
Malam itu semakin terasa dingin setelah peraduan hangat meski hanya sekejap dan keterbatasan ruangan yang sangat sempit namun mereka telah menikmatinya.
Valeria membuka pintu mobil dan berlari kecil karena hujan masih merintik. Sedangkan Diego menahan kedinginan tanpa balutan baju. Wanita itu melambaikan tangan dengan senyuman yang merekah lebar. Tak ada penyesalan yang datang dari raut wajahnya, setelah memberikan hal berharganya pada laki-laki yang dia kagumi sejak dulu.
Diego membalas lambaian tangan Valeria, pria itu melambaikan tangan di depan kaca mobil. Tetapi Valeria tidak bisa melihatnya dengan jelas. Setelah itu ia memundurkan mobilnya dan melaju pelan kembali ke rumah. Tiba-tiba saja pria itu tersenyum sendiri.
Dulu Diego adalah seorang bad boy dan ia berhenti menjadi pria nakal sejak Ayahnya tiada. Dan kini ia baru saja melakukannya dengan Valeria, wanita yang tiba-tiba mencuri hatinya. Dia tak pernah menyangka akan mencintai musuh adiknya sendiri. Selama ini Diego kenal Valeria karena Moza sering bercerita tentang permusuhannya dengan Valeria. Tetapi ia baru bertemu dengan Valeria saat membantu Virus menangkap penjahat. Dan ia berharap kedua wanita itu akur agar secepatnya memiliki Valeria secara resmi, yaitu dengan menikahinya.
Valeria masuk ke rumah berjalan pelan seraya menahan sakit dibagian sensitif. Saat hendak masuk ke kamarnya, wanita itu melihat lampu dapur yang masih menyala. Kedua kakinya melangkah perlahan menuju ruang dapur, terlihat disana seorang pria yang tengah tertidur di meja makan dengan secangkir kopi yang telah habis separuh.
Dia membelai rambut Ayahnya dan berbicara sedikit berbisik dan pelan, "Ayah...bangunlah," sahut Valeria seraya mengusap bahunya.
Sang Ayah terbangun dengan mengerutkan dahi sembari memicingkan mata karena silau yang ia dapat dari cahaya lampu.
"Vale kau sudah pulang?" ucap sang Ayah dengan meluruskan otot tangan dan bahunya kemudian bersandar pada sandaran kursi rodanya.
"Iya, aku menemui temanku di dekat plang Las Vegas. Aku menjual motorku padanya," jawab Valeria
"Maafkan Aku...aku juga tidak mengira jika ia menambah bunga yang sangat besar. Itu motor kesayangan mu, kenapa dijual? Nanti kau pakai apa?" Tanya Ayahnya dengan suara pelan.
"Sudahlah Ayah jangan memikirkannya, aku akan mencari caranya," ucap Vale
"Ya sudah, aku akan ke kamarku. Kau beristirahatlah, selamat malam Vale," seru Ayah kemudian menjalankan kursi rodanya dengan tuas otomatis yang menjalankan roda.
"Selamat malam Ayah," balas Valeria dengan mencium pipi Ayahnya.
Kemudian ia mencuci gelas bekas Ayahnya minum tadi dengan bersih kemudian mematikan lampu dapur. Setelah itu bergegas ke kamar mandi yang terletak di dalam kamarnya.
Saat ia membuka bajunya, wanita itu meraba sesuatu di dada nya lalu ia mengaambil lagi baju yang tadi dikenakan dan meniti bajunya itu.
"Bra ku, astaga aku meninggalkan bra ku di mobil," ujar Valeria
Wanita itu menggigit jarinya, bagaimana caranya ia menghubungi Diego. Valeria pun tidak tahu nomor ponselnya. Ia hanya tahu nomer ponsel Moza itu pun jika Moza tidak mengganti nomer teleponnya. Valeria berniat menghubungi Moza setelah ia selesai membersihkan dirinya.
Diego telah sampai di depan rumahnya, terlihat rumahnya sudah gelap kemungkinan penghuninya telah terlelap tidur. Tentu saja karena waktu menunjukkan pukul tiga dini hari. Setelah memarkirkan mobil, Diego masuk tanpa mengecek ulang apakah ada yang tertinggal di dalam mobil itu. Ia berjalan dengan pelan dan menutup pintu rumah dengan berhati-hati, agar tidak membangunkan yang lain.
