My Name Is Virus

My Name Is Virus
Kekasaran Gordon



Gordon melepaskan kecupannya setelah sekian detik bibir mereka saling bersentuhan. Pria itu mulai berpikir bagaimana caranya membuat Paquina mengurungkan niatnya untuk pergi ke Los Angeles tanpa harus menyentuh bagian lainnya atau melakukan hubungan suami istri yang sudah lama tak ia lakukan.


Berkuasa dan kaya, ditakuti semua orang itulah Gordon. Banyak wanita yang ingin bersamanya, bisa saja dia meniduri wanita lain selain Paquina, namun pada kenyataannya dia tidak melakukan itu. Bersama Istrinya pun terkadang ia lakukan saat mabuk, Gordon masih menjaga perasaannya untuk Ratih.


"Silahkan pergi, aku tak melarang mu. Tapi selangkah saja kau keluar dari pintu itu, hubungan kita berakhir," ucap Gordon seraya menunjuk pintu depan apartemennya dan dengan nada suara yang berbisik. Dia masih berperan menjadi orang yang stroke.


"Berakhir? Jika aku tetap pergi maka kita akan berpisah... Cerai maksud mu?" Tanya Paquina seraya menyentuh dada bidang milik suaminya.


Gordon hanya menjawab dengan menganggukkan kepalanya pelan. Paquina meremat kemeja Gordon kemudian memukulnya ke dada suaminya pelan.


"Tidak, aku tidak ingin hubungan kita berakhir. Kau tahu kan aku sangat mencintaimu, meskipun kau terus mengharapkan kehadiran Ratih. Dengar Gordon, kau harus tahu Ratih sudah meninggal!" ucap Paquina


"Ratih meninggal, dari mana kau tahu?" Tanya Gordon penasaran.


"Apakah selama ini Paquina memata-matai ku ataukah dia dalang dari kematian Ratih? Tapi Virus mengatakan jika Ibunya meninggal karena jatuh dari kamar mandi dan kepalanya terbentur ba..tu... Tunggu bagaimana mungkin ada batu di dalam kamar mandi?" pikiran Gordon terus berkecamuk dalam hati.


"Hmmm i-iya aku baru saja mencari tahu jika Ratih sudah mati," ucap Paquina kemudian tersenyum. Namun bola matanya tak mampu menatap mata Gordon. Wanita itu kemudian memalingkan wajahnya dan berdiri seraya mengibaskan kerahnya. Seketika wanita itu merasa gerah, sementara Gordon terus menatapnya tanpa mengedipkan mata.


"Sayang apa kau haus? Aku akan membuatkan mu jus. Itu bagus untuk kesehatanmu kan?" Ucap Paquina yang segera pergi meninggalkan Gordon.


Baru beberapa langkah kakinya berjalan, langkah wanita itu sudah terhenti karena Gordon menarik lengannya kemudian mencengkeramnya dengan keras hingga Paquina melenguh kesakitan.


"Arghh sayang apa yang kau lakukan? Ini sakit!" ucapnya seraya mencoba melepaskan tangan Gordon dari lengannya.


"Apa kau yang membuatnya tewas?" Tanya Gordon tanpa menatap wajah Paquina yang berdiri disamping kursinya. Pandangan Gordon fokus menatap ke arah depan.


"Aku? Mana mungkin!" pekik Paquina.


"Aku tidak suka ada kebohongan, katakan sejujurnya atau kau akan menerima perlakuan kejam ku," ancam Gordon.


Paquina terlihat memucat, tangannya tiba-tiba dingin dan tubuhnya sedikit berkeringat. Rupanya Gordon telah melihat kebohongan Paquina dari sikap dan reaksinya tanpa harus dikatakan.


Kali ini Gordon tidak bisa bersandiwara lagi, ia merasa sudah cukup bersandiwara dan saatnya membuat wanita itu bersuara.


Gordon mengeratkan cengkeramannya kemudian melemparkan Paquina begitu saja. Wanita itu terjatuh keras hingga tubuhnya terlempar karena keramik yang licin hingga lengannya mengenai sudut meja ruang tamu apartemen.


"Arghh ini sakit, kau keterlaluan! Aku tidak berbuat apapun pada Ratih, kenapa kau mencurigai ku seakan-akan aku yang membunuhnya!" ucapan Paquina membuat Gordon berdiri dari kursi roda dan berjalan kearahnya


"Kau...kau bisa berjalan dengan leluasa. Kau menipuku? Jadi selama ini kau tidak stroke?" Tanya Paquina merasa dibohongi.


