
Andi berpura-pura jatuh pingsan. Penjaga yang mengawasinya di depan pintu pun segera mendekat. Ia mengecek keadaan Andi lalu meraih handy talkie dan berbicara dengan temannya. Hal itu digunakan Andi untuk menyerang si penjaga.
Jangan lupa, Andi juga jago bela diri. Dia sempat mempelajari teknik karate dan pelumpuhan saraf. Ia segera bangun dan melingkarkan lengannya ke leher si penjaga dari belakang. Kemudian menariknya dan menekan dengan kuat ke belakang hingga si penjaga tercekik. Setelah dirasa cukup, Andi memutar kepala si penjaga dan menekan saraf pelumpuhan di bagian tengkuk leher
Si penjaga lemah dan pingsan, mungkin untuk beberapa saat. Andi harus cepat menghubungi Wasabi, Joy atau siapapun untuk menyelamatkan ibunya. Ia juga akan menghubungi Virus. Namun sebelumnya, Andi menghapus sistem retas yang dimiliki Mafia tersebut.
"Joy, Wasabi atau Inspektur Hendra ku harap kalian dapat menolong ibuku," gumam Andi
"SOS, Ibu dalam bahaya," pesan di kirim. Andi mengirim sinyal lewat jam tangan Wasabi, buatan Andi yang tidak bisa terdeteksi atau diretas.
"Virus mereka mengetahui keberadaan mu, pergilah secepatnya," pesan Andi ia kirimkan pada Virus, Diego, Valeria, Moza, Chris dan Rachel
*
*
Di lain sisi, Joy yang memakai jam tangan Wasabi merasakan getaran.
"Sayang jam tangan mu bergetar," ucap Joy tiba-tiba.
"Bahaya, kemari kan Joy," pinta Wasabi
"Bahaya? Siapa yang dalam bahaya?" Tanya Joy seraya memberikan jam tangan canggihnya untuk Wasabi.
Wasabi mengambil jam tangan itu, kemudian menggelengkan kepalanya. Ia bangun dan berusaha untuk duduk dengan sedikit sakit.
"Aku harus membaca sinyal lampu yang berkedip ini, sebentar," ucap Wasabi yang terus mengamati lampu sinyal yang berkedip pada jamnya sembari menerjemahkan bahasa sandi. (Itulah perlunya Pramuka gaes)
"Ibunya Andi dalam bahaya Joy, Aku harus ke rumahnya," ucap Wasabi yang nekat ingin menolong Dina, ibunya Andi
"Tapi kau baru saja sadar dan masih belum stabil," ucap Joy yang tidak ingin Wasabi terluka
"Aku harus kesana sayang," Wasabi mencopot alat-alat medis yang menempel di badannya. Juga selang infus, ia menariknya dengan hati-hati.
"Sayang tolong dengarkan aku, jangan pergi...kau bisa menyuruh polisi kan, apa gunanya mereka?" ucap Joy
Wasabi turun dari ranjang dan berusaha berdiri meskipun sedikit sempoyongan. Ia mendekati Joy, meraih rahangnya dengan kedua tangannya. Lalu meyakinkan istrinya itu.
"Dengar Joy, aku janji kali ini aku kan berhati-hati. Kau hubungi polisi-polisi itu dan aku akan menyelamatkan Ibunya Andi. Dia tak hanya temanku, dia keluarga ku. Aku harus pergi, aku mencintaimu," ucap Wasabi yang diakhiri dengan ciuman.
Whuuus
Wasabi yang masih memakai baju pasien itu pun menghilang dari pandangan Joy. Joy menurut dan segera menghubungi polisi.
Cling
Wasabi tiba di kediaman orang tua Andi. Ia memakai kekuatan tak kasat mata sehingga tidak ada orang yang melihatnya. Wasabi harus cepat menyelamatkan sebelum kekuatannya menghilang karena kondisi tubuh yang lemah.
"Itu dia Nyonya Dina, astaga ada bom. Aku harus mematikan bom itu," ucap Wasabi kemudian mendekati Nyonya Dina
Dina merasakan ada seseorang di dekatnya ia pun langsung menerka jika orang itu adalah Wasabi, "Wasabi kau kah itu?" Bisik Nyonya Dina
"Ssstt diamlah aku akan mengambil bom yang ada di pinggang mu,"
Nyonya Dina kemudian menurut dan diam seakan-akan tidak akan terjadi apa-apa. Wasabi membuka ikatan tali kaki dan tangan Nyonya Dina. Saat Wasabi ingin melepaskan bom itu dari tubuhnya, ia pun berkata dengan lemas.
