
Ditengah perjalanan Andi baru teringat jika saat ini di Jakarta pukul 02:00 pagi. Sementara di Nevada masih jam 09.00 pagi. Di Jakarta 16 jam lebih cepat dari Las Vegas. Andi pun ingin memarahi Emi yang suka tidur bergadang seperti itu.
"Aku tidak terpikir jam disana. Awas saja, begitu sampai aku akan menelepon dan memarahinya. Huh anak itu susah diberitahu, bang haji Rhoma saja sudah memperingatkan kita untuk tidak begadang," gumam Andi.
Ketika ia menyebut artis favoritnya yang melegenda itu, Andi malah ingin menyanyikan lagu kondang artis tersebut, saat itu juga.
'Begadang jangan begadang. Kalau tiada artinya. Begadang boleh saja. Kalau ada perlunya. Kalau terlalu banyak begadang. Muka pucat karena darah berkurang. Bila sering kena angin malam. Segala penyakit akan mudah datang. Darilah itu sayangi badan. Jangan begadang setiap malam...," Andi dengan riang bernyanyi tanpa pedulikan orang-orang Amerika yang duduk disana. Beberapa orang bahkan ikut menggoyangkan pundaknya.
Setelah satu lagu habis, Andi mendapatkan tepuk tangan dari para penumpang disana. Konyol memang tapi begitulah Andi tidak tahu malu.
"Lagu yang bagus, saya suka," puji salah satu penumpang yang duduk di kursi depan Andi.
"Yeah itu lagu sepertinya saya pernah mendengar, tapi dimana saya lupa," ujar pengunjung yang lain.
Dengan bangga Andi mempromosikan lagu Rhoma Irama pada mereka disana bahkan tak segan-segan Andi menyuruh mereka mencari lagu itu di YouTube. Virus hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Andi yang pandai bergaul dengan orang Amerika.
28 jam berlalu, tanpa terasa mereka telah tiba di bandar udara I Gusti Ngurah Rai, Bali. Perjalanan cukup lama karena ada sedikit masalah pada pesawat. Virus dan Andi turun menuju pintu cek out. Andi sibuk dengan ponselnya, karena dia belum bertemu, dengan orang dari jasa rental mobil yang sudah ia
pesan sebelumnya.
Pukul 06:00 pagi, tetapi terlihat cuaca sangat terang. Virus mencari mesin ATM, pria itu tidak menukarkan uang dollarnya menjadi rupiah karena ia memiliki tabungan di Indonesia.
Selesai mengambil uangnya, Virus keluar dari bilik ATM. Ada yang mengawasinya dari kejauhan. Kemudian seseorang berlari terburu-buru dan menabrak Virus.
"Sorry, sir," ucap Pemuda itu sembari melangkah keluar Bandara.
"No problem it's okay," balas Virus, Andi yang melihat itu segera berkata, "Periksa saku mu, aku takut dia akan mencuri dompetmu," seru Andi sembari terus berusaha menelepon pemilik jasa rental mobil. Virus segera mengecek saku celananya.
"Shiit, dia mengambil dompet ku," Seru Virus kemudian melemparkan tasnya pada Andi begitu saja, untuk saja Andi dengan tangkas menangkap tas ransel milik Bosnya. Virus pun segera berlari mengejar pemuda yang menabraknya barusan.
Pemuda yang menabrak Virus tadi berjalan santai menuju gang kecil dekat Bandara. Dua temannya telah menunggu disana, pria itu pun melayangkan senyum dan acungan jempol pertanda jika dirinya berhasil melakukan aksi copetnya.
"Sukses besar ni, dapat dompet orang barat. Orang Amerika guys," seru si pemuda dengan bahasa Bali dan logat yang khas dan membubuhi kata sapaan keinggris-inggrisan.
"Wah kelas kakap, bisa pesta kita," balas temannya yang juga berbicara dengan bahasa daerah Bali.
"Kalau begitu Aku boleh ikut ke pesta kalian kan?" Sahut Virus dari arah belakang yang juga berbicara bahasa daerah Bali.
Sangat fasih bahkan hampir sempurna. Virus bisa mengucapkan huruf R dengan sangat jelas, tentu saja karena Virus pernah tinggal di Bali dan dia tidak pernah melupakan asal-usulnya meskipun ada kenangan menyakitkan untuknya.
"Beh, beli itu orang barat, yang kamu curi dompetnya, apa bukan?" Bisik teman pemuda yang satu lagi.
Pemuda berjaket kulit warna hitam yang menabrak Virus pun mengiyakan dengan menganggukkan kepalanya.