Paquina menelan salivanya dan sedikit bergeser dari duduknya, dia ketakutan.


"Aku tidak pernah mengatakan bahwa kau yang membunuhnya. Aku hanya mengatakan apakah kau yang membuatnya mati? Itu hal yang berbeda," ucap Gordon menginjak tangan Paquina.


"Aww lepaskan Gordon kau menginjak tangan ku! Apa bedanya? Apapun itu aku tidak tahu menahu soal kematian Ratih. Aku hanya menyuruh orang suruhan ku untuk menyelidikinya dimana dia berada,"


"Tentu berbeda sayang...Arti kata kau membunuh itu artinya kaulah yang membunuh dengan tanganmu sementara membuatnya mati bisa saja tangan dari orang suruhanmu. Dan... berani-beraninya kau menyuruh seseorang mencari tahu keberadaan Ratih di belakangku. Kau telah melanggar sumpahmu," ucap Gordon seraya menarik rambut Paquina agar wanita itu berdiri.


Paquina berteriak kesakitan tetapi Gordon tidak mendengar rintihannya itu, ia memiliki hati yang kejam. Dia bukan Virus yang masih mempunyai belas kasih terhadap wanita. Gordon terkenal kejamnya hingga pria itu ditakuti musuh lainnya. Dan dia dapat membaca kebohongan dari sikap orang itu sendiri.


"Hiks tolong jangan sakiti aku," Paquina menangis saat Gordon terus menyeretnya dengan menarik rambut Paquina ke arah dapur.


Saat sampai di dapur kotornya, pria itu menarik kepala Paquina dan menempelkan pipinya diatas kompor listrik lalu kemudian menyalakan tombol on sementara Paquina berontak tetapi dia tidak bisa terhindar dari genggaman Gordon.


"Gordon jangan! Kompor itu akan memanas. Please. Aku akan mengaku tolong jangan bakar pipiku! Aww kompornya mulai hangat! GORDON PLEASE!" Teriak Paquina ketakutan.


Kompor listrik itu membutuhkan waktu beberapa detik untuk mulai memanas. Dan sebelum itu terjadi Gordon mematikan kompornya dan menarik rambutnya kembali seraya berbisik.


"Katakan!"


"Aku...aku yang membuat kamar mandinya licin dan menaruh batu disana. Tidak sebenarnya batu itu sudah ada disana. Sepertinya itu pengganjal pintunya yang rusak namun aku meletakkannya ditempat lain. Hiks...Aku sungguh tidak tahu jika kepalanya menyentuh batu itu dan tewas ditempat. Aku tidak sengaja. Aku hanya memberinya pelajaran karena aku sakit hati kau menikahinya," aku Paquina dengan sedikit menangis.


Api kemarahan Gordon sudah terlihat didepan matanya. Pria itu lantas menghantukkan kepala Paquina ke meja dapur yang diatasnya berisi penuh perlengkapan dapur mulai dari pisau, sendok, garpu, teko kaca dan lain sebagainya. Dahinya pun terbentur dan tergores benda-benda perlengkapan disana.


"Arghh shiit kau tega padaku! Kau tahu? Kita impas! Karena anakmu membunuh anakku!" Teriakan Paquina melengking dan Gordon baru saja menyadari apa yang wanita itu katakan.


"Anakku?" Mengulang ucapan terakhir Paquina.


"Artinya Darren anak mu, bukan anak ku? Am I right! tell me now, am i right hah. Fuuck!"


Gordon kemudian menampar keras wajah Paquina hingga terlihat memerah bekas tamparan dipipinya.


"Hiks...hiks...yes You're right, but I'm not lying about I love you," ucap Paquina ( Hiks hiks ya Kau benar, tapi aku tidak bohong soal aku mencintaimu)


Gordon menghentikan kekejamannya, kedua tangannya menyentuh wajahnya sendiri kemudian ia melepaskannya dengan kasar. Ia pun mendekati Paquina yang masih menangis sembari memegangi pipinya.


Gordon meraih dagu Paquina dan berkata pelan, "Aku pria kejam yang tidak pantas kau cintai. Tapi kalau kau tetap masih mencintai ku, turuti perkataan ku," entah apa lagi yang Gordon pikirkan kali ini.