Saat Diego masuk ke kamarnya, pria itu mendapati Virus yang tidur di kamarnya. Diego pikir pria itu akan tidur dengan Moza dan bercinta dengan adiknya itu. Namun pikirannya salah.
"Hah Virus, seharusnya kau di kamar adik ku. Dia memakai semua ranjang ku, lalu aku tidur dimana?" Gumam Diego.
Pria itu pun menggeser tubuh Virus ke sisi lain agar dia bisa merebahkan dirinya. Diego tidak membersihkan dirinya, dia terlalu kedinginan sedangkan dirumahnya tidak ada penghangat. Jikapun ingin mandi air hangat, ia harus memasak air dahulu dan itu membuatnya malas.
Virus tidur tanpa mengenakan pakaian, ia hanya memakai boxer. Begitupun dengan Diego, baginya tidur tanpa pakaian lebih sejuk dan nyaman.
Valeria berusaha menghubungi Moza namun nomernya sudah tidak terhubung. Ia pun berharap semoga tidak ada masalah esok hari, atau semoga saja Diego melihatnya dan mengamankannya.
Pukul enam pagi, Moza telah selesai memasak sarapan untuknya dan Ibunya serta dua lelaki yang masih tertidur di kamar Diego.
Tok Tok Tok
"Kakak.... Virus....bangunlah dan sarapan," panggil Moza dari balik pintu kamar Diego. Tidak ada jawaban dari keduanya.
"Kau masuk saja Moza, Kau tahu sendiri kan Diego itu jika tidur seperti orang mati. Jika membangunkannya, dia harus di sentuh atau di goyangkan kalau perlu kau siram saja dengan air haha," celetuk Rachel yang baru saja duduk untuk sarapan
"Haha Aku tidak mau masuk, di dalam ada Virus," sahut Moza.
"Ya sudah, nanti biar aku yang membangunkannya," ucap Ibunya seraya mengunyah makanannya..
Moza bergegas mandi karena pagi itu ia harus ke kantor. Beberapa menit kemudian, Moza telah rapi dengan pakaian kantornya. Wanita itu berpamitan pada ibunya, terlihat Rachel yang sedang berdiri di depan pintu kamar Diego
"Bu aku berangkat kerja ya, muach. Ibu jangan lupa berjemur di luar, panas pagi bagus untuk kesehatanmu," ucap Moza yang kemudian mencium pipi Ibunya.
"Iya iya kau ini cerewet sekali melebihi diriku haha," canda Rachel
"Aku kan putrimu," ucap Moza lagi memeluk ibunya dan mencium pipinya lagi.
Setelah itu Moza melangkah pergi bersamaan dengan Rachel yang membuka pintu kamar Diego. Wanita paruh baya itu terkejut melihat Diego dan Virus yang tidur berpelukan.
"Dieeegooo! Apa sudah tidak ada wanita yang menarik hatimu hah! Kau normal kan? Atau benar dugaanku selama ini kau suka dengan pria," pekik Rachel yang membuat Moza mengurungkan niatnya pergi dan kembali ke kamar Diego untuk melihat apa yang terjadi di dalam.
Rachel mendekati ranjangnya, berjalan pelan dengan tongkat bantuannya. Ia mengambil guling yang terjatuh ke lantai dan memukul Diego serta Virus.
"Bangunan Diegooo Virusss..." pekik Rachel
Virus dan Diego membuka matanya dengan berat namun keduanya sama-sama terkejut saat melihat apa yang mereka lakukan. Diego menyandarkan kepalanya di dada Virus dan memeluknya. Sementara Virus mendekap Diego, menjadikan pria itu sebagai guling nya. Tidak hanya tangan melainkan kakinya pun ikut menjepit kaki Diego. Keduanya terkejut lalu segera bangun dan duduk secara tiba-tiba.
"Diego, Apakah kau sudah tidak tertarik dengan wanita lain hah?" Tanya Rachel dengan sedikit marah, sementara Moza menahan tawanya.