"Sial bom ini tidak bisa dilepaskan dari tubuh mu, banyak kabel yang melingkarinya. Nyonya kau tenang ya, jika begitu aku akan mematikan waktunya terlebih dahulu," ujar Wasabi
Wasabi berusaha mematikan bom waktu namun ternyata kekuatannya tiba-tiba menghilang dan wujudnya pun menjadi terlihat.
Si Bodyguard yang ada disana segera menodongkan pistolnya ke arah Wasabi. Wasabi memutar badannya seraya meraih pistol dengan memutar pergelangan tangan si bodyguard.
Ia juga menghantamkan tinjunya bertubi-tubi ke tubuh bodyguard itu. Tak berapa lama bodyguard yang lain datang menyusul dan menembaki Wasabi.
Wasabi menghindar dengan napas yang tersengal-sengal, pasalnya dirinya belum pulih benar. Nyonya Dina menutup telinganya dan bersembunyi dibawah meja seraya menangis. Pasalnya bom waktu masih melekat ditubuhnya. Rumahnya berantakan karena tembakan dan perkelahian yang terjadi.
Peluru si Bodyguard habis dan mereka pun akan menghajar Wasabi dengan tangan kosong. Sementara dalam posisi terjepit Wasabi masih sempat mengambil teko yang ada di meja dan meminumnya langsung. Tak lupa dia meraih pisau buah di meja makan tersebut. (Minum biar ada sedikit tenaga untuk teleportasi)
Dalam kondisinya yang lemah ia tak mungkin menyerang bodyguard berbadan besar melebihi dirinya. Wasabi mendekati Nyonya Dina meraih tangannya dan segera menghilang dari rumah itu dengan teleportasi terakhir. Entah Wasabi mendarat kemana, ia pun tak tahu.
Whuuus
"Baguslah sekarang kita di tepi pantai," ucap Wasabi
"Seharusnya kita ke kantor polisi, aku sungguh takut. Bagaimana jika bom ini meledak?" ucap Nyonya Dina yang panik setengah mati.
"Tenanglah, aku akan berkonsentrasi untuk memutus kabel ini," ucap Wasabi.
Pria itu membuka karet pembungkus warna biru, kuning dan merah untuk melihat kabel mana yang harus di potong. Biasanya kalau di film-film yang dipotong adalah kabel merah. Tetapi kembali lagi melihat keadaan sebenarnya. Isi kabel berwarna biru berbeda dengan yang lain. Dengan ucapan Bismillah Wasabi pun memotong kabelnya.
"Bismillahirrahmanirrahim," gumam Wasabi lalu memotong kabelnya, sementara nyonya Dina memejamkan matanya dan menahan isak tangisnya.
Tak berapa lama, bunyi bom berhenti bersamaan dengan waktu yang berjalan di layar. Wasabi segera melepaskan ikatan bom yang melingkar di tubuh nyonya Dina dan membuangnya jauh ke pantai.
"Haha syukurlah nyonya kita selamat," ucap Wasabi
"Alhamdulillah ya Allah, hiks... terimakasih Wasabi. Sekarang kita ke kantor polisi. Aku takut benar-benar takut," ucap Nyonya Dina yang langsung memeluk Wasabi
(Uuh modus peluk-peluk 😝)
Wasabi hanya tertawa kecil dan mereka pun berjalan menuju kantor polisi. Wasabi tak bisa berteleportasi lagi. Keadaannya masih lemah dan belum stabil.
*
*
*
Pagi berganti siang, saat mereka semua tengah makan siang. Virus baru menyadari ponselnya di bawa Moza semalam. Dan wanita itu menghabiskan baterainya.
"Sayang, mana ponselku?" Tanya Virus pada Moza
"Astaga aku lupa mengembalikannya. Ada di kamar atas tadi sedang ku charge, maaf ya sayang,"
"Kau jangan terlalu lama menchargenya itu bisa membuat baterai ponsel menggembung," ucap Diego
"Tak apa, ponselku canggih. Jika daya sudah terisi penuh maka dia otomatis tidak akan menerima daya lagi. Jadi aman, cocok orang pelupa seperti Moza hahaha," jelas Virus
"Wuah bener cocok buatku, kalau begitu kita tukeran ponsel ya," ucap Moza
"Banyak data disitu, kau ku belikan saja yang baru," tolak Virus
"Hemm memangnya data apa saja, aku lihat tidak ada apapun disana,"
"Aku sembunyikan, banyak foto wanita seksi disana haha," canda Virus kemudian langsung mendapat cubitan di perut dari Moza
"Ahh sakit, tapi tidak perih hehe," ucap Virus kemudian meminum air dalam gelasnya
"Untuk apa kau lihat wanita lain, kau bisa lihat Moza langsung Vir, itupun jika Moza mau haha," ucap Diego
Virus yang mendengarnya pun terbatuk-batuk. Seketika bayangan bonus yang pernah ia dapatkan kembali datang diingatkannya.
