
Hendra kembali ke ruang rawat Cynthia dengan tidak semangat. Banyak pertanyaan melintas dikepalanya setelah melihat hasil pemeriksaan Cynthia. Tapi karna ada Candra dia mengurungkan niat untuk bertanya sama Nita. Dia juga harus memastikan dulu baru bisa bertanya sama Nita.
''Bagaimana hasil pemeriksaannya pa?'' tanya Candra ketika melihat Hendra masuk. Hendra menghela nafas. Dia meletakan hasil pemeriksaan diatas meja. kemudian melihat kearah Nita. Lama dia menatap Nita. Ketika mengingat hasil pemerikasaan Cynthia tadi ada rasa sakit dihatinya. Hendra mengalihkan pandanganya kepada Candra.
''Kemungkinan Cynthia akan bisa berjalan lagi kecil. Tapi menurut dokter setelah Cynthia keluar dari rumah sakit dia harus rutin mengikuti beberapa terapi untuk pemulihan. Semoga saja dia bisa berjalan lagi setelah melakukan terapi rutin'' jelas Hendra tidak semangat.
''Tidak mungkin anakku akan lumpuh selamanya. Pasti dokter itu salahkan mas?'' Nita histeris. Dia mencoba memegang tangan Hendra. Tapi Hendra melepaskannya.
''Mama harus sabar, kalau mama seperti ini siapa yang akan memberi Cynthia semangat. Sekarang yang bisa kita lakukan adalah memberikan perawatan yang terbaik untuknya. Kalau perlu kita bawa Cynthia keluar negeri'' bujuk Candra.
Hendra hanya terdiam. Dia tidak tahu harus bagaimana sekarang. Dia juga tidak ingin bicara dengan Nita. Walaupun dia ingin bertanya kepada Nita tapi lidahnya terasa keluh.
''Apa yang harus aku lalukan. Apa sebaiknya aku menemui mas Gunawan untuk meminta solusi?'' batin Hendra.
Dia mengusap keningnya karna pusing.
''Candra, papa keluar sebentar'' ucap Hendra. Kemudian meninggalkan ruang rawat Cynthia tanpa mengucapkan kata sama Nita.
''Ada apa dengan papamu Can? Sejak dia kembali dari ruang dokter sepertinya dia menyimpan sesuatu?'' tanya Nita curiga.
''Mungkin papa sedang memikirkan cara supaya Cynthia bisa sembuh lagi ma'' jawab Candra.
''Tapi papamu seolah memgabaikan mama'' kata Nita lagi.
''Perasaan mama aja'' jawab Candra.
Nita terdiam. Dia tidak berpikir sama dengan anaknya mengenai suaminya. Dia lihat Cynthia masih tidur.
''Perasaanku kenapa tidak enak begini. Apa yang disembunyikan mas Hendra'' batin Nita.
Kemudian mata Nita tertuju pada kertas hasil pemerikasaan Cynthia. Dia segera membacanya. Tidak ada yang aneh dari hasil tersebut.
Hendra sampai dikantor. Dia langsung menuju ruang kerja Gunawan. Setelah mengetuk pintu dia segera masuk. Dilihatnya Gunawan sedang sibuk memeriksa beberapa laporan dimeja kerjanya. Hendra duduk disofa. Dia hanya diam tanpa bicara seperti orang yang sedang bingung.
''Kenapa kamu kesini? Bagaimana keadaan Cynthia?'' tanya Gunawan sambil duduk disofa dekat Hendra.
''Tadi hasil pemerikasaannya sudah keluar. Katanya kemungkinan Cynthia bisa jalan kecil'' jawab Hendra.
''Kalau begitu kita bawa dia berobat keluar negeri'' jawab Gunawan.
''Kata Candra juga begitu mas, tapi...'' ucap Hendra terhenti. Dia ragu memberitahu Gunawan.
''Tapi apa? Kamu ragu masalah biayanya?'' tanya Gunawan.
Hendra mengeleng kepala. Lidahnya terasa keluh.
''Trus? Keluarga kita masih sanggup membiayai pengobatan Cynthia sampai dia sembuh. Aku akan cari dimana tempat terbaik untuk mengobatinya'' ucap Gunawan.
''Bukan itu masalahnya mas'' kata Hendra sedih.
''Trus apa masalahnya?'' tanya Gunawan penasaran.
''Hari ini ketika aku melihat hasil pemeriksaan Cynthia. Ternyata golongan darahnya berbeda dengaku dan Nita. Aku binggung mas. Apa Cynthia itu anakku atau bukan. Kalau bukan dia anak siapa?'' jelas Hendra tambah sedih.
