
Andi merebahkan tubuhnya di kursi yang dekat dengan televisi seraya membuka ponsel. Rachel dan Chris juga sudah tidur di kamarnya masing-masing.
Andi mendapatkan banyak pesan chatting dari Wasabi, Ibunya, Indiana dan Emi, orang yang terakhir adalah orang yang paling menyakitinya. Satu hari ini dia belum membuka pesan chatnya karena tidak ada waktu untuknya membalas.
Pria itu membuka pesan dari Ibunya dahulu.
'Andi, kau ingin menikah memakai adat apa? Betawi atau India?' Tanya Ibunya pada pesan chattingnya. Selama Andi di luar negri mereka memakai media chatting online karena lebih murah.
'Apa aja Bu yang penting ada musik dangdutnya,' balas Andi yang pecinta musik dangdut. Baginya pesta pernikahan tanpa musik dangdut itu bagaikan sayur tanpa garam.
Andi ingin membuka pesan chat lainnya tetapi Ibunya langsung membalas pesan Andi. Di Indonesia pukul empat sore sementara di Nevada masih pukul 12 malam.
'Calon istrimu itu kan ada keturunan Indianya, namanya saja Indiana Khan. Kalau memakai adat India, masak pakai musik dangdut,' balas Ibunya
'Musik dangdut dan India itu kan sebelas duabelas Bu, terserah mau pakai adat apa, Ibu atur saja. Yang penting ada dangdutnya titik gak pake koma,' balas Andi sembari terkekeh geli melihat chattingannya dengan Ibunya.
Setelah itu ia beralih pada pesan Wasabi.
'Hey, Kau betah disana? Kau tidak merindukanku? Jujur aku rindu dirimu, ocehanmu, jahilmu semua yang ada pada dirimu. Mungkin sedikit lebay tapi ternyata rindu itu hadir disaat kita jauh,' Andi hampir saja tertawa terbahak-bahak, dia pun segera mengontrol tawanya agar tidak bersuara.
'Haha Wasabi-wasabi sudah ku bilang padamu, aku ini langka, aku spesies yang bisa menjadi candu, elah apaan sih. Kau bisa juga puitis seperti itu. Setahuku kau bisanya menarik benang merah, entah benang siapa yang kau tarik hihi,' balas Andi pada pesannya. Tidak ada balasan dari Wasabi, dia pun beralih pada pesan Emi.
'Andi, maafkan aku. Bisakah kita kembali? Aku masih sayang kamu,' Andi mendengkus kesal setelah membaca pesan itu.
'PREKETEK! makan tuh sayang. I Don't Care Babar blas,' balasnya
Dan pesan chat yang terakhir dari Indiana
'Assalamu'alaikum Mas Andi, di Nevada jangan lupa shalat ya? Disana jarang ada masjid, jadi jangan lupa selalu pasang alarm,'
'Astaghfirullah, aku baru inget belom sholat Isya, Ya Allah ampuni hamba. Untung di ingetin sama Indi,' batin Andi. Pria itu segera beranjak dari kursi dan mengambil wudhu dari keran kamar mandi kecil. Setelah itu ia melaksanakan Ibadahnya.
*
*
*
'Terimakasih Indi, sudah mengingatkan Mas. Kamu lagi apa ni? Kangen gak sama Mas Andi?' Balas Andi setelah menyelesaikan ibadahnya. Tetapi kemudian pesan itu ia hapus lagi, Andi takut jika pesannya itu terkesan berlebihan. Berkali-kali ia menghapus dan mengetik kembali dan akhirnya hanya ucapan terimakasih yang terkirim.
Andi menunggu balasan dari Indi, berkali-kali ia melihat layar ponselnya menunggu notifikasi pesan dari Indi. Matanya sudah menahan kantuk agar tidak tertidur sebelum Indi membalas pesannya.
Tak berapa lama ada sebuah panggilan Video Call.
"Video Call dari Indi?" gumam Andi sembari mengucek-ngucek matanya memastikan jika pandangannya tidak salah.
Andi pun bangun dan merapikan rambutnya agar terlihat cool. Kemudian ia berdehem tes vokal agar tidak terdengar seperti kodok. Setelah itu ia menggeser tombol hijau ke atas, pertanda Video Call diterima.
