Rania

Rania
36. Mengantar Rania Pulang



Setengah jam kemudian akhirnya Rania berhasil dibujuk. Biarpun masih dalam keadaan sedih tapi Rania sudah lebih baik daripada tadi. Mereka berempat turun ke lantai bawah untuk pergi kekampung Rania. Barang bawaan yang disiapkan Sisi di bawa oleh Davin. Sedangkan Sisi memegang Rania berjalan. Radit mengikutinya dari belakang. Sesampai di tempat parkir mobil Davin ternyata Rendi masih menunggu disana.


''Kamu udah ngak apa-apa antik'' sapa Rendi ketika melihat Rania dan yang lainnya sampai dimobil.


Rania hanya tersenyum sebentar melihat Rendi. Dia tidak bisa berkata apa-apa. Dia berhenti di hadapan Rendi tapi tatapannya tetap terlihat kosong.


''Kamu harus kuat menerima semua ini'' ucap Rendi lagi memberi semangat.


''Iya terima kasih tuan'' jawab Rania lemah.


''Maaf aku tidak bisa ikut mengantar kamu'' kata Rendi sedih.


''Iya ngak apa-apa tuan'' jawab Rania sambil masuk kedalam mobil setelah pintu mobil di bukakan Radit.


''Titip antik ya kak'' ucap Rendi sambil melihat ke arah Radit. Berat rasanya dia mengucapkan kata-kata itu kepada Radit. Tapi dia tidak boleh mengedepankan egonya dalam keadaan sekarang.


''Tanpa kamu suruhpun aku akan menjaganya'' jawab Radit tegas. Ada rasa tidak suka mendengar kata titip dari Rendi seolah Rania adalah miliknya.


Rendi terkejut memdengar jawaban Radit. Tapi dia tahu kalau sifat kakaknya memang seperti itu.


''Oh ya kamu jangan lupa selesaikan semua pekerjaan selama kami pergi'' kata Radit lagi.


''Iya kak'' jawab Rendi tidak semangat. Karna dia tidak bisa mengantar Rania.


''Ya udah kami pergi dulu'' kata Radit sambil masuk kedalam mobil. Dia duduk didepan samping Davin yang duduk di kursi mengemudi.


''Iya, kamu yang semangat antik'' ucap Rendi sebelum pintu mobil ditutup. Rania hanya tersenyum berusaha tegar mendengar ucapan Rendi.


Mobil melaju meninggalkan apartemen. Rendi masih berdiri disana sampai mobil Davin benar-benar menghilang dari pandangannya.


Sementara itu diatas mobil semua orang larut dengan pikiran masing-masing. Sisi duduk disamping Rania. Mereka duduk dikursi belakang sopir. Dilihatnya Rania masih duduk dengan diam. Sekali-kali air matanya masih keluar. Keadaannya benar-benar berantakan. Dia menyandarkan kepalanya dipundak Sisi. Sekarang hanya itu yang ingin dilakukannya. Dia mencoba memejamkan mata tapi bayangan bundanya selalu menghampiri.


''Kamu harus sabar ya Ran. Bunda pasti bahagia kalau kamu tetap kuat. Dia juga tidak ingin melihat kamu seperti ini'' hibur Sisi sambil mengusap kepala Rania. Sebenarnya hati Sisi tidak kalah sedihnya dengan Rania. Tapi kalau dia tidak tegar siapa lagi yang akan menghibur sahabatnya itu.


Radit dan Davin hanya bisa diam mendengar ucapan Sisi. Mereka berdua juga ikut merasakan kesedihan Rania. Tapi yang penting sekarang mengantar Rania sampai kekampungnya.


''Bagaimana cara untuk menghiburmu lagi Rania. Aku sungguh tidak tega melihat kamu yang seperti ini. Kamu yang selama ini terlihat tenang dan sekuat karang. Sekarang malah terlihat seperti telur yang langsung pecah bila terjatuh. Kenapa hati ini terasa sangat sakit melihat kamu seperti itu. Entah sejak kapan hati ini sudah menjadi milikmu'' batin Radit sedih.


''Kita gantian aja bawa mobilnya sampai ke rumah Rania ya Vin'' ucap Radit sama Davin.


''Oh ya Si. Apa Rania sudah makan?'' tanya Radit sambil melihat Sisi ke arah belakang.


