
Rania sampai diperusahaan W. Lama Rania berdiri diparkiran untuk memantapkan hatinya bertemu Gunawan. Setelah benar-benar siap Rania berjalan menuju lobi perusahaan. Sampai disana Rania berencana menanyakan ruangan Gunawan sama resepsionis. Sebelum Rania bertanya terdengar suara orang memanggil.
''Rania'' panggil Gunawan yang berdiri tidak jauh darinya. Rania tertegun sebentar melihat ayahnya itu. Terakhir melihat di Bandung dia tidak setua itu. Semua orang yang ada dilobi memberi hormat kepadanya.
''Siang pak'' sapa Rania berusaha menetralkan suaranya.
''Kamu baru sampai?'' tanya Gunawan.
''Kenapa anda tahu saya datang kesini?'' tanya Rania curiga.
''Tadi Radit nelpon katanya kamu disuruh kesini untuk meminta tanda tangan saya'' jawab Gunawan. Dia sengaja tidak memakai kata ayah karna belum ada yang tahu kalau Rania putrinya.
''Kalau begitu apa anda bisa menandatanganinya sekarang?'' tanya Rania ingin segera menyelesaikan semuanya dan pergi dari sana.
''Kebetulan saya mau makan siang dulu. Bagaimana kalau kamu ikut saya makan siang dulu. Setelah itu baru saya tanda tangani kontrak yang disuruh Radit'' ucap Gunawan mencari alasan untuk bisa lebih lama bicara dengan Rania.
''Tidak usah pak. Saya tidak lapar, anda silakan makan siang dulu biar saya tunggu anda disini saja'' tolak Rania.
''Kalau kamu tidak ikut. Saya tidak akan menandatanggani suratnya'' kata Gunawan tegas sekaligus cemas ajakannya akan ditolak Rania. Semua orang yang disana melihat kearah mereka. Tidak biasanya Gunawan bicara santai dengan orang. Apalagi menyangkut pekerjaan.
''Kalau tidak dapat tanda tangannya pak Radit bisa marah. Tapi kenapa kesannya disengaja ya. Apa pak Radit ikut merencanakan ini'' batin Rania.
Dia masih diam berdiri. Mempertimbangkan ikut atau tidaknya dengan Gunawan.
''Gimana?'' tanya Gunawan lagi.
''Baik pak, daripada saya tidak dapat tanda tangan lebih baik saya ikut'' jawab Rania kurang senang.
''Ayo, kita pakai mobil saya saja'' ajak Gunawan. Hatinya sangat senang bisa makan bersama putrinya. Sampai dimobil sopir Gunawan sudah menunggu. Rania berencana duduk di sebelah sopir. Tapi dengan cepat Gunawan melarangnya.
''Kamu duduk dibelakang bersama ayah'' kata Gunawan. Walaupun enggan Rania terpaksa menurutinya.
Mereka meninggalkan kantor dan menuju restoran yang diperintahkan Gunawan.
''Kenapa kamu masih memakai kacamata ini?'' tanya Gunawan.
''Karna ini janji saya sama bunda'' jawab Rania singkat. Gunawan tertegun karna semua juga gara-gara dirinya.
''Kamu sudah sebesar ini. Ayah sangat menyesal tidak mengetahui kehadiranmu dari awal'' ucap Gunawan menyesal.
''Bukan tidak mengetahui. Tapi dari awal anda memang tidak mempercayai istri anda'' jawab Rania pedas melihat keluar kaca mobil.
''Maaf ayah nak. Beri ayah kesempatan memperbaiki semuanya mulai dari sekarang'' bujuk Gunawan.
''Andai itu anda katakan sebelum bunda pergi dan dia menerimanya. Mungkin saya akan sedikit mempertimbangkannya. Tapi tidak untuk sekarang'' jawab Rania tegas.
''Ayah selama ini tidak tahu kalau kalian masih hidup'' jawab Gunawan.
''Tidak tahu atau tidak mencari. Sampai bunda meninggalpun anda masih berpikir dia berhianat. Apa itu yang anda katakan tidak tahu?'' tanya Rania mulai emosi.
''Maaf nak, ayah memang salah'' jawab Gunawan penuh penyesalan.
''Sudahlah, saya kesini bukan untuk membahas itu'' jawab Rania.
Lidah Gunawan tesara keluh. Setiap kata dan tatapan Rania terasa seperti sembilu menyayat hatinya. Begitu menyakitkan. Tapi kenyataan memang semua salahnya. Sekarang walaupun Rania masih dingin tehadapanya. Setidaknya Rania masih mau berbicara dengannya.
