
Virus membuka matanya, kemudian beranjak duduk dengan perasaan kejut yang luar biasa. Hingga membuat napasnya tak beraturan.
"Kau kenapa?" Tanya Andi
"Aku bermimpi buruk," ujar Virus seraya membuka ponselnya untuk menelepon Moza. Memastikan keadaan kekasihnya itu.
Sembari menunggu sambungan teleponnya, Virus melihat ke depan jalanan.
"Sebentar lagi kita sampai, aku mencarikan hotel yang sangat nyaman," ucap Andi seraya menatap Virus yang sedang gelisah.
Tiba-tiba ada mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi datang dari arah kanan.
"Andi... Awas!!!" Teriak Virus dan Andi pun melihat ke depan. Pria itu berusaha untuk menginjak pedal rem dengan cepat. Namun naas mobilnya bertabrakan dengan mobil yang melaju kencang.
Bruuuk
Mobil yang mereka melambung tinggi ke atas dan ketika terkena hantaman mobil itu mengeluarkan percikan api. Mobil yang mereka sewa tak hanya hancur namun juga sedikit terbakar. Sementara kondisi Virus dan Andi terjepit di dalam mobil dengan luka yang mengeluarkan darah.
Virus kembali membuka mata. Pria itu melihat sekelilingnya baik-baik saja dan masih dalam perjalanan di dalam mobil. Napasnya kembali tersengal-sengal.
"Hey ada apa denganmu?" Tanya Andi.
"Tepi kan mobilnya," titah Virus dan segera saja Andi menuruti Bos nya itu.
"Kau mimpi buruk?" Terka Andi
"Tampar aku," pinta Virus seraya menatap Andi tajam.
"Kau serius, kalau begitu dengan senang hati," ucap Andi dengan rasa senang yang luar biasa.
Plaaaak
"Arghh, ini benar sakit dan tadi hanya mimpi belaka," gumam Virus
"Itulah kenapa aku bilang, kita harus tidur di ranjang yang nyaman. Berjam-jam berada di dalam mesin pesawat membuat tubuh dan pendengaran kita sedikit terganggu. Terutama otot kita yang biasa bergerak banyak, tiba-tiba saja harus tidur dan duduk berjam-jam lamanya. Terlebih lagi pendengaran sedikit terganggu dan bisa menjalar ke alam bawah sadar kita," ucap Andi yang sok tahu tapi sebenarnya ada benarnya.
"Baiklah kalau begitu, besok saja kita ke desa Karangasem. Tapi malam nanti kau pantau lagi, siapa tau ada informasi atau petunjuk lain. Kalau bisa buat alat pencarian orang seperti google," ucap Virus
"Oke aku akan membuat alat terbaru," ucap Andi meskipun sedikit susah tapi dia menyanggupinya.
"Bagus, akan ku beri bonus jika kau menyanggupinya. Tunggu apalagi ayo jalankan mobilnya," ujar Virus
"Tentu saja menunggu the Sultan Karangasem," ujar Andi dan membuat Virus tertawa terbahak-bahak dibuatnya. Ia pun mulai melajukan mobilnya dengan hati-hati mengikuti petunjuk map di sebuah aplikasi.
Virus mengambil tabnya yang ia taruh di laci mobil. Kemudian pria itu menghubungi Moza dengan menggunakan Video Call, untuk memastikan keadaan sebenarnya.
"Hallo cinta ku, baru saja tadi kau telepon sekarang sudah video call," Sapa Moza dan menganggap jika Virus merindukannya kembali.
"Haha, ya. Syukurlah kau baik-baik saja," ucap Virus.
"Memangnya ada apa sayang? Kenapa raut wajahmu seserius itu?" Tanya Moza.
"Okey, aku akan memakai sabuk pistol saja, karena tidak nyaman jika berada di saku celana, sebentar aku akan mengambilnya ," ucap Moza sembari masuk ke kamarnya. Moza meletakkan ponselnya di meja kecil dan menyandarkannya pada Vas bunga.
Wanita itu mulai menarik koper dari bawah ranjangnya. Koper itu sangat berat dan berukuran besar lalu ditariknya menuju dimana ia meletakan ponselnya.
Masih dalam posisi sambungan Video call, Moza membuka koper dan mencari sabuk pistol itu,
"Ada di paling bawah," ujar Virus memberi petunjuk.
"Yang ini kah?" Tanya Moza memastikannya dengan menunjukkan sabuk itu ke hadapan Virus lewat video call.