''Belum kak, Rania mendapatkan kabar pas kami mau makan. Jadi dia tidak sempat makan'' jawab Sisi.


''Gimana kalau kita beli makan untuk Rania dulu'' kata Radit.


''Ya gue setuju'' ucap Davin.


''Ngak usah pak, kita langsung saja pulang. Saya lagi tidak pengen makan. Yang saya inginkan cepat sampai dirumah'' jawab Rania lemas bahkan suaranya setengah terdengar.


''Tapi kamu harus makan, biar kamu ada tenaga'' bujuk Radit lagi.


''Saya tidak ingin makan, mohon jangan paksa saya, hiks hiks'' kata Rania kembali menangis.


Radit yang melihat Rania kembali menangis terisak-isak. Tidak bisa berbuat apa-apa. Dia tidak mau memaksa Rania lagi. Davin yang mendengar pun hanya bisa diam. Sekarang yang paling penting membuat Rania tenang.


''Ya udah saya tidak akan paksa kamu. Tapi kamu berhenti menangis. Tolong beri dia minum Si, biar dia agak tenang'' kata Radit cemas.


Sisi mengambil air mineral dan memberikannya sama Rania. Rania meminum air sedikit saja. Seluruh tenaganya seolah hilang. Badannya tidak berdaya lagi dia menyandarkan kepalanya kembali di pundak Sisi.


Sepanjang perjalanan mereka hanya bisa diam. Radit tidak bisa tidur biarpun dia mencoba memejamkan matanya. Begitu juga denga Sisi, dia hanya menyadarkan kepalanya di sandaran kursi. Sedangkan Rania masih meletakan kepalanya di pundak Sisi. Kemudian Radit mengantikan Davin menyetir, karna Davin sudah menyetir Setengah perjalanan.


Malam semakin larut ketika memasuki jalan kecil menuju kampung Rania. Davin mengantikan Radit , sebab Radit belum pernah kesana sedangkan Davin sudah pernah waktu pergi mengunjungi Sisi ketika dia tinggal disana dulu.


Jam setengah dua dini hari mereka sampai dirumah Rania. Karna hari sudah larut malam terlihat beberapa orang duduk didepan rumahnya. Sebuah tenda berdiri didepan rumah sederhana itu. Dan ada bendera tanda berduka di letakan di depan pagar.


Mobil mereka berhenti tepat didepan pagar rumah Rania. Semua orang melihat kearah mobil mewah yang berhenti. Terlihat Angga dan paman Rania keluar dari dalam rumah. Mereka berjalan ke arah mobil. Rania keluar dari dalam mobil diikuti Radit,Davin dan Sisi. Rania berdiri menatap rumahnya. Satu setengah bulan yang lalu dia meninggalkan rumah ini di iringi tangis bundanya sekarang dia kembali tanpa bunda menyambutnya. Hanya air matanya yang mengiringi kedatangan.


''Nak...'' kata paman Rania ketika melihat Rania berdiri mematung didepan pagar. Lidahnya terasa keluh melihat kondisi Rania. Dia langsung memeluk Rania. Tangis Rania pun pecah didalam pelukan pamannya.


''Apa yang terjadi sama bunda paman. Hiks hiks. Kenapa paman tidak mengangkat telepon Rania selama ini hiks hiks. Kenapa paman kenapaaaa? Hiks hiks'' Rania menangis sekuat tenaganya yang tersisa.


''Maaf kan paman nak, kamu boleh marah, kamu boleh memukul paman sekarang'' jawab paman Rendra sambil mengeratkan peluknya sama Rania. Rania terus menangis di pelukan pamannya sampai suaranya tidak keluar lagi. Radit dan Davin yang melihat hanya bisa menahan air matanya. Sedangkan Sisi ikut menangis dipelukan Davin.


''Kak...'' kata Angga yang berdiri dibelakang paman Rendra. Dia tidak bisa manahan air matanya melihat Rania menangis. Rania melihat Angga melepaskan pelukan dari pamannya. Dia menghampiri Angga dan memeluknya. Mereka berdua sama-sama menangis.


Paman Rendra mengajak Rania dan yang lainnya masuk kedalam rumah. Angga memapah kakaknya untuk masuk. sedangkan Radit dan yang lainnya mengikuti di belakang mereka.