My Name Is Virus

My Name Is Virus
Melepas Rindu



Sore itu Andi segera ke Bali dan besok paginya mereka harus cek in ke Nevada. Sementara Aryo masih di rumah sakit, melakukan perawatan hingga kondisi tubuhnya membaik. Aryo ditemani orang kepercayaan Virus dan dijaga dengan penjagaan ketat.


Virus memiliki salah satu perusahaan elektronik di Indonesia ia sebagai pemilik tetapi yang menjalankan adalah orang lain, hasil keuntungannya pun bagi hasil. Sama seperti usaha yang ia miliki lainnya. Virus tak pernah mengelolanya sendiri karena ia sibuk dengan misi pembunuhannya saat itu. Itu dulu dan sekarang ia ingin berhenti menjadi pembunuh meskipun terkadang sulit meredam emosi.


Keesokan paginya, Virus berpamitan dengan Aryo dan ia kembali melakukan perjalanan jauh. Sekitar 22 jam atau 24 jam untuk sampai ke Nevada itu pun tidak ada delay penerbangan.


Mereka pun tiba di bandara Las Vegas siang itu dan meminta Moza untuk menjemputnya. Tak berapa lama Moza datang mencari keberadaan Virus dan Andi. Mereka ada di samping lobby.


"Virus," panggil wanita itu.


Virus menoleh dan melebarkan senyumnya kemudian menangkap tubuh Moza yang sedang berlari menjatuhkan dirinya di pelukan pria itu.


"I Miss you so much," ucap Moza memeluk Virus.


"I Miss you very very much," balas Virus kemudian melepaskan pelukannya dan mencumbu bibir Moza yang amat ia rindukan. Seperti candu yang sulit dihilangkan.


"Ehemm hemm," Andi berdehem karena dirinya menjadi nyamuk.


"Aku juga ingin pelukan," ucap Andi yang langsung mendapatkan lirikan tajam dari mata Virus.


"Andi sorry aku tak bisa memeluk atau mencium mu haha...," canda Moza.


"Betapa malang nasib ku Semenjak ditinggal Emi...Walau kini dapat ganti...," Andi bernyanyi mengganti sedikit liriknya dan kemudian melangkah pergi menuju mobil dan memasukkan barang-barang mereka.


Moza tidak tahu artinya dia hanya bisa tertawa kecil karena tingkah Andi sangat lucu. Setelah itu mereka masuk kedalam mobil, Virus yang mengendarai.


Mereka sampai dirumah Moza, namun Virus menghentikan mobilnya disamping rumah wanita itu.


"Sayang, kenapa kau parkir disini? Dan lagi kau parkir didepan pagar mereka, itu akan menghalangi jalan keluar mereka," ujar Moza


"Tenang saja pemiliknya tidak akan marah," ucap Virus dengan entengnya.


Rumah yang ada disebelah Moza, telah lama sepi tak bertuan. Padahal rumah itu sangat besar.


"Rumah itu memang lama kosong tapi baru-baru ini aku lihat seperti ada orang yang mengisi rumahnya. Mereka juga membawa perabotan..." ucapan Moza terhenti karena Virus mencium bibirnya lagi.


"Kalau kau cerewet seperti Andi, aku akan terus melummat bibirmu hingga kau tak punya bibir," canda Virus dan membuat wanita itu terkekeh, kemudian ia mencumbu lagi dan lagi. Sementara Andi menikmati adegan didepan matanya


"Boss teruskan hingga kalian melakukan itu, aku ingin lihat," ujar Andi dengan memakai kacamata seraya mengunyah cemilan, layaknya menonton serial romantis di bioskop.


"Heh bocah, turun kau! Dan ambil tas yang ada di bagasi," ucap Virus sembari mengambil satu pack tisu yang ada di atas dashboard lalu melemparkan ke arah Andi. Andi tertawa terbahak-bahak lalu keluar dari mobil.


"Apa artinya?" Tanya Moza dalam bahasa Inggris. Karena tadi Virus menggunakan bahasa Indonesia.


"Artinya aku menyuruhnya turun, sayang kenapa kau semakin manis," ucap Virus dan kembali mengecup bibir Moza kembali lalu turun mengarah ke leher jenjangnya. Wangi aroma tubuh Moza yang sangat khas mampu membuat Virus bergairah


"Kau menciumi ku terus seperti orang kelaparan," ucap Moza dengan mata terpejam dan merasa sedikit geli karena Virus menggelitik lehernya.


"Ya aku lapar, mana makanan untukku?" ucap Virus yang menagih janji pada Moza kemudian ia menghentikan aktivitasnya dan menatap wajah manis kekasihnya.


"Sudah ku buat, ayo kerumah," ucap Moza


"Ayo,"


Virus dan Moza turun, tetapi Virus langsung menarik lengan kekasihnya. Pria itu tidak melangkah ke rumah Moza melainkan rumah disebelahnya. Rumah dimana ia memarkirkan mobilnya.


