My Name Is Virus

My Name Is Virus
Be Cool



Virus telah sampai duluan di depan rumah Valeria. Sedangkan Diego masih tertinggal jauh di belakang.


"Tidak terasa ya kita udah sampai," ucap Virus pada Valeria.


"Iya. Hemm...Virus...terimakasih untuk semua kebaikanmu, kau Virus yang baik hehe," ucap Valeria kemudian ia sengaja tertawa kecil untuk mengubah suasana yang sangat-sangat canggung.


"Ya sama-sama," jawab Virus singkat.


"Kalau begitu aku turun, bye," ucap Valeria yang enggan turun. Ia masih berharap Virus memanggilnya dan menerimanya kemudian menjalin hubungan yang lebih dalam. Namun sepertinya sikap Virus jauh dari harapannya.


Valeria meraih kenop pintu mobil dan bersiap turun lalu terdengar suara pria memanggilnya.


"Valeria..." panggil Virus


"Iya," Valeria berbalik menatap Virus kemudian melepaskan tangannya dari kenop pintu.


Virus menatap Valeria lekat, wanita itu berpikir jika Virus akan meralat ucapannya.


"Aku...juga berterimakasih padamu. Aku tidak pernah menyalahkan takdir atas pertemuan kita. Karena pertemuan ku dengan mu, membuat ku mengambil langkah besar dalam hidup ku. Karena mu, aku berhenti menjadi pembunuh bayaran. Aku ingin berubah menjadi Virus yang baik. Dan karena mu juga aku sempat merasakan apa itu cinta meskipun pada akhirnya tidak seindah yang aku bayangkan, Thanks," ucap Virus yang masih memandangi Valeria.


Ia akui wanita itu cantik sangat cantik. Tetapi entah kenapa hatinya kini berlabuh di tempat lain yang tak pernah ia sangka.


Mendengar ucapan Virus membuat Valeria tersenyum yang sebenarnya menertawakan dirinya sendiri, menertawakan kebodohan yang berakhir penyesalan.


"Sama-sama, berarti kita impas hehe," ucap Valeria yang sebenarnya tidak ada makna candaan disana. Tetapi di jawab anggukan oleh Virus.


"Oh ya, aku boleh minta sesuatu," pinta Valeria


"Minta apa?" Tanya Virus


"Aku ingin mengambil foto kita, kau dan aku. Kau tidak keberatan kan?" Tanya Valeria


"Jangan, sebaiknya tidak usah. Aku tidak biasa difoto," ucap Virus


"Ayolah, hanya untuk kenang-kenangan, hanya sebuah foto," rayu Valeria, Virus berpikir sebentar akhirnya ia pun memperbolehkan.


"Baiklah tapi jangan kau apa-apa kan fotoku," ujar Virus


"Tenang saja, aman kok," janji Valeria.


Wanita itu langsung mengarahkan ponselnya dihadapan mereka. Valeria merasa mereka kurang dekat, ia pun menyandarkan kepalanya di bahu Virus. Kemudian memfotonya dengan cepat. Sebelum Virus memundurkan dirinya, benar saja pria itu segera menjauh.


"Virus kau membuat hasil fotonya bergerak," ujar Valeria sedikit berbohong. Sebenarnya ia telah menangkap hasil yang sangat bagus.


"Sudah, kau sudah mendapatkannya bukan?" Jawab Virus


"Sekali lagi, please...kita teman kan?" rayu Valeria lagi.


"Sekali lagi tapi jangan dekat-dekat," ujar pria itu dan dijawab anggukan kepala oleh Valeria.


Mereka pun berselfie sekali lagi.


"Sudah cukup terimakasih ya, sekali lagi terimakasih," ucap Valeria kemudian wanita itu turun seraya tersenyum miring. Tersirat niat jahat yang terlukis dari wajahnya.


