Rania

Rania
90. Mertua VS Menantu



Pagi ini Nita menjaga Cynthia sendirian diruang rawatnya. Candra pergi kekantor karna Gunawan untuk beberapa hari harus istirahat dulu dirumah. Sedangkan Hendra belum datang kerumah sakit.


Nita merasa curiga dengan sikap Hendra belakangan ini. Dia terlihat sibuk dan jarang datang kerumah sakit. Sudah lebih seminggu dia bersikap seperti itu. Nita merasa ada yang disembunyikan Hendra.


Sedangkan Cynthia masih tidur. Sampai sekarang dia masih belum bisa menerima kelumpuhannya. Bahkan kalau dia bangun dia sering marah-marah. Membuat Nita tambah pusing.


Kemudian Nita keluar ruang rawat Cynthia. Dia duduk dibangku tunggu dan menelpon seseorang.


''Hallo'' jawab orang diseberang telepon.


''Kamu dimana? Kenapa setiap saya telepon kamu tidak pernah angkat. Apa kamu tidak tahu kalau Cynthia masuk rumah sakit'' ucap Nita dengan nada kesal.


''Saya dikantor. Saya baru kembali dari luar kota kemarin. Ntar kalau ada waktu saya akan kerumah sakit. Lagian selama ini kamu juga tidak membolehkan saya mendekati Cynthia''


''Setidaknya kamu memberi saya kabar. Banyak yang mau saya tanyakan. Terutama tentang anak mas Gunawan. Apa kamu tidak tahu kalau mas Gunawan memiliki putri.Mereka bertemu diBandung dan sekarang karna kehadiranya semua rencana saya jadi berantakan. Masa depan Cynthia terancam hancur. Karna sekarang dia mengalami kelumpuhan. Ditambah mas Hendra mulai curiga. Kita harus bertemu secepatnya'' ucap Nita.


''Iya akan saya usahakan''


''Ya udah, mas Hendra sudah datang. Nanti saya hubungi lagi'' Nita mematikan teleponnya dan segera masuk keruang rawat Cynthia.


Tidak lama Hendra masuk keruang rawat. Wajah masih terlihat dingin tidak seperti yang Nita kenal selama ini.


''Bagaimana keadaan Cynthia?'' tanya Hendra dingin.


''Seperti biasa. Dia masih suka ngamuk-ngamuk. Kata dokter minggu depan Cynthia sudah boleh pulang. Pengobatannya bisa dilakukan dirumah'' jelas Nita.


''Ya udah. Aku kerumah papa dulu mau melihat mas Gunawan. Setelah itu aku langsung kekantor bantuin Candra'' ucap Hendra.


''Tapi mas, apa tidak sebaiknya mas gantiin aku jaga Cynthia. Aku juga ingin istirahat. Badanku terasa capek semua'' jawab Nita.


''Kamu bisa tidur disofa ketika Cynthia tidur. Lagian kamu juga tidak ada kegiatan yang lain.Aku harus pergi sekarang'' ucap Hendra meninggalkan ruang rawat Cynthia. Nita memandangi punggung Hendra yang meninggalkan ruang rawat Cynthia.


...''Kenapa kamu dingin dan cuek seperti ini mas. Apa yang kamu rahasiakan. Dari dulu kamu tidak pernah bersikap seperti ini kepadaku. Aku tahu kamu sangat mencintaiku'' batin Nita....


Sementara dirumah Wiratmaja pagi ini. Rania sibuk menyuapin Gunawan sarapan dan memberinya obat. Sesuai kata dokter Gunawan harus istirahat dulu dirumah. Jadi pagi-pagi Gunawan sudah menelpon Candra mengatakan untuk dia mengantikan Gunawan beberapa hari ini. Tapi biarpun begitu Gunawan masih cemas dengan pekerjaan dikantor. Apalagi Candra juga sibuk menjaga Cynthia dirumah sakit.


''Apa yang ayah pikirkan?'' tanya Rania setelah membereskan semua peralatan makan dan obat Gunawan.


''Hhmm tidak ada'' jawab Gunawan bohong.


''Aku tahu ayah pasti memikirkan pekerjaan dikantor. Selama dirumah ayah tidak boleh berpikir yang lain-lain. Ayah hanya perlu istirahat. Urusan kantor biar kak Candra yang urus'' ucap Rania kembali duduk di dekat Gunawan.