Pria itu membuka pintu pagar dan masuk dengan menggandeng tangan Moza dengan pelan. Sementara Moza bertanya-tanya. Andi mengikuti Virus dibelakang dengan membawa semua barang-barangnya.


"Untuk apa kesini?" Tanya Moza


"Untuk melihat-lihat dan sepertinya kita akan terus ke tempat ini," ucap Virus.



"I-itu foto kita dan...kau membeli rumah ini?" Moza bertanya lalu menerkanya


"Iya aku membeli rumah ini untuk mu, untuk kita tempati setelah menikah nanti," ucap Virus menatap Moza lekat, wanita itu membalas tatapan Virus dengan diam.


"Kau tidak menyukainya?" Tanya Virus yang menjadi salah tingkah karena Moza tiba-tiba menjadi diam.


"Tidak aku bukannya tidak menyukainya, aku hanya tidak menyangka. Aku...," Moza kemudian menitikkan air mata kecil.


"Aku terkejut dengan surprise ini dan aku tidak menyangka kau membeli rumah untuk kita tempati. Terima kasih sayang," ucap Moza yang langsung mengecup bibir Virus.


Sebenarnya Moza terlampau bahagia tapi ia takut hubungannya ditentang oleh Rachel. Karena Ibunya pernah mengatakan pada Moza jika dia tidak merestuinya dan meminta Moza untuk tidak melanjutkan hubungannya dengan Virus. Itulah kenapa Moza sempat terdiam.


"Aku kira kau tidak menyukainya," ujar Virus


"Moza, aku bukan orang yang romantis. Aku tidak seperti Diego tapi intinya....," Virus terdiam mengambil napas dalam dan mengutarakan keinginannya.


Deg Deg


Jantung pria itu berdetak kencang, ia lemah jika soal urusan cinta.


"Aku ingin menikah denganmu. Menikahlah denganku....Apakah kau bersedia menjadi ratu di hatiku dan merajut kebahagiaan bersama ku?" ucap Virus kemudian ia melingkarkan cincin berlian pada jari manis Moza dan mengecupnya.


Moza tersenyum lebar, wanita itu berkaca-kaca


"Tentu, aku bersedia menikah denganmu, dan aku akan berusaha membuatmu selalu bahagia, Aku mencintaimu," jawab Moza


Wanita itu kemudian memeluk Virus. Ketika Moza memejamkan matanya bulir bening dari matanya mengalir menjadi saksi kebahagiaan mereka. Sementara Andi diam-diam mengambil foto mereka.


Virus kembali mengecup bibir Moza, membuat Andi menghindar secara perlahan. Andi masuk kevdalam tanpa permisi karena sudah pasti dirinya akan dianggap tidak ada. Andi merebahkan dirinya ke sofa ruang keluarga. Sementara Virus terus bermesraan mencumbui wanitanya sembari berjalan menuju tempat duduk di sofa ruang tamu.


Virus memainkan tangannya, pria itu mulai memasuki tangannya kedalam pakaian Moza menuju sebuah gunung yang sedari tadi memanggilnya. Namun belum sampai tangan itu menyentuh gunung kekasihnya. Moza mengeluh kesakitan.


"Kenapa? Ada apa? Mana yang sakit?" Tanya Virus yang tiba-tiba panik.


"Tidak, tidak ada," jawab Moza berusaha menutupi


Virus menyentuh sisi perut Moza dekat dengan bagian rusuknya kemudian menekannya sedikit. Moza terlihat menahan sakit dan semakin membuat Virus penasaran.


Pria itu pun membuka baju menggulungnya keatas hingga bawah gunungnya. Dan pria itu menatap Moza dengan tajam ketika sisi perutnya lebam berwarna biru. Tendangan Darren membekas memberi warna biru gelap diri tubuhnya.


"Siapa yang melakukannya? Kenapa kau tak mengatakannya padaku? Siapa sayang katakan!?" Tanya Virus dengan nada sedikit keras


"Darren," jawab Moza tertunduk


"Darren? Pria itu! Lalu kenapa kau tak mengatakannya padaku?" ujar Virus sedikit kesal


"Karena aku ingin kau fokus mencari Ayahmu yang lama menghilang sayang, kejadiannya saat kau di Bali," ucap Moza kemudian dia menceritakan semuanya kepada Virus. Virus mengepalkan tangannya dan meninju sofa duduknya


"Aku akan membuat perhitungan dengannya,"


"Sayang, dia seperti itu dendam karena kau memukulinya tempo hari,"


"Kau benar sayang, Darren akan selalu menaruh dendam dan seberapapun balasan kita, dia tak akan pernah jera. Kecuali dia MATI!" ucap Virus kemudian beranjak pergi dari duduknya. Dia ingin membuat perhitungan pada Darren.


Sementara Moza ketakutan jika Virus kembali menjadi pembunuh.