Virus memundurkan mobilnya kemudian pergi begitu saja, sementara Diego baru saja sampai. Diego segera memarkirkan motor Valeria didepan rumahnya dan memanggil Virus.


"Hey, Virus...kau meninggalkan aku," pekiknya.


Virus melihat Diego yang melambai dari kaca spion dalam mobilnya, "Astaga aku melupakan Diego haha,"


Virus pun mundur dengan kecepatan kencang dan hampir saja menabrak Diego jika dia tak mengerem dengan cepat.


Ckiiiiit


"Kau ingin membunuhku?" Ucap Diego kesal


"Sorry, haha, masuklah," teriak Virus dari kaca mobilnya.


"Valeria aku pulang ya, kunci mu masih menempel di motor," pamit Diego yang dijawab senyuman serta anggukan kecil. Pria itu segera berlari kecil masuk kedalam mobil.


"Diego Diego, andai saja kau bukan kakak dari Moza. Aku pasti akan terus mengejar mu," gumam Valeria.


"Aku yakin Moza pasti akan semakin mengejar Virus jika ia tahu pria itu tak mendekati aku lagi. Hah aku harus memposting fotoku dengannya di status media sosial ku, dengan begitu Moza akan melepaskan Virus dan mencari pria lain," gumam Valeria seraya memainkan ponselnya. Wanita itu memposting dirinya yang bersandar di bahu Virus dengan caption 'My Love....kita serasi kan?'


Send


Beberapa menit setelah foto itu terkirim semua teman yang mengikuti akun media sosialnya langsung mengomentari foto itu. Bagaimana tidak Valeria selalu terlihat cantik di media sosialnya, ditambah pria yang bernama Virus itu sangat tampan.


Beberapa diantara temannya berkomentar 'Pacar barumu ya?', 'Wah tampan banget, serasi banget sama kamu Vale' , 'Pasangan sempurna, cantik dan tampan' . Valeria tertawa melihat komentar teman-temannya. Meski Moza tidak berteman di akun media sosial Valeria pasti dia mendengar dengan teman-temannya yang dulu terutama yang suka menyebarkan gosip.


"Hey Moza, kau harus lihat ini. Valeria sudah dapat pacar tampan, kau jangan mau kalah dengannya," sebuah pesan dari Jessie teman masa SMA yang masih berkomunikasi dengannya sampai sekarang.


Moza membuka pesan dan melihat Valeria dengan Virus foto bersama. Melihat itu membuat Moza panas.


"Huh dia memintaku untuk memasak untuknya tapi bermesraan dengan yang lain. Kenapa tidak minta dia saja yang membuatkan. Mulai sekarang aku tidak peduli lagi padamu, terserah kau mau kelaparan aku bukan siapa-siapa mu," gumam Moza


Moza lantas menghubungi Gio. Pria itu mengajak Moza ke pesta ulang tahun salah satu teman kuliahnya, sekalian reuni kecil. Tadinya Moza menolak lantaran jam pesta yang terlampau malam, namun ia akhirnya menyetujui karena ingin melupakan masalah cintanya.


"Gio, nanti malam aku jadi ikut," pesan Moza pada Gio


"Baiklah aku akan menjemputmu tepat pukul 10.00 malam oke sayang," balas Gio lewat pesan di ponselnya.


Moza sebenarnya malas berteman dengan Gio, pria itu selalu memanggil sayang terhadap teman wanitanya. Tetapi sebenarnya Gio baik. Gio pernah menyatakan cintanya pada Moza tetapi Moza menolaknya terlebih lagi Diego yang selalu mengusir pria itu jika main kerumahnya.


"Semoga saja saat Gio kesini kakak sedang tak ada disini," gumam Moza.


Setelah mandi dan makan siang, wanita itu terlelap tidur melepaskan lelahnya dari perjalanan panjang. Hal yang serupa terjadi pada tiga pria yang ada di basecamp. Andi, Diego dan Virus tidur siang setelah menyantap makan siang mereka.