"Tatapannya menakutkan, dia juga berbadan besar, beh udah pasti kalah ini. Lihat aja body nya kelihatan ototnya," bisik temannya yang bertubuh kurus.
Pemuda yang mencuri itu pun mengeluarkan benda kecil yang sangat tajam dari balik saku jaketnya. Virus mendekat berjalan perlahan, dia sangat santai menghadapi tiga bocah remaja yang berdiri ketakutan.
Setelah Virus sedikit berada diatas, ia pun melayangkan kaki jenjangnya ke kepala pria kurus hingga jatuh tersungkur dan secara bersamaan kaki kanannya menendang wajah temannya dari depan. Kemudian Virus menghentakkan kakinya pada dinding dan membuat gerakan salto.
Virus kini kembali berada dihadapan pemudi pencuri itu. Kedua temannya terjatuh hanya dengan sekali tendangan. Melihat kedua temannya dihajar sampai pingsan, pemuda itu bukan ketakutan namun ia semakin menantang Virus.
"Sini kalau berani, hadapi aku," tantang pemuda itu.
Si pemuda berlari kearah Virus seraya memegang pisau kecil yang di arahkan pada Virus.
"Hiiiaaatt rasakan ini," teriaknya seraya menusuk-nusukan pisau kecil itu ke arah perut Virus. Pria itu mengelak dengan memundurkan langkahnya.
Kemudian ia melayangkan pisau kecil itu secara menyilang ke arah Virus. Virus terus mengelak ke kanan dan ke kiri. kemudian ia mengambil lengan si pencuri dan dengan cepat ia membengkokkan tangan itu agar si pencuri menjatuhkan senjatanya.
"Ahhh," teriak si pencopet itu.
Virus belum melepaskan lengan pria itu, membelakanginya . dan menyikut wajahnya kemudian dengan cepat ia menarik lengan Pria itu agar naik ke punggungnya. Virus mengangkat dan menjatuhkannya hingga pria itu jatuh terlentang.
Si pencopet tadi merintih kesakitan pada bagian punggung dan tulang ekornya. Virus menginjak dada si pencopet seraya berkata.
"Berikan dompet ku," ucap Virus dengan bahasa Indonesia yang fasih.
Si pencopet merogoh saku celananya dan memberikannya pada Virus dengan tangan gemetar dan napas tersengal-sengal.
Virus mengambil dompetnya kemudian mengeluarkan uang satu juta rupiah dan melemparkannya pada si pencopet
"Untuk biaya luka mu dan dua temanmu. Dan berhentilah menjadi pencopet," ucap Virus kemudian pergi meninggalkan pemuda itu.
Si pemuda beranjak duduk dan memunguti yang kertas seratus ribuan sebanyak sepuluh lembar. Dan membuat pria itu berpikir kembali akan kesalahannya.
Virus pernah berada di posisi dimana dia tidak memiliki uang sepeser pun. Ia tidak berani mencopet atau mengemis karena tubuhnya masih sangat sanggup untuk bekerja. Virus juga tidak menghajar tiga pemuda itu dengan keras, karena tubuh mereka sangat kecil dan kurus. Jika Virus mengeluarkan seluruh kekuatannya bisa-bisa mereka mati saat itu juga.
Virus kembali ke Bandara dengan berjalan santai, ia kembali ke tempat dimana saat ia kecopetan tadi. Namun tidak ada Andi disana, matanya terus menelusuri Bandara.
Terlihat dari kejauhan di tempat parkir, Andi sedang melambai-lambaikan tangannya dan berteriak meskipun Virus tak bisa mendengar teriakan Andi. Rupanya mobil yang Virus sewa untuk beberapa hari, sudah diantar ke Bandara.
"Bagaimana? Kau sudah menghajar pencopet itu?" Tanya Andi ketika Virus sudah berada didekatnya.
"Ya, mereka bertiga dan bergantian melakukan tugas copet di sekitar Bandara," jelas Virus sembari masuk ke dalam mobil
"Kau yang menyetir, kita ke desa Karangasem," sahut Virus kembali berbicara bahasa Inggris.
"Tidak bisakah kau berbicara bahasa Indonesia? Aku belum mengaktifkan alat penterjemah ku," ucap Andi yang ternyata selama ini memakai alat penterjemah.
Andi bisa lancar berbicara bahasa Inggris namun ia kurang ahli dalam mendengar bahasa Inggris. Pengucapan itu terlihat sama baginya. Sehingga ia butuh alat penterjemah secara otomatis, tentu saja alat itu adalah hasil karyanya.
"Haha oke aku akan berbahasa Indonesia tapi jika aku sedikit lupa tolong koreksi,"