''Tidak mungkin mereka salah mas. Semua hasil yang keluar sudah pasti akurat'' Hendra merasa terpukul.
''Apa kamu sudah bertanya sama Nita masalah ini?'' tanya Gunawan
''Belum, tadi Candra juga ada disana. Aku tidak mau membicarakanya didepan Candra. Lagian aku jadi curiga apa jangan-jangan Candra bukan anakku juga . Kenapa Nita setegah itu mas. Dia berani bermain dibelakangku. Apa kurangku selama ini sama dia. Aku selalu menuruti semua keinginannya.'' ucap Hendra.
''Kamu tidak boleh curiga seperti itu sebelum semua terbukti. Jangan seperti diriku yang salah menduga akhirnya berakhir seperti ini'' nesehat Gunawan. Dia tidak ingin Hendra menjadi seperti dirinya. Kehilangan orang yang dicintai karna tidak mencari tahu dulu yang sebenarnya sebelum mengambil keputusan.
''Trus aku harus bagaimana mas. Aku sungguh binggung'' ucap Hendra matanya mulai berkaca-kaca.
''Bagaimana kalau kamu lakukan tes DNA. Supaya semuanya pasti setelah itu baru kamu bisa mengambil tindakan'' kata Gunawan memberi solusi. Dia mulai kasihan melihat adiknya. Selama ini Hendra selalu lembut dengan istrinya. Karna dia sangat mencintai Nita. Bahkan dia nekat menikahi Nita walaupun papa mereka tidak setuju. Dan selama ini Hendra terlalu mempercayai Nita.
''Apa aku harus melakukan tes DNA kepada keduanya mas?'' tanya Hendra
''Kalau kamu juga meragukan Candra anakmu sebaiknya dilakukan juga. Supaya kita bisa memastikannya. Tapi menurutku Candra itu anakmu. Karna dia sangat mirip denganmu. Hanya sifatnya aja yang lebih tegas darimu'' jawab Gunawan.
''Makasih mas, Sekarang aku tahu apa yang harus dilakukan. Tapi mas tidak boleh memberi tahu siapa-siapa sebelum semuanya jelas'' ucap Hendra lega.
''Iya, kamu tenang aja'' jawab Gunawan.
''Apa pekerjaan mas sudah selesai?'' tanya Hendra.
''Belum, sekarang semua pekerjaan aku yang handle. Apalagi Candra sedang dirumah sakit. Aku juga ingin istirahat dan menyerahkan semuanya sama anak-anak. Tapi sepertinya belum bisa sekarang. Kamu enak sudah bisa istirahat sejak Candra mengantikan'' ucap Gunawan menghela nafas.
''Apa Rania tidak mau mengurus perusahaan?'' Tanya Hendra.
''Entahlah, kemarin katanya dia belum berminat untuk masuk keperusahaan. Aku juga tidak ingin memaksanya. Dia mau tinggal disini saja aku sudah bersyukur. Biarpun sampai sekarang dia masih belum bisa memaafkanku'' jawab Gunawan sedih.
''Aku juga merasa bersalah sama Rania. Kalau waktu itu aku tidak langsung aja percaya dengan mayat yang terbakar dirumah sakit adalah mbak Retno mungkin semua tidak akan seperti ini.'' ucap Hendra.
''Semua sudah terjadi. Sekarang aku hanya fokus untuk memberikan semua perhatian yang selama ini terlewatkan untuk Rania. Walaupun sampai habis sisa hidupku semua tidak akan terbayar. Setidaknya aku bisa menjadi seorang ayah yang baik untuknya'' kata Gunawan.
''Iya mas, Kalau semua masalah ini selesai kita akan membuat perayaan untuk kedatangan Rania lagi'' kata Hendra.
''Hmm. Aku ragu untuk itu. Karna Radit sudah mendesak ingin menikahi Rania'' kata Gunawan.
''Hehe, melihat Radit sekarang seperti melihat mas ingin menikahi mbak Retno. Bahkan mas tiap hari membujuk papa untuk melamar mbak Retno'' ucap Hendra.
''Iya, anak muda selalu bersemangat'' kata Gunawan tersenyum.
''omong-omong sudah lama aku tidak melihat Jaka?'' tanya Hendra.
''Aku menyuruh dia untuk mengawasi proyek diluar kota'' jawab Gunawan.
''Kalau gitu aku pulang dulu. Aku akan menyiapkan semua biar bisa melakukan tes secepatnya. Jadi hasilnya bisa cepat keluar''
''Iya, moga saja semua yang kamu khawatirkan tidak terbukti'' ucap Gunawan.
Kemudian Hendra meninggalkan ruang Gunawan. Dia menatap Hendra dengan perasaan iba.