Namun Virus tidak ikut makan, dia hanya ingin makan makanan yang dibikin Moza. Pria itu seperti wanita yang sedang hamil muda dan mengidamkan sesuatu. Atau jangan-jangan Virus sudah terkena pelet masakan Moza yang luar biasa enak baginya. Siang ini pun ia berpuasa menahan rasa laparnya dan tidur dengan perut kosong.


Siang berganti malam, Diego kembali ke rumahnya di antar oleh Virus. Pria itu berniat makan malam dan menginap disana. Berharap Moza akan memasakkan makanan yang dia inginkan. Di dalam perjalanan pria itu berbincang santai.


"Tanyakan saja," jawab Virus


"Kau masih mencintai Valeria?" Tanya Diego to the point, karena sebenarnya ia menginginkan Virus menikah dengan adiknya.


"Kenapa kau bertanya itu, jangan-jangan kau sedang jatuh cinta padanya ya," goda Virus terkekeh kecil.


"Haha astaga aku bertanya serius, tidak aku tidak punya perasaan padanya. Dia cantik tapi mengerikan," jawab Diego dengan canda kecilnya.


"Ya Dia cantik, awalnya aku menaruh hati padanya. Tapi sekarang aku tidak memiliki perasaan padanya. Cinta itu aneh lebih sulit dari membunuh," ujar Virus


"Setelah ini apa rencana mu?" Tanya Diego


"Aku ingin kembali Indonesia, aku ingin menemui orang tua angkat ku,"


"Kau tidak ingin mencari tahu dahulu siapa ayah kandungmu?" Tanya Diego


"Dia tidak berada disisi ibuku saat dia dihujat banyak orang dan melahirkan sendirian. Apa dia layak disebut Ayahku? Dia hanya menyandang gelar Ayah biologis tetapi untuk kasih sayang terhadap keluarganya sendiri, nol persen. Untuk apa disebut Ayah?" ujar Virus yang tak akan menganggap ayah kandungnya jika kelak bertemu dengannya.


Sesampainya di rumah Diego, mereka menghamburkan diri ke meja makan dan tak ada makanan apapun disana.


"Diego kau sudah pulang? Ibu kira kau tak pulang," ucap Rachel dari kejauhan dan menyambut kedatangan Diego dengan kecupan di pipi.


"Hah ibu selalu melupakan aku, memangnya Moza tidak masak?" Tanya Diego.


"Dia baru saja bangun dan bersiap untuk ke pesta, tadi ibu masak sedikit untuk ku dan Moza saja jadinya sudah habis. Makan saja sereal atau bikin saja mie instan," jawab Rachel


"Hah pesta? Moza ke pesta siapa?" Tanya Virus yang sudah masuk dan duduk di ruang televisi.


"Katanya pesta ulang tahun teman kuliahnya dan sekaligus reuni kecil," sahut Rachel


"Virus kau mau mie atau sereal?" tawar Diego yang berniat membuatkan makan malam untuk Virus.


"Tidak aku tidak makan, terimakasih," jawab Virus


"Moza benar-benar tidak membuatkan aku makanan, apa dia marah?" batin Virus.


Diego membuat mie instan sendirian, aroma mie yang lezat membuat Virus tergugah namun ia enggan beranjak. Pria itu terus memandangi pintu kamar Moza yang sedari tadi tidak terbuka.


"Kau yakin tidak ingin mie ini? Siang tadi kau tidak makan, dan malam ini juga tidak makan? Kau puasa?" Tanya Diego seraya membawa semangkuk mie instan ke ruang televisi. Pria itu memakan mie instan dengan lahap dan sengaja menggoda Virus yang kelaparan.


"Nanti aku akan bikin sendiri jika mau," jawab Virus akhirnya.


Sembari memakan makanannya, Diego memperhatikan Virus yang sesekali memandangi pintu kamar Moza.