""Hemm aku harus memberikan ucapan selamat untuk Diego," Ucap Virus mengalihkan pembicaraan.
"Selamat? For what?" Tanya Diego tak mengerti. Dia baru saja menyelesaikan makan siangnya dan sedang minum air putih.
"Karena ide brilian mu, keuntungan perusahaan mengalami kenaikan yang sangat drastis. Jika itu dipertahankan maka kau akan bisa membuka cabang lagi," ucap Virus
"Benarkah?" Tanya Chris
"Ya, itu benar aku tak salah memilihnya sebagai pimpinan di perusahaan itu," sahut Virus
"Kau hebat sayang," puji Valeria pada Diego dan mereka berciuman di meja makan itu.
Tak berapa lama semua orang mendapatkan notifikasi pesan, kecuali Virus. Ponselnya ada di atas kamar. Semuanya saling berpandangan kenapa notif itu datang serentak bersamaan.
Semuanya membukanya pesan.
"Virus mereka mengetahui keberadaan mu, pergilah secepatnya," Valeria membacanya dengan keras. Sementara yang lain juga mendapatkan pesan yang sama dari nomor tak dikenal.
"Itu pasti pesan dari Andi, selesaikan makan kalian dan sembunyi di ruang bawah tanah," ujar Virus
"Kenapa di ruang bawah tanah, kenapa kita tidak lari saja?" ucap Diego.
"Itu tempat teraman Diego. Sementara kalian dibawah sana, aku akan tenang dan aku akan mengurusnya dengan anak buahku," ucap Virus yang mengeluarkan semua senjatanya di balik dinding rahasia dekat ruang makan.
Dengan menekan tombol rahasia, dinding itu terbuka lebar dan memperlihatkan beberapa senjata dan senapan panjang lengkap dengan amunisinya. Diego terkesima dan langsung mendekat, disusul Valeria dan yang lain.
"Kalian bawa pistol ini satu per satu. Diego ambil beberapa granat ini," ucap Virus memberikan senjata itu pada Diego dan Diego memberikannya pada Valeria. Hingga berakhir di tangan Chris dan Rachel.
"Aku tidak tahu cara menembak," ucap Rachel
"Nanti ku ajari, jika kau tidak tahu maka bersembunyilah di belakangku ucap Chris
Valeria tersenyum melihat kedekatan Ayahnya dan Ibu mertuanya. Setelah semuanya mendapatkan senjata. Mereka bersembunyi di ruang bawah tanah. Tak lupa mereka membawa bahan-bahan makanan dan minuman serta beberapa pakaian dan selimut. Dibawah ada beberapa kasur lipat dan mereka bisa memakainya.
Virus membuka akses ke ruang bawah tanah setelah semuanya masuk, ia pun melangkah pergi.
"Virus, berhati-hati lah," seru Moza dari kejauhan.
Virus berbalik dan mendekatinya untuk sebuah ciuman.
"Iya, aku akan berhati-hati. Jangan keluar dari sini apapun keadaannya. Aku akan kembali untukmu," ucap Virus menyatukan keningnya dengan kening Moza.
*
*
Disisi lain, Andi memakai baju penjaga yang tadi ia lumpuhkan. Sementara si penjaga itu memakai pakaian miliknya dan mendudukkannya di kursi lalu meletakkan kepalanya di meja. Seakan-akan penjaga itu adalah Andi yang sedang tidur.
Tak lupa sebelumnya Andi meretas kamera dan mengambil rekaman lain. Sehingga Andi dengan mudah berjalan melewati CCTV. Baju dan jas penjaga yang Andi gunakan sedikit kebesaran, tetapi untunglah celana itu slimfit sehingga muat untuknya. Kacamata yang dipakai juga bisa membuatnya keluar dari tempat itu dengan mudah.
Andi berpapasan dengan teman penjaga, pria itu berjalan sedikit cepat agar terhindar tetapi penjaga lain memanggilnya.
"Hey kau mau kemana, siapa yang menjaga IT itu?" Ucap Bow teman si penjaga pada Andi
"Aku ingin buang air besar, kau gantikan dulu ya," ucap Andi dengan nada suara di barat-baratkan.
Tetapi Bow menaruh curiga
"Lepaskan kacamata mu," perintah Bow
"Buset gimana nih kalo ketahuan," batin Andi