"Ya yang itu," ucap Virus
Moza kemudian memakainya dengan posisi berlutut. Namun itu membuat bagian dadanya mengarah ke hadapan Virus. Pria itu segera memindahkan arah ponselnya agar Andi tidak ikut mengintip.
Terlihat dua gunung menonjol besar, dan belahan itu nampak sedikit. Ingin sekali Virus mengatakan pada Moza jika miliknya terlihat. Namun bukan Virus namanya jika tidak memanfaatkan kesempatan itu.
Pakaian Moza saat itu sangat ketat, dia memakai kaos berwarna biru gelap membuat kulitnya terlihat semakin putih, dan juga biru adalah warna favorit Virus.
Saat Moza menarik sabuknya dengan kencang, gunung itu pun bergoyang. Membuat Virus malah semakin sedikit berkeringat. Andi merasa aneh dengan sikap Virus, sesekali ia memperhatikan tingkah bosnya yang tiba-tiba bereaksi aneh.
"Kau kenapa?" Tanya Andi dengan bahasa Indonesia.
"Hemmm, tidak. Kau tak usah pedulikan aku, fokus saja kedepan," ucap Virus dengan sedikit dingin agar Andi tak mencampuri urusannya.
"Selesai," ucap Moza kemudian mengambil ponselnya dan memperlihatkan secara keseluruhan untuk menunjukkan kepada Virus apakah sabuk itu sudah benar terpasang atau belum.
Tetapi pengambilan Video yang memperlihatkan body Moza malah membuat Virus semakin membayangkan hal negatif. Virus pun cepat-cepat tersadar dari imajinasinya.
"Ya itu benar, hemm Moza nanti ku telepon lagi ya. Bye.... muach," ucap Virus yang tiba-tiba ingin mengakhiri sambungan video callnya. Karena jika berlama-lama, melihat Moza, pria itu sungguh tidak tahan.
"Oke, bye...muach," ucap Moza mengakhiri pembicaraan. Wanita itu kemudian memasukkan pistolnya ke dalam sabuk pistol.
'Rasanya aku ingin cepat-cepat menikahinya,' batin Virus kemudian tersenyum-senyum sendiri.
Andi diam-diam memperhatikan Virus dan berkata, "Kau baru beberapa hari berhubungan dengannya, pantas saja kau sedang kasmaran. Tapi jika seperti ku dan Emi yang sudah 6 tahun berpacaran, pasti akan terasa sedikit jenuh," ucap Andi.
"Lama sekali, kenapa kau tidak menikahinya? Nanti jika lama-lama berpacaran dan tidak segera kau nikahi. Emi akan diambil orang. Dan kau akan sedih seumur hidupmu, istilah sekarang dari yang aku baca di internet ' jagain jodoh orang'. Kau tidak mau kan kehilangan Emi," ucap Virus, dia tidak bermaksud menghina atau mengatai Andi.
"Ya kau benar, tapi masalahnya, menikah itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Aku sendiri belum begitu yakin dengannya. Emi setia dan pengertian dengan sifat dan kondisi ku. Tetapi jika melihat pria tampan seperti Wasabi..." Andi menghentikan ucapannya dia sedikit sakit mengingat kejadian yang sudah lama berlalu.
"Kenapa berhenti? Ada apa dengan Wasabi?" Tanya Virus.
"Dia sedikit hilang kendali karena ketampanan Wasabi. Aku pernah melihat Emi mengecup bibir Wasabi. Emi yang memulainya, dan Wasabi juga sama terkejutnya denganku. Aku marah dan ingin memutuskannya. Tapi Emi bilang jika hanya aku yang dia cintai, dia mencium Wasabi hanya karena kagum akan ketampanannya. Dan aku juga tidak bisa jika harus berpisah dengannya," jelas Andi.
"Haha, Aku jadi penasaran seperti apa Emi," ucap Virus
"Jangan! Kau tidak boleh bertemu dengannya, kau lebih tampan dari Wasabi, bisa-bisa dia melihat ku seperti semut dimatanya," cegah Andi yang sangat takut jika Emi bertemu Virus.
Virus tertawa lagi, dia merasa lucu dengan tingkah Andi yang sangat overprotektif pada Emi. Tak hanya itu, Andi yang murah senyum, dan berbicara apa adanya membuat Virus semakin menyukainya. Andi orang yang apa adanya, sikap polos dan blak-blakannya menunjukkan ketulusan yang tidak dibuat-buat