"Kau menunggu Moza keluar ya?" Terka Diego


"Tidak," jawab Virus malas


"Ketuk saja pintunya, jangan malu-malu," goda Diego dengan tawa kecilnya. Tetapi Virus hanya diam.


Diego selesai makan dan kembali ke kamarnya, ia mengajak Virus ke kamarnya tetapi pria itu menolak. Ia masih betah berada di ruang televisi yang dekat dengan kamar Moza.


Dua jam berlalu, tepat pukul 10.00. Moza membuka pintu kamarnya. Ada degupan kencang yang terdengar dari tubuh Virus.


Moza keluar dengan tampilan yang cantik dengan dress sedikit seksi membuat manik mata Virus terus menatapnya tanpa kedip. Sementara Moza melewati pria itu tanpa melihat kearahnya. Ini pembalasan Moza pada Virus yang selalu bersikap dingin padanya.


"Apa aku sudah berubah menjadi setan, kenapa dia tidak melihatku?" batin Virus.


Moza ke dapur untuk mengambil minum, Virus menyusulnya pria itu tiba-tiba sudah berada dibelakang Moza dan membuat Moza yang sedang minum tersentak ketika berbalik dan menangkap sosok Virus yang tiba-tiba dibelakangnya hingga wanita itu terbatuk-batuk


"Uhuk-uhuk, kau ini mengagetkan ku saja," cicit Moza


"Hehe Moz, aku belum makan," lirih Virus seperti meminta makan pada ibunya.


"Lalu? Aku bukan istrimu," ucap Moza dingin


"Kau bisa bikin mie instan, kalau kau malas membuatnya kau bisa beli di luar. Permisi, kau menghalangi jalanku," timpal Moza lagi dengan dinginnya dan sedikit ketus.


"Kau mau kemana malam begini? Aku antar ya?" Tawar Virus


"Tidak usah, Gio akan kemari menjemput ku," ucap Moza seraya melewati arah samping pria itu.


Mendengar nama Gio membuat Virus menghentikan langkah Moza. Ia menarik lengan Moza seraya berkata," Aku yang akan mengantar mu,"


"Lepas, ini sakit," ucap Moza


"Ini sudah malam, kau jangan keluar dengan orang asing," ucap Virus yang merasa jika dirinya bukan orang asing.


Moza terkekeh dibuatnya


"Lalu kau sendiri siapa? Kau juga pria asing, pria yang aneh yang tiba-tiba datang di keluarga ku dan seenaknya menginap dirumah ini saat Diego dipenjara karena mu," ucapan Moza membuat Virus terdiam.


Pria itu mengintrospeksi diri ya sendiri, memang betul apa yang dikatakan Moza. Dia pria asing yang tiba-tiba masuk kedalam keluarga itu. Tetapi kini ia telah nyaman berada disana.


Virus melepaskan genggamannya seraya menunduk, Moza berlalu pergi dan sedikit menyesali perkataannya.


"Semoga dia tidak sakit hati," batin Moza


Bel rumah berbunyi, Gio telah sampai. Moza mengambil tasnya dan pamit pada ibunya sementara, Virus hanya memandangi Moza dari kejauhan.


Gio meraih tangan Moza dan menggandengnya membuat api yang ada didalam tubuh Virus berkobar. Ia tidak rela jika Moza pergi dengan orang lain.


"Aku salah menilainya sebagai adikku, perasaanku padanya lebih dari sekedar adik, ya aku menginginkan wanita ini. Aku menginginkannya sejak pertama kali dirumah ini dan bodohnya aku tak menyadari itu. Moza aku akan mendapatkan hatimu kembali," batin Virus yang masih memandangi Moza berjalan dengan pria lain.


Virus bergerak ia berganti pakaian kemudian menyusul Moza. Lewat tablet pelacaknya dengan mudah ia tahu kemana Moza pergi.


"Kau hanya milikku, Moza," gumam Virus dan mulai melajukan mobilnya.