Rania

Rania
126. Rumah Sakit



''Aku ngantuk kak. Jadi aku kesini mau beli kopi'' jawab Rendi sambil tersenyum.


''Kamu bisa menyuruh sekretarismu membelikan'' ucap Radit.


''Hehe, aku bosan dikantor kak. Pusing kepala melihat kerjaan yang menumpuk. Apalagi kerjaan kak Davin juga aku yang ngerjakan'' jawab Rendi mencari alasan.


''Alasan kamu aja. Dan kamu ngapain disini sayang? Bukannya mas nyuruh kamu istirahat dirumah'' tanya Radit menatap Rania sambil tersenyum. Tapi senyumnya membuat orang merinding.


''Aku pengen minum kopi yang biasa mas beli disini'' jawab Rania pelan.


''Apaa mas gak salah dengar. Bukannya kamu gak suka kopi'' tanya Radit heran.


''Tapi aku ingin minum kopi mas'' rengek Rania. Membuat Radit dan Rendi tambah heran. Tidak biasa Rania bersikap seperti ini apalagi sampai merengek.


''Udahlah kak beli kan saja. Kasihan kakak ipar. Mungkin dia memang pengen minum kopi'' hibur Rendi.


''Ya udah, kamu mau kopi apa?'' tanya Radit.


''Yang biasa mas minum'' jawab Rania senang. Seketika wajahnya menjadi cerah. Membuat Radit geleng kepala melihat perubahan wajah Rania.


''Kamu yakin? Kopi yang biasa mas minum agak pahit loh'' ucap Radit.


''Iya'' jawab Rania sambil memeluk tangan Radit. Radit jadi senang melihat Rania manja kepadanya.


''Ren, kamu belikan kopi yang seperti biasa aku minum dua. Nanti kamu bawa keruanganku. Kami kekantor dulu'' ucap Radit.


''Iya kak'' jawab Rendi.


Radit dan Rania pergi keluar tempat itu. Mereka berjalan sambil bergandeng tangan membuat Rendi iri dengan kemesraan mereka.


Sampai di kantor Rania dan Radit langsung keruangan Radit. Rania merasa agak pusing jadi dia memilih untuk istirahat di sofa. Sedangkan Radit melanjutkan pekerjaannya.


Tidak beberapa lama Rendi datang membawa kopi pesanan Radit. Dilihatnya Rania tertidur disofa. Radit kemudian membangunkan Rania. Rendi ikut duduk disofa.


''Sayang bangun, ini kopinya sudah datang'' kata Radit sambil menepuk pelan tangan Rania.


''Biarkan saja dia tidur kak. Mungkin kakak ipar masih ngantuk'' ucap Rendi.


''Kalau gak dibangunkan, ntar kopinya malah dingin gak enak lagi diminum'' jawab Radit. Dia kembali membangunkan Rania. Rania membuka matanya.


''Mas kenapa belum juga ganti sampo sih'' ucap Rania pas bangun. Rendi yang mendengar merasa heran.


''Emang kenapa dengan sampo kak Radit?'' tanya Rendi.


''Bau sekali, aku gak tahan dengan baunya'' jawab Rania.


''Iya, ntar mas beli yang baru. Kamu temanin mencari mana sampo yang kamu suka'' ucap Radit pasrah.


''Serius ya, kalau gak mas malam ini tidur disofa lagi'' jawab Rania.


''Hahaha, kak Radit tidur disofa?'' Rendi tertawa.


''Diam kamu'' hardik Radit.


''Kakak ipar emang the best. Hanya kakak ipar yang bisa melakukan itu semua kepada kak Radit. Aku akan beritahu kak Davin cerita ini'' ucap Rendi masih tertawa.


''Hmm awas kalau kamu cerita sama Davin. Gajimu aku potong ditambah lembur setiap hari'' ancam Radit.


''Selalu itu ancamannya. Kakak ipar tolong aku'' ucap Rendi. Tapi Rania tidak peduli dia mulai meminum kopi yang dibeli. Rendi menarik nafas melihat sikap Rania. Sedangkan Radit senyum mengejek.


''Emang enak dicuekin'' ejek Radit.Rania hanya minum kopi sedikit.


''Bukannya kamu ingin sekali minum kopi. Kenapa minumnya sedikit saja?'' tanya Radit.


''Trus apa gunanya kamu sampai merengek segala minta kopi ini kalau meminumnya hanya segitu?'' tanya Radit heran .Dia ingin marah melihat sikap Rania tapi ditahannya.