''Iya sayang. Kamu mirip seperti bundamu kalau sudah mengomel. Ayah rela seperti ini asal kamu yang rawat'' ucap Gunawan senang.


''Hmm tapi aku tidak suka ayah sakit'' kata Rania cemberut.


''Iya, setelah ini ayah janji tidak akan telat makan lagi'' jawab Gunawan.


Ketika mereka sedang mengobrol. Nella memberitahu kalau Radit dan Rendi datang. Rania segera menemuinya keruang tamu.


''Kak Radit...'' sapa Rania senang.


''Ih, hanya kak Radit aja yang nampak. Apa aku ini hantu?'' tanya Rendi sewot.


''Hehe, hai Ren'' ucap Rania.


''Barusan menyuapin ayah sarapan dan minum obat'' jelas Rania.


''Kamu sudah memanggilnya ayah?'' tanya Radit senang. Rania mengangguk.


''Syukurlah. Om Gunawan sakit apa'' tanya Radit.


'' Gara- gara lupa makan maagnya jadi kambuh ketika dia pulang dari kantor semalam dan juga kelelahan. Sampai membuatnya pingsan. Jadi dokter menyuruhnya istirahat beberapa hari'' jelas Rania.


''Kalau gitu kita lihat om Gunawan dulu. Baru kita kekantor ya Ren'' ucap Radit.


Kemudian mereka menuju kamar Gunawan.


''Bagaimana keadaan om?'' tanya Radit ketika mereka sudah sampai dikamar.


''Seperti yang kamu lihat. Saya terbaring lemah dengan slang infus ditangan. Tidak bisa kemana-mana'' jawab Gunawan.


''Hmm, om harus rajin-rajin jaga kesehatan. Kalau om sakit seperti ini terus. Lebih baik saya da Rania cepat menikah. Jadi kalau terjadi apa-apa dengan om saya sudah bersama Rania'' ucap Radit santai.


''Kamu mendo'akan saya cepat meninggal?'' tanya Gunawan sewot.


''Bukan mendo'akan om. Untuk antisipasi saja'' jawab Radit.


''Hmm kamu kira saya akan dengan mudah memberikan putri saya untukmu'' kata Gunawan.


''Kalau om tidak ingin kak Radit jadi menantu om. Biar saya saja yang gantikan'' ucap Rendi memprovokasi.


''Enak saja kamu, kalau kamu bicara lagi gaji lima bulan kedepan saya potong'' kata Radit.


''Opps, keluar jurus andalanya'' gumam Rendi. Rania hanya senyum saja melihat perdebatan mereka.


''Jadi, om harus cepat sembuh. Biar bisa bersama Rania lebih lama lagi'' ucap Radit lagi.


''Udah kamu pergi kekantor saja. Bukannya tambah sehat saya malah tambah sakit melihatmu'' ucap Gunawan.


''Setidaknya om harus terbiasa melihat saya. Karna sebentar lagi saya akan jadi menantu om'' jawab Radit santai.


''Tapi saya harus berpikir ulang memiliki menantu seperti mu'' ucap Gunawan.


''Om tidak usah berpikir. Karna pernikahan kami sudah ditentukan dari sebelum kami lahir. Jadi mau tidak mau om harus menerimaku'' jawab Radit tersenyum.


''Udah kak, kasihan ayah digangu terus. Lebih baik kakak berangkat kekantor sekarang'' ucap Rania.


''Emang enak diusir. Sekarang Rania lebih sayang dengan saya dari pada kamu'' ejek Gunawan.


''Setelah menikah dia akan lebih sayang kepada saya'' jawab Radit tidak mau kalah.


''Besok belum terjadi. Tapi sekarang sudah pasti'' jawab Gunawan lagi.


''Udah, udah. Ayah sekarang istirahat. Tau gini aku ngak bawa kak Radit kekamar ayah'' ucap Rania.


''Hehe, iya sayang. Semoga cepat sembuh om. Saya pamit dulu calon mertua. Ayo Ren'' ucap Radit.


''Jangan lupa pertimbangkan lagi om'' bisik Rendi sebelum berjalan. Radit yang mendengarnya menepuk kepala Rendi. Kemudian mereka meninggalkan kamar Gunawan diantar Rania. Gunawan hanya tersenyum melihat kelakuan mereka. Apa jadi mertua vs menantu nantinya.