Pandangan mata mereka bertemu meski lewat sebuah ponsel. Andi terbelalak saat melihat Indi dari sambungan video call, pasalnya Indi hanya mengenakan sebuah Yukensi yang memperlihatkan dua gunung terbelah.
Andi menelan salivanya dan bergumam 'Astaghfirullah,'
Apalagi saat Indi mengumbar senyum kepadanya, sungguh membuat pria itu semakin berdebar-debar.
"Wa'alaikumsalam Indi, I-iya Mas Andi juga kangen," ucap Andi
'Astaghfirullah, kulitnya putih banget. Kenyal seperti puding,' batinnya
"Mas Andi, sudah dulu ya Indi mau mandi karena setelah itu Indi mau dinas malam, Assalamualaikum muach," ucap Indi seraya memajukan bibirnya seperti ingin mengecup Andi lewat sambungan Video Call.
"Ya sudah, nanti sambung Video Call lagi ya, muach, Wa'alaikumsalam," jawab Andi.
Kemudian Andi menunggu Indi untuk mematikan ponselnya namun Indi tidak mematikan ponselnya, wanita itu menaruh ponselnya pada sandaran ponsel di meja. Kemudian Indi membuka pakaiannya begitu saja. Andi melihatnya jelas.
"Astaghfirullah..." gumam Andi berkali-kali meskipun begitu ia tidak mengedipkan matanya.
Andi merasakan ada air menetes di mukanya, Ia pun melihat atap bus mengecek apakah atapnya bolong.
Byuur
Wajahnya semakin basah karena tersiram air dari gelas. Diego menyiram Andi dengan gelas. Pria itu terbangun.
"Kau meracau apa? Kau bergumam terus menerus padahal kau tidur," ujar Diego.
"Bangunlah dan gantikan aku menyetir. Aku ke toilet dulu," ucap Diego
"Alhamdulillah jadi tadi hanya mimpi hehe," gumam Andi
"Oke, lalu siapa yang mengemudi sekarang?" Tanya Andi
"Valeria," jawab Moza karena Diego sudah masuk ke toilet untuk buang air kecil.
"Hemm aromanya sedap," ucap Andi
"Ya, spesial untuk kalian. Mandilah sebentar lagi masakan nya siap," ucap Moza
Andi segera bangkit dan bergegas mandi, ia masuk ke dalam kamar Rachel yang ada kamar mandinya didalamnya. Rachel dan Chris kedua orang tua itu sudah bersih dan terlihat segar
Mereka menikmati kopi panasnya di meja makan yang kecil. Dua orang tua itu seakan menemukan teman sebaya dan teman ngobrol setelah sekian lama menyendiri.
Setelah menyelesaikan ritual mandinya, Andi mendapat kabar dari Wasabi.
'Andi maaf baru balas pesan mu. Ini Joy, Wasabi masuk rumah sakit, ceritanya panjang. Intinya dia terkena beberapa tembakan. Doakan Wasabi agar selamat," Seketika Andi menjadi lemas membaca pesan dari Joy.
Pria itu pun segera menelepon nomor ponsel Wasabi tetapi tidak diangkat. Mungkin Joy sedang dalam keadaan genting. Andi sudah memakai pakaian lalu keluar dari kamar itu menuju meja makan di sisi kanan, karena di meja sisi kiri masih ada Rachel dan Chris.
Saat Andi duduk, Moza memberinya satu piring makanan. Andi menerimanya tanpa semangat. Tak berapa lama ada pesan masuk dari Indiana.
'Assalamu'alaikum Mas Andi, maaf Indi baru balas karena sibuk dengan pekerjaan. Indi mau tidur ni, tapi sebelumnya Indi boleh minta foto mas Andi? Karena Indi kangen hehe," balasan Indi membuat Andi terbatuk-batuk.
Tak hanya itu, yang membuat Andi terkejut adalah Indi memberikan fotonya. Padahal sebelumnya Andi ingin sekali meminta foto Indi, tapi dia segan. Ternyata tanpa pria itu minta pun Indi memberikan fotonya.
Cantik, manis dan periang.