luka tangan aja'' jawab Rania.


''Apa mungkin orang nya sama dengan yang menyerang malam waktu itu'' kata Sisi sambil mengobati luka Rania.


''Aku pikir juga begitu yank. Biar ntar aku beritahu Radit dulu '' kata Davin.


''Nggak usah diberi tahu pak Radit'' ucap Rania cepat.


''Kenapa?'' tanya Davin dan Sisi barengan.


''Ya ngak apa-apa. Lagi aku juga ngak kenapa-kenapa'' alasan Rania.


''Mmm ya udah'' jawab Davin.


'' Maaf Si dan kak Davin , aku ngak bisa beri tahu alasanya kenapa pak Radit tidak boleh tahu'' batin Rania.


Setelah selesai mengobati tanganya. Rania pamit pulang sedangkan Davin masih bersama Sisi di kliniknya.