Rania

Rania
Bimbang



Sasa menuju kamarnya untuk mengambil sesuatu lalu ingin mencari penginapan terdekat.


"Rania sebentar lagi kamu akan semakin dibenci oleh lelaki yang kamu cintai dan aku akan menjadi satu-satunya wanita yang dicintai olehnya." ucapnya dengan tawa penuh kemenangan.


Ia pun bergegas keluar meninggalkan apartemen itu sebelum Stev memarahi dan mengusirnya.


Sasa pun sudah sampai di salah satu hotel berbintang di Ibu kota lalu ia merebahkan tubuhnya yang lelah karena mungkin kehabisan tenaga karena akting nya hari ini yang menguras cukup tenaga.


Rania mondar-mandir dalam kamarnya dengan pikiran yang tak menentu, ia bingung harus apa karena tidak mungkin ia tetap disini dengan kondisinya yang sekarang apa lagi sekarang hubungannya dengan Stev sudah berakhir.


Apakah pergi adalah jalan satu-satunya tuhan. aku sangat mencintainya dan aku pun tidak ingin anak ini lahir tanpa seorang ayah.


"Tidak aku harus tetap disini apa pun yang Terjadi, Stev juga harus tau jika dalam kandunganku ini adalah anaknya dan aku harus terima apapun reaksinya nanti setelah dia tau kalau aku hamil." gumam nya pelan dengan menyandar kan tubuhnya ditembok.


Rania mengambil kunci mobil lalu pergi lagi untuk menemui Stev di apartemen nya, ia harus menjelaskan semuanya kepada stev. sekarang ia tak peduli lagi dengan siapapun termasuk Sasa, karena ia sangat menghawatirkan anaknya nanti jika lahir tak memiliki ayah Rania sungguh takut.


Setelah perjalanan singkatnya akhirnya Rania pun sampai dan berniat ingin mengetuk pintu apartemen Stev namun ternyata pintu itu telah dibuka lebih dulu oleh seseorang.


Setelah pintu terbuka mereka saling pandang sebentar lalu Robert menarik tangan Rania untuk mengikutinya dan pergi dari apartemen itu. tanpa mereka sadari ada dua pasang mata yang melihat itu dari jendela kaca.


dengan langkah cepat Steven mengikuti kemana Robert akan membawa Rania pergi ia sangat penasaran apa yang ingin mereka bicarakan.


"Robert kenapa kau membawa ku kesini? aku ingin bertemu Stev." ucap Rania.


"Stev sekarang lagi kacau Ran dan percuma jika kamu ingin menemuinya." Robert menatap dalam-dalam mata Rania yang sudah berkaca-kaca.


"Ran kamu menangis." Robert menghapus air mata yang tak sengaja jatuh dari kedua sudut mata wanita itu.


"Robert apa yang akan aku lakukan dengan nyawa lain dalam perut ku, katakan robert! apa aku harus merelakan lelaki yang aku cintai bersama sahabatku sendiri dan merelakan anak ku hidup tanpa seorang ayah?" Robert yang mendengar itu langsung terdiam dan menatap perut serta wajah Rania bergantian.


Tak kalah terkejutnya Steven yang sedari tadi mengawasi mereka pun ikut mendengar perkataan Rania dengan sangat jelas sampai tangan lelaki itu bergetar lalu dengan cepat ia pergi dari sana.


"Ran ka ka kamu hamil." ucap Robert dengan terbata dan suara bergetar.


"Iya dan ini anak sahabatmu itu, dia berjanji ingin menikahiku secepatnya dan dari itu kami melakukannya tanpa pengaman berharap aku segera hamil." ucapnya tak mampu lagi meneruskan perkataannya.


"Tapi Stev memutuskan hubungan kami, dia menjalin hubungan dengan wanita lain dan bercumbu didepan mataku dan kamu tau Robert siapa wanita itu?" Rania bertanya dengan tersenyum miris kepada Robert.


"Siapa Ran katakan." ucap Robert yang penasaran.


"Dia sahabat ku sendiri Sasa." mendengar itu Robert mengepalkan kedua telapak tangannya dengan penuh amarah.