''Tadi aku memang ingin sekali. Tapi ketika sudah minum aku gak mau lagi'' jawab Rania santai.


''Hufft'' Radit menyerah bicara sama Rania. Dia berusaha sabar. Rendi senang melihat Radit kehabisan kata-kata menghadapi Rania.


''Kamu udah makan?'' tanya Radit.


''Belum'' jawab Rania.


''Apa tadi bik Inah gak ada antar sarapan kekamar?'' tanya Radit.


''Ada, hanya saja aku gak selera makan'' jawab Rania.


''Kamu lagi sakit sayang. Sekarang sudah siang. Kamu belum makan apa-apa dari pagi. Malah kamu minum kopi'' ucap Radit. Rania tidak menjawab dia malas bicara.


''Beli makan siang untuk kita Ren'' perintah Radit.


''Kenapa harus aku. Suruh saja sekretaris kakak'' jawab Rendi.


''Dia banyak pekerjaan. Kamu saja yang pergi'' ucap Radit.


''Aku juga banyak pekerjaan'' jawab Rendi.


''Kalau kamu banyak pekerjaan seharusnya kamu tidak disini. Bukannya kamu suka sekali jalan-jalan diluar kantor. Sekarang jangan banyak protes. Pergi atau aku tambah pekerjaanmu'' ancam Radit marah.


''Iya aku pergi'' jawab Rendi cepat. Dia langsung meninggalkan ruangan Radit. Dia tidak mau menjadi sasaran kemarahan Radit. Rania kembali merebahkan badannya disofa. Radit sudah menyuruhnya tidur ditempat istirahat yang biasa dipakai Radit. Tapi Rania menolaknya. Dia lebih suka tidur disofa. Radit makin heran melihat Rania yang sering tidur dari biasanya. Apalagi sikap yang berubah-ubah seperti bukan Rania saja.


Rendi kembali membawa tiga kotak nasi. Radit membangunkan Rania untuk makan. Rania bangun dan mulai makan dengan malas. Dia bahkan tidak berselera melihat makanan yang dibawa Rendi. Padahal itu makanan kesukaan Rania. Radit terus menyuruhnya makan. Baru makan beberapa suap perut Rania terasa mual. Dia berlari ke wastafel yang ada dikamar mandi.


Radit segera menyusulnya. Rania memuntahkan makanan yang dimakannya. Radit sangat cemas melihat Rania. Setelah muntah badan Rania terasa lemas dan pucat. Radit memapahnya ke sofa.


''Lebih baik kakak ipar dibawa kerumah sakit aja kak'' usul Rendi. Dia juga cemas melihat kondisi Rania.


''Kita kerumah sakit ya sayang'' ajak Radit lembut. Semua rasa marahnya tadi hilang ketika melihat keadaan Rania sekarang. Rania mengelengkan kepalanya.


''Kalau kamu seperti ini terus. Bisa-bisa sakitmu tambah parah. Lebih baik kita periksa kerumah sakit'' bujuk Radit.


''Benar kata kak Radit. Biar kakak ipar cepat sehat'' sambung Rendi.


''Nanti sore saja, mas selesaikan dulu pekerjaan mas'' jawab Rania. Dia kembali merebahkan badannya disofa.


Rendi kembali keruangannya. Sedangkan Radit melanjutkan pekerjaannya. Walaupun dia tidak fokus bekerja karna memikirkan Rania. Tapi Radit tetap mengerjakan pekerjaannya.


Sore hari Radit dan Rania pergi kerumah sakit. Sedangkan Rendi langsung pulang kerumah. Mereka berobat ke dokter umum. Tapi dokter menyarankan Rania diperiksa ke dokter kandungan. Mereka menunggu antrian setelah Radit mendaftarkan nama Rania kepada perawat disana.


Telepon Radit berdering saat mereka menunggu.


''Hallo ma'' jawab Radit.


''Hallo sayang, kata Rendi kamu dan Rania pergi kerumah sakit. Bagaimana kondisi Rania sekarang?'' tanya Diva.


''Ini kami lagi antri'' jawab Radit.


''Ya udah, kalau ada apa-apa kasih kabar mama. Soalnya keluarga Rania mau kerumah untuk melihatnya''


''Iya ma'' jawab Radit.


Telepon dimatikan. Rania dan Radit masih menunggu antrian. Rania merasa deg-degkan. Karna selama ini setiap dia kerumah sakit selalu dalam kondisi tidak baik.