"Kau juga Virus, kau terlihat menyeramkan, terlihat gentle tapi tak ku sangka, nyatanya kau dan Diego... argh Tuhan ampuni dosa ku dan anak ku," ucap Rachel yang mengira Diego dan Virus adalah pasangan Gay.
"Tidak Bu, aku normal. Tentu saja aku masih suka dengan wanita. Sungguh aku tidak tahu, jika berpelukan seperti itu. Aku bermimpi memeluk perempuan tapi yang terjadi malah dia yang ku peluk," jelas Diego.
"Ya aku juga aku masih normal, Aku mengira Diego itu guling haha. Tolong jangan salah paham," ucap Virus ikut menjelaskan.
Sementara Virus mendapati Moza yang terlihat senang di belakang Rachel.
"Sudah sana bangun, dan sarapan. Kalian berdua cari kerja sana," perintah Rachel kemudian Diego dan Virus sama-sama beranjak dari tempat tidur dan bergegas mandi.
"Siap," jawab Virus
""Aku dulu yang mandi," ucap Diego
"Tidak, aku duluan. Aku ingin mengantar Moza ke tempat kerjanya," sahut Virus seraya berlari mendahului Diego
"Moza kau jangan pergi dulu, tunggu aku!" ujar Virus
Diego tak mau kalah ia juga berlari memperebutkan kamar mandi yang ada di luar kamar. Tapi usahanya sia-sia.
Sepuluh menit kemudian Virus telah berpenampilan rapi dan tampan. Ia siap mengantarkan Moza ke tempat kerjanya.
"Ayo kita berangkat," ajak Virus
"Hemm kau tidak makan dulu?" Tanya Moza
"Makan di mobil saja, aku takut kau terlambat," ucap Virus seraya mengambil makanan dan menuangkannya ke piring lalu membawanya serta ke mobilnya.
"Astaga kau ini, ayo, Bu aku berangkat ya," pamit Moza yang berteriak karena Ibunya sedang berada di dalam kamarnya.
Virus mengambil kunci mobil yang tergantung di paku depan pintu ruang tamu. Kemudian ia masuk ke mobil membuka pintu mobil untuk Moza lalu mengitari mobilnya dan masuk ke kursi kemudi.
"Sini aku bawakan piringnya, aku suapi ya," sahut Moza kemudian mengambil piring yang sedari tadi Virus pegang.
"Kalau tahu begini aku akan menaruhnya didalam tempat makan, agar tidak berserakan," timpalnya
"Terlalu lama, begini saja sudah praktis sayang," ucap Virus seraya menjalankan mobilnya.
Moza mulai menyendokkan makanan ke mulut Virus, pria itu membuka mulutnya dengan lebar dan memakannya dengan lahap.
"Haha Kau ini makan sambil sambil tersenyum, sok manis," sahut Moza
"Masakan mu yang terenak jadinya aku makan sambil tersenyum bahagia haha," ujar Virus dan membuka mulutnya meminta untuk disuapi lagi. Moza menyendokkannya dengan berhati-hati agar makanan itu tidak tumpah lalu menyuapkannya lagi pada Virus. Pria itu melahapnya dengan suapan besar. Moza terus menyuapkan hingga makanan itu habis, ia pun memberikan botol minumnya pada Virus untuk di minum.
"Minum ini," titah Moza, Virus mengambil botol minumnya dan meminumnya separuh.
"Maaf, minum mu jadi berkurang," sahut Virus kemudian mengambil piring yang Moza pegang dan melemparkannya ke tong sampah milik seseorang di jalanan yang ia lewati
"Astaga Virus, kenapa kau membuang piring ku?" Tanya Moza
"Maaf, nanti kita beli lagi ya," jawab Virus dengan gampangnya.
"Dasar pemborosan," gumam Moza, ia seperti menginjak sesuatu di bawah sepatunya.
Moza kemudian melihat ke bawah sepatunya dan mengambil apa yang mengganjal di bawah. Kedua bola matanya membesar begitu tahu yang mengganjal di kakinya adalah sebuah bra.
"Apa ini? Virus kau bisa menjelaskannya?" Tanya Moza seraya menunjuk bra di hadapannya.