''Kamu mau pesan apa nak?'' tanya Gunawan lembut.
''Terserah anda saja. Saya tidak pilih-pilih makanan'' jawab Rania. Kemudian Gunawan memilih beberapa makanan di menu.
''Kalau minumnya?'' tanya Gunawan lagi.
''Orange juice'' jawab Rania. Gunawan terkejut minuman yang dipesan Rania sama denganya. Ternyata darah tidak bisa membohongi ikatannya. Mereka sama-sama menyukai orange juice.
Setelah siap mencatat semua pesanan. Pelayan meninggalkan mereka untuk mengambil pesanan.
''Kamu kuliah dimana dan jurusan apa?'' tanya Gunawan.
''Di Bandung'' jawab Rania singkat.
''Bagaimana kamu kerja diperusahaan ayah saja. Kamu bebas memilih posisi yang kamu inginkan. Toh nantinya saham ayah diperusahaan akan menjadi milikmu'' ucap Gunawan. Sebenarnya Gunawan sudah tahu dimana Rania kuliah. Ketika dia melihat data Rania. Dia tidak menyangka putrinya akan kuliah disalah satu universitas ternama di Bandung. Dan lulus dengan nilai tertinggi. Dia bangga dengan kepintaran putrinya.
''Saya tidak perlu semuanya. Saya sudah biasa hidup seperti ini'' tolak Rania.
Gunawan terdiam. Dia tahu apa yang terjadi selama ini. Bagaimana putrinya itu manjalani hidup. Berkerja keras untuk membiayai sekolahnya. Disitu rasa penyesalannya semakin dalam.
Makanan yang mereka pesan sudah sampai. Kemudian mereka mulai makan tanpa ada yang bicara lagi. Selesai makan Rania dan Gunawan sama-sama terkejut melihat sisa dipiring mereka. Ternyata mereka sama-sama tidak menyukai wortel. Dan menyisihkannya dibagian tepi piring.
'' Pantasan selama ini bunda marah. Ternyata ketidaksukaan ku sama wortel sama denganya'' batin Rania.
''Hehe, dia benar-benar putriku. Sampai ketidaksukaan kamipun sama'' batin Gunawan senang.
''Kenapa wortelnya tidak kamu makan?'' tanya Gunawan.
''Tidak enak, rasanya aneh'' jawab Rania.
''Iya rasanya aneh'' jawab Gunawan sambil tersenyum.
''Kenapa anda kelihatan senang. Kalau mau saya juga tidak ingin punya kesamaan dengan anda'' jawab Rania kesal melihat Gunawan tersenyum.
''Iya, kamu berhak tidak suka'' jawab Gunawan santai. Ingin rasanya dia mengusap kepala putrinya itu. Ketika melihatnya kesal.
''Retno maaf, dan terima kasih kamu menjaga anak kita sampai sebesar ini. Mulai hari ini aku akan mengantikanmu menjaganya. Akan ku tebus semuanya mulai dari sekarang. Dia sama keras kepalanya dengan kita'' batin Gunawan.
''Apa kita sudah bisa balik kekantor?'' tanya Rania. Dia melihat Gunawan masih termenung melihat kearahnya. Rania yang selama ini menginginkan kehadiran seorang ayah. Sekarang mulai merasakannya dari Gunawan. Mungkin karna ikatan darah diantara mereka. Tapi Rania belum semudah itu memaafkannya.
''Iya kita kembali sekarang'' Jawab Gunawan. Untuk hari ini bagi Gunawan makan bersama putrinya sudah merupakan sebuah kebahagian yang tidak ternilai. Satu moment yang langka dengan situasi sekarang. Dia sangat berterima kasih karna Radit membantunya.
Mereka meninggalkan restoran dan kembali ke kantor Gunawan. Diperjalanan Rania hanya menatap keluar kaca mobil. Sampai dikantor Rania dan Gunawan langsung turun mobil.
''Kamu jalan duluan tunggu dilobi. Ayah mau bicara sebentar dengan sopir'' kata Gunawan.
Rania tidak menjawab. Dia langsung berjalan menuju lobi. Dan ternyata disana berdiri Cynthia memandang marah kepadanya.
'' Ternyata dunia ini sempit. Dimana-mana selalu bertemu dengannya'' batin Rania.
Rania terus berjalan pura-pura tidak melihat Cynthia. Membuat Cynthia tambah naik darah.
''Culuuuunn, kamu...'